
-◈◈◈-
SMP Bunga Indah.
Laki-laki tampan yang memiliki kulit gelap itu duduk sendirian di depan kelasnya. Dia adalah Raihan.
Jam menunjukkan pukul 3 sore, menandakan pelajaran telah berakhir setengah jam yang lalu.
Raihan sedang menunggu seseorang. Pintu kelas yang bersebelahan dengannya terbuka. Beberapa murid keluar dari sana.
Raihan berdiri. Dia melihat gadis cantik berambut panjang itu keluar dengan ekspresi lelah.
Sedari tadi, dia menunggu gadis itu.
"Rayaa, pulang bersamaku, ya." Raihan tersenyum tampan pada gadis itu.
Rayaa tampak berpikir, "Kamu membawa motor?"
Raihan mengangguk, "Iya."
Rayaa tampak berpikir, "Baiklah."
Raihan tersenyum semangat. Keduanya berlalu ke tempat parkir.
Selama di perjalanan, mereka tidak terlibat percakapan apa pun. Raihan dan Rayaa tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Rayaa, aku sudah berkali-kali mengungkapkan perasaanku, termasuk kemarin. Apa kau berubah pikiran sekarang?" Tanya Raihan dengan kedua pipi yang sudah memerah.
Rayaa terlihat sedih, aku tidak mencintaimu, Raihan. Tapi... aku tidak enak jika harus menolakmu lagi. Kenapa kamu tidak menyerah saja?
"Rayaa?" Tegur Raihan.
"Ah? Aku...."
Raihan menghentikan motornya di depan rumah besar tempat Januaar dan Rayaa tinggal.
Rayaa turun dari motor Raihan. Gadis itu menatap Raihan dengan ekspresi sedih, "Maaf, Raihan... aku menyayangimu sebagai seorang sahabat."
Setelah berkata begitu, Rayaa menunduk karena entah sudah berapa kali dia menolak laki-laki sebaik Raihan. Dia merasa bersalah dan merasa tidak enak pada Raihan. Padahal selama ini Raihan selalu baik padanya.
Raihan tersenyum sambil mengusap lengan gadis itu, "Kenapa meminta maaf? Jika kamu belum menyukaiku, aku akan menunggu kamu."
Kenapa tidak menyerah saja? Aku juga tidak tahu... kenapa aku tidak menyukai laki-laki sebaik dirimu.
"Sepertinya Januaar tidak di rumah, bisakah kamu mengantarkanku ke base camp miliknya?" Tanya Rayaa.
Raihan tampak berpikir, "Bagaimana jika dia marah padaku? Itu 'kan tempat khusus untuk anggota geng-nya."
Rayaa merenung sejenak, "Tidak apa-apa, jika dia marah padamu, aku yang akan balik memarahinya."
Raihan menganggukkan kepalanya.
Mereka pergi ke base camp Januaar.
Sesampainya di bash camp,
Januaar menoleh ketika mendengar suara motor berhenti. Ternyata kakaknya dengan Raihan.
Beberapa teman Januaar saling pandang dan menatap tidak suka pada Raihan.
Rayaa melambaikan tangannya pada Januaar. Laki-laki itu tersenyum ketika kakaknya itu menangkup wajahnya seperti anak kecil.
"Kamu nakal sekali, kenapa pulang sekolah sebelum waktunya? Apalagi kamu baru masuk jadi murid kelas 7." Tanya Rayaa.
Januaar tersenyum, "Ada balapan."
Beberapa teman Januaar menghampiri Raihan. Mereka mendorong dada Raihan.
"Siapa kau? Kenapa tidak langsung pergi? Kau bukan anggota di sini."
Rayaa menoleh, "Hei! Jangan melakukan itu pada temanku! Dia sudah mengantarkanku kemari."
Mendengar kakaknya bos mereka yang mulai marah, mereka berhenti mengganggu Raihan.
"Kalian pergilah," kata Januaar. Mereka pun berlalu setelah mendapatkan perintah dari bos.
"Kakak masuk," kata Januaar. Rayaa mengangguk kemudian menghampiri Raihan, "Terima kasih sudah mengatarku."
Raihan tersenyum dan melihat punggung Rayaa yang masuk ke bash camp.
Januaar memperhatikan Raihan. Dia menyadari, jika laki-laki itu menyukai kakaknya.
"Kau mau berdiri saja di sana? Pergilah." Usiran Januaar membuat perhatian Raihan teralihkan padanya. Laki-laki itu pun berlalu melajukan motornya.
