Life In Miracles

Life In Miracles
sakitnya



awalnya semua berjalan baik baik saja namun terasa ada yang aneh saat dirinya mencoba menyapa Nessa yang sejak pagi tadi terlihat menghindar dari dirinya


entah hanya firasatnya saja atau memang Nessa sedang marah padanya


"nes Nessa " panggil aillen saat kelas kedua mereka telah usai


namun sayang sang empunama tak mau menghiraukan panggilan tersebut


"astaga kenapa lagi ini" gumamnya saat Nessa yang berjalan semakin cepat


tak ingin berburuk sangka dan membuat keadaan semakin rumit aillen coba memberi waktu pada Nessa mungkin dia sedang buru buru fikirnya aillen pun berlalu pergi menuju kantin karena dirinya merasa lapar karena tadi dia tak sempat untuk sekedar sarapan


disisi lain*


"huh astaga aku tak mau seperti ini tapi tapi kenyataanya memang begitu" gumam gadis tomboy itu sambil menahan amarahnya yang sedari tadi ia tahan


ia tahu dia tak boleh berburuk sangka tapi mengingat kejadian kemarin membutnya hilang kesabaran seketika


ya itu Nessa gadis itu terduduk di perpustakaan mencoba menetralkan rasa sakit dan kesalnya akan pemandangan yang dia lihat kemarin


dia kesal melihat Abi bergandengan tangan dan aillen yang memanggilnya dengan panggilan mas ya memang benar kemarin untuk menghilangkan perasaan kesal pada Abi dia lebih memilih berjalan jalan di mall


tapi bukannya menghilangkan perasaan kesalnya malah bertambah kuat


karena ia melihat jelas semuanya awalnya dia ingin menyapa keduanya namun diurungkan begitu saja saat melihat semuanya


"hah sungguh panggilan itu hanya aku yang boleh memanggil" keluhnya sambil memukul meja sedikit keras


untung saja keadaan perpustakaan saat ini sedang hening tak banyak mahasiswa yang sedang bertugas disini


sekarang banyak sekali pertanyaan timbul di benatnya tentang kenapa Abi pergi dengan aillen dan apa alasan yang membuat Abi lebih memilih aillen dari pada dirinya dan banyak lagi


tapi dia tak mampu menanyakan pada Abi untuk sekarang karena dia tak mau mendengar jawaban yang tak ingin ia dengar kenyataan nya


Nessa tau bahwa dirinya dan Abi memang dekat sedari dulu malah Nessa punya harapan lebih terhadap Abi


seberapa tomboypun Nessa saat dirinya berhadapan dengan seorang abi dia akan menjadi gadis manis yang penurut karena menurutnya abilah satu satunya laki laki yang sangat ia hormati sekaligus cintai


tak terasa air matanya turun, bulir bening itu membasahi pipi manis nya dia tidak cengeng tapi kali ini hatinya terasa sakit


Nessa menangis dalam diam menahan amarahnya sampai tak sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi


***


"hah kenyang sudah" ucap aillen sambil menggeser mangkuk yang sudah bersih dari isinya


kekehan lembut terdengar saat melihat tingkah aillen yang sudah kekenyangan dan tangannya tanpa sadar terulur mengacak rambut nya pelan


"ihh kan jadi kusut" rajuknya sambil mencoba membenarkan kembali tatanan rambutnya


ya sebetulnya aillen tidak sendiri saat dirinya ingin kekantin tadi Abi tiba tiba menghampirinya dan berakhirlah mereka makan bersama


tidak lebih tepatnya Abi yang memperhatikan aillen makan sedari tadi karena dia hanya memesan satu minuman dan roti saja


"hmm tidak ada kenapa gitu"tanyanya kembali


"gak aku cuman nanya aja ko" jawabnya dan mengalihkan pandangan pada telpon genggamnya yang berdering


Abi tak suka melihat aillen yang fokus pada hal lain saat dirinya sedang berdua dengannya seperti ini


apalagi aillen terlihat tersenyum karena melihat kearah benda persegi tersebut meskipun ya Abi tahu bahwa aillen sedang berbincang dengan grup kelas nya bukan dengan yang lain


karena Abi secara diam diam mencari informasi kedekatan aillen dengan yang lain dia tau bahwa aillen belum memiliki kekasih ataupun dekat dengan seseorang selain dirinya tapi tetap saja dia cemburu


tapi lagi lagi dia tak dapat menghalangi aillen untuk bersosialisasi dengan yang lain hah sungguh Abi saat ini ingin sekali mengurung aillen hanya untuk dirinya sendiri


"hahh" sampai tanpa sadar helaan nafas itu terdengar oleh aillen dan mengalihkan perhatiannya pada Abi


"emang secape itu ya?"tanya nya sambil melihat kearah Abi


"maksudnya gimana ai?"bukannya menjawab Abi malah kembali bertanya


"ituloh sampai menghela nafas gitu memangnya secape itu ya jadi dosen?" tanyanya lagi


ah ternyata itu" tidak ko malah asik tapi hanya saja..." jawab Abi menggantung perkataannya


"tapi?"


"ya tapi saya tidak suka saat saya sedang disini kamu malah asik dengan dunia mu sendiri" ucap Abi sambil menjawab hidung aillen karena gemas melihat wajah aillen yang penasaran akan perkataanya


"uhh sakit tauu mas" rengeknya


dan hanya di balas kekeh oleh Abi dia semakin gemas dibuat aillen


"udah yu pulang kamu udah gak ada kelas kan ?" ucap Abi sambil memegang tangan aillen untuk ikut berdiri


" hmm yaudah bentar aku bayar dulu"


"udah gak usah tadi udah aku bayar ko"


"ehh ko gitu sih yaudah nih aku ganti" ucap aillen sambil mengeluarkan uang dari tasnya


"kalo kamu ganti saya bakal marah ya" ancamnya dan berpura pura marah sambil menyilang kan tangan didepan dada


"ehh ko gitu sih" ucap aillen mengurungkan niatnya untuk mengambil uang didalam tasnya


"udah yu pulang tar keburu hujan udah mendung gini yu"


dan ya mau tak mau aillen mengikuti ajakan Abi untuk pulang, entah mengapa sikap Abi membuatnya sedikit nyaman dengan Abi yang ada di sampingnya lagi lagi semburat merah terhias di pipinya


memang sejak semalam setelah mengantar aillen pulang dirinya bertukar pesan dengan aillen dan memanggilnya dengan sebutan kamu


membuatnya kadang gugup tapi dia menepis perasaan itu semua dan lagi lagi datang perasaan nyamannya ah Abi bisa terlihat ratusan kali lebih tampan bila sedang bertingkah lembut di depannya


"ahh aillen mikir apasih" gumamnya dan kemudian terus berjalan mengekori Abi menuju parkiran