Life In Miracles

Life In Miracles
AKU



Wajah rapuh dengan warna putih pucat menghiasi wajah itu membuat hati maudi merasakan sakit yang teramat sangat,


Tangannya menyentuh lembut surai hitam itu


“sayangnya bunda bangun sayang, ini bunda nak” bisiknya di telinga aillen


“bunda kangen kamu sayang, jangan bikin bunda khawatir”


Maudi genggam tangan berbalut jarum infus itu, menciumnya menruh di pipinya


Air mata terus mengalir di pipinya membuat isakan tak dapat lagi di redam


Untuk beberapa sat dirinya malah menangis mengengam tangan rapuh itu


Dia mencoba menguatkan dirinya sendiri supaya aillen tidak mendengarnya namun dirinya terlalu lemah untuk hal ini


Dia pun keluar tanpa mengucapkan apapun lagi pada aillen karena tenggorokannya terasa tercekat hanya untuk sekedar menelan ludahnya sendiri


Di luar sana mereka yang menunggu maudi terkejut karena maudi yang langsung menangis kedalam pelukan suaminya


Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang suami


Semua terdiam kembali cemas pada keadaan aillen di dalam sana


Sagara pun memberanikan dirinya untuk masuk kedalam melihat aillen yang sedang berjuang dalam tidurnya untuk bangun


Saat akan membuka knop pintu terasa berat di tangannya namun dia tahu alien memerlukan support nyata darinya


“hai” ucapnya


“bagaiman di sana, aku ada disini sekarang”


“bangunlah aku merindukan mu”


Bisikan demi bisikan dia ucapka di telinga sang pujaan


Sekuat tenaga dia menahan dirinya supaya tidak menangis,


Dia mendekat mengelus surai hitam itu, mengecup pucuk kepala dan kedua mata yag tengah tertutup itu


Duduk di sebelah aillen menggengam tangan itu dengan erat


Mengecup punggung tangan itu sedikit agak lama


Menatap lekat wajah yang sedang tertidur disana


Untuk pertma kali dalam hidupnya dia menjadi sosok yang banyak bicara hanya untuk mendapat jawaban dari aillen


“aku hanya mengajak mu bercanda namun aku malah kehilangan mu”


“aku ingin lebih bersikap baik pada mu tapi mengapa kamu malah mendiamkan ku seperti ini sayang”


Ucapan itu terdengar lirih, rasa rindu yang tersirat di sana membuat dirinya tak mampu menahan itu lebih lama


“jangan tinggalkan aku lagi sayang aku mohon”


Namun tetap saja aillen belum memberi jawaban apapun, atau respon pada dirinya saat asagara mengucapkan keinginannya


Namun tanpa sagara saadari aillen menjatuhkan air matanya


Tanda satu respon  yang mampu memberi harapan


***


Aillen on*


Aku tengah berdiri di ruang gelap tanpa sekatan terasa sepi dan dingin di sana


“bunda, sagara? Kalian dimana?”


“bundaaa, sagaraaaa”


Aku terus memanggil mereka namun nihil tidak ada jawaban sama sekali aku mulai merasakan takut, aku menangis dan menoba berjalan mencari jalan keluar dari sini


Beberapa saat ada cahaya putih mata ku tertutup karena silaunya


Saat membuka mata suasananya berubah, terasa tidak asing


Saat ku amati ini jalan di depan sekolah SD ku dulu, kuedarkan pandangannku pada segala arah


Pandanganku terkunci pada gadis kecil di sana yang tidak jauh dari tempat ku berdiri sekarang, aku merasa terkejut karena ternyata yang berdiri di sana adalah diri ku saat kecil


Terlihat seorang anak yang tengah berdiri menunggu seseorang yang akan menjemputnya, gadis manis dengan kuncir dua rapih di kepalanya, mengenakan pakaian sekolah selututnya membuat dirinya terlihat menggemaskan


Tidak berselang lama seorang anak berpakaian sama menghampirinya