Life In Miracles

Life In Miracles
kekesalan



hari telah berubah menjadi Minggu begitu pula dengan kedekatan Abi dan aillen yang bisa dibilang makin akrab ralat Abi lah yang terus menerus mencoba mendekatkan dirinya pada aillen


seperti saat ini di kantin


"hai ai mau pesen apa" sesaat setelah aillen ada di kantin


" eh pa Abi saya mau pesen minum pa" ucapnya sambil tersenyum ramah


" ohh yaudah kamu duduk gih biar saya aja yang pesankan sekalian saya juga haus soalnya" ucapnya sambil mengusak rambut aillen


" gak usah pa biar saya aja merepotkan nanti"


" gak ko gak merepotkan saya udah ya kamu duduk aja" ucap Abi dengan yakin dan berjalan menuju STAN minuman


aillen hanya bisa pasrah dan mencari tempat duduk sambil menunggu Abi memesan minumannya


tak berapa lama Abi datang membawa minumannya dan aillen


"ini" Abi memberikan pesanan aillen


"makasih pa" ucapnya dan mencoba merogoh uang dari tasnya


"ini pa uang buat ganti minumannya" aillen menyodorkan uang pecahan 10ribu pada Abi


"gak usah itu saya yang traktir" ucapnya menolak dengan halus


"tapi pa.."


"udah saya marah Lo kalo kamu nolak pemberian dari saya" potongnya sebelum aillen menyelesaikan ucapannya


aillen pun tak mau banyak berdebat dia ingin menuntaskan rasa hausnya yang sedari tadi menerpa tenggorokannya


"ai" panggilnya memecah kesunyian diantara keduanya


"iya pa"


" kamu malam ini ada acara gak?"


"hmmm.. kebetulan gak ada"


"Bagus, nanti malam temani saya keluar ya? kamu bisa kan?" ucapnya dengan lantang


"eh saya? hmm bisa sih pa tapi kemana?" jawabnya sedikit ragu


" nanti kamu tau pokonya saya jemput kamu jam 7 ya" setelah mengucapkan itu dia melihat jam dan berpamitan karena ada kelas berikutnya yang harus dia ajar


aillen yang menatap punggung Abi dengan pasrah


"hah ada apa sih sama pa Abi" gumamnya


ya selama beberapa hari ini dia merasa bingung dengan sikap Abi yang semakin perhatian dan selalu berada di dekatnya


ada yang memandang sebal dan membicarakan hal buruk dibelakangnya membuat dia jengkel bukan main


yah tapi mau bagaimana lagi sekarang dia hanya bisa menunggu sampai abi menjemputnya nanti malam


"hah sudahlah aku kekelas saja"


aillenpun berjalan gontai kearah berikutnya


****


setelah usai kelas Nessa bergegas meninggalkan kelas tanpa menoleh atau mengajak aillen untuk bareng


meski agak aneh tapi aillen tak mau ambil pusing diapun segera membereskan barang barangnya dan berjalan keluar


*disisi lain


"mas Abi dimana sih ko gak ada" gumamnya sambil terus berjalan menyusuri lorong kampus menuju ruang dosen yang ada di bawah ujung sebelah kanan


"nah itu dia mas mas Abi" saat netranya mendapati sosok yang dicari cari nya telah ketemu dia bergegas menuju kearah Abi yang sedang berjalan menuju ruang dosen


"iya nes ada apa?" ucap Abi saat Nessa sudah di dekatnya


"mas malem ini kita jalan yuu udah lama kan kita gak keluar bareng" ajaknya sambil memegang tangan Abi


"maaf nes kalo malam ini mas gak bisa " tanpa berfikir dulu sambil melepas tautan tangan Nessa dilengannya


"yahh kenapa kan mas udah gak ada kegiatan kampus lagi sampe malem" rengek nya


" maaf nes mas beneran gak bisa soalnya mas udah ada janji"


" sama siapa sih mas emang dia lebih penting dari pada aku apa?"


"bukan gitu Nessa mas udah janji duluan sama dia jadi gak bisa ya maaf" ucapnya mencoba menenangkan Nessa yang kekeuh untuk pergi


" huhh yaudah aku ngalah tapi dia siapa sih!"


"hmm dia temen mas nes udah ya nanti mas kabarin kalo mas ada waktu ok" dan tanpa mendengar teriakan dari Nessa Abi berjalan masuk keruang dosen


"ehh mas mas mas abiiii! ihh nyebelin "dengan kesal Nessa berbalik menuju gerbang untuk pulang karena kesal Abi tak menanggapi panggilannya dan siapa sih orang yang mampu mengambil perhatian Abi darinya


sambil berjalan dirinya terus saja menggerutu karena rasa kesalnya


***


aillen yang kini sudah ada dirumah merebahkan dirinya di kasur setelah menyapa sang bunda yang sedang memasak di dapur


"hah lelah nanti aja deh mandinya " gumam gadis itu dan mencoba memejamkan matanya di atas kasur kesayangannya bergelut dengan selimut dan bantal yang tersusun rapih


tanpa di rasa dirinya tertidur dengan lelapnya