Life In Miracles

Life In Miracles
pengakuan



tiga hari ini aillen merasa ada yang aneh saat akan pulang atau pergi akan ada seseorang yang selalu mengikutinya tapi tak pernah menganggu ya


namun tetap saja kan itu hal yang harus diwaspadai benar?


seperti saat ini aillen sedang berjalan menuju halte dan tak jauh dari sana ada seorang laki laki yang memakai pakaian hitam tengah berdiri yah meskipun tak memandang kearahnya


bus pun datang aillen menaiki bus mengawasi pergerakan laki laki tersebut dan benar saja saat bus melaju motor pria itu pun mengekorinya dari belakang


saat bus berhenti di dekat rumah aillen motor orang itu ikut berhenti dan menghilang setelah dirinya sampai ke rumah


"aneh"


rasa takut itu pasti ada siapa sih yang di ikuti seperti itu akan bersikap normal pasti mereka akan berfikir yang tidak tidak bukan?


hah tapi rasa nya aillen lelah memikirnyakan ia pun bergegas untuk mandi dan beristirahat sejenak sebelum makan malam tiba


***


"mas"


"hmm"


"mas ih"


"hmmm"


wanita itu geram karena sahutannya hanya ham Hem ham Hem saja dari orang yang di panggil


"jawabnya yang bener dong mas aku mau ngomong dulu udah main hp nya ih"


rengekan itu mau tak mau membuat Abi menolehkan pandangannya


"iya apa Nessa" jawabnya lembut dan memusatkan atensinya kearah Nessa


bila kalian bertanya ya Nessa sedang berkunjung kerumah Abi memang mereka itu sering bermain bersama dan sudah kenal sejak dulu


namun sikap Abi yang lembut dan manis membuat Nessa menyalah artikan sikap itu dan saat sekarang Abi tidak terlalu menggubrisnya karena perhatiannya telah tertuju pada seseorang yang kini menjadi pemilik dari hatinya


"mas ko beda sih sekarang cuek ke aku terus jarang main bareng lagi, apa ada hal yang lain yang lebih penting dan bisa ngebuat mas lupain aku sampe segininya" adunya dengan kesal


dia sudah menahan ini sejak kemarin kemarin karena sikap sang pujaan yang berubah sangat berubah


"hmm penting ya? sama berubah?" gumamnya dan ekspresinya berubah seketika saat terlintas wajah sang pujaan


"mas hei malah senyum senyum sendiri aku nanya tau ih"


"hehe iya maaf emang mas berubah kaya gimana sih nes pesarasaan sama aja tau dan kalo pun ada yang lebih penting dari kamu pun mas tetep bakal ada buat kamu kita kan udah kaya adik kakak dari dulu" ucapnya sambil tersenyum kearah Nessa dan sedikit mengusap kepala Nessa


ia tepis tangan itu dengan kasar


"mas selama ini mas selalu menganggap aku sebagai adik tapi mas gak pernah anggap mas sebagai kakak aku dan itu udah terlihat jelas kita tetangga dan tak ada kata saudara mas" ucap Nessa mengumpulkan keberaniannya


"aku..." ucapanya tergantung namun segera ia menarik nafas menguatkan kembali kalau dia harus membicarakan ini secepatnya tidak mau ada embel-embel sebagai "kakak beradik"lagi diantara mereka


"aku sayang sama kamu mas lebih dari seorang adik yang kamu ucapkan tadi aku mencintaimu dari semenjak pertama kita bermain bersama aku ingin kita lebih dari yang bisa kau anggap mas"


"Nessa.."


"enggak mas dengerin aku aku bukan sekedar sayang tapi aku cinta kamu aku gak mau kehilangan kamu sikap kamu yang akhir akhir ini berubah aku makin takut takut kamu dengan yang lain" semakin lantang suara itu keluar dengan mata yang berkaca kaca


"tapi Ness" kembali Abi ingin memotong ucapan nessa namun sepertinya Nessa sedang tak ingin mendengarkan apa yang ingin Abi katakan


"aku gak mau denger apapun itu penolakan mu mas"ucapnya dengan histeris


dengan cepat dia menubruk tubuh Abi memeluknya dengan erat erat


"hiks kamu tau mas perlakuan mu yang hangat pada ku perhatian dan semua canda tawa mu itu membuat ku mengartikan kalau kamu pun memiliki rasa yang sama dengan ku tapi mas sikap hiks sikap mu sekarang"


tangis itu membuatnya sedikit menggantung kata katanya


"membuatku semakin takut bahwa kamu tak memiliki rasa yang sama padaku dan kamu memiliki seseorang yang benar benar membuatmu nyaman"


setelah mengatakan itu tangisnya pecah begitu saja


syok iya siapa yang tidak kaget jika orang yang dia anggap adik sendiri dan dia perhatikan sejak kecil menganggapnya sebagai seorang kekasih bukan sebagai sosok kakak


entah apa yang harus ia lakukan bingung satu sisi dia tak mau makin menyakiti Nessa tapi satu sisi dia harus tegas bahwa dia mencintai aillen


pelukan Nessa begitu erat dan tangisannya begitu memilukan Abi tak membalas pelukan itu tak pula mencoba menenangkan Nessa


karena iya pun bingung dengan semua yang terjadi


beberapa saat ia biarkan Nessa seperti itu sampai tangisannya reda


Abi mencoba lepaskan secara perlahan pelukan itu saat tangisnya reda


"dengerin mas Ness kamu pulang dulu ya dan tenangin fikiran mu abis itu kita bicarakan ini baik baik ok" ucap Abi sambil menghapus sisa air mata di pipinya


sebetulnya hatinya mengatakan tak ingin pergi tapi apa yang diucapkan Abi benar kondisi saat ini membuatnya harus memberi waktu Abi untuk berfikir


"baik mas tapi kuharap apa yang ada di fikiran ku itu salah dan saat kita berbincang kembali nanti kamu memberikan jawaban yang aku inginkan"


Nessa pun beranjak meninggalkan Abi setelah perkataannya barusan mampu membuat Abi hanya terdiam dia hanya menyunggingkan sedikit senyuman yang di paksakan untuk mengantak kepulangan Nessa tanpa berniat mengantarnya keluar