La Hora

La Hora
LH - 5 - Shica Mahali



 


 


 


 


-◈ Shica Mahali ◈-


 


 


Hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Ah! Rasanya tidak sabar sekali!


 


 


Tapi, mungkin sama saja seperti waktu di SMP.


 


 


Tidak akan ada yang menyukaiku.


 


 


Hmmmm...


 


 


Entah apa yang membuat mereka tidak menyukaiku. Apa karena aku anak dari keluarga Mahali? Atau karena sikapku yang dingin jika di tempat umum?


 


 


Keluarga Mahali memang tidak pernah menunjukkan sisi ramah pada orang asing, mungkin itu penyebabnya.


 


 


Lalu, kenapa aku bersikap dingin? Itu karena aku tidak tahu harus seperti apa pada orang lain.


 


 


Pergaulanku terbatas sekali. Aku jarang berinteraksi dengan orang luar.


 


 


Ya, hanya ada keluargaku, para bodyguard, dan para pelayan.


 


 


Itu pun mereka punya kesibukan masing-masing.


 


 


Aku mematut di depan cermin. membiarkan rambutku yang panjang terurai.


 


 


Selesai bersiap-siap, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Kulihat di meja makan ada kedua kakakku. Mereka menoleh.


 


 


"Shica, kenapa tidak memakai stocking? Paha dan betis kamu terlihat kemana-mana," kata kak Rama.


 


 


Biasanya dia akan mengucapkan selamat pagi, kali ini dia melontarkan kritikan padaku.


 


 


Kak Regar hanya menoleh sebentar lalu meminum susu dari gelasnya.


 


 


"Selamat pagi, Kak Regar!" Aku memilih untuk menyapa kak Regar, daripada harus menjawab omelan kak Rama.


 


 


"Pagi," jawab kak Regar. Sementara kak Rama cemberut karena terabaikan olehku.


 


 


Hehe.


 


 


Kulihat sarapan di meja hanya ada roti, selai, dan susu.


 


 


Kemana sayuran untuk kekuatanku di tempat baru?


 


 


"Mencari apa?" Tanya kak Rama yang melihatku mengedarkan pandangan ke sekeliling meja.


 


 


"Ini untuk sarapan?" Aku balik bertanya sambil menunjuk roti.


 


 


"Pagi ini papa dan mama aka berangkat ke luar kota. Jadi, mungkin mereka menyuruh pelayan membereskan barang-barang, tanpa menyuruh menyiapkan sarapan terlebih dahulu," ucap kak Rama, panjang, lebar, dan sangat jelas.


 


 


It's okay, but...


banyak sekali pelayan di rumah ini. Apakah semuanya membereskan barang-barang?


 


 


Alright,


aku akan makan sekarang.


 


 


Setelah sarapan, kak Regar bersuara, "Kita berangkat sekarang."


 


 


Kami bertiga keluar.


 


 


Terlihat beberapa pelayan dan bodyguard begitu sibuknya memasukkan koper dan barang-barang lainnya ke dalam mobil.


 


 


Ada tiga mobil yang penuh dengan barang.


 


 


Emm... jadi, mereka mau pergi ke luar kota, atau ke luar negeri?


 


 


"Pa, Ma, kami berangkat." Kak Rama yang berbicara pada Papa.


 


 


Papa dan mama yang sedang memperhatikan kinerja pelayan menoleh pada kami.


 


 


"Kunci kalian," kata papa sambil mengulurkan tangannya pada kak Rama.


 


 


"Kunci? Kunci motor?" Tanya kak Rama.


 


 


"Iya, kunci motor Rama, kunci mobil Regar juga," jawab papa.


 


 


Kak Regar dan kak Rama saling pandang. Mama menghela napas berat.


