Life In Miracles

Life In Miracles
KECEMASAN



Di depan sebuah ruang icu mereka menunggu dengan cemas, berharap semuanya berjalan dengan lancar dan aillen selamat dari kejadian ini


Dokter beserta semua staf sedang mengupayakan yang terbaik ketegangan suasana terasa di sana


Maudi dan rose yang tidak berhenti menangisi aillen di tenangkan oleh kedua suaminya masing-masing.


Ya suami maudi segera pulang dari tempatnya bekerja saat mendengar kabar aillen hilang, pulang menggunakan penerbangan tercepat untuk pulang.


Sagara yang tengah duduk di sana dengan keadaan yang sama khawatirnya dengan yang lain hanya mampu duduk teridiam di sana


Pikirannya terus berkelana kesana kemari, berdoa sekuat hati untuk keselamatan orang yang dia cintai.


“bagaimana ini pah” ucap maudi di dalam pelukan suaminya.


“sabar mah dokter sedang melakukan yang terbaik berdoa sama tuhan yakin dia pasti akan menyelamatkan aillen”


Ucapan itu sedikit membuat hatinya tenang


Tiba-tiba pintu terbuka memeperlihatkan dokter disana


“keluarga aillen”


“kami dok ada apa?”


“pasien mengalami shok berat makanya dia belum siuman sampai sekarang, dan obat yang diberikan padanya terlalu kuat kami harus menunggu sampai malam ini jika tidak siuman maka kami harus memberikan tindakan lanjut karena jika saudari aillen lewat dari malam ini tidak siuman maka akan berakibat fatal baginya”


Semua yang mendengarnya terkejut bukan main nyawa aillen sekarang sedang di pertaruhkan


“baik dok lakukan yang terbaik bagi putri kami dok” ucap rose disana


“baik ibu bapak menunggu di ruang tunggu saja dan jika ada yang ingin masuk hari ini hanya boleh dua orang secara bergantian”


Setelahnya dokter kembali masuk kedalam


“papah gimana ini, aillen pah”


Suami maudi hanya mampu terdiam dan menenangkan sang istri yang terkejut akan hal ini


Semua merasa terpukul begitu pun dengan sagara


Dokterpun berlalu perrgi meninggalkan mereka


Sagara menatap nanar pada kaca pintu, memperlihatkan wanita yang paling dia cinta terbaring lemah di sana


Wajah pucat dengan alat bantu pernafasan di sana


***


Rasa dalam diri abi menggebu saat mmengetahui jika aillen dalam keadaan kritis dia ingin segera menemui aillen di rumah sakit namun sayang nessa menempeli dirinya terus menerus.


Kini dia tengah berada di kampus untuk mengambil salah satu laporan yang tanpa sengaja dia tinggalkan kemarin


Dalam hatinya semakin besar keinginan untuk kesana


“hallo ness”


“iya mas gimana? Udah?”


“belum nes mas ada tugas dadakan rapat sama dosen dan nganterin dulu jam tangan kerumah temen mas gak papa? Mas pulangnya agak sore maaf ya”


“temen mas yang mana, rapat apa sama dosen”


“hmm itu rapat buat tinjauan kegiatan smester ini, dan temen mas raka kamu tau kan boleh ya?”


“raka? Ohh yaudah jangan lama-lama hati-hati nant nessa nanya ke raka aja langsung”


“yaudah nas tutup telpon nya bye ness”


Sambungan telpon pun terputus


Abi bersyukur karena kali ini nessa sedang dalam keadaan baik, karena jika tidak abi sudah ditanyai macam-macam


Abi mengirimkan pesan pada temannya sebelum nessa menanyakan hal ini pada mereka


Dengan sedikit kebohongan dia memberanikan diri untuk ijin pergi pada nessa, abi memberi isyarat pada teman dan salah satu partnernya di universitas untuk membenarkan alasan abi pergi.


Dengan tergesa dia memacu mobil itu menuju rumah sakit.


Dalam hatinya tak henti memanjatkan doa untuk kesembuhan aillen, jalanan sedikit menghambat perjalanannya namun tidak berlangsung lama akhirnya abi sampai di rumah sakit


Dia bejalan kearah reseptionis menanyakan kamar yang aillen tempati sekarang


Saat mengetahui dimana letak ruangan dia pun bergegas menuju kesana.


***