
" Apa maksudmu, taejoo ". Pekik Joo terkejut setelah dia mendengar kabar yang sangat mengejutkan baginya.
" Ya, wanita bernama loli yang menolong anda adalah putri tunggal musuh tuan Lee yang selama 14 tahun menghilang ". Jelas taejoo serius.
Joo langsung memejamkan matanya seraya memegang kepalanya karena terkejut mendengarkan bahwa wanita yang telah menarik perhatiannya adalah putri dari musuh ayahnya sendiri.
Dia langsung mengakhiri panggilan itu dengan sepihak dan langsung melempar ponselnya di atas ranjang kingsize di dalam kamarnya.
" Aaakkkhhh.. Sial, kenapa harus loli ? ". Teriak joo frustasi.
Semuanya tidak pernah sekalipun di bayangka oleh joo akan menjadi seperti ini. Dia sudah menaruh hati pada sosok loli dan sekarang semesta seakan dengan gamblangnya memberikan pernyataan bahwa dia dan loli tidak akan pernah bersatu.
*****
Sekarang loli baru saja memasuki gedung kantor kepolisian pusat indonesia bersama brenda dan anya, karena hari ini adalah hari pertama mereka akan melakukan penyelidikan kembali kasus pembunuhan tragis yang terjadi 14 tahun yang lalu.
Jika brenda memang di butuhkan oleh loli untuk membantu dengan keahlian hacker brenda, bagaimana dengan anya yang adalah seorang dokter ?.
Ceklek.
Loli, anya dan brenda langsung masuk kedalam salah satu ruangan rapat yang ternyata di dalam sana sudah ada banyak petinggi kepolisian yang akan membahas kasus ini bersama mereka bertiga.
" Selamat datang detektif robin, silahkan duduk ".
Dengan wajah datarnya, loli, anya dan brenda langsunh duduk bersampingan di kelilingi 10 pria petinggi kepolisian indonesia. Dan salah satunya ada jendral nelsen di dalam sana.
Ke 10 petinggi kepolisian langsung terpusatkan perhatian mereka kearah loli. Tapi loli tidak memperdulikannya.
" Bisakah kita langsung membahas intinya saja ? Saya paling tidak suka membuang-buang waktu ". Ucap loli menatap datar ke arah jendral nelsen.
" Sepertinya rencana ini akan gagal jika sikap detektif robin sangat waspada seperti ini ". Batin jendral nelsen sedikit ragu dan panik.
" Maaf detektif robin ? Apa anda adalah putri dari tuan gerald dan nyonya giantri yang adalah salah satu korban dalam kasus ini ? ". Tanya salah satu petinggi kepolisian penasaran.
Loli langsung mengarahkan pandangannya ke arah orang yang baru saja mengajukan pertanyaan tersebut.
" Bisakah anda tidak mencampurkan masalah pribadi dan masalah kasus ini ?. Siapa saya dan apa benar atau tidak saya putri kedua orang yang anda katakan, sama sekali tidak perlu anda ketahui ". Jawab loli dengan tegas.
" Tolong jaga sikap anda detektif robin ! Kami bertanya karena kami hanya ingin memastikan saja, apakah anda benar putri tuan gerald yang selama ini menghilang setelah kejadian 14 tahun yang lalu yang tak lain setelah kasus ini ". Ucap jendral nelsen langsung menegur loli.
" Tapi kalian juga seharusnya bisa menghormati dan menghargai privasi detektif robin ". Bukan loli yang panas, tapi brenda yang langsung membalas ucapan jendral nelsen.
Loli langsung berdiri dengan tangan yang langsung di masukkan ke 2 sisi saku celananya. Dia menatap jendral nelsen dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Inilah kenapa saya meminta atasan saya untuk tidak mengaitkan kalian dalam kasus yang akan saya tangani ". Ujar loli dengan tatapan dingin.
" Apa maksud anda ! ". Tegas jendral nelsen tak suka.
Brenda dan anya ikut berdiri dan berdiri di samping loli dengan wajah datar mereka.
" Jika kalian ingin saya yang menangani kasus ini, maka berhentilah mencampuri penyelidikan yang akan saya lakukan bersama tim yang saya bawah ".