 


 


Tidak ada reaksi dari kedua putranya, papa kembali bicara, "Sabtu kemarin kalian pulang terlambat. Selama Papa dan mama di luar kota, kalian tidak boleh kemana-mana. Papa menyuruh bodyguard baru untuk mengawasi kalian. Jadi, kalian tidak akan bisa menyogok mereka lagi, apalagi membohongi Papa."


 


 


Kulihat beberapa bodyguard yang sudah lama, seperti bang Dian dan bang Izal tampak menunduk mendengar ucapan papa.


 


 


Padahal papa tidak perlu bicara seperti itu, kan? Mereka sudah lama bekerja untuk papa dan mereka bisa diandalkan.


 


 


"Shica."


 


 


Merasa terpanggil, seketika aku menoleh ke arah papa.


 


 


"Jangan mendukung perbuatan nakal kakak-kakak kamu. Kalau kamu melihat mereka macam-macam, hubungi Papa."


 


 


Aku pun mengangguk ragu.


 


 


"Shica, kamu harus berjanji dan menjadi mata-mata Papa di rumah ini," kata papa lagi.


 


 


Mata-mata papa?


 


 


Kok, bilang-bilang.


 


 


"Iya, Pa. Aku berjanji akan menjaga mereka."


 


 


Setelah mendengar janjiku, Kak Regar dan kak Rama memberikan kunci mobil dan kunci motor ke papa.


 


 


"Mulai sekarang, bodyguard yang akan mengantar jemput kalian ke sekolah," kata papa lagi.


 


 


Mama mencium kening kami, "Hati-hati di jalan, ya."


 


 


Kami memasuki mobil.


 


 


Aku duduk di samping bang Izal, sementara kedua kakakku duduk di belakang.


 


 


Tampaknya mereka malas untuk berbicara, karena barang kesayangan mereka disita papa. Aku yang sedang semangat ini pun mau tak mau harus diam.


 


 


Tadinya aku ingin menanyakan banyak hal pada mereka berdua tentang SMA Hardiswara.


 


 


Tapi... sudahlah.


 


 


Sesampainya di sekolah baru, aku terkagum-kagum dengan bangunan bertingkat 6 ini. Sangat keren!


 


 


Pemilik sekolah ini adalah tuan Juan Hardiswara, rekan kerja papa. Anaknya, kak Givar Hardiswara juga bersekolah di sini. Dia temannya kakak.


 


 


Muridnya juga sangat banyak. Cantik dan tampan.


 


 


Ketika melihat kedatangan kedua kakakku, mereka berbisik-bisik dan tampak terpesona.


 


 


Hehe, sepertinya kakak-kakakku memang populer, ya?


 


 


Kak Dion bilang, Kak Regar adalah seorang kapten voli. Banyak sekali gadis yang menyukainya. Sementara kak Rama adalah ketua PMR sekaligus pemain basket.


 


 


"Rama, antar Shica ke kelasnya. Aku ada urusan," kata Regar.


 


 


Kak Rama mengangguk sebelum kak Regar melenggang pergi


 


 


Kak Rama bertanya, "Shica, kamu sudah tahu kelas apa?"


 


 


Aku menganggukkan kepala dengan semangat, "Semalam BK menghubungi papa, aku jadi murid di kelas 10 IPA-B."


 


 


Kak Rama meraih tanganku, dengan lucunya, dua menuntunku seperti anak kecil menuju lantai tiga.


 


 


Ada banyak bangunan dan banyak sekali ruangan. Aku jadi bingung dan pusing. Ini pertama kalinya aku datang ke sekolah ini.


 


 


Sepanjang koridor sekolah, banyak yang berbisik-bisik sambil memandang kami.


 


 


"Waaahhh... manis sekali."


 


 


"Itu adiknya, kan?"


 


 


"Aku juga mau jadi adiknya."


 


 


"Uuuhhh, seandainya aku yang di sana."


 


 


Aku jadi malu.


 


 


"Ini kelas IPA-B. Kamu mengingat jalannya, kan?" Kak Rama menunjuk kelasku.


