
hidup itu indah menurut pandangan masing masing orang yang menjalani dan terkadang orang pun berkata sebaliknya!
tapi menurut ku hidup itu ibaratkan air yang mengalir kadang dia tenang dan jernih sampai semuanya terasa indah dan enak buat di nikmatin tapi juga kadang kotor dan keruh saat hujan datang dan mulai ada sampah menumpuk yang membuatnya tidak enak di pandang dan di nikmati lagi.
karna itu yang aku rasakan sekarang!
oh iya sebelumnya kenalin nama aku Aillen ayunindya davira aku terlahir dari keluarga ternama dan salah satu dari 3 keluarga terbesar di negara S.
namun aku tak pernah berfoya-foya seperti kebanyakan teman teman dari kalangan ku dengan kata lain aku di didik dengan keras dan hal yang paling kejam yang mereka lakukan dalam mendidik ku adalah aku tumbuh besar bukan dalam lingkungan hidupku yang sebenarnya
aku di titipkan pada orang tua asuh yang telah diperintah orang tua ku untuk mengajariku dan merawatku sampai aku pantas menjadi seorang penerus dari keluarga kami yaitu keluarga davira adji djaya setidaknya begitu menurut cerita ibu ku.
~author on~
saat itu pagi yang cerah matahari bertengger dengan indah di atas langit dengan hiasan warna biru dan putih dari awan
"aillen.... ai kamu dimana kemari sebentar!" seru seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di depan sebuah rumah yang tak begitu besar dengan ornamen putih namun sudah lusuh,
"ya bun sebentarrr ..." jawab seorang gadis berparas cantik itu sambil bergegas menuju suara panggilan itu.
tak berapa lama ia sudah ada di belakang sang empunya suara tadi dengan senyum manisnya
"iya bun ada apa?" tanyanya kembali
" aillen sayang duduk dulu nak ibu ingin membicarakan sesuatu dengan mu" ucap wanita itu sambil menepuk pelan kursi di sebelahnya yang terlihat sudah tak kokoh namun itu adalah tempat ternyaman menurutnya untuk menghabiskan waktu bersama orang tuanya
"ada apa bun tumben bunda kelihatan serius" tanyanya lagi penasaran.
wanita itu tersenyum
"apa maksud bunda aku tak mengerti?!" aillen merasa bingung dengan sikap bundanya yang menanyakan pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal.
"sayang bunda hanya ingin yang terbaik buatmu dan bunda ingin kamu menjadi anak yang baik dan hidup dengan bahagia" ucapnya dengan tatapan yang lembut
" bunda ingin kamu tahu satu hal yang bunda simpan dari dulu" tuturnya.
aillen masih tidak mengerti hal apa yang coba bundanya katakan namun dengan sabar ia mendengarkan setiap kata yang ucapkan oleh orang tuanya itu.
"aillen tahu kenapa aillen memiliki wajah yang tak sama dengan ibu dan ayah ataupun dengan adik mu heindry?" tanyanya dan sekarang matanya metap kearah aillen seraya memegang tangannya.
"dan kamu tahu kenapa kamu tak memiliki nama yang marganya sama dengan adik mu kan" pertanyaan itu semakin lama semakin banyak dan mulai memenuhi fikiran aillen
aillen coba mencerna satu demi satu yang bundanya coba katakan
" aillen tidak mengerti bunda apa maksud bunda dengan menanyakan itu semua pada aillen, aillen hanya berfikir itu hanya kebetulan atau hal semacamnya" jawabnya
wanita itu membelai hangat sang putri yang ia besarkan sedari dulu sampai ia sekarang menjadi sosok cantik dengan paras yang membuat siapapun yang melihatnya pasti tergila gila.
dia memandangi lekat lekat wajah aillen seakan ia akan pergi jauh darinya, dan tanpa ia sadari air matanya lolos dari bendungan yang ia tahan sedari tadi melewati pipinya
aillen merasa khawatir dengan keadaan bundanya itu yang tiba tiba menangis dan perasaan cemas kini menyebar kedalam dirinya
"bunda kenapa menangis apa aillen salah dalam berbicara? apa aillen melakukan kesalahan?" tanyanya sambil menyeka air mata yang keluar dari kelopak mata indah yang selalu memancarkan kehangatan dan keceriaan namun kini hanya memancarkan kesedihan dan ketakutan
" sayang maafkan bunda .... bun... hiks " wanita itu tak sanggup untuk mengatakan kebenarannya sekarang lidahnya kelu seperti terkunci dengan rapat
"bunda jangan buat aillen khawatir dong bun, dan kenapa bunda minta maaf segala?!"