
Seminggu sebelumnya
-◈ Shica Mahali ◈-
Kepalaku terasa sakit sekali. Semuanya gelap, padahal aku tidak tidur. Aku ingin membuka mata, namun rasanya sulit sekali. Kelopak mataku sangat berat.
Apa yang terjadi denganku? Apa aku sudah mati?
Aku tidak ingat apa pun.
Aku merasakan tetesan air yang dingin membasahi tubuhku. Perlahan kubuka mataku, aku memaksakan diri untuk melihat ke sekeliling.
Samar-samar aku melihat sosok laki-laki di depanku. Dia seperti sedang berjongkok dan melihat padaku.
Sebelum aku mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba orang di depanku ini menarik rambutku dengan kasar.
Aku meringis pelan.
"Sudah jam 10 baru bangun?! Aku menunggumu dari tadi!" Dia mendorong kepalaku hingga terbentur tembok.
Ah, siapa dia?
Aku belum bisa melihatnya. Benturan pada kepalaku membuat pandanganku semakin kabur.
"Sakit kepalamu?"
Aku memandangnya, kini jelas terlihat wajah laki-laki itu, dia orang yang aku tolong sore ini, Januaar.
Tapi, kenapa dia tiba-tiba kasar padaku?
Dan kenapa aku jadi berada di tempat asing seperti ini?
"Aku di mana? Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku.
"Aku membawamu ke tempat ini, dan aku juga sudah membakar mobilmu bersama sopir itu."
Apa?!
Bang Dian?!
Aku tidak percaya, apa ini mimpi?
"Ke-kenapa kau melakukannya?" Aku mendorongnya, namun dia balik mendorongku hingga punggungku membentur dinding dengan keras.
"Karena aku membencimu, Shica Mahali!" Pandangannya begitu tajam dan menusuk penuh dengan amarah yang tertahan.
"Kenapa kau membenciku? Apa salahku padamu?" Tanyaku dengan suara bergetar.
"Kau adiknya Regar!"
Kak Regar?
Dia musuhnya kak Regar?
"Jika kau punya urusan dengan dia, selesaikan dengannya. Aku tidak punya masalah dengamu." Tanganku bergerak berusaha melepaskan tangannya dari lenganku.
"Regar memiliki masalah denganku, tapi dia melukai kakakku! Dia memperkosanya, menghamilinya, dan membiarkan kakakku digilir oleh teman-temannya! Apa menurutmu itu tidak keterlaluan, *******!"
Apa?
Sejahat itukah kakakku?
Kurasakan tamparan keras mendarat di pipiku. Aku berteriak dan jatuh ke samping.
Sudut bibirku terasa asin, sepertinya berdarah, karena tamparan barusan.
Januaar menjambak rambutku lagi, "Laki-laki ******* itu meniduri gadis-gadis dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaan mereka, padahal dirinya juga punya adik perempuan."
Kurasakan air mataku mengalir membasahi pipi menahan sakit di rambutku karena Januaar.
"Dia juga menarik rambut kakakku seperti ini."
Aku berteriak keras, saat tangannya semakin kuat menarik rambutku, tapi percuma, dia tidak mengindahkan teriakanku yang menyayat.
"Hentikan! Sakiiit!!!" Aku berusaha menjauhkan tangannya dariku.
"Kakakku juga berteriak dan tidak didengarkan!" Laki-laki tidak waras ini berteriak di telingaku.
Aku merasakan rambutku yang tercabut paksa dari kulit kepala. Bukan hanya itu, sepertinya kulit kepalaku juga terlepas.
"Aaarrrggghhhh!"
Januaar mencakar leherku, "Regar juga melakukan ini pada kakakku."
Aku menendang dadanya, tapi dia mendorongku ke lantai dan memukul lenganku.
Laki-laki brengsek!
Aku ini perempuan!
"Kau terlalu banyak bergerak!" Januaar mencakar pahaku juga.
Rasanya perih sekali.
"Sakit! Berhenti mecakarku!" Aku meronta dan berhasil lepas darinya. Meskipun ruangan ini gelap, aku melihat cahaya dari pintu.
Aku segera berlari keluar lewat pintu itu. Silau sekali di sini. Langkahku sedikit bermasalah. Ada tangga dan aku berlari menuruni tangga tersebut.
Karena pandanganku belum bisa menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan tersebut, aku tidak memperhatikan anak tangga sehingga aku terjatuh dan berguling sampai ke bawah.
