La Hora

La Hora
LH - 37 - Passionate



 


 


 


 


-◈ Januaar Gallardo ◈-


 


 


Sehari sudah berlalu ketika Shica memotong tangannya sendiri dengan gunting. Saat ini dia masih terbaring di kamarku.


 


 


Sial, aku tidur di kamar lain ketika kamarku disulap menjadi rumah sakit dadakan untuk gadis itu.


 


 


Aku harus menyewa dokter dan perawat dari luar negeri khusus untuk merawat gadis menyebalkan itu.


 


 


Aku belum mau dia mati. Tidak menyenangkan kalau dia tinggal di sini hanya 4 hari.


 


 


Selain aku belum puas menyiksanya, aku juga belum merasakan tubuhnya.


 


 


Yeah, aku tidak munafik.


 


 


Gadis itu memang cantik dan tubuhnya juga bagus. Aku hanya menyukai tubuhnya, bukan orangnya.


 


 


Rambutnya yang semula panjang, kini jadi berantakan, ada yang panjang dan ada yang pendek. Itu ulah kakakku.


 


 


Kak Rayaa mulai menyukai Raihan dan sialnya Raihan malah menyukai Shica. Dulu laki-laki itu menyukai kakakku, sangat, sangat mencintainya.


 


 


Pagi ini, dokter bilang, Shica sudah bangung. Aku melihat gadis itu sedang makan disuapi oleh perawat.


 


 


Sepertinya aku belum bisa menemuinya, baiklah.


 


 


Aku akan mundur sementara.


 


 


-


 


 


Malam telah tiba.


 


 


Aku masuk ke kamarku. Gadis itu tidak ada di tempat tidur. Terdengar suara gemericik air shower dari kamar mandi yang merangkap dengan kamarku.


 


 


Dia sedang mandi?


 


 


Aku melangkah dan melihatnya. Ternyata shower memang menyala, tapi Shica tidak sedang mandi.


 


 


Gadis itu sedang berdiri di depan cermin. Dia menyentuh rambutnya yang tidak rapi. Tampaknya Shica menyesali nasib rambutnya.


 


 


Beberapa detik aku memperhatikannya. Gadis itu membuka pakaiannya.


 


 


Ohhh, haruskah dia membiarkan pintu kamar mandi tidak terkunci? Bagaimana jika dokter yang merawatnya tiba-tiba masuk dan melihat dia dalam keadaan seperti ini?


 


 


Tubuhnya Shica putih mulus tanpa cacat sedikit pun. Dia merawat tubuhnya dengan baik.


 


 


Tanpa sadar, hasratku yang terpendam selama lebih dari sebulan ini mendesakku untuk meraih tubuhnya dan membuatnya lemah di bawahku.


 


 


Namun, aku masih berusaha menahan diriku untuk sesaat. Aku ingin melihatnya lebih lama lagi, sebelum aku benar-benar merasakan tubuhnya.


 


 


Shica melangkah menuju bath-up. Dia membaringkan tubuhnya di sana. Dia begitu gemulai dan membuatku terangsang berat.


 


 


Gadis itu mengoleskan sabun yang biasa aku gunakan ke tubuhnya. Ekspresinya terlihat kosong dan tertekan, namun meskipun begitu, dia tetap terlihat cantik.


 


 


Aku merasa sesak saat ini. Dia berhasil meningkatkan gairahku.


 


 


Apa aku harus melakukannya sekarang?


 


 


Memangnya kapan lagi? Tidak ada yang bisa aku pakai di tempat ini selain dia.


 


 


Aku melepaskan sabuk yang kupakai untuk mengurangi sesak ini lalu aku masuk tanpa basa-basi. Shica tekejut melihatku. Gelembung sabun di bath-up melindungi tubuhnya dari pandanganku.


 


 


"Kenapa melihatku seperti itu?! Kau takut padaku?" Aku menarik lengannya agar dia mau keluar.


 


 


Gadis itu bersikukuh untuk tetap diam di tempatnya, "Jangan sakiti aku lagi, aku mohon."


 


 


Aku menarik lebih kuat lagi. Dia benar-benar keras kepala. Aku mengibaskan sabukku dan mengenai wajahnya. Dia memekik kesakitan.


