
bagaikan mimpi buruk menyeramkan namun sayang ini lah kenyataannya!
aillen merasa khawatir dengan tingkah bundanya namun semua itu terjawab dan memberikan luka dalam pada hati aillen membuat kepalanya berputar keras hingga ia tak mampu untuk menghadapi kenyataannya
"aillen bunda tak ingin menutupi semua ini dari mu nak tapi ini sudah saatnya bunda memberi tahu kamu yang sebenarnya.... kamu bukanlah putri bunda nak!" ucap bundanya dengan tetesan air mata yang terus mengalir di pipinya
aillen berfikir keras mencoba mencerna apa yang sedang terjadi
" bunda maksudnya apa sih aillen gak ngerti! bunda" air matanya kini mengalir di pipinya yang sudah tak dapat ia bendung lagi
" sayang maafkan bunda itu kenyataannya kamu bukanlah putri ku , tapi bunda menjamin bunda menyayangi mu lebih dari anak bunda sendiri sayang" tuturnya dengan yakin
aillen merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hati nya kesadarannya mulai sedikit memudar namun ia berusaha untuk tetap menguatkan hati nya
"ba.. baik bunda kalau begitu siapa orang tua dari aillen bunda?" tanyanya dengan ragu
"untuk itu bunda tak dapat memberi tahu mu sayang bunda hanya melihat mu saat itu didepan rumah dan tak ada apapun setelah itu sayang"
keadaannya semakin membuat aillen sakit hati banyak pertanyaan dan banyak fikiran negatif yang terlintas di fikirannya sampai kepalanya semakin pusing dan berat pandangannya mulai buram, semakin gelap hingga ia terjatuh dari kursi hilang kesadaran
"aillen ai .... aillen bangun sayang jangan buat bunda takut sayang aillen!" teriak bundanya sambil menggucangkan badannya rasa takut semakin menjalar keseluruh tubuhnya
"parman parman rasna siapapun tolong tolong! aillen pingsan !" tuturnya lagi
tak lama sopir dan pembantunya itu datang dan memanggil dokter untuk memeriksa aillen
***
keadaan mulai tenang setelah aillen diperiksa
"aillen hanya sedikit sok dan hal itu memicu penyakit lamanya kambuh hingga ia tak sadarkan diri, tunggu sampai besok pagi dia baru akan siuman" ucap sang dokter sambil memberikan resep obat pada maria
"baik terimakasih dok saya akan membeli obatnya segera" tuturnya
"parman tolong antar dokter adji kembali"
" baik nyonya" setelah berjabat tangan dokter meninggalkan ruangan dan maria berjalan mendekati aillen
"maafkan bunda sayang bunda tidak bermaksud menyakitimu" ucapnya sambil mengusap lembut rambut aillen yang tengah terlelap.
ia pun beranjak dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan aillen di kamarnya
***
aillen on
"uhk ... kamar?" kepala ku sakit dan ku coba mengedipkan mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk
"ibu dimana ya?ahk.." kepala dan badan ku terasa sakit dan lemas ah ya semala aku pingsan
kini saat mengingatnya hati ku mulai merasa sakit kembali dan air mataku jatuh tak tertahankan
sakit memang sangat sakit aku tidak percaya orang yang telah membesarkan ku ternyata bukan keluarga ku yang asli dan dan keluarga ku sendiri malah tega membuang ku
"ahhhhh...." aku berteriak sekencang mungkin melepas semua beban fikiran ku sampai sampai bunda pun datang ke kamarku karena mendengar suara ku
brakk
pintu di buka dengan kasar " ada apa sayang apa ada yang sakit? atau kamu merasa tak nyaman?" tanya maria dengan khawatir
"bunda aku gak ngerti bun dengan semuanya bunda bilang ke aku ya bahwa ini semua hanya mimpi dan aku anak bunda kan ia kan bun jawab bun jawab huhuhu..."tanya ku sambil mengguncangkan tangan nya yang sedang merangkul ku
beliau hanya diam dan malah ikut menangis yang semakin membuat ku sakit hati.
"maafkan bunda sayang" hanya itu yang dia ucapkan dan kami hanya saling berpelukan melepaskan tangisan sekencang kencangnya
selang beberapa lama aku melepaskan pelukan kami
" maaf bunda aillen ingin sendiri dulu apa bunda bisa keluar sebentar" pinta ku tanpa menatap wajahnya
"tapi ai..."
" aillen mohon bun"potongku lagi
" baiklah jika itu mau mu tapi ingat jangan melakukan hal bodoh aillen dan bunda sangat menyayangi mu itu kenyataanya jangan berfikir bahwa kamu sendirian.
aku tak menanggapi apa pun dan bunda berlalu pergi meninggalkan ku sendiri,
aku membaringkan badanku dan tangisku pecah kembali aku menangis sejadi jadinya tenggelam dalam kesedihan dan mengunci diriku sendiri dikamar.