 


 


Ada tulisan, X-MIPA-B yang terpampang di pintu.


 


 


Aku mengangguk ragu.


 


 


"Istirahat nanti, hubungi saja Kakak atau kak Regar kalau mau ke kantin," kata kak Rama.


 


 


Aku mengangguk semangat, "Terima kasih, Kak."


 


 


Kak Rama mengusap rambutku kemudian berlalu. Aku memasuki kelas baruku. Ada beberapa orang di dalam.


 


 


Apa aku harus menyapa? Atau... abaikan saja? Atau... duduk saja?


 


 


Aku sangat gugup. Sehingga aku memilih pura-pura cuek dan masuk. Bangku kedua dari belakang baris kedua adalah pilihanku.


 


 


Kuletakkan tas ke meja dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Teman-teman sekelasku sibuk masing-masing. Ada yang berbincang, bercanda dan pacaran.


 


 


Mereka bersama teman mereka, sementara aku sendirian di sini.


 


 


Aku tidak tahu harus apa. Setidaknya harus ada kesibukan agar aku tidak terlihat konyol.


 


 


Kuambil buku dan pensil. Menulis sesuatu random di buku, itu yang kulakukan.


 


 


Seseorang menghampiriku. Dia adalah seorang gadis berkacamata dengan kedua rambut dikepang dua. Dia terlihat manis seperti boneka.


 


 


"Hai,"


 


 


Dia menyapaku! Aaahhh, senangnyaaaa ada seseorang yang mendekatiku!


 


 


"Hai," aku menjawabnya.


 


 


Dia tersenyum ramah, "Boleh berkenalan?"


 


 


Aku mengangguk cepat dan menepuk kursi di sampingku. Dia mengerti dan mau duduk di sampingku.


 


 


"Namaku Meishy Addilara." Dia mengulurkan tangannya. Nama yang manis.


 


 


Aku menerima uluran tangannya, "Namaku Shica Ma...." entah kenapa aku tidak ingin menyebutkan nama besarku.


 


 


"Shica apa?" Tanya Meishy.


 


 


"Ah? Emmm... Shica saja," aku tersenyum kikuk.


 


 


Sejenak kami bersalaman dan malah saling terdiam. Tentu saja aku gugup. Baru pertama kalinya dalam hidupku berkenalan dengan seseorang seperti ini.


 


 


Apa tidak masalah, kalau aku tidak menyebutkan nama lengkapku? Tidak, kan?


 


 


 


 


"Kamu tinggal di mana?" Tanya Meishy.


 


 


Refleks aku menjawab, "Rumah Ma...."


 


 


Meishy mengangkat sebelah alisnya, "Rumah? Emm... iya... aku juga tinggal di rumah."


 


 


Dia tersenyum hangat. Aku terkekeh karena merasa konyol.


 


 


"Mau berteman denganku?" Tanyanya.


 


 


Benarkah? Sungguh?


 


 


Apa ini bukan mimpi?!


 


 


Ya!


 


 


"Tentu saja." Aku tersenyum kecil.


 


 


Dia juga tersenyum.


 


 


Tidak ada yang menarik di jam pertama. Hanya memperkenalkan diri di depan kelas.


 


 


Jam istirahat telah tiba,


 


 


Meishy mengajakku ke kantin. Dan konyolnya, kami kesulitan menemukan kantin.


 


 


Meishy yang mudah berkomunikasi dengan orang lain memilih bertanya pada kakak kelas. Akhirnya dengan keberanian Meishy, kami bisa menemukan kantin.


 


 


Jika sekolah ini dilengkapi dengan lift atau eskalator, mungkin lebih hemat waktu.


 


 


Di kantin, kami memesan makanan.


 


 


Meishy adalah gadis yang tenang, namun dia bisa berkomunikasi dengan sangat baik, sehingga siapa pun yang berada di dekatnya akan merasa nyaman.


