Life In Miracles

Life In Miracles
DAVID



Alamat yang sudah dia cari kini telah dia temukan namun bukan hal mudah untuk masuk kedalam rumah yang saat ini di jaga dengan ketat oleh anak buah dari musuhnya itu


Saat mengetahui letak persembunyian yang di gunakan musuhnya, david teramat sangat kaget.


Karena ternyata dalang dari kecelakaan aillen saat itu adalah orang yang sama dengan orang yang saat ini tengah menculiknya


Kini david berada di markas pribadinya. ya dia mempunyai anak buah yang ikut dalam sekelompok mafia yang cukup di segani juga, namun dalam kelompoknya mereka tidak pernah terlibat dengan barang illegal ataupun barang yang dilarang pemerintah


Mereka memang para mafia namun hanya untuk menjaga keselamatan keluarga david dan apa bila ada rekan bisnis yang berbuat curang terhadapnya yang tidak mampu di hadapi secara hukum mereka akan dihadapi dengan cara seperti ini


“bagaimana keadaan disana sekarang?” Tanya david saat semua sudah berkumpul disana


“keadaan putri anda masih aman pak, namun kami masih belum tahu apakan di sana terpasang jebakan atau ada jalan rahasia untuk dapat masuk kesana” ucap salah seorang dari mereka


“penjagaan seperti apa yang mereka gunakan?”


“penjagaan disana cukup ketat dengan semua anak buah yang di bagi rata untuk menjaga setiap area yang memeliki kemungkian untuk di tembus pak”


“baik susur setiap sudut rumah dan bagian mana saja yang lemah dalam segi penjagaan bahkan sampai titik terkecil dan paling tidak mungkin orang masuk dari sana kalian harus mencarinya paham?” ucapnya dengan tegas


Mereka yang disana menganggukan kepala menandakan mereka paham atas isntruksi awal.


Dengan cepat mereka membagi tugas untuk menulusuri setiap sudut rumah, ada beberapa yang mencoba meretas kedalam keamanan mereka melalui jaringan cctv maupun telephone yang digunakan di sana


Semua orang tengah sibuk david yang menunggu jawaban mereka memandang dengan kosong, hatinya teramat cemas atas keselamatan putri semata wayangnya itu.


“maaf kan daddy nak” gumaman itu terdengar lemah dari mulutnya rasa takut yang kian menjalar kedalam dirinya harus dia tepis dengan segera


***


“mas enak gak masakan aku?” Tanya nessa yang kini tengah duduk bersama abi dan mamahnya di meja makan memakan masakan yang baru saja di buatnya


“enak ko ness kamu belajar masak?”


“iya mas abis nessa kan bosen jadi nesssa belajar masak” jelasnya dengan semangat


“oh iya nessa belajar ini juga buat mas abi loh kan biar bisa jadi istri yang baik”


Ucapan itu sontak membuat keduanya menghentikan aktivitas makan mereka, mamah dan abi saling melemparkan pandangan atas ucapan nessa tersebut tidak ada kata terucap untuk menanggapi hal itu mereka bungkam dengan keadaan yang semakin rumit


Mamah nessa tahu jika abi merasakan teretekan untuk semua ini apa lagi nessa yang semakin hari malah semakin mendambakan hal-hal yang sungkar untuk terjadi


Ucapan pernikahan itu selalu terlontar dari mulut nessa


Sedangkan abi sendiri merasakan kecemasan dan perasaan sakit yang bersamaaan, karena dia memikirkan bagaimana tanggapan nessa jika mengetahui bahwa dirinya tidak ingin bersama dengan nessa dalam sebuah ikatan yang membutuhkan kesiapan seumur hidup


“mah mas?” panggil nessa saat melihat keduanya yang malah sibuk dengan pemikirannya masing-masing


“ih kalian malah bengong” kesalnya


“iya sayang maaf ya apa barusan?”


“ish tuhkan kalian lagi mikirin apa sih sampe gak dengerin aku”


“bukan gak dengerin kamu ness tapi kita tuh terlalu enak aja makan masakan kamu iya kan mah?” Tanya abi mengalih kan kecurigaan nessa


Mamah yang semula sempat bingung namun dengan cepat mengerti maksud dari ucapan abi


“iya sayang benar kata abi ini masakan terenak yang pernah mamah coba”


Terlihat raut bahagian terpancar dari wajah nessa


“oke nessa akan lebih banyak belajar lagi kalo gitu makasih ya mas mah”


Mereka berdua hanya mampu menganggukan kepala dan tersenyum kearah nessa keduanya tidak ingin merusak mood nessa lagi


***