" Tapi jika kalian memang kalian tidak ingin saya yang menangani kasus ini. Silahkan kalian cari detektif lain untuk menangani kasus ini ! ".
" Saya permisi ".
Loli langsung membalikkan badannya di ikuti oleh anya dan brenda. Tapi saat mereka bertiga hendak melangkah menuju pintu ruangan itu dengan niat ingin keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba seorang wanita baru saja masuk kedalam ruangan itu dengan gaya yang elegan dan penuh wibawa, tapi wajahnya sangat datar dan sorot tatapannya sangat dingin dan berkelas.
Semua orang dalam ruangan itu seketika melotot kaget melihat siapa sosok wanita tersebut tanpa terkecuali anya dan brenda.
Glek.
" Nyonya ayana ". Ucap jendral nelsen seraya menelan salivanya dengan kasar.
Ayana pun berjalan mendekati jendral nelsen tanpa menatap jendral nelsen sedikitpun.
Ayana langsung menarik tempat duduk jendral nelsen dan menaruhnya di dekat dinding dan langsung duduk tanpa meminta izin.
Sedangkan yang lain hanya bisa diam saja, bahkan loli, anya dan brenda kembali membalikkan badan mereka menghadap ke arah ayana saat ini.
" Hai, detektif robin ? Bukankah ini pertama kali kita bertemu ? ". Sapa ayana pada loli dengan senyuman tipis.
Loli memicingkan matanya, dia merasa sapaan ayana mengandung arti yang lain, bukan hanya sekedar menyapa saja.
Melihat loli hanya diam saja dan menatapnya dengan memicingkan matanya. Ayana tersenyum tipis seraya mengarahkan pandangamnya ke arah jendral nelsen.
" Kenapa dia menatapku ? ". Batin jendral nelsen tiba-tiba gugup.
" Apakah kepolisian di indonesia memang mengutamakan identitas asli dan privasi semua anggotanya ? ". Tanya ayana dengan Sorot mata yang sulit di artikan.
" Si-siapa yang mengatakannya, nyonya ayana ? Saya pikir tidak ada aturan seperti itu ". Jawab jendral nelsen dengan bodohnya tidak sadar bahwa pertanyaan ayana adalah sebuah pertanyaan jebakan.
Ayana langsung tersenyum puas mendengarkan jawaban jendral nelsen barusan.
Deg.
" Cih.. Ternyata itu pertanyaan jebakan ". Batin jendral nelsen setelah menyadari arti senyuman ayana.
" Saya adalah salah satu dari ke empat orang yang meminta kasus ini untuk di selidiki kembali, dan saya juga salah satu yang meminta detektif robin untuk menangani kasus ini ". Jelas ayana.
" Jadi, apakah kalian ingin membuat detektif pilihan saya mundur dari kasus ini, hanya karena sikap kalian yang sangat tidak masuk di akal ? ". Sambung ayana bertanya dengan tatapan dinginnya.
Deg.
" Ka-kami tidak ber-berniat seperti itu, nyonya ayana. Kami hanya bertanya tapi detektif robin malah berkata dengan sikap yang sangat tidak sopan ". Ucap jendral nelsen langsung gelagapan malah menyalahkan loli.
" Cih.. Itu tidak benar, nyonya ayana ". Pekik brenda tidak suka cara jendral nelsen menyalahi loli.
" Jelas-jelas jendral nelsen lah yang dengan sengaja menanyakan tentang privasi detektif robin, lalu kenapa sekarang malah detektif robin yang di salah kan ? Itu kan aneh ". Sambung brenda seraya menatap jendral nelsen dengan tatapan tajam.
" Jadi siapa yang salah dalam hal ini, jendral nelsen ? ". Tanya ayana dengan seringai tipisnya.
Deg.
" Dasar gadia sialan ! Berani sekali dia mengadu seperti itu pada nyonya ayana ". Batin jendral nelsen membalas tatapan brenda dengan tatapan dingin.
" Itu tidak benar, saya.... "
" Diamlah, saya sudah bisa menebak siapa yang salah saat ini ". Ucap ayana langsung menyela penjelasan jendral nelsen.