 


 


Kami berbicara banyak hal yang umum, aku tidak berani bertanya hal pribadi tentangnya. Dua juga tidak menanyakan tentang hal pribadiku.


 


 


"Makanannya lezat, ya." Meishy meminum jusnya.


 


 


Aku mengangguk mengiyakan.


 


 


"Karena kamu teman pertamaku, aku aka mentraktirmu," bisik Meishy.


 


 


Aku terkekeh, "Kenapa berbisik?"


 


 


"Aku takut ada temanku yang lain yang mendengar pembicaraan kita, nanti mereka minta di traktir juga," jawab Meishy sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seolah dirinya seorang detektif.


 


 


Hmm, aku kira, Meishy tidak punya teman. Ternyata hanya aku yang tidak memiliki teman.


 


 


Dan aku bersyukur, karena ada Meishy yang sekarang jadi temanku.


 


 


"Terima kasih mau mentraktirku," kataku.


 


 


Meishy tersenyum.


 


 


Tiba-tiba ponselku bergetar, kulihat ada panggilah dari kak Rama. Aku menamainya Kakak Bawel di kontak telepon.


 


 


Sesaat aku menoleh pada Meishy yang sedang melihat heran padaku. Aku segera mengangkat panggilan dari kak Rama, kalau tidak, dia bisa berubah jadi emak-emak.


 


 


"Kenapa, Kak?" Aku memulai pembicaraan.


 


 


"Kamu di mana? Kakak sedang di depan kelas. Kenapa belum keluar?"


 


 


"Ah? Tapi, aku sudah di kantin, Kak."


 


 


Meishy melanjutkan makan dan membiarkanku berleluasa menelpon. Tampaknya dia bukan orang yang kepo.


 


 


"Wah, kamu sudah tahu arah ke kantin, ya?"


 


 


"Tidak, aku bersama temanku."


 


 


"Teman? Siapa? Jangan sembarangan memilih teman, Ca."


 


 


"Emm, iya."


 


 


"Laki-laki, perempuan?"


 


 


"Perempuan."


 


 


"Ya sudah, Kakak akan ke sana."


 


 


Aku terkejut, sementara kak Rama sudah mengakhiri panggilannya.


 


 


Bagaimana jika kak Rama berbicara yang bukan-bukan dan membuat Meishy takut?


 


 


Aku tidak mau kehilangan teman pertamaku. Meskipun aku baru mengenal Meishy, aku rasa dia gadis yang baik.


 


 


"Ponsel kamu keluaran terbaru, ya? Bagus."


 


 


Aku hanya tersenyum, "Oh iya, boleh aku meminta nomor ponselmu?"


 


 


"Emm, aku tidak punya ponsel."


 


 


Ya ampun, aku merasa bersalah telah bertanya seperti itu.


 


 


"Maaf," kataku.


 


 


Dia tertawa, "Kenapa meminta maaf, kamu tidak salah."


 


 


Ketika bel masuk berbunyi, kami segera kembali ke kelas. Hal yang sama terjadi, kami tersesat dan kebingungan mencari arah ke kelas.


 


 


Alhasil, kami terlambat masuk kelas. Sudah ada pengajar di dalam.


 


 


Namun beruntung, karena kami murid baru, pak guru pun memakluminya.


 


 


Ketika bel pulang berbunyi, aku dan Meishy keluar dari dalam kelas.


 


 


"Aku pulang, yaaa... bye-bye!" Meishy melambaikan tangannya. Aku membalas dengan melakukan hal yang sama.


 


 


Kemana dia pulang, ya?


 


 


Jika aku tahu rumahnya, kuantar saja.


 


 


Seseorang menepuk bahuku membuatku terhenyak dan menoleh. Ternyata kak Rama.


 


 


"Pulang," ucapnya.


 


 


Aku mengangguk.


 


 


Kami keluar dari area sekolah. Ada bang Dian yang menjemput. Ketika memasuki mobil, aku tidak melihat kak Regar.


