
rasa yang semakin tumbuh dan hubungan semakin dekat membuat kedua insan itu semakin terlihat serasi
ya siapa lagi jika bukan aillen dengan Abi sejak pertama bertemu sampai Abi membawanya untuk makan malam di rumah banyak lagi waktu yang sering mereka habiskan
keluarga Abi menerima aillen dengan baik meskipun saat itu aillen masih belum berstatus apa apa tapi secepatnya Abi ingin membuat aillen menjadi miliknya
tak dapat di pungkiri setiap dia jalan atau sekedar menghabiskan waktu bersama di taman dekat rumah aillen itu terasa menyenangkan
waktu terlewati begitu cepat bila bersamanya, tak terasa sudah hampir sebulan lamanya
semuanya berjalan dengan baik namun seiring kedekatan mereka banyak pula gosip yang beredar di kampus
bahwa dosen tampan berjalan dengan mahasiswinya berita itu dengan cepat menggemparkan satu fakultas
aillen yang tidak terlalu perduli hanya menuliskan pendengarannya karena menurutnya wajar saja jika dia dekat dengan Abi toh mereka tidak melakukan hal yang memalukan fikirnya
kedekatannya pun dengan Nessa semakin buruk apa lagi semenjak berita itu naik kepermukaan membuat Nessa semakin jauh padanya
dia selalu berusaha untuk mendekati Nessa tapi Nessa dengan tegas menolak semua ajakan aillen
dia masih bertanya apa kesalahannya sehingga membuat Nessa marah padanya
seperti saat ini aillen berjalan menuju kearah kantin dia mencoba mencari keberadaan temannya itu tanpa lelah
karena menurutnya apapun itu harus ia selesaikan dan jika Nessa tak mau berteman dengannya makan ia harus tau apa alasannya
terlihat gadis itu tengah berbincang dengan teman yang lainnya
pakaiannya kini sedikit terlihat feminim dari biasanya aillen menyadari itu, aillen berjalan kearahnya dengan santai
"nes" ucapnya sambil memegang bahunya
tapi tak di gubris olehnya
"Nessa aku pengen bicara sebentar" ucapnya lagi
namun lagi lagi Nessa menulikan pendengarannya sambil berbincang dengan temannya
"nes kalo kamu marah sama aku bilang nes jangan kaya gini, aku punya salah apa sama kamu nes coba bilang"
"kalo kamu diem ngabaiin aku gimana aku bisa ngerti tolong lah nes jangan kaya anak kecil gini" Ucapnya semakin pelan
"anak kecil Lo bilang?"
brak
" heh asal Lo tau Lo tuh yang kaya anak kecil jangan pura pura bego gue tau Lo itu temen gak tau diri tau gak!" bentaknya
membuat aillen seketika diam mematung disana semua mata menuju kearahnya Nessa yang telah tersurut amarah memandang bengis kearah aillen dengan jari yang menunjuk kearah wajah aillen
"salah apa gua sama lu ai? gua selalu ada buat lu tapi apa? Lo malah nikung gua dengan ngambil orang yang gua sayang ai" bentaknya lagi
deru nafasnya semakin memburu membuat dirinya hilang kendali melihat aillen yang kebingungan membuatnya semakin muak
"ta tapi nes aku salah apa aku gak tau yang kamu maksud apa . aku ..."
"alah jangan pura pura bego intinya gua muak ngeliat muka Lo mulai dari sekarang kita udah gak ada hubungan pertemanan lagi gua udah anggap lu gak pernah jadi sahabat gua ai"
setelah bentakan itu dia berlalu pergi meninggalkan aillen sendiri di sana dengan tatapan orang orang yang menganggapnya wanita jahat
air matanya tak dapat di bendung lagi sakit rasanya dibentak di depan semua orang
bukan karena tatapan mereka dia menangis tapi karena tatapan Nessa yang Sirat akan kebencian padanya
semakin banyak pertanyaan di kepalanya apakah kesalahannya sebesar itu sampai nessan enggan untuk berbicara dengannya
apa sekesal itu sehingga tatapan nya berubah menjadi kebencian yang mendalam
kepalanya semakin berdenyut sakit, dadanya terasa dihimpit membuatnya susah untuk bernafas bulir beningnya tak henti mengalir dan malah semakin deras
kakinya sudah tak dapat menopang tubuhnya untuk berdiri dengan cepat dirinya luruh kelantai menangis dengan suara isakan yang ia tahan
"bundaa" gumaman kecil itu keluar dengan sendirinya
dia tak pernah membayangkan hal ini bahkan tak tahu Nessa akan semarah itu padanya
pandangannya semakin memudar karena terhalang air mata yang terus mengalir makin lama makin gelap
dia ingin berdiri namun kakinya benar benar lemas, ingin meminta tolong tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokannya
hingga panggilan yang sayup sayup terdengar di telinganya
bruk tubuhnya terjatuh kelantai kesadrannya hilang
hanya satu yang ia dengar suara laki laki yang memintanya untuk bertahan setelahnya hanya gelap
***
Sagara prov*
mata indah itu masih terpejam dengan indah andai saja aku membantunya cepat mungkin semua tak akan begini jadinya
sebenarnya sedari tadi aku memperhatikannya, gadis itu masih sama saja ceroboh, keras kepala, lembut namun juga sedikit bodoh.