Rasanya kepalaku membentur sesuatu, dan benar saja, darah segar mengalir dari pelipisku.
"Hhhh." Tanganku dipenuhi darah yang berasal dari pelipis.
Aku mendengar suara langkah menuruni tangga, itu pasti Januaar. Aku segera bangkit dan akan berlari, namun dia menendang betisku, aku kembali terjatuh.
"Aaarrrgghh! Januaar hentikan! Lepaskan aku!"
Dengan kasar, Januaar menarik bagian belakang seragamku. Dia menyeret tubuhku sambil menaiki tangga. Rasanya tubuhku sakit sekali ketika bergesekan dengan anak tangga.
Beberapa kancing seragamku terlepas. Aku berontak dan mencakar tangannya.
"Eeeuuhhh!"
Januaar membawaku kembali ke ruangan tadi, ketika melewati pintu, telingaku terbentur cukup keras.
"Aarrgghh!" Januaar mendorongku ke lantai.
"Besok aku akan kembali! Jangan mati dulu!"
Laki-laki itu berlalu dan membanting pintu. Dia mengunci pintunya.
Aku ketakutan berada di sini. Ruangannya sangat gelap. Apalagi jendelanya yang besar dibiarkan begitu saja. Tidak ada penutup di sana. Aku melihat pepohonan yang menakutkan di luar sana.
Aku tidak tahu sekarang jam berapa, aku tidak bisa melihat jam tanganku di sini terlalu gelap.
Dingin sekali ini.
Kalau aku berteriak meminta tolong, bisa-bisa Januaar kembali dan memukulku lagi.
Aku memeluk tubuhku sendiri sambil meringkuk membelakangi jendela.
Kenapa kak Regar melakukan itu pada kakaknya Januaar?
Jika Januaar mengatakan hal yang sebenarnya, ini salah kak Regar dan malah aku yang dijadikan pelampiasan kemarahan Januaar.
Kak Regar... apa kau bisa menolongku sekarang?
Kau bilang, kau menyayangiku... tapi kenapa kau tidak datang kemari dan menyelamatkanku?
Suara-suara dari kamar mandi membuatku semakin takut.
Apa hantu itu ada?
Apa dia di sini?
Siapa pun tolong selamatkan aku.
Aku ingin tidur saja, tapi aku tidak bisa tidur sekarang. Terlalu takut dan dingin di sini.
Perutku sakit, rasanya lapar sekali. Aku belum makan siang apalagi makan malam.
Kemana rotiku?
Ah, aku memberikannya pada Januaar.
Aku ingin pagi segera datang. Aku akan melarikan diri dari tempat ini.
Kak Rama... Raihan... apa kalian tidak mencariku?
Floryn... Meishy... apa kalian tidak merindukanku?
Ma... Pa... Shica takut di sini.
Shica yang masih kecil sedang berjalan menyusuri trotoar. Gadis kecil itu baru pulang sekolah. Sopirnya telat menjemput, jadi dia memilih jalan kaki.
Ketika di tengah perjalanan, dia melihat dua orang sedang memasukkan kardus ke dalam mobil box. Melihat keberadaan Shica, kedua pria itu berbisik.
"Dia putri bungsu dari keluarga Mahali. Kita bisa kaya jika menculiknya dan meminta tebusan pada orang tuanya."
"Memangnya kau punya nomor orang tuanya?"
"Itu gampang, sekarang dapatkan dulu anak itu, baru kita urus yang lain."
Keduanya sepakat.
"Nak," panggil salah satu dari mereka.
Shica menoleh, dia menghampiri kedua orang itu.
"Tolong ambilkan kardus itu, nak."
Shica yang baik hati membawakan kardus yang diminta oleh orang itu. Ketika Shica sudah dekat, mereka membekap mulut gadis kecil itu dan melemparnya ke dalam box mobil.
Shica berteriak minta tolong, karena ketakutan. Namun, pintunya sudah ditutup. Gadis kecil itu menggedor-gedor pintu yang terbuat dari besi itu.
Mobil tersebut melaju meninggalkan Jakarta menuju Surabaya.
Keluarga Mahali sangat panik. Mereka meminta bantuan polisi untuk mencari Shica. Tidak hanya polisi, Ridan juga mengerahkan orang-orang kepercayaannya.