 


 


"Kak, kak Regar kemana?" Tanyaku.


 


 


"Aku tidak tahu," jawab kak Rama.


 


 


-


 


 


Di kamar,


aku memainkan ponsel karena bosan.


 


 


Seandainya ada kontak Meishy, pasti menyenangkan bisa berbincang dengannya.


 


 


Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Kalau ada papa dan mama di rumah, mereka pasti akan menyuruhku segera tidur.


 


 


Aku belum mengantuk.


 


 


Terdengar suara langkah kaki melewati kamarku. Mungkin kak Regar baru pulang.


 


 


Tapi, kenapa suara langkahnya seperti lebih dari satu orang? Kak Regar bersama siapa?


 


 


Kak Rama 'kan sedang di kamarnya.


 


 


Merasa penasaran, aku keluar dari kamarku. Kulihat kak Regar bersama seseorang memasuki kamarnya.


 


 


Siapa itu?


 


 


Aku menoleh ke kamar kak Rama yang tertutup rapat. Karena sedikit takut, aku ingin mengajak kak Rama.


 


 


Ketika pintu kamarnya kubuka, ternyata kak Rama sudah tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala. Aku masuk dan melihat apa yang sedang dia tonton.


 


 


Ternyata Iron Man.


 


 


Aku pikir, dia menonton film biru. Waktu itu aku melihatnya tertidur dan membiarkan laptopnya masih menyala, ketika dilihat, ternyata blue film dan aku tidak sengaja melihatnya.


 


 


Karena terkejut dan takut, waktu itu aku langsung melipat laptopnya.


 


 


Aku sudah melupakan kejadian itu, meskipun ada beberapa adegan yang masih terbayang di kepalaku.


 


 


Aku menoleh pada kak Rama.


 


 


Kakakku tampaknya kelelahan. Aku menaikkan selimut ke tubuhnya dan kumatikan laptopnya.


 


 


Bukan sekali atau dua kali aku melihat kakak-kakakku berciuman atau bersentuhan dengan gadis yang tidak kukenali.


 


 


Mereka selalu membawa perempuan ketika papa dan mama tidak ada di rumah.


 


 


Mereka membawa gadis itu ke kamar dan... mungkin melakukan hal yang sama seperti di video itu.


 


 


Aku penasaran dan mencari di google. Aku membacanya dan rasa penasaranku berganti dengan rasa takut.


 


 


Karena keseringan membaca, aku juga jadi penasaran dan ingin tahu lebih detail lagi.


 


 


Kadang, aku juga curi-curi pandang ketika kakak-kakakku memperlihatkan dada dan perut mereka.


 


 


Tidak seharusnya aku mimikirkan hal itu, apalagi mereka kakakku sendiri.


 


 


Namun, aku juga gadis yang normal. Dan... jujur saja... aku memiliki imajinasi yang liar.


 


 


Hanya berimajinasi, membayangkan. Tidak sampai melakukan hal yang lebih lagi.


 


 


Sekarang aku sudah keluar dari kamar kak Rama. Aku akan kembali ke kamarku, namun mendengar suara aneh dari kamar kak Regar, aku jadi ingin tahu.


 


 


"Regaarrrhhh." Suara desahan yang panjang dari kamar kak Regar.


 


 


Itu suara perempuan?!


 


 


Kak Regar membawa perempuan lagi ke rumah? Seperti waktu itu?


 


 


Semoga tidak, aku sudah berjanji pada papa. Tapi, aku juga takut kalau harus menegur kakak tertuaku.


 


 


Perlahan kakiku melangkah menuju kamar kak Regar. Tanganku bergerak menyentuh handle pintu.


 


 


Tidak terkunci, bahkan tidak tertutup rapat.


 


 


Dengan pelan-pelan, kudorong pintu ini.


 


 


-◈◈◈-


 


 


6 April 2016


By Ucu Irna Marhamah