Life In Miracles

Life In Miracles
kesempatan



author on


waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam semua peserta yang ikut telah beres makan malam dan memepersiapkan diri untuk istirahat tapi tidak untuk aillen karna ia sudah janji akan membantu dosennya.


dengab sangat terpaksa aillen datang ke tenda tempat panitia untuk menanyakan tugasnya


"malem " sapa aillen saat ada di depan tenda


"ehh malam ada apa dek?" tanya salah seorang panitia di sana


"hmm itu saya di suruh kesini tadi sama pa abi" jawabnya dengan gugup


"ohh iya tuh masuk aja pa abi lagi di depan laptopnya tuh"ucapnya sambil menunjuk kearah meja di dalam tenda


"ahh baik pak makasih" ucap aillen sambil berjalan menuju meja yang di tunjuk


tenda yang di tempati memang cukup besar karna disini tempat berkumpulnya para panitia jadi tidak seperti tenda anak anak yang lain yang hanya masuk beberapa orang saja


"malam pak abi" sapa aillen saat di dekat meja kerja abi


"malem ehh ternyata kamu sini duduk dulu" ucap abi sambil mempersilahkan aillen duduk di bangku kosong dekat nya


" hmm gak usah gak papa pak gak enak saya bediri aja" ucap aillen dengan senyum canggung


"lohh kan kamu bantuin saya masukin absensi yang ini dan data siswa yang ikut masa mau berdiri emang bisa?" tanya abi manya sambil memandang gemas tingkah aillen


"ahh oh i-iya pak kalo gitu" jawab aillen dengan semburat merah yang terpampang jelas di pipi nya


"gila dari deket kenapa cantik banget kamu ai, kalo bukan di tempat came udah saya cubit pipi kamu ai" gumamnya dalam hati sambil tersenyum melihat kearah aillen


aillen menarik kursi itu dan duduk di sebelah abi dan mulai mengerjakan sesuai arahan abi


tak ayal saat pandangan mereka beradu rasa canggung makin meliputi aillen tapi tidak untuk abi itu suatu moment yang paling terindah dan tak boleh di lewatkan


aillen on


duhh bantuin pak abi kenapa jadi canggung gini ya apalagi pak abi senyum gitu sambil liat aku duhh deg degan deh lama lama


"hmm pak ini udah segini aja atau ada yang mau di revisi dulu sama bapak" ucapku memecah kecanggungan


" ok saya liat dulu ya" jawabnya sambil membalikkan arah laptop kearahnya


dilihat dari dekat sama kalo lagi ngerjain sesuatu kenapa bisa ganteng gini ya?


ehh apaan sih len jangan ngawur deh! tapi emang ganteng banget pantes aja anak anak pada ngefans gitu sama pak abi ya


"ehem aillen ai" ucap pak abi membuyarkan lamunan ku


"ehh i-iya pak ada apa" jawab ku gugup karna ketahuan sedang memperhatikan nya


"kamu liatin apa? apa ada sesuatu di muka saya?" tanyanya yang suskses bikin aku jadi gelagapan


"ahh i-itu enggak ada apa apa kok pa cuman liat di belakang bapa aja gitu pe-pemandangannya indah" bohong ku sambil menunjuk kearah belakang


"belakang saya? apa kan itu tempat penyimpanan barang llen?" tanyanya lagi dengan pandangan herann


" ahh i-iya itu saya hmmm itu apa.." duh aku bingung harus menjawab apa


"haha ya sudah sudah gak usah di bahas" ucapny dengan santai pyuuuhhh aku abernafas lega sumpah aku gugup sekali malu jika pak abi tau kalau aku sedang memperhatikannya


"ini udah bener semua makasih ya sudah mau bantuin saya" tuturnya lagi sambil menutup laptopnya dan menggeser kursi nya


"yuk saya anterin kamu sampe ketenda perempuan" ucapnya lagi yang sudah berdiri di dekat ku


