
mobil itu memasuki rumah dengan pagar hitam menjulang tinggi , pagar besi itu terbuka dengan otomatis saat mobil mendekati
memperlihatkan halaman yang cukup luas dengan ada air mancur di tengah halaman, dan terlihat rumah dengan penampilan elegan bercat putih kaca panjang bermotif naga dengan aksen bunga warna hitam dan gold yang berdiri kokoh di samping pilar pilar penyangga rumah
aillen dan Abi turun dari mobil tepat di depan rumah, lagi lagi Abi membukakan pintu untuk aillen saat sampai di sana
"siang den, mari ibu sudah menunggu di dalam" sambut salah satu pelayan yang berdiri di depan pintu
Abi hanya menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangan kearah aillen
dengan ragu aillen menjabat tangan itu mereka bergandengan dengan perasaan yang berbeda
aillen yang gugup akan bertemu dengan keluarga Abi dan Abi yang merasakan kebahagiaan karena akan mempertemukan gadis pujaannya dengan orang tuanya
pertama kali memasuki rumah itu aillen merasa takjub dengan dekorasi rumah yang sangat elegan ada beberapa barang antik yang menghiasi dekat pintu masuk bercampur dengan gorden berwarna senada
sofa kulit yang terlihat lembut untuk di duduki berhadapan dengan anak tangga menuju lantai atas dengan ukuran di pegangan tangganya
di dekat tangga sebelah kanan ada sofa lagi dengan bahan beludru untuk bersantai dengan keluarga menghadap tv dengan layar besar
tak jauh dari sana ada bentangan kaca yang membatasi dengan hiasan air terjun buatan yang menempel pada kaca itu dengan bawahnya ada kolam kecil berisi ikan hias
dibalik itu berdiri wanita paruh baya memakai pakaian rapih selutut dengan atasan yang dibalut kardigan berlengan sedikit terbelah di bagian atas nya memperlihatkan kulit yang masih terawat
dia berdiri sambil membereskan makanan yang akan di sajikan di bantu oleh pelayan menatannya dengan cantik
"mom" panggil Abi lembut sambil berjalan menghampirinya
"ehh Abi sayang udah pulang"ucap wanita itu berbalik dan langsung memeluk Abi
"iya mom Abi udah pulang dan ini Abi bawa orang spesial kesini" ucapnya dengan sedikit menarik lembut tangan aillen yang sedari ia pegang
aillen hanya dapat tersenyum canggung saat Maurin memandangnya dengan pandangan antusias sekali
"wahh cantiknya, nama kamu siapa sayang?" tanyanya yang langsung menghampiri aillen
"nama saya ai aillen tanten"
"ahh aillen cantik sekali seperti orangnya"
"hehe makasih Tante , Tante juga masih sangat cantik ko"
"ahh kamu bisa aja makasih loh ya pujiannya, dan jangan panggil saya Tante dong panggil mommy kaya Abi ya biar lebih enak"
"hmm i iya Tan te, maksudnya mommy"
"haha jangan canggung sayang anggap rumah sendiri ya" ucapnya dengan lembut mengusap Surai hitam sedikit gemas
ya ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan, wanita itu menyambutnya dengan baik.
"mom Abi keatas dulu ya"
"yaudah gih keatas dulu ajak sekalian aillennya" ucap Maurin dengan mendorong lembut bahu aillen menghampiri Abi
"yaudah yu ai kita keatas"
Abi pun menggandeng tangan itu dengan lembut lagi lagi tanpa persetujuan dari aillen
"jangan macem macem ya Abi nanti mamah panggil kalau makanannya sudah siap" teriaknya
blush
wajah itu semakin merah mendengar ucapan ibu dari dosennya itu
entah dia tak bisa berbuat apa apa sekarang, dia masih bingung namun juga tidak menolak semua perlakuan ini.
mereka berjalan beriringan dengan tangan yang sedari tadi bertautan seperti akan hilang jika ia melepasnya sebentar saja
menaiki tangga yang menuju kelantai dua disini ada dua kamar satu kamar di lorong sebelah kiri dan satunya sebelah kanan dan ada satu balkon yang menghadap keluar langsung untuk bersantai di ujung kiri
dan di masing masing kamar pun ada balkon untuk melihat keluar
aillen tak tahu kamar siapa yang ada di kiri namun yang ia tahu jelas di sebelah kanan adalah milik Abi karena dia membawa dirinya masuk kedalam
di pintu berwarna biru gelap itu terdapat gantungan bertuliskan kamar "Abimana tampan area steril" yang tertera disana
aillen sedikit menahan tawanya setelah membaca tulisan tersebut
Abi yang menyadarinya langsung membalikan tulisan itu
" itu hanya tulisan konyol pas aku masih sekolah,gak usah di hiraukan" ucapnya dengan cepat
raut wajah nya berubah memerah karena menahan sedikit rasa malu karena tulisan itu
namun tak lama karena melihat senyum yang terhias di bibir mungil itu sedikit membuat hatinya menghangat
mereka pun masuk saat pintu itu Abi buka menampakan kamar bernuansa monokrom dengan tatanan sederhana hanya ada kasur queen size, meja nakasdengan hiasan lampu kecil dan jam waker di sisi ranjang
dan satu sofa panjang menghadap kearah televisi dan PS disana, satu lemari besar dengan permukaan yang di lapisi cermin disana
memberikan kesan soft dan tenang ternyata Abi bukan sosok yang berantakan dia sangat menjaga kerapihan di kamarnya.
