Life In Miracles

Life In Miracles
bunga bersemi



Mereka sudah sampai di rumah namun bukan rumah aillen melainkan rumah pribadi sagara tidak terlalu luas namun bernuansa modern, dengan dinding kaca di bagian bawah lantai satu rumah dan lantai dua yang setengah nya dengan tembok putih setengahnya kaca di bagian balkon dihiasi dengan tempat santai cukup untuk menghabiskan waktu saat sore atau malam hari


ini buakn kali pertama bagi aille datang kerumah ini.


Sebenarnya dirumah ini sudah ada kamar khusus bagi aillen untuk ganti baju atau sekedar menginap di sana dan sagara sudah menyiapkannya jauh sebelum aillen dan dirinya kembali dekat seperti sekarang


Aillen tengah duduk di kursi depan tv karena merasa lelah setelah olahraga dan sedikit berjalan jalan tadi


“ini” ucap sagara menyodorkan segelas air putih pada aillen


“terimakasih”


Aillen negak minuman itu sampai tandas namu karena terburu-buru dia tersedak air menyebabkannya terbatuk


“uhuk uhuk uhuk”


“astaga sudah kubilangkan” ucap sagara gemas


“uhuk uhuk uhuk”


Sagara coba meredakan batuknya dengan mengusap dibagian punggung aillen dan menyimpan air yang sedang aillen pegang


Setelah beberapa detik batuknya pun reda


“sudah membaik?”


“hhmm’


Aillen masih belum mampu untuk menjawab dengan kata-kata karena dadanya masih terasa sesak


“dasar bayi” ejeknya pada aillen


“apa kamu bilang? Aku bayi?”


“yap”


“huh aku bukan bayi ya, aku sudah besar” jawabnya dengan kesal


“buktinya kamu minum nyasaja bisa tersedak, itukan hanya bayi yang melakukannya”


“mohon maaf ya bapak sagara yang terhormat, banyak juga ko orang dewasa yang tersedak ole air minum karena terlalu haus”


“buktinya?”


Aillen merasa kesal dan ingin memukul pria di depannya ini namun saat tangannya akan terulur untuk memukul, sagara sudah lebih dahulu memegang tangan aillen


“mau apa hmm”


“ish kamu curang’


“aku curang apa?”


“lepasin garaaa”


“enggak, tadi mau ngapain jawab dulu”


“a-aku gak ngapa-ngapain cepet ish lepasin”


“bohong”ucapnya tegas


“be-beneran ko’


“cepet bilang gak kalo enggak aku gelitik nih”


“beneran ko a-aku gak bohong”


“hahaha sagara geli hahaha”


“ayok ngomong”


“hahah apa aku gak bohong ko hhahah udah”


“gak sampai kamu bilang”


Aillen masih enggak bicara yang membuat sagara pun tidak berhenti menggelitiknya sampai-sampai karena geli aillen bergerak dan malah terjungkal kebawah karpet berbulu itu diikuti dengan sagra yang ikut terguling karena refleks ingin melindungi aillen supaya tidak terlalu sakit


Namun karena begitu cepat sampai tidak dapat dihindari lagi untuk kedua bibir itu bertemu, dengan sagara yang kini ada di bawah aillen dan aillen berada di atas nya


Cukup lama mereka dalam posisi itu, dua mata yang saling berhadapan dan detak jantung keduanya yang saling bertautan


Sauna terasa hening, sampai aillen berusaha menyadarkan dirinya dan beranjak dari tubuh sagara


“maaf-maaf aku tidak sengaja” ucap aillen dengan gugup tanpa melihat kearah sagara


”itu bukan kesalahan” ucap sagara


“aku- aku ke kamar duluan, kamu pun mandi juga bye sagara” ucap aillen tanpa menunggu jawaban dari sagara dia berlari cepat kearah kamar yang biasa dia gunakan jika kesini


Sagra yang melihatnya hanya menyematkan sedikit senyuman di sudut bibirnya


“aku akan lakukan perlahan sampai kau mengingatnya sayang”


Gumam sagara dan berlalu pergi dari sana.


***


Suasana di kamar kini terasa sediki romantis dengan dua insan yang masih tertidur lelap di atas kasur saling memeluk satu sama lain sampai sang mentari yang sudah tinggi menyapa keduanya melalui celah jendela tidak membuat keduanya terganggu


Tok tok tok


“abi nessa bangun sayang ini sudah siang kalian sarapan dulu” suara lembut membuat salah satu dari mereka terbangun


“nessa, abi” panggilya sekali lagi


“iya mah kita turun sekarang”


“yasudah abi, bangunkan nessa ya tolong mamah kebawah dulu”


Tanpa menunggu jawaban dari abi ibu nessa berlalu kebawah


Abi yang masih setengah sadar mencoba mengusap kedua matanya dan melihat kearah jam yang ada di depannya ternyata sudah jam setengah Sembilan pagi


Dia mencoba bangu namun tangan nessa masih melingkar di perutnya, abi mencoba untuk melepaskannya namun nessa malah mengencangkan pelukkan itu


“masih pagi mas ini kan hari minggu aku masih penegn tidur bareng kamu”ucap nessa dengan manja


“mamah udah nunggu kita loh ness” bujuk abi


‘biarin dulu aja mamah nunggu mas kamu kan jarang disini”


“yasudah” abi sudah tidak ingin berdebat dengan nessa untuk pagi ini


Karena setelah beberapa minggu kebelakang nessa memang sudah lebih membaik tapi dengan syarat abi yang harus menginap disini dalam seminggu 2 atau 3 kali


Abi merasa tidak enak karena mereka sudah sama-sama dewasa berbeda cerita dengan mereka yang dulu saat masih kecil