
ini kelihatan aneh karena sepanjang hari ini aillen tak dapat bertemu dengan Nessa dan lebih tepatnya sudah beberapa hari berlalu sebenarnya aillen mencoba mencari keberadaan nessa
namun nihil temannya itu seperti di telan bumi menghilang begitu saja
"hei melamun saja"
tepukan pada pundaknya seketika membuayarkan lamunan
saat matanya melihat netra itu netra yang selama beberapa hari ini selalu ada di dekatnya
menemaninya dan menyapa entah sengaja berpapasan atau tidak dia selalu menyempatkan bertemu dengan aillen
"tuh tuhkan malah diem kamu kenapa sih ai?" tanya laki laki itu sedikit gemas dengan aillen yang hanya diam tanpa menjawab sapaannya barusan
"eh eng enggak ko, kamu nanya apa barusan emang?"
"tuhkan bener ngelamunin siapa sih? aku ya? aku tu gak usah dilamunin nanti juga datang kesini nyamperin kamu ko" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya
"dih apaansih kamu dik receh banget tau" tawanya pecah mendengar ucapan dikabyang sangat ke-PD-an menurutnya
"hahah nah gitu dong ketawa kan dari pada kamu ngelamun gak jelas mending kalo mikirin aku iya gak"
aillen hanya menggelengkan kepalanya karena sunggu dia merasa sikap Dika itu sangat absurt menurutnya
"oh iya ai kamu ada waktu gak nanti sore kita jalan yu"
"kamu gak salah dik?"
"apanya yang salah ai?"
"astaga ya itu kamu ngajak aku buat jalan gak salah?"
Dika keheranan kenapa aillen bertanya seperti itu padahal tak ada yang salah menurutnya
"astaga kamu gak peka ya kamu kan tau Giska itu gak suka liat kamu sama aku Mahardika" ucapnya geram
"hahah gara gara itu sebenernya yang kalian gak tau adalah Giska itu udah lama putus sama aku dia itu gak ada hubungan apa apalagi semenjak 2 tahun yang lalu tapi dianya aja yang bandel ngejar aku terus"
aillen hanya menganggukkan kepalanya tanda tak mau memperpanjang percakapan mereka
"jadi mau ya pliss" ucap nya dengan memohon
aillen merotasikan matanya malas
"yasudah sekali ini"
"yes ok kalau begitu aku jemput kamu nanti ya"
wajahnya terlihat cerah seketika mendengar jawaban dari aillen yah walau pun dia tahu bahwa aillen sedikit enggan namun setidaknya dia mau memulai awal yang baik dengannya
"yasudah aku kekelas dulu sampai berjumpa nanti ai"ucapnya dan berlalu pergi jangan lupakan kedipan menggoda andalannya
"hah dasar aneh" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya
tanpa disadari disana ada yang memperhatikan mereka dengan tatapan ketidak sukaan.
bukan, bukan kepada aillen tetapi lebih tepatnya kepada orang yang telah berani mencoba mendekati kekasihnya itu
kilatan kemarahan terpancar namun dia masih harus bersabar untuk mendapatkannya kembali jangan terburu buru
"tunggu saja sampai waktunya" gumaman yang penuh akan penekanan dalam setiap katanya
orang itu pun berlalu pergi saat melihat aillen melangkah keluar dari kantin
***
pelajaran terakhir telah usai semua berhamburan keluar dengan teratur
aillen pun berjalan menyusuri koridor menuju parkiran melihat sosok tampan yang sudah berdiri dengan percaya diri tersenyum melihat aillen yang berjalan kearahnya
berbanding terbalik dengan pandangan aillen sebenarnya ia sangat berharap untuk menghindarinya tapi malah dia sudah berdiri di sana dan mau tak mau aillen harus mengikuti ajakannya
"yu sekarang" ajaknya
aillen hanya mengangguk dengan sedikit senyum yang ia paksakan
"sini aku pakein helmnya"
dengan cepat mengambil helm itu dan memakaikan itu dikepala aillen seketika membuat gadis itu protes
"udah gak papa aku bisa ko" ucapnya dan berusaha mengambil alih helm itu
"gak papa diem dulu" tegasnya
membenarkan lalu mengaitkan pengaman dileher jenjang itu sampai terdengar bunyi klik
"selesai yu naik" ucapnya dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya
lagi lagi aillen hanya diam tak merespon apapun karena tindakan spontan dari Dika
namun segera ia menyadarkan fikirannya dan naik keatas motor hitam itu untuk menghindari hal hal aneh yang akan Dika lakukan padanya
motor pun melaju melewati gerbang kampus membelah jalanan kota yang cukup ramai sore ini
perjalanan mereka terasa lama menurut aillen karena tak ada percakapan sama sekali
sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin aillen tanyakan namun semua di urungkan karena dia tahu bahwa Dika tidak akan memberinya jawaban
berbeda dengan Dika yang merasa perjalanan ini sangat menyenangkan entah di sadari atau tidak aillen melingkarkan tangannya di pinggang Dika meskipun kepalanya tidak bersandar pada punggungnya tetapi itu sedikit membuatnya semangat
ada beberapa hal yang ia rencanakan dari kemarin dan semoga saja rencananya berjalan lancar
tak terasa motor itu melaju telah jauh karena mereka sibuk dengan fikiran masing masing
akhirnya motor itu menepi di sebuah tempat yang indah dengan pemandangan matahari yang akan tenggelam suara gemuruh air saling bersahutan dan angin yang berhembus pelan menyejukkan
tetapi alis itu menukik menandakan keheranan diwajah aillen
"pantai?"