" kamu duduk aja di sini ya aku mau mandi dulu" ucap Abi sambil menunjuk sofa panjang depan ranjangnya
menghilang di balik pintu berwarna coklat itu. aillen yang masih ingin melihat isi kamar itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan matanya tertuju pada bingkai foto yang terpajang diatas kepala ranjang menunjukan foto keluarga dengan satu anak di tengah kedua orang dewasa yang terlihat serasi
anak itu memakai tuksedo hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu kupu di lehernya, wajahnya manis putih dengan rambut disisir rapih kepinggir menampilkan senyum dan lesung pipi yang menghiasi pipi kirinya
tangan itu dengan sendirinya menyentuh bingkai itu dari pinggir merasa familiar dengan wajah anak manis itu namun dimana
"kamu jangan tinggalin aku ya"ucap gadis kecil yang sedang memakan permen itu
"aku gak akan tinggalin kamu aku bakal selalu jagain kamu ko" jawab si anak laki laki dengan senyum lembutnya
"janji kan kak?" ucap gadis itu sambil mengangkat jari kelingkingnya kerah anak laki laki di depannya
"iya aku janji" jawabnya dan menautkan jarinya tanpa ragu
"ahhh" gumamnya seraya memegang kepalanya yang terasa berdenyut keras
"ai hey kamu kenapa?" tanya Abi panik seraya langsung menghampiri aillen yang ingin terjatuh di sana
"hmm eng gak papa pak cuman tiba tiba pusing aja" lirihnya
"yaudah sini duduk dulu"
Abi pun memapah aillen untuk duduk di sofa, wajahnya seketika terlihat pucat dan keringat mulai nampak di wajahnya
" kamu kenapa ai hmm ?"tanya Abi dengan lembut sambil menghapus keringat di dahi aillen
" saya baik baik aja ko cuman tiba tiba pusing aja kayanya saya kecapean"bohongnya
"sebentar ya saya abilkan minum" ucapnya dan berdiri untuk mengambil minum
aillen hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
bayangan apa yang barusan ia lihat? dia yakin anak itu dan yang di lukisan itu sama tapi apa memang ia? dan siapa anak dalam ingatannya? apakah ada kaitannya dengan Abi?
pertanyaan pertanyaan itu muncul begitu saja dal benak nya, semakin membuat kepalanya berdenyut dia coba menarik nafas kembali untuk meredakan rasa sakit itu
"nih minum dulu"
ucapan dan tepukan halus di pundaknya seketika membuyarkan lamunan itu
"ahh mas makasih" ucapnya dengan sedikit senyum di bibirnya
aillen pun meminumnya sedikit hanya untuk menetralkan perasaannya saja
"are you ok ai?" tanya Abi sekali lagi memastikan
"iya mas aku gak papa ko aku udah baikan"jawabnya yakin
"yaudah kalau menurut kamu begitu syukur, tapi jika merasakan apa pun kasih tau ya aku khawatir"
"hmm" gumamnya
karena jujur aillen merasa gugup sekarang karena posisi mereka yang berhadapan dengan Abi jongkok menghadap kearahnya dengan senyum tulus yang terhias disana
astaga degup jantungnya sudah tak beraturan kembali merasakan panas di pipinya karena tatapan itu terasa menggelitik di hatinya
"ekhem mas kalau anak yang di foto itu siapa?" tanya aillen membuyarkan suana yang menurutnya sudah tidak baik bagi jantungnya
" ohh itu itu aku saat umur 10 tahun kamu meliki masing masing 1 di setiap kamar" jawbnya sambil beralih menatap lukisan, membenarkan posisi duduknya yang sekarang malah di dekat aillen
"hmm mas asli disini atau pindahan"
"aku sebetulnya asli sini namun waktu kejadian itu aku sekeluarga memutuskan pindah terlebih dahulu dan kembali lagi sekarang saat pendidikan ku telah usai"
"kejadian?"
"iya jadi waktu aku kecil aku pernah.."
tok tok tok
"Abi sayang waktunya makan yu jangan lupa ajak aillen kebawah ya sayang"
"iya mah Abi turun sekarang"
"yaudah sayang mamah tunggu dibawah ya"
setelah itu tak terdengar apa pun lagi sunyi sepertinya ibu dari dosennya itu telah beranjak pergi dari sana
" hmm ceritanya lain kali kita lanjut ya kita makan dulu, kalau tidak cepat mamah selalu bawel" ucapnya dengan tawa kecil di akhir kalimatnya
entah mengapa tawa itu menular dengan kecepat kepadanya, sehingga membuatnya dengan refleks mengembangkan senyuman diwajahnya
sebenarnya dia masih ingin mendengarkan cerita itu namun mungkin belum saatnya
"yasudah gak papa lain kali aja mas" jawabnya dengan senyum manis terpatri di wajahnya
astaga tolong kuat kan Abi lagi dan lagi senyum itu membuatnya ingin memakan gadis di depannya karena kemanisan yang dilihatnya sangat sangat mengoyahkan keimanannya
sekuat tenaga iya menahan rasa itu dan mencoba menghilangkannya dulu
Meraka pun beranjak dari sana untuk makan bersama keluarga Abi