
hari ini dia bangun dengan terlambat karena mimpi itu
berlari menyusuri jalanan yang lumayan ramai menuju sebuah tempat dimana saat hari libur kalian menghabiskan waktu luang
Yap hari ini dia sedang berada di sebuah caffe karena tadi supir sedang mengantar sang bunda aillen menaiki bus untuk ke salah satu caffetarian yang ada di pusat perbelanjaan tak jauh dari rumahnya
ya aillen tidak terlalu suka menaiki taxi bukan karena tak punya uang akan tetapi ada kejadian tragis yang menimpanya beberapa tahun silam hal itulah yang membuatnya terlalu trauma untuk berada di satu ruangan hanya berdua saja
Ting suara pintu terbuka membunyikan lonceng kecil didepan pintu menandakan tamu yang hadir
"silahkan ada yang dapat saya bantu" ucap salah seorang pramusaji disana dengan ramah
"maaf mba saya ada janji sama abi"
"baik atas nama bapak abi, beliau ada di meja nomor 4 mari saya antarkan beliau sudah menunggu"
tanpa berlama lama aillen mengikutinya dari belakang mengarah kemeja yang disebutkan tadi terlihat sosok pemuda tampan yang telah duduk apik disana
memakai baju kemeja hitam dipadukan dengan celana jins berwana sedikit terang menambah aksen elegan namun santai
awalnya cukup membuat aillen terpesona namun dengan segera dia menyadarkan diri dan menyapanya saat ia berdiri tepat di sebelah Abi yang juga sudah berdiri menyambutnya
"makasih ya mba" ucapnya dengan senyum ramah
pramusaji itu pun pamit pergi
"silahkan duduk ai" ucapnya sambil menggeser kan kursi untuk aillen
"hmm makasih mas"
mereka pun duduk berhadap hadapan dengan Abi yang berada di sisi kirinya
tangan Abi terangkat untuk memanggil pelayan
seorang pelayan pun datang sambil membawa buku menu
"silahkan mba mas ingin pesan apa?" ucapnya sambil memberikan buku menu
Abi mengambilnya dan membuka buku itu melihat lihat isinya
"ai kamu mau pesan apa?"
"aku kalo makanan samain aja tapi kalau minuman aku mau mango squash"
"ok mba saya mango squashnya 1, flat white coffe nya 1, sama klappertaart 2 sama potato wedgesnya 1 ya"
pelayan itu mencatat pesanan setelahnya mengucapkan kembali pesanan Abi
"baik mas saya akan siapkan apakah ada lagi yang ingin di pesan?"
"untuk saat ini gak ada itu aja dulu" jawab Abi dengan sopan
"baik saya permisi dulu" ucapnya sambil membungkukkan badan dan berlalu pergi
suasana kembali hening ada sedikit kecanggungan namun tak berlangsung lama
"gimana kegiatan kamu di kampus ai?"
"a ah baik mas kaya biasa"
"bener nih gak ada kendala apa pun gitu?" tanya nya lagi meyakinkan
"siapa tau ada hal dalam bidang pelajaran yang gak kamu mengerti boleh ko minta tolong kesaya" tuturnya
"hmmm enggak terlalu sih kalo di mata kuliah aku, baik semua tapi kalo di pertemanan aku ada" ucapnya sedikit ragu di akhir kalimatnya
"loh ada apa gitu sama temen kamu? ada yang ganggu apa gimana?"
"enggak ko mas cuman akhir akhir ini Nessa gak masuk dan kaya ngehindar gitu dari aku"lirihnya
"iya Nessa aku gak punya teman selain dia, ada sih tapi gak sebaik dia. tapi entah kenapa akhir akhir ini dia kaya yang jauhin aku gitu loh"
seketika pikiran Abi membayangkan pembincaraan terakhirnya dengan Nessa sampai saat ini memang dia belum berbicara kembali dengan Nessa
dia terlalu terkejut dengan semua yang Nessa katakan waktu itu terasa hal itu tak mungkin terjadi tapi malah sebaliknya
"mas hei mas"
panggilan lembut itu membuyarkan lamunannya
"ehh iya ai apa?"