"ahh gak -gak usah pak saya sendiri juga gak papa" ucapku sambil mencoba tersenyum


dan ya mau tak mau akhirnya aku pun berdiri dan berjalan berdampingan dengan pak abi karna aku tak mau membuat perdebatan


saat berjalan tak ada yang berbicara dan terasa sangat canggung


" hmm ai kamu di tenda sebelah mana?" tanya pak abi tiba tiba saat kita sudah agak jauh dari tenda panitia


" saya di tenda kedua dari ujung sebelahkiri pak" ucapku tanpa melihat kearah pa abi


"ohh itu " jawabnya setelah itu tak ada percakapan lagi dan aku pun sangking gugupnya tak memperhatikan pijakan ku dan


"ahh.."


"aillen" teriak pa abi tiba tiba sambil merangkul ku


tak sengaja kaki ku menginjak jalan yang agak licin hampir saja terjatuh bila pak abi tidak dengan sigap menahan tubuhku tapi posisi ini ya tuhan


tangan pak abi melingkar sempurna di tubuhku dan pandangan kami saling bertemu seperti di film film saja dan aku buru-buru melepas pelukan pak abi dan membenarkan posisi berdiri ku


"hati-hati dong ai kan hampir aja jatuh" ucap pak abi sambil mengecek kondisi ku


"kamu gak papakan gak ada yang keseleokan"tuturnya lagi


"e-enggak ko pa sa-saya baik baik aja" jawabku dengan gugup dan sedikit menundukkan pandangannku


"bagus kalo gitu yuk kita jalan lagi" ucapnya sambil memegang tangan ku


sumpah demi apa pak abi mengang tangan ku untuk berjalan berdampingan dengannya aku hanya dapat diam tak mampu berkata lagi


seakan tahu akan isi fikiran ku pak bilang "takut kamu akan jatuh lagi gak papa anak anak gak akan ada yang liat ko mereka udah istirahat" dengan ucapannya yang tiba tiba membuatku melihat kearahnya dan pandangan kita bertemu


pak abi hanya tersenyum memandangku dan hal itu sukses membuatku besemu merah aku yakin bahwa wajahku sudah seperti kepiting rebus


"kamu lucu jika seperti itu" gumamnya tapi masih dapat terdengar oleh ku dan kami pun terus berjalan sambil bergandengan tangan


saat sampai di depan tenda aku lebih dulu melepaskan pegangan tangan pak abi di tangan ku


"makasih pak udah repot repot anterin saya"


"iya sama sama gak papa ko gak repotin ya udah saya balik ke tenda lgi ya selamat malam len" ucapnya tersenyum sambil mengusap rambutku dan berlalu pergi


aku tak sempat membalas dan hanya diam di tempat masih mencoba mencerna apa yang di lakukan pak abi barusan


ya tuhan jantungku berdetak lebih cepat tapi aku berusaha mengembalikan kesadaranku dan bergegas masuk kedalam tenda


dan saat msuk aku melihat anak anak sudah tertidru di dalam tenda


dalam hati aku bersyukur tak ada yang melihat atau mendengar ku berbicara dan di antar pak abi tadi


aku pun mengambil selimut dan mencoba untuk tidur dengan sedikit perasaan aneh di dalam hati tapi ya sudahlah jangan difikirkan


author on


tatapan mata seseorang seperti menusuk jika siapa pun melihatnya dan tangannya mengepal melihat dua orang yang sedang berjalan beriringan dan sedikit berbincang di akhir itu dengan akrab membuat amarahnya seketika memuncak


namun dia hanya memperhatikan keduanya yang sedang berpamitan


"jangan harap lu bisa ngambil aillen, aillen itu cuman milik gue" gumamnya sambil berlalu pergi saat mereka telah kembali ke tenda masing masing


disisi lain


"apa lo suka dia ai? apa gue harus jujur sama lo atau ahh jangan fikir negatif dulu inget aillen itu gak akan ngehianati temennya sendiri inget itu" gumamnya dalam hati dan mengeratkan selimut yang ia pakai dan mencoba untuk tidur