La Hora

La Hora
LH - 33 - Gazed



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Semester 2 dimulai.


 


 


Siswa-siswi di SMA Hardiswara terlihat asyik berbincang melepaskan kerinduan dengan teman-teman mereka setelah dua minggu tak bertemu.


 


 


Tidak ada jadwal di hari pertama masuk. Jadwal baru sedang dibuat, para guru sedang mengadakan rapat, siswa-siswi yang aktif dalam organisasi juga sedang sibuk mempersiapkan struktur organisasi terbaru.


 


 


Rama sedang sibuk dengan anggota PMR, begitupun dengan Floryn di PKS.


 


 


Siswa yang berprestasi juga sedang berkumpul di ruang plenary. Mereka membahas tentang lomba di semester 2. Rangga dan Meishy di antaranya.


 


 


Shica dan Raihan berjalan-jalan di koridor sekolah.


 


 


"Semua orang sibuk, untung saja anak basket tidak terlalu sibuk," kata Raihan sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala.


 


 


Shica tersenyum.


 


 


"Minggu depan kamu akan ikut lomba melukis, ya? Aku senang sekali kamu mau menunjukkan bakat kamu," kata Raihan.


 


 


Shica tersenyum, "Itu karena papaku yang menginginkannya. Sebenarnya aku ingin menjadi siswi biasa saja. Aku lelah jika harus mengikuti ekstrakurikuler."


 


 


"Aku mengerti, semangat terusss, yaaaa." Raihan mengusap lembut rambut Shica.


 


 


Shica tersenyum seraya menganggukkan kepala.


 


 


"Hei, hei, hei."