"ini loh mas makanannya udah Dateng kamunya malah bengong aja"
Abi pun mengalihkan pandangannya pada meja ah ternyata ia dia terlalu fokus pada fikirannya tadi
"hehe maaf ya" ucap Abi sambil tersenyum lembut kearah aillen
"hmm yaudah yu makan" tuturnya
mereka pun mulai memakan makanan masing masing dengan diam dengan Abi yang sesekali memandang kearah aillen dengan gemas
makannya tidak berantakan namun membuatnya gemas saat ada sedikit krim yang tertinggal dari makanan yang dimakan aillen di mulutnya
membuat tangannya dengan refleks menghapusnya dengan lembut, membuat aillen tersipu dibuatnya
lihatlah kulit kemerahan itu membuat Abi ingin memakannya sangking gemasnya
namun dalam fikiran Abi ada satu hal yang terbesit apakah ada kaitannya kemarahan Nessa padanya dengan menjauhi aillen?
ataukah Nessa sudah tau jika Abi menyukai aillen?
dengan segera dia menggelengkan kepalanya dia harus menanyakan pada Nessa sendiri jika terus menebak hanya akan membuatnya bingung
setelah selesai mereka pun keluar dari sana, berjalan berdampingan menuruni eskalator dengan Abi yang tak segan menggenggam tangan aillen selama berjalan dan aillen pun tidak menolak pegangan itu
mereka pun sampai di parkiran bawah,mereka berjalan kearah mobil putih bertuliskan Pajero sport dibagian depan mobil. aillen masuk kedalam mobil putih itu dibantu oleh Abi yang membukakan pintu penumpang di sebelah pengemudi
Abi memutar badannya berjalan kearah pengemudi memasang seftybelt nya dan melajukan mobil
"mau kemana lagi kita mas?"tanya aillen saat menyadari arah yang mereka ambil bukan kerah rumah Aillen
"kita mampir dulu ya ke supermarket abis itu kerumah aku" ucapnya sambil tersenyum lembut kearah aillen
"hmm kerumah kamu? ngapain mas?" tanya nya gugup
karena sumpah ini baru pertama kali dia akan berkunjung kerumah orang lain selain dari rumah Nessa karena setiap kali saat dirinya bosan pasti kesana dan jika ada kerja kelompok pun tidak pernah di rumah orang lain pasti aillen mengajak teman temannya untuk berkunjung kerumahnya saja
"kamu gak keberatan kan ai?" tanya Abi saat melihat wajah manis itu yang menunjukan sedikit kekhawatiran
"hmm enggak ko mas gak papa"jawabnya mencoba menghilangkan kegugupannya
Abi tau aillen sedang merasakan gugup dia pun tanpa permisi menggenggam tangan manis itu mencoba menenangkan dengan sedikit kata manis yang ia ucapkan
" jangan khawatir bunda baik ko ok"
saat kata itu tertangkap oleh Indra pendengarnya seketika rasa gugup itu berkurang apalagi saat Abi mengucapkannya dengan nada lembut dan senyum yang terukir indah di bibirnya
membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan rasa gugupnya hilang namun bergantung dengan semburat merah yang terhias di pipinya
pemandangan itu tak lepas dari tatapan Abi gemas sekali rasanya saat melihat aillen tersipu
tanpa melepas genggaman itu Abi melajukan mobilnya dengan tenang tatapan lurus melihat kejalan namun hatinya bersorak ria karena aillen pun tidak menolak pegangan itu
bukan tak ingin memang ada sedikit rasa risi hanya sedikit saja dan selebihnya seperti ada aliran listrik yang menyengat sampai kehatinya menggelitik lembut disana membuatnya nyaman tanpa niatan kuat untuk melepas genggaman itu