"iya pantai"
semakin heran aillen dibuatnya untuk apa mereka kesini? indah tapi ada hal apa disini.
mereka turun dari motor dan lagi lagi Dika membantu aillen melepas helmnya
kali ini tak ada perdebatan kecil disana aillen menuruti kemauan Dika toh fikirnya akan percuma berdebat dengan makhluk yang satu ini
setelah melepas helm tanpa permisi tangan Dika menggandeng tangan aillen mengajaknya berjalan sedikit kedepan duduk di batang kayu pohon yang telah tumbang sebagai alasnya
untuk beberapa saat tak ada yang berbicara sama sekali hanya deburan ombak yang saling bersahutan menabrak lembut kearah bibir pantai
"aku tahu kamu pasti bingungkan kenapa aku bawa kamu kesini ai"ucapnya memecah kesunyian
aillen hanya mengangguk sebagai jawaban
"hari ini adalah peringatan kematian orang tua ku dan aku hanya ingin menenangkan diri disini tapi aku tak mau sendiri aku ingin kamu di sini"
sedikit terkejut dengan penuturan Dika dia tak pernah tahu jika Dika sudah tak memiliki orang tua
ada sedikit pertanyaan yang lewat dalam benaknya namun urung saat Dika meneruskan ucapannya
"kedua orang tua ku mengalami kecelakaan mobil saat umur ku 15 tahun, awalnya kami berencana untuk pergi liburan kepantai ini namun tiba tiba orang tua ku ada panggilan untuk bekerja saat itu yang mengharuskan kamu mengurungkan niat untuk berlibur"
sedikit ada jeda disana helaan nafas berat ia hembuskan
"mereka pun mempersiapkan segalanya dan berangkat sore hari dengan beberapa pakaian mereka, namun baru saja mobil itu pergi beberapa menit tak sampai satu jam mobil itu mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol karena jalanan yang menurun dan mobil ayah remnya tidak berfungsi sama sekali Aya sudah berusaha semaksimalnya namun sayang kecelakaan tak dapat dihindarkan mobil itu menabrak pembatas jalan dan mereka tak langsung mendapatkan bantuan medis yang akhirnya mereka meninggal di tempat"
Dika bercerita tanpa mengalihkan pandangannya dari pantai
tanpa melihat kesampingnya aillen sudah sangat berkaca kaca karena cerita yang Dika ceritakan tanpa ekspresi apapun namun aillen tahu Dika merasakan sakit yang mendalam entah kenapa air matanya tak dapat di bendung kembali
bulir bening itu mengalir dengan sendirinya diiringi isakan kecil yang keluar dari bibirnya
kaget sudah pasti Dika dengan cepat memandang kearah aillen setelah mendengar isakan itu
"hey kenapa kamu malah nangis ai" ucapnya panik dan langsung menyeka air mata itu
aillen tidak menjawab melainkan malah semakin terisak
Dika langsung membawa aillen kedalam dekapannya tangisannya pilu
Dika merasakan perasaannya mulai tak karuan di satu sisi dia merasa senang dapat memeluk aillen namun dia tak suka melihat aillen menangis seperti ini
dika terus mencoba menenangkan aillen dalam dekapannya saat dirasa sudah mereda tangisnya Dika melepas pelukan itu
"kenapa hmm?" tanyanya dengan lembut sambil menyeka sisa air mata di pipi tembam itu
"ma maaf aku hanya tak menyangka kamu mengalami hal semenyaitkan itu" jawabnya terbata
"hahah udah ya jangan nangis kamu kaya monyet kalo nangis" ucapnya dengan tawa
aillen yang merasakan sedih malah menjadi kesal karena keusilan Dika
tangannya diayunkan memukul dada Dika dengan cepat karena kesal
"aduduh sakit ai ai aku minta maaf ya"
tak dihiraukan aillen dia terus memukuli dada itu, dia tidak terima masa di samakan dengan monyet
tangan Dika menahan tangan aillen yang tak mau berhenti dan memegangnya dengan kuat seketika pukulan itu berhenti dan mereka beradu pandang
"sakit tau ai dari pada kamu pukul mening kamu rangkul aku ya" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya
aillen langsung menghempaskan tangannya dari genggaman Dika
"huh dasar cari kesempatan kamu" ketusnya namun detik berikutnya ada senyum yang tersungging di bibirnya
"tapi aku aneh kenapa kamu malah bawa aku bukan yang lain?" pertanyaan itu entah kenapa seketika meluncur dari bibirnya
"aneh memang tapi aku mau jujur sama kamu ai" ucapnya sambil mengalihkan pandangannya untuk melihat wajah aillen lagi
"gak ada orang tahu tentang ini selain kamu termasuk Giska, aku merasa kamu orangnya gak ribet makanya aku malah gajak kamu bukan orang lain"
aillen hanya mengangguk saja
"tapi gimana kalo aku sebarin kesemua orang tentang ini?"
"Emang kamu berani?"
jawaban sekaligus pertanyaan itu membuat aillen nyengir seketika
ya memang aillen bukan orang yang selalu bergosip dan jika ia memang ingin menyebarkan buat apa juga toh tak ada manfaat bagi dirinya
mereka pun kembali memandang kearah laut menikmati suasana yang mulai terasa lebih santai mungkin