Ratna sangat sedih dan khawatir. Rama yang juga masih kecil tidak bisa berhenti menangis, dia juga tidak tidur. Regar berhenti makan, karena memikirkan keadaan adiknya.
Tidak ada kantor berita yang menyiarkan hilangnya Shica. Itu permintaan Ridan sendiri.
Selama diculik, Shica tidak terawat. Dia hanya diberi makan sekali sehari. Dia juga tidak mandi.
Kedua penculik bingung bagaimana caranya menghubungi Ridan. Mereka mengira, Ridan akan menempelkan kertas pencarian dan mencantumkan nomornya.
Namun, keluarga Mahali tidak bekerja seperti itu. Mereka cepat, tersembunyi, dan hati-hati.
Mahali sangat menjaga privasi dan jarak dengan siapa pun.
Namun, setelah berusaha, mereka mendapatkan nomor Ridan dan menelponnya untuk meminta uang tebusan.
"Berapa yang kalian mau?" Tanya Ridan di seberang sana.
"Kami ingin 12 miliyar rupiah."
"Aku akan mengirimkan uangnya, jika putriku baik-baik saja."
Salah satu dari mereka menarik Shica dan menyuruhnya berbicara pada Ridan di telepon.
"Pa? Papa? Shica lapar, Pa."
Ridan akan menangis mendengar suara putrinya yang menyayat, "Bertahanlah, nak. Papa akan segera ke sana. Papa akan membawa Shica pulang agar bisa bermain dengan kak Rama dan kak Regar."
"Papa cepat, ya... aku...."
Penculik itu segera merebut ponselnya, "Aku akan mengirimkan alamatnya, jangan membawa polisi atau siapa pun."
Keluarga Mahali kaget ketika mengetahui, kalau penculik membawa Shica sampai ke Surabaya.
Ratna tidak bisa berpikir lagi, dia terkulai lemas dan pingsan. Wanita itu segera dibawa ke rumah sakit.
Ridan pergi ke alamat yang dimaksud. Dia datang bersama para polisi dan orang-orangnya yang menyamar.
Tiga koper dan sebuah ATM dibawa oleh bodyguard-nya yang juga bertugas menyetir.
Ridan sampai dititik pertemuan. Dia melihat Shica bersama dua orang itu.
Ketika dua penculik itu memastikan Ridan tidak bersama polisi, mereka menemuinya.
"Kenapa membawa orang? Sudah kubilang, hanya kau sendiri yang boleh datang!"
Ridan menjawab dengan santai, "Dia sopirku. Aku tidak mau membawa koper itu dengan tanganku."
"Cih, sombongnya."
"Sekarang lepaskan putriku," kata Ridan.
Shica terlihat menyedihkan bersama dua pria berpenutup kepala itu. Gadis kecil itu tidak terurus. Ridan sangat sedih sekaligus marah melihat keadaan putrinya.
"Koper itu dulu!"
Ridan memberikan kode pada bodyguard-nya.
Pria itu menganggukkan kepalanya lalu menggelosorkan ketiga koper tersebut kepada dua orang itu.
Mereka mengecek isinya.
"Sepertinya ini kurang."
"Sisanya ada di ATM itu. Kalian bisa mengecek saldonya." Ridan menunjuk kartu ATM yang terselip di salah satu koper.
"Sekarang lepaskan putriku."
Mereka membiarkan Shica berlari menuju Ridan. Pria itu memeluk putrinya.
"Papa."
"Sayang." Ridan mengangkat tubuh putrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Kedua penculik itu memasuki mobil box dan melarikan diri. Namun, tiba-tiba jalanan ditutup polisi.
Mobil kedua penculik itu tidak bisa ke mana-mana lagi. Mereka mengumpat marah.
"Jangan bergerak! Kalian harus ikut ke kantor polisi!"
Kedua orang itu keluar sambil mengangkat tangan.
Sebelum polisi mendekati dua tersangka, tiba-tiba mobilnya meledak dan kedua orang itu tewas seketika.
Shica yang digendong Ridan menutup kedua matanya melihat ledakan itu. Ridan mengusap rambut Shica.
"Jangan dilihat, sayang."
Bodyguard yang bersama Ridan ternyata seorang polisi yang menyamar. Dia tidak mengira, Ridan membunuh mereka dengan meletakkan bom di salah satu koper.
"Ridan, kenapa kau membunuh mereka? Aku tidak bisa melindungimu terus."
Ridan memasuki mobilnya dan membiarkan Shica duduk di kursi belakang. Dia duduk di depan dan polisi itu duduk di kursi kemudi.
