Life In Miracles

Life In Miracles
hancur



"sayang kamu denger mamah?"


panggilan itu terdengar kembali namun kali ini Nessa tak mau mendengarkan mamah nya


"pergi mah " serunya


"tapi mamah khawatir sayang kamu belum makan dari tadi sayang"


"aku baik baik aja mamah boleh pergi!"


"tapi nak..."


"aku bilang pergi mah pergi!" teriaknya hiteris


Rena tak kuasa mendengar jeritan sang anak, tangisnya pecah seketika


dia sadar jika ini salahnya dia tak terlalu memperhatikan Nessa sampai Nessa menjadi seperti ini


dia tahu setiap kali Nessa bersama Abi dia akan bahagia dan selalu ceria


maka dari itu dia merasa tenang, namun dia lupa jika Abi punya dunia nya sendiri dan tidak akan selalu bersama dengan Nessa selamanya


"yatuhan apa yang sudah ku lakukan" lirihnya


dengan langkah berat dia menuruni tangga untuk memberi waktu pada Nessa


.


.


.


"hah" gumam Abi saat sampai di kamarnya setelah pulang dari rumah aillen


suana hatinya terbilang sangat bagus untuk saat ini berkat kedekatan nya tadi dengan aillen


hahh Abi sudah tak sabar ingin rasa nya memiliki gadis itu


drrrrtt drrttt


dengan cepat Abi melihat heandphone nya


"loh Tante Rena? ngapain nelpon" gumamnya dan segera menekan tombol hijau disana


"hallo Tan?"


dengan tatapan yang berubah Abi coba menenangkan Rena yang sedang menangis di sebrang sana


"Tan Tante tenang dulu jangan nangis dulu Abi gak ngerti kalo ceritanya sambil gitu"


namun tangis Rena malah semakin menjadi membuat Abi semakin panik


"ya sudah Tante tolong tunggu dulu di situ jangan ngelakuin apa pun dan jangan kemana mana!"


dengan segera Abi mematika sambungan itu dan bergegas turun kebawah


.


.


.


.


dan saat kakinya melangkah menuju sofa diruang tv terlihat rena sedang terduduk memeluk dirinya sendiri dengan sendu


"Tante" panggilnya


Rena mengenali suara itu dan berhambur memeluk Abi


"BI maafin Tante bii" lirihnya dalam pelukan Abi


"kenapa Tan jelasin ke Abi ada apa? kenapa minta maaf" tanya Abi dengan mencoba menenangkan Rena


namun nihil Rena masih tak mau berbicara padanya


sampai terdengar bunyi


prangggggg


suara keras dari atas di susul teriakan Nessa yang keras


arrggghhhh


"Nessa bi nessa keatas sekarang bi cepat" ucap Rena khawatir akan putrinya itu


Abi pun tanpa pikir panjang berlari kearah tangga dan mengarah pada kamar Nessa


saat ingin membuka pintu sayang pintu itu terkunci dari dalam dan Abi tahu jika hanya ada satu kunci ya itu yang di pegang Nessa


tok tok tok


"Ness buka Ness ada apa ini mas " ucapnya dengan panik


"gak pergi kalian semua! kalian jahat pergi aku gak mau denger apa pun" jawabnya dengak


"pliss Ness buka dulu sebentar" bujuk Abi


Nessa semakin kesal dia menjatuhkan cermin yang tergantung di kamarnya kearah pintu


prankkk seketika cermin itu hancur tak berbentuk


Abi semakin panik di buatnya dan tanpa memikirkan hal lain iya mencoba mendobrak pintu itu sekuat tenaga


percobaan pertama gagal, dan kembali iya dobrak butuh tenaga ekstra untuk membuka pintu itu


sampai di dobrakan keempat baru dapat terbuka dengan kencang


dan betapa terkejutnya Abi beserta Rena melihat begitu berantakannya kamar Nessa


Rena hanya dapat menutup mulutnya dengan tangan karna apa yang dilihatnya sangat menyakitkan


sampai Abi semakin berjalan masuk dan terlihat Nessa yang sedang memegang serpihan kecil kaca di tangannya


"jangan mendekat!" ucap Nessa dengan tajam


"nes lepas jangan lakuin hal bodoh" ucapnya sambil berjalan perlahan dan mencoba menenangkan Nessa


"aku bilang jangan mendekat! kalo enggak aku bakal lukain diri aku dengan ini" ancamnya dengan mengacungkan benda itu ke arah pergelangan tangannya


"ok ok mas gak akan maju tapi lepasin dulu ya serpihan nya ya!" bujuknya lembut


namun Nessa tak bergeming dia teteP di sana dengan tatapan nyalang menatap Abi


dapat ia liat mata Nessa memancarkan keputus asaan saat ini