 


 


Aku tidak suka ditolak, apalagi oleh adiknya Regar. Dia pikir, dia itu siapa?!


 


 


Karena tidak mau keluar dari bath-up, maka aku yang masuk dan bergabung dengannya. Gelembung dan air di bath-up meluber keluar sebagian.


 


 


Shica memeluk tubuhnya sendiri ketika aku mendekat padanya. Aku melihat dadanya yang indah dan menglilap. Sungguh aku menyukainya.


 


 


"Apa yang kau lihat?" Dia menunduk ketakutan.


 


 


"Memangnya kenapa kalau aku melihatmu? Kau mau melihatku juga?" Aku membuat kaos merah yang kupakai dan kulempar ke sembarang arah. Membiarkan tubuhku yang kekar terekspos olehnya.


 


 


Gadis itu menghindarkan pandangannya dariku. Apa dia tidak sudi melihat tubuhku ini? Semua gadis menyukainya, dan dia... Argh! Beraninya.


 


 


Ini akan cukup sulit, dia tidak tahu apa-apa soal bercinta. Tapi, aku tidak peduli. Entah dia menikmatinya atau tidak, yang penting aku yang senang.


 


 


Dengan kasar, aku meraih dagunya. Tanpa aba-aba, aku mengecup bibirnya. Dia terkejut dan menahan dadaku. Aku menyentuh dadanya. Dia meronta kesakitan karena aku menyentuhnya dengan kasar.


 


 


Padahal bukan pertama kalinya aku merasakan bibir Shica. Waktu dia hampir mati karena ku tenggelamkan, aku memberikan napas buatan padanya.


 


 


Aku melepaskan ciumanku dan kutatap dia dengan penuh intimidasi.


 


 


"Kau sengaja menggodaku dengan membiarkan pintu kamar mandi ini terbuka, kan? ******!" Aku menyeringai kecil.


 


 


Kini gadis itu menatapku penuh kemarahan, sepertinya dia tidak terima dengan tuduhanku.


 


 


Aku ingin sekali melihatnya marah dan menatapku, sedari tadi dia menunduk dan menghindari pandangannya dariku.


 


 


"Kau ingin aku masuk dan melihatmu seperti ini, kemudian aku menyentuhmu, kan? Kau 'kan suka membaca cerita dewasa dan imajinasimu sangat liar." Aku menunjukkan senyum yang melecehkan.


 


 


"Aku bukan gadis yang seperti itu!" Shica menampar wajahku dengan cukup keras.


 


 


Aku marah dan menindih gadis itu, kepalanya terbentur sisi bath-up, tapi aku tidak peduli. Aku menenggelamkan tubuhnya ke dalam air. Kepala Shica ikut tenggelam.


 


 


Dia kelabakan dan mencoba muncul dari dalam air, namun tenaganya tidaklah sebanding denganku.


 


 


Beberap detik kemudian, aku menarik tubuhnya. Dia terbatuk-batuk dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.


 


 


Aku mendecih, "Membutuhkan napas buatan?"


 


 


Tanpa menunggu jawaban darinya, aku melahap bibirnya dan mengigit bagian bawah bibir berwarna merah muda itu. Tidak akan kuberikan kesempatan untuknya bernapas.


 


 


Dia menarik rambutku berharap aku menghentikan ciumannya.


 


 


Aku tidak peduli. Bibirnya yang terasa manis membuatku tidak ingin berpaling.


 


 


Pantas saja Raihan mencintainya dengan mudah. Apa mungkin dia pernah merasakan bibir Shica?


 


 


Mungkin saja.


 


 


Tapi, Raihan tidak mungkin meniduri gadis ini. Laki-lakinya itu 'kan pengecut.


 


 


Sepertinya gadis itu kehabisan energi. Dia sudah tidak memberikan banyak perlawanan lagi padaku.


 


 


Itu memudahkanmu.


 


 


Ciumanku turun ke bawah menuju leher dan dadanya. Kiss mark kemerahan kuletakkan di lehernya.


 


 


Aku menggigit bagian ******-nya karena gemas. Shica berteriak dan memukul kepalaku.


 


 


Darah segar mengalir dari bekas gigitanku. Shica menangis sambil mengusap bagian itu. Aku tersenyum melihatnya yang sudah tidak mampu lagi melawanku.


 


 


Mungkin karena dia sedang sakit.


 


 


"Biar aku yang membantumu." Aku menepis tangannya dan meremas dadanya dengan kuat, Shica semakin berteriak kesakitan.


 


 


Aku bangkit dan mengangkat tubuh telanjang itu lalu melemparnya ke tempat tidur. Aku tidak peduli, meskipun ranjangku basah karena tubuhku dan tubuhnya yang baru saja keluar dari bath-up.


 


 


Tubuhnya sangat menggairahkan ketika dia terbaring seperti itu apalagi dalam keadaan basah.


 


 


Dia tampak ketakutan karena tatapanku pada tubuhnya. Sepertinya aku adalah laki-laki pertama yang melihat tubuh polosnya.


 


 


Shica meraih selimut, namun aku menyingkirkan selimut tersebut sejauh-jauhnya lalu menindihnya dengan seluruh berat badanku.


 


 


Gadis itu memekik tertahan. Tubuhku rasanya makin memanas ketika kulitku dan kulitnya bergesekan secara langsung.


 


 


Kepala Shica menengadah ke atas membuat lehernya yang jenjang terusuguh di depanku. Tidak kusia-siakan kesempatan ini. Aku menyesap lehernya membuat tanda baru di sana.


 


 


"Eeuuhhhh!" desahan Shica mulai terdengar. Apa dia menikmati perbuatanku?


 


 


Mungkin iya, karena dia tidak melawan lagi. Tubuhnya sudah lemas dan pasrah.


 


 


Bagus sekali, ini membuatku semakin mudah


 


 


Aku mencondongkan tubuhku memberinya ruang sesaat. Dadanya yang membusung tampak naik-turun seiring dengan napasnya.


 


 


Aku mengusap perutnya yang mulus dan rata. Tangan Shica segera bergerak memegang tanganku ketika aku menuju ke bawah. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang menyedihkan.


 


 


Tidak kupedulikan tolakannya. Aku memegangi pahanya dan kubuka lebar membuat tubuhku berada di antaranya.


 


 


Shica mulai panik, "Januaar, kumohon... jangan lakukan ini. Jika menyiksaku adalah kepuasan untukmu, siksa aku seumur hidupmu, jangan mengambil kesucianku dengan begini... aku tidak mampu memperlihatkan wajahku lagi di depan orang tuaku jika ini terjadi."


 


 


Aku mengusap bagian bawah bibirnya yang merekah, mungkin sedikit membengkak karena perbuatanku.


 


 


Aku menatapnya dengan intens, "Aku jarang mengatakan ini pada gadis yang biasanya tidur denganku, tapi... Shica, karena ini pertama kalinya untukmu, aku harus bicara dulu... aku akan mengambil kehormatanmu dengan atau tanpa seizinmu, karena aku akan tetap melakukannya."


 


 


Aku menurunkan resleting celanaku dan membiarkannya bebas untuk sesaat.


 


 


Shica mengalihkan pandangannya sambil masih memohon padaku.


 


 


Aku menarik pinggangnya dan kulakukan dengan cepat. Shica membelalak dengan tubuh menggeliat dan teriakan panjang.


 


 


"Aaaaaarrgghh!!! Januaar! Sakit!" Shica meremas sprei sampai berantakan.


 


 


Aku telah merenggutnya. Aku merasa tubuhku melayang ketika memasukinya.


 


 


"Eeummmhhh." Aku bergerak mencari puncak yang diharapkan.


 


 


Shica tersetak, "Januaar! Berhenti! Kumohon... hentikan!"


 


 


Aku tidak mendengarkannya dan terus bergerak semakin cepat.


 


 


Shica menangis makin kencang. Aku tidak tahu sesakit apa, tapi aku mengerti perasaannya yang jauh terluka karenaku.


 


 


Namun, Regar juga tidak peduli pada kakakku. Dia terus memaksa kakakku untuk memuaskannya, dan kali ini aku melakukan hal yang sama pada adiknya.


 


 


"Mendesahlah, maka aku akan berhenti," ucapku.


 


 


Shica tidak bisa mendesah. Dia hanya bergumam tertahan, "Emmhh."


 


 


"Aku tidak mendengarmu! Keluarkan suara nakalmu!" Aku menepuk pahanya.


 


 


"Aahhh!" Shica mendesah, tapi bukan desahan kenikmatan. Dia mendesah karena sakit.


 


 


 


 


Shica menangis semakin kencang dan menyayat. Aku mendekat lalu melahap bibirnya dan memainkan dadanya.


 


 


"Sebut namaku, aku akan menghentikan ini," bisikku di telinganya.


 


 


Shica menggeleng, "Pembohong! Hentikan sekarang! Aku mau mati!"


 


 


Aku tertawa, "Cepat teriakan namaku!"


 


 


Pahanya kutepuk lagi. Shica berteriak, "Januaar! ******* kau! Sialan!"


 


 


Aku tertawa dan melahap bibirnya, "mulutmu kurang ajar, ******."


 


 


Shica mendorong dadaku, "Minggir kau sialan!"


 


 


Aku ******* telinganya, "Sebut namaku dengan benar, ******."


 


 


"Januaar!"


 


 


"Lebih keras!"


 


 


"Januaar!"


 


 


"Lebih keras lagi!"


 


 


"Januaaaaaar!! Eumhh!"


 


 


Aku menghentikan gerakanku ketika mencapai keinginan yang aku harapkan. Benih-benih dari tubuhku mengalir di dalam tubuh Shica.


 


 


Gadis itu mengigit bagian bawah bibirnya merasakan perih di bagian intinya.


 


 


Aku mengecup bibirnya karena gemas. Kini tubuhnya melemah dan terkulai seperti kain basah.


 


 


Meskipun aku sudah melakukan pelepasan, aku tidak merasa lelah sama sekali.


 


 


Pandangan Shica menjadi kosong. Sepertinya dia akan pingsan, aku segera menepuk-nepuk pipinya sebelum gadis itu benar-benar pingsan.


 


 


"Jangan tidur dulu, ******! Aku belum puas bermain denganmu!"


 


 


Gadis itu menatapku sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.


 


 


Aku menarik dagunya dengan kasar agar dia melihat padaku, "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mempertemukanmu lagi dengan orang tuamu. Kau akan berada di sini dan menjadi jalangku."


 


 


"Bunuh aku saja, kau sudah melukaiku luar dalam!" Shica menarik tanganku dan memukuli kepalanya sendiri menggunakan tanganku.


 


 


Aku menarik kembali tanganku, "Tidur jika tidak ingin bermain lagi denganku. Atau aku bisa lebih ganas lagi."


 


 


Aku memisahkan tubuhku darinya dan berlalu. Baru saja aku sampai di pintu, tiba-tiba aku mendengar suara jendela dibuka.


 


 


Ketika menoleh, aku melihat Shica menjatuhkan dirinya lewat jendela.


 


 


Aku terbelalak dan segera melihatnya. Gadis itu jatuh ke pelataran rumahku. Darah menggenang di sekitarnya.


 


 


Ketika aku berbalik, bayangan gelap yang entah dari mana itu mendorongku dan membuatku jatuh ke bawah juga.


 


 


Tubuhku mendarat di pelataran rumah dan aku merasa tulang-tulangku patah.


 


 


Aku terlonjak ketika ponselku bergetar di nakas. Tubuhku terasa sakit semua. Aku terkejut mendapati diriku berada di lantai.


 


 


Barusan aku bermimpi? Dan aku terjatuh dari ranjang?


 


 


Aku bangkit sambil menyentuh kepalaku yang terasa sakit. Mimpi yang menyenangkan. Seandainya nyata.


 


 


Gadis itu terlihat begitu seksi di mimpiku.


 


 


Ah, sesak sekali rasanya.


 


 


-


 


 


Pagi ini aku mandi dan sarapan. Mimpi itu membuatku kepikiran. Aku benar-benar ingin melakukannya pada Shica.


 


 


Aku penasaran, apa yang sedang dilakukannya saat ini?


 


 


Hari ini adalah kelima semenjak Shica berada di tempat ini.


 


 


Aku masuk ke kamarku. Gadis itu tidak ada di tempat tidur. Terdengar suara gemericik air shower dari kamar mandi yang merangkap dengan kamarku.


 


 


Dia sedang mandi?


 


 


Kenapa seperti di mimpiku semalam?


 


 


Aku melangkah dan ingin melihatnya. Namun, ketika aku memutar handle pintu, ternyata dikunci dari dalam.


 


 


Tanpa sadar, aku tersenyum.


 


 


"Gadis pintar."


 


 


Aku duduk di tepi ranjang dan menunggunya keluar dari kamar mandi.


 


 


Dia lama sekali, apa semua perempuan mandi selama ini? Kupikir mereka mandi lebih cepat, karena tubuh mereka lebih kecil dari pria.


 


 


Suara gemericik air mulai hilang. Mungkin dia sudah selesai.


 


 


Benar saja.


 


 


Pintu dibuka, dan dia hanya mengenakan handuk yang menutupi dada sampai paha.


 


 


Dia terkejut melihat keberadaanku dan langsung kembali masuk mengunci pintu kamar mandi.


 


 


Sialan dia.


 


 


Aku menunggunya sedari tadi dan dia malah masuk lagi.


 


 


Menyebalkan!


 


 


Aku beranjak dari ranjang dan menghampiri pintu.


 


 


"Buka pintunya!"


 


 


"Tidak mau."


 


 


"Buka, atau kau akan menyesal."


 


 


"Membukanya atau tidak, kau akan tetap memukulku."


 


 


Iya juga, sih.


 


 


Aku menendang pintu sampai terbuka lebar. Kulihat Shica sudah memakai pakaian.


 


 


Ah, sial!


 


 


Aku kurang cepat!


 


 


Aku malas jika harus membuka pakaiannya dulu.


 


 


"Apa yang kau lihat?" Tanya Shica sambil menunduk ketakutan.


 


 


"Kemari," kataku.


 


 


Shica tidak kunjung mendekat. Dia malah mundur menjauh dariku.


 


 


"Telingamu bermasalah? Aku bilang kemari, bukan mundur."


 


 


Perlahan Shica melangkah mendekatiku.


 


 


"Lebih dekat."


 


 


Shica melangkah sekali lagi dengan kepala yang masih tertunduk.


 


 


"Lebih dekat lagi."


 


 


Kini gadis itu ada di depanku. Dia seperti anjing kecil yang penurut.


 


 


"Lihat aku," kata Januaar.


 


 


Perlahan Shica mendongkak menatapku.


 


 


Kami saling menatap sejenak. Manik hazel-nya bergetar dan tak berani memandangku terlalu lama. Dia mengalihkan pandangannya.


 


 


"Apa kau akan membebaskanku?"


 


 


Pertanyaan bodoh!


 


 


"Untuk apa aku membebaskanmu?" Aku balik bertanya.


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


Kulihat kedua betis dan kakinya sedikit membengkak, mungkin itu karena besi yang kugunakan untuk memukulnya.


 


 


Dia juga terlihat kesulitan berjalan. Dia memerlukan sesuatu yang bisa digunakan untuk berpegangan.


 


 


Apa aku berlebihan pada Shica?


 


 


Dulu Regar juga pernah membuat kakakku lumpuh sementara.


 


 


"Aku akan melepaskanmu, jika aku sudah puas menyiksamu. Kau perlu membayar apa yang sudah dilakukan Regar."


 


 


Dia masih menunduk.


 


 


"Jika kau bertanya, kenapa aku memilihmu untuk dijadikan target pembalasan, itu karena kau satu-satunya adik perempuan Regar. Mana mungkin aku melakukan ini pada Rama. Aku juga hanya memiliki seorang saudari perempuan, yaitu Rayaa, kakakku. Sisanya saudara laki-laki. Kami semua satu ayah, tapi ibu kami berbeda.


 


 


Tidak ada respon.


 


 


"Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan kak Regar?" Tanya Shica pelan.


 


 


Haruskah dia bertanya seperti itu?


 


 


"Memangnya kau sanggup menebus kesalahan Regar?" Tanyaku sambil menatapnya dengan serius.


 


 


"Jika itu membuatmu tidak membencinya lagi, dan membuatku terbebas dari sini, aku rasa... aku harus menebusnya."


 


 


Tentu saja.


 


 


"Berikan tubuhmu padaku."


 


 


-◈◈◈-


 


 


15 September 2016


Ucu Irna Marhamah