"Ridan, jawab aku."
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa melindungi diriku sendiri."
"Bagaimana jika kejaksaan mengetahui ini? Kasusmu yang lama belum selesai."
"Aku akan mengurusnya sendiri, terima kasih kau sudah membantuku."
Polisi itu menepuk dahinya sendiri dan menyalakan mesin. Namun, dia tidak melajukan mobil tersebut, karena melihat salah seorang polisi mengetuk jendela mobilnya. Ridan menurunkan kaca mobil.
"Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan uang anda."
"Tidak perlu dipikirkan, lebih baik uang-uang itu terbakar daripada harus dimakan oleh dua bangkai itu."
Sesampainya di rumah, Ratna menangis melihat keadaan Shica yang tidak terurus itu. Tubuhnya yang semula gemuk, kini jadi lebih kurus.
Rama memeluk adiknya. Dia tidak ingin melepaskan Shica, seolah Shica akan diculik lagi jika Rama tidak memeluknya.
Aku terlonjak kaget ketika air dingin mengguyur tubuhku. Aku merasakan perih di seluruh tubuhku, mungkin air dingin ini menyiram luka-lukaku yang terbuka.
Aku melihat ke sekeliling, ternyata hari sudah pagi.
Januaar melemparkan ember kosong itu ke lantai.
Dia menarik dasiku, hingga mau tak mau aku harus berdiri, atau leherku sakit.
"Buka bajumu."
Aku terkejut, apa maksudnya? Kenapa aku harus membuka baju?!
"Kubilang buka bajumu! Kau tuli?!" Januaar mendorong dadaku.
Aku terpundur beberapa langkah, "Aku tidak mau, kenapa kau menyuruhku membuka baju?"
"Jangan bertanya! Buka!" Januaar menarik dasiku sampai terlepas.
Aku menahan kedua tangannya agar tidak memaksaku. Namun, apa dayaku, dia laki-laki dan tenaganya jauh lebih kuat dariku.
Seragamku yang sudah terlepas kancingnya, membuat Januar lebih mudah merobeknya. Aku masih berusaha mempertahankan seragamku.
"Singkirkan tanganmu!" Bentak Januaar.
Aku menutupi tubuh bagian atasku yang hanya menggunakan pakaian dalam yang menutupi dada dan perutku. Punggungku terbuka dan dingin menusuk lewat belakang.
Januaar mendecih. Dia merobek rok yang kupakai. Aku terduduk sambil memeluk tubuhku sendiri. Pahaku kedinginan menyentuh lantai, karena bagian bawahku hanya mengenakan celana dalam.
"Tenang saja, aku tidak berminat dengan tubuhmu, meskipun kau masih perawan. Mungkin mereka lebih menginginkanmu."
Mereka?
Pintu dibuka dari luar. Terlihat beberapa bodyguard menatapku dengan tatapan lapar.
Refleks aku berdiri dan berlindung di belakang Januaar menghindari tatapan mereka.
"Kumohon... jangan lakukan ini padaku... aku takut...."
Januaar tertawa, "Bukankah kau memiliki imajinasi yang liar? Sekarang tunjukkan pada bodyguard-ku."
Aku terkejut.
Bagaimana dia bisa tahu?
Januaar menoleh padaku, "Kau mengenal Raihan? Tentu saja, dia pacarmu, kan? Dia yang memberitahuku."
Apa?
Raihan?!
Dia pasti berbohong!
"Raihan adalah orang yang aku suruh untuk mendekatimu dan membuatmu jatuh cinta padanya lalu memberikanmu padaku untuk menebus kesalahan Regar. Raihan membenci Regar, karena Regar telah merebut Rayaa darinya."
Jadi, selama ini Raihan hanya berakting mencintaiku dan ingin membalaskan dendamnya pada kak Regar melalui aku?
Itu artinya Rayaa adalah orang yang begitu berharga baginya.
Raihan... apa ini benar?
"Dan aku yang sekarang punya hak atas nyawamu. Raihan sudah memberikanmu padaku dengan sukarela. Dia tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintai Rayaa."
Aku sangat terluka mendengarnya. Tapi, tatapan Raihan padaku... dia... dia mencintaiku, aku yakin!
"Dan satu lagi, Rayaa adalah kakakku."
Deg.
-◈◈◈-
16 September 2016
Ucu Irna Marhamah