ya aku melihat semuanya sedari awal dia masuk kantin gadis ku sudah tumbuh dewasa namun sayang dia tak mengingatku
ingin rasanya membantunya sedari tadi namun aku takut takut gadisku merasa risih dan tak mau berdekatan dengan ku
saat gadis itu memakinya seketika ingin rasanya membungkam mulut itu dengan apapun agar tak menyakiti gadis ku
dia tak tahu saja jika laki laki yang ia bicarakan adalah laki laki bajingan, dia penyebab semua ini sehingga gadisku harus di hina di depan umum seperti ini
tangan ku terulur menyentuh kembali wajah yang dulu sempat menghilang sekarang telah kembali
wajah yang ku rindukan dan hanya dapat ku pandang dari jauh sekarang dapat ku sentuh
lembut terasa saat tangan ku menyentuh wajah itu terlihat rapuh tersirat di sana
merapihkan helaian rambut yang menghalangi lekuk indah wajahnya
ingin rasanya ku bawa pulang sekarang juga ingin ku jaga dia agar tak ada yang berani menyakitinya lagi
kuberi kecupan manis di dahinya aku ragu namun rasa rindu ini tak tertahankan
beberapa detik kutahan kecupan itu sampai tak terasa satu bulir itu jatuh di dahinya
"aku kangen kamu sayang"
sungguh perih terasa saat gumaman itu meluncur dari bibir ku
segera ku jauhkan diriku darinya sebelum dia sadar, aku tak ingin dia tahu jika aku disini karena ini belum saatnya untuk dia tahu
***
mata itu terbuka dengan perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya
"ughh"
"ai kamu udah bangun?" tanya laki laki itu
"hmm haus" lirihnya
laki laki itu dengan cepat mengambil minum di atas nakas dan membantu aillen meminumnya
"gimana ada yang sakit gak?"
pertanyaan penuh kekhawatiran itu hanya di jawab oleh gelengan dan senyum lembut yang aillen berikan
" mas kamu dari tadi disini?"
"enggak baru beberapa menit yang lalu ko, maaf ya ai saya gak tahu kalau kamu pingsan sebelumnya saya di kasih tahu anak lain" ucapnya dengan tertunduk
"gak papa ko mas aku baik baik aja ko, hmm terus yang bawa aku kesini siapa?"
"mas juga gak tahu tadi waktu mas kesini, mas gak liat siapa pun tapi kata perawatnya kamu gak papa cuman butuh istirahat aja"
aillen hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban, sebenarnya dia ingin tahu siapa orang yang membawanya hanya saja mungkin nanti dia akan mencari tahunya jika sudah sembuh
"ai? kita pulang ya?"
tepukan itu membuyarkan lamunannya
"hmm iya mas"
Abi dengan sigap membantunya turun dari tempat tidur itu dan memapahnya menuju parkiran kampus yang untungnya tak terlalu jauh dari sini
awalnya Abi bersihkeras ingin menggendongnya namun aillen pun tak kalah keras untuk menolak itu
karena ya bisa di perkirakan akan seperti apa kedepannya jika ada yang melihat mereka mesra seperti itu
walaupun kampus sudah cukup sepi karena hari telah berganti sore namun tidak menutup kemungkinan kan ada yang melihat mereka
maka dengan berat hati Abi mengiyakan perkataan itu
saat sampai di parkiran Abi membantu aillen masuk kedalam mobilnya dan setelahnya dia pun bergegas masuk kedalam mobil
mobil pun melaju membelah jalanan menjauhi area kampus
dengan suasana langit senja dan padatnya kendaraan yang berlalu lalang karena banyak yang pulang dari kegiatan mereka sore ini
Abi mengantarkan aillen sampai rumahnya, disana terlihat bunda sedang duduk santai di depan rumah dengan di temani teh sore
saat melihat aillen yang di papah oleh Abi dari mobil dengan cepat ia menghampiri keduanya dan membantu Abi memapah aillen kedalam
mereka membawa aillen untuk duduk di ruang tamu sebelum bertanya
"kenapa ini ai ko kamu kelihatan pucet sayang?" tanyanya dengan lembut
"gak papa ko Bun aillen. cuman kecapean Doang"
"yakin? nak Abi boleh di ceritakan apa yang terjadi?"
saat ini pandangannya menatap lembut kearah Abi
dengan cepat aillen memberikan isyarat dengan sedikit menggelengkan kepalanya
pertanda dia tak ingin menambah kekhawatiran sang bunda
Abi yang peka akan hal itu hanya tersenyum kearah bundanya
"gak papa ko Tante aillen cuman kecapean aja dia tadi lupa untuk makan jadi deh gini, apalagi kan banyak tugas kampus"
"hahh syukurlah kalau memang tak ada hal yang serius, sekarang kamu ke kamar aja ya ganti bajunya bunda siapin makanan dulu" ucapnya dengan mengusap lembut Surai hitam itu
"hmm iya Bun aillen keatas dulu ya"
saat hendak berdiri kakinya terasa lemas namun dengan sigap Abi menangkap nya
"yaudah mas anter kamu keatas ya ai"
tanpa menunggu jawaban dari aillen Abi menggendong aillen dengan bridal style
tangan itu dengan sendirinya mengalung di leher Abi dengan erat
"yasudah maaf ya nak Abi Tante merepotkan"
"iya gak papa ko Tan yaudah aku keatas dulu ya Tan"
Abi pun berjalan menuju kamar aillen, aillen yang sedari tadi berada di pangkuannya hanya diam mencoba menetralkan detak jantungnya
dia merasa tidak enak namun dia tahu percuma saja berdebat dengan seorang Abimana dan juga tidak ia pungkiri bahwa rasanya sedikit nyaman saat Abi memeluknya seperti ini
"astaga jangan sampai mas Abi mendengar degup jantungku" gumamnya dalam hati
benar benar panas terasa di pipinya dia yakin bahwa saat ini pipi itu terlihat memerah
sebenarnya tanpa aillen ketahui Abi pun sedang merasakan perasaan yang sama namun sebisa mungkin dia menyembunyikannya dan sungguh iya sebenarnya ingin lebih lama untuk merengkuh tubuh kecil ini
terasa hangat sampai kehatinya