Januaar menaikkan sebelah alisnya kemudian masuk menemui Rayaa.
Gadis itu sedang memasak nasi goreng. Januaar duduk di kursi sambil memperhatikan kakaknya dari belakang.
"Siapa dia, Kak?" Tanya Januaar.
"Raihan," jawab Rayaa yang langsung paham dengan pertanyaan adiknya.
"Kenapa bersamanya?" Tanya Januaar lagi.
"Sejak kecil, aku dan dia berteman baik. Mungkin kau tidak mengenalnya, karena waktu itu kau masih di Italia bersama papa."
Jawaban yang masuk akal. Sewaktu kecil, Januaar memang lahir dan tinggal cukup lama di Italia bersama sang ayah, sebelum ibunya meninggal.
Setelah ibunya meninggal, Januaar tinggal bersama Rayaa di Indonesia, apalagi mereka cukup dekat dibandingkan dengan saudara yang lain.
Biasanya Rayaa akan memberitahu Januaar siapa saja yang menjadi temannya. Jadi, Januaar cukup terkejut melihat kakaknya berteman dengan laki-laki yang tidak dikenalinya.
"Sepertinya dia menyukai kak Rayaa." Januaar mengingat jelas tatapan Raihan pada kakaknya sebelum pergi.
"Iya, dia sudah mengatakannya, tapi aku tidak mencintai Raihan. Aku hanya menyayangi dia sebagai seorang teman, itu saja." Rayaa menyajikan nasi goreng yang sudah matang.
"Baguslah, aku tidak menyukainya." Januaar berterus terang sembari mendecih.
Rayaa melirik Januaar sekilas, "Kenapa? Dia adalah orang yang baik."
"Yeah, aku tidak suka pokoknya."
Rayaa tidak berniat mendebat adiknya.
-
Regar sedang berada dalam kelas. Dia mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi di depan. Givar yang duduk sebangku dengan Regar, menyikut lengannya dengan pelan.
Regar menoleh.
Givar mendekatkan wajahnya ke telinga Regar, laki-laki itu juga sedikit mencondongkan badannya ke dekat Givar.
"Ada banyak gadis yang menantikan kita di lapangan." Givar tampak semangat.
"Lalu?" Tanya Regar.
Givar masih semangat, "Bukankah itu menyenangkan? Mereka semua murid baru kelas 7 di tahun ini."
Regar memutar bola matanya, "Aku sedang malas ke lapangan."
Givar mendengus kesal, "Oh ayolah, Gar."
Guru telah selesai menjelaskan materi. Melihat Givar dan Regar sedang berbisik-bisik, Guru menegur, "Kalian berdua sedang membicarakan apa?"
Givar dan Regar menoleh tanpa merasa terkejut.
Guru mengulangi pertanyaannya, "Kalian berdua dari tadi berbisik-bisik tidak mendengarkan Ibu menjelaskan materi. Kalian sedang membicarakan apa? Voli lagi?"
Givar menggeleng, "Bukan, Bu. Kami membicarakan materi yang Ibu jelaskan barusan."
"Benarkah? Coba sekarang jelaskan lagi."
Regar dan Givar saling pandang. Namun, diluar dugaan, Givar menjelaskan dengan baik.
Regar menghela napas lega.
Selesai jam pelajaran tersebut, Regar dan Givar segera berganti pakaian. Mereka memakai jersey voli dan masuk ke lapangan.
Semua siswi berteriak riuh, ketika melihat tim voli kelas 9, kebanggaan SMA Bunga Indah, memasuki lapangan.
Para lelaki yang memiliki tubuh tinggi dan baru membentuk otot lengan itu tampak keren dan tampan.
Regar memasang ban kapten kebanggaannya di lengan. Dia tampak begitu garang ketika berhadapan dengan lawannya. Tatapan predator yang mengintimidasi.
Hari ini ada pertandingan persahabatan dengan sekolah lain.
Tadinya Regar tidak ingin ikut, karena dia sedang tidak mood. Dia ingin tim voli adik kelasnya yang maju untuk bertanding.
Namun, Givar terlalu memaksa.
Pertandingan dimulai. Masing-masing tim memiliki kehebatan dan poin yang didapatkan juga tidak berselisih jauh. Itu membuat Regar cukup kesal.
Meskipun begitu, pada akhirnya tim Regar menang. Selesainya pertandingan voli putra diakhiri dengan bersalaman secara pria.
Regar dan Givar duduk di bangku terdepan penonton untuk melihat pertandingan selanjutnya. Givar menyodorkan botol air mineral pada Regar yang tampak berkeringat.
Regar segera mengambilnya dan menghabiskan satu botol untuk menghilangka dahaga. Napasnya masih belum beraturan.
Tim voli putri masuk. Mereka dari kelas 8.
Pandangan Regar tertuju pada salah seorang gadis yang mengenakan ban kapten di lengannya.
Gadis yang ternyata adalah Rayaa itu terlihat begitu cantik dan mempesona. Dia tampak lihai mengoper bola voli pada temannya.
"Ternyata perempuan dari kelas 8 punya kehebatan juga, ya. Padahal mereka perempuan, tapi mereka bisa keren dengan gaya mereka sendiri." Givar tak hentinya memberikan tanggapan.
Regar tidak menanggapi ucapan Givar. Tatapannya tetap tertuju pada Rayaa.
Cantik sekali, batin Regar. Selama di klub voli, Regar tidak terlalu memperhatikan Rayaa.
Tidak hanya memperhatikan kelihaian Rayaa, Regar juga memperhatikan lekuk tubuh gadis itu. Apalagi Rayaa terlihat begitu seksi dengan keringat di wajahnya.
Haruskah aku begini di saat yang seperti ini?
Givar menyadari ekspresi Regar yang tertahan. Laki-laki itu tertawa kemudian menepuk bahu Regar, "Terangsang di saat seperti ini?"
Seketika Regar membekap mulut Givar, "Diamlah!"
Givar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Dia cantik juga. Apa kau menginginkannya untuk dijadikan boneka selanjutnya?" Tanya Givar, setelah Regar berhenti membekap mulutnya.
Regar mengedikkan bahunya, "Entahlah."
"Lumayan, Gar... sepertinya dia masih utuh." Givar seperti setan yang sedang menggoda Regar.
Dalam hati, Regar membenarkan ucapan Givar. Bisa dilihat dari bentuk tubuh Rayaa yang masih bagus.
Regar terkejut melihat Rayaa yang terbentur bola, membuat gadis cantik itu jatuh dan meringis memegangi kepalanya.
Givar terkejut.
"Dia sedikit melakukan kesalahan ketika memukul bola," gumam Regar sambil beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke lapangan.
"Hei, Regar! Kau mau apa?" Tanya Givar.
Percuma, laki-laki itu sudah jauh dan tidak mengindahkan panggilan Givar.
Regar menghampiri wasit dan berbicara sebentar. Rayaa yang dibantu teman-teman satu timnya menoleh pada Regar.
Apa yang sedang dibicarakan kak Regar dengan wasit? Batin gadis itu.
Rayaa mengenali Regar?
Tentu saja, sebagai junior di klub voli, Rayaa mengenal Regar. Dia bahkan mengidolakan laki-laki itu seperti gadis lainnya.
Siapa yang bisa menolak ketampanan dan kharisma dari seorang Regar Mahali?
Pertama kali Rayaa menyukai Regar sejak dia kelas 1 SMP, jadi sudah 1 tahun dia memendam perasaannya.
Satu tahun yang lalu,
Rayaa mendaftarkan diri di SMP Bunga Indah. Dia diantarkan oleh Januaar, adiknya.
Januaar sedang fokus mengendarai motornya. Sementara Raya duduk di belakangnya dengan ekspresi gugup.
"Suatu hari nanti, kamu akan bersekolah di sini?" Tanya Rayaa.
Januaar mengangguk, "Aku harus menjaga Kakak, seperti yang dikatakan Papa."
Rayaa tersenyum, "Terima kasih, adikku yang baik dan tampan."
Januaar tertawa ketika Rayaa memeluk perutnya.
Sesampainya di SMP Bunga Indah, Januaar menunggu di depan gerbang. Dia memperhatikan kakaknya yang terlihat gugup.
"Ada masalah?" Tanya Januaar sambil menangkup kedua pipi sang kakak.
"Aku... aku hanya gugup." Rayaa menggigit bagian bawah bibirnya.
"Jangan gugup." Januaar mengusap rambut kakaknya dengan lembut.
Rayaa tersenyum, "Tunggu, yaaa."
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
Rayaa masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Ada banyak siswa dan siswi yang mendaftarkan diri di SMP tersebut. Mereka bersama orang tua masing-masing.
Rayaa menunduk sedih.
Di hari pertama masuk SMP, tidak ada orang tua yang mendampinginya.
Dia duduk dan mengambil kartu antrean.
Ketika namanya dipanggil, Rayaa masuk dan duduk berhadapan dengan bapak guru.
Dilihat dari tanda pengenalnya, nama guru itu adalah Andra. Pak Andra adalah seorang guru BK.
"Silakan duduk." Pak Andra menunjuk kursi di depannya.
Sesuai ucapan guru di depannya, Rayaa duduk di kursi tersebut. Dia memberikan persyaratannya pada pak Andra.
"Rayaa Geniara Hermawan."
Rayaa menganggukkan kepalanya, "Iya, Pak."
"Putri dari ibu Genisa Hermawan. Kenapa kamu tidak menuliskan nama ayah kamu?" Tanya pak Andra.
Rayaa terdiam dengan kepala tertunduk 90°.
Pak Andra mengambil fotokopi kartu keluarga yang terselip di antara dokumen lainnya.
Pria itu tampak terkejut, "Emm, baiklah... kamu tidak perlu menutupinya. Tidak masalah, Rayaa."
Tidak ada respon dari Rayaa.
Pak Andra mengambil pulpen dan menuliskan nama ayahnya Rayaa sesuai dengan kartu keluarga.
"Nanti akan ada pengumuman untuk daftar ulang melalui website kami," kata pak Andra.
Rayaa mengangguk, "Terima kasih, Pak."
Setelah selesai dengan pendaftaran, Rayaa keluar dari ruang pendaftaran. Dia menghela napas lega.
Rayaa melihat tim voli yang berjalan melewatinya. Laki-laki dengan ban kapten di lengannya, memainkan bola voli seperti pemain basket.
Rayaa terpesona melihat ketampanan laki-laki itu. Gadis itu menyipitkan matanya melihat nomor punggung kapten voli.
Nomor 01, tertera nama Regar M. Saat itu Regar masih kelas 8 dan dia berada di bawah bimbingan kakak kelasnya.
"Regar... nama yang keren." Rayaa bergumam.
Sejak saat itu, Rayaa menyukai Regar dan menyukai voli. Dia berlatih voli bersama temannya Januaar yang ahli di bidang olahraga tersebut.
Rayaa ingin masuk klub voli untuk melihat Regar dari dekat. Dia menyukai laki-laki untuk pertama kalinya.
Yeah, Regar adalah cinta pertama bagi Rayaa.
Sesuai dengan harapan, Rayaa tergabung dengan klub voli. Apalagi dia menjadi kapten voli perempuan kelas 7 waktu itu.
Dia sangat senang, karena setiap ada jadwal ekstrakurikuler, dia akan melihat Regar yang melatih para juniornya.
Rayaa tidak bisa sembarangan mendekati Regar, karena banyak gadis yang juga mengidolakan laki-laki itu. Tapi, Rayaa cukup merasa senang.
Bukan sekali, dua kali dia melihat Regar yang berciuman dengan sesama anak voli. Dia sangat cemburu, namun apa yang bisa dilakukan gadis itu. Dia menyadari posisinya.
Setelah cukup lama mengenal Regar, Rayaa baru tahu, kalau Regar bukanlah laki-laki yang baik. Dia suka mempermainkan perasaan perempuan.
Tapi, gadis itu tetap menyukai Regar, apa pun alasannya.
Itu adalah salah satu alasan, kenapa Rayaa tidak menerima cinta Raihan. Selama ini, hanya Regar yang ada di hatinya.
Lamunan Rayaa buyar, ketika Regar melambaikan tangannya di depan wajah Rayaa.
Kedua pipi gadis itu memerah melihat Regar di jarak sedekat ini. Sebelumnya, Regar tidak pernah memperhatikannya sama sekali, meskipun berada di klub yang sama.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Regar.
Rayaa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil.
Regar tersenyum, "Ada pemain pengganti?"
Melihat senyuman Regar, jantung Rayaa berdegup kencang.
Apa dia tersenyum untukku? Batin Rayaa.
"Tidak, aku akan menyelesaikannya, Kak." Rayaa bangkit sambil membenarkan rambutnya.
Regar menunjuk lengan Rayaa, "Berikan ban kaptenmu untuk sementara pada temanmu, kau pasti pusing terkena benturan bola."
"Ta-tapi...."
"Duduk di sampingku."
Deg!
-◈◈◈-
17 September 2016
Ucu Irna Marhamah