Life In Miracles

Life In Miracles
ingatan yang hilang



setelah perjalanan singkat mereka tadi Dika pun mengantar aillen pulang


tak ada kecanggungan lagi sepanjang jalan entah mengapa padahal aillen itu tidak mudah membuat dengan orang baru namun dengan Dika berbeda entah karena ceritanya atau kepribadian Dika


semuanya membuat aillen sedikit nyaman dekat dengan Dika


menurut aillen Dika adalah pribadi yang humble dan sedikit menyebalkan namun masih bisa menyesuaikan tempat untuk berbicara


tak terasa motorpun sampai di depan rumah aillen agak malam memang tak apa tapi karena Dika tadi sudah berbicara dengan bunda aillen lewat telpon saat sang bunda bertanya karena aillen tidak biasanya pulang telat


"masuk dulu dik?" tawar aillen saat mereka turun dari motor


"gak usah ai aku pamit doang kebunda kamu soalnya ini udah malam lain kali aja"


aillen hanya mengangguk sebagai jawaban mereka pun masuk bertemu sang bunda setelah berpamitan Dika langsung pergi


namun sebelum pergi ia sempat mengucapkan selamat malam dan mengusak rambut aillen membuat sang empu merenggut kesal karena tatanan rambutnYa dirusak


hal itu hanya mendapat gelak tawa dari sang bunda dan Dika setelahnya dia bergegas pergi melajukan motor hitamnya menjauhi rumah aillen


***


"ai sini deh liat kunang kunang nya lucu ya" ucap anak laki laki itu


"Hem iya dan indah" jawabnya dengan riang


kedua anak itu bermain mengejar kunang kunang yang terbang mencoba menangkapnya dengan tangan kosong


berlari sambil tertawa kepolosan terpancar dari keduanya sampai


bruk


sicantik itu terjatuh kakinya tersandung membuat lututnya terantuk batu tajam sedikit mengalirkan darah karena goresan kecil disana


"astaga kamu gak papa ai?" tanya anak laki laki itu dan bergegas membantunya untuk meluruskan kakinya


"pasti sakit ya? lurusin dulu ya kakinya" ucapnya dengan khawatir


pelan pelan ia mencoba meluruskan kaki aillen


"hiks gak ma mau sakit" ucap anak itu terbata


merasa bingung karena gadis kecil tak mau berhenti menangis dan kakinya terluka


"yasudah naik kepunggung ku biar kaki kamu gak sakit lagi ya kita pulang hmm?" tanya anak laki laki itu dengan lembut


gadis kecil itu hanya mengangguk dalam tangisnya, anak laki laki itu bersiap di depannya dan gadis kecil pun berusaha untuk naik


dalam hitungan ketiga si gadis sudah ada di gendongannya


mereka menyusuri jalanan kebun itu menuju arah pulang namun tiba tiba ada suara di dekat semak semak membuat keduanya was was


"aku takut" ucap sang gadis kecil sambil mempererat pegangan pada lehernya


"kamu gak usah takut pegangan yang kuat kita lari ya?"


setelahnya sianak itu berlari sekuat tenaga demi menyelamatkan dirinya dan sang gadis namun karena kondisi jalanan yang tidak terlalu terang membuatnya terjatuh di tengah jalan masuk kesebuah tebing yang cukup dalam


"ahhhhhhhhhh"


hap tangan anak laki laki itu mencoba memegang sebuah ranting kayu untuk berpegangan agar tak terlalu jauh kedalam dan untungnya berhasil mereka bergelayut disana dengan si laki laki di atas dan si gadis kecil memegang tangan si anak laki laki dengan kuat dibawahnya


"kak gimana ini hiks"


"jangan di lepas ai pegang yang kuat"


"ta tapi kak aku takut hiks aku gak ku kuat"


"hei lihat aku ya kamu percaya kan sama aku?" tanya sianak itu dengan tatapan lembut


gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban


"ok kalo gitu kerahin seluruh kekuatan kamu dan naik kesini lewatin kakak dan nanti pas sampai di atas kamu bantuin kakak ya"


"ta tapi kak"


"cepet ya kalau kamu percaya sekarang naik kita udah gak ada waktu" tegas sianak itu kembali


dengan sedikit ragu sigadis menurutin ucapannya


dia berusaha naik keatas dengan sedikit berpegangan pada lengan jaket anak laki laki itu dan akar yang menjulur disekitarnya


sedikit demi sedikit walau terasa sakit di lututnya tapi dia harus tetap berusaha


sianak laki laki hanya dapat membantu dengan memperkuat pegangan dan satu tangannya mencoba membantu gadis kecil itu dengan sedikit dorongan dan tarikan dengan tangan yang satunya


sampai sigadis mampu naik keatas


"kak aku udah sampai ayo ulurin tangan kakak keaku" ucap si gadis


saat anak laki laki itu ingin mengulurkan tangannya Tiba tiba akar ranting yang ia pegang patah


"awas kakkkk" jerit gadis itu


krakk anak itu jatuh tak tertolong sebelum sigadis meraih tangannya


"enggak kak " jeritnya lagi


"kakak kakakkkkkkk" terus gadis itu menjerit


"hiks kakakkkkk"


"ai aillen bangun nak ai"


tepukan halus dan suara itu membuatnya terbangun seketika dari mimpinya


"Bun hiks bunda" ucapnya spontan dan langsung memeluk sang bunda begitu eratnya


"iya nak kamu kenapa hei ko nangis?" tanyanya dengan khawatir


tangannya mengelus Surai hitam itu dengan lembut untuk menenangkan rasa takut yang didera sang putri


dia masih enggan menjawab masih terasa begitu nyata tapi itu mimpi ,banyak pertanyaan yang muncul siapa anak itu ?kenapa dia memanggilnya dengan sebutan kakak? dan dimana itu? kapan itu terjadi masih banyak lagi


entah air matanya belum mau berhenti untuk mengalir terasa sakit dan kehilangan itu masih ada


sang bunda masih setia mengelusnya sampai merasakan isakan dan pelukan itu mengendur di perutnya


"kamu kenapa hmm mimpi buruk sayang?" tanyanya dengan lembut


aillen hanya menggeleng sambil melepas pelukannya dari sang bunda


"yasudah kamu minum dulu" ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih yang berada di nakas


setelah meminumnya sedikit diletakan kembali pada tempat semula


"bunda lagi apa di kamar aillen?"tanyanya sambil mengusap sisa air mata di pipinya


"tadi itu bunda panik pas denger kamu teriak terus nangis tapi belum bangunmakanya bunda bangunin kamu"


"maafin aillen ya Bun bikin khawatir bunda" ucapnya sambil menundukkan kepala


"gak papa ko sayang gimana perasaan mu udah baikan?"


"hhmm udah gak papa ko Bun"


" yaudah bunda tinggal gak papa ya kamu tidur lagi aja ini masih jam 2 pagi"


seketika matanya melirik kearah jam memang benar saja disana masih menunjukkan pukul 2 dini hari


"yaudah Bun aillen tidur lagi"


dia pun membenarkan posisinya untuk kembali tidur agar sang bunda tidak merasa khawatir


"yaudah selamat malam sayang" ucap sang bunda sambil mengecup dahinya sekilas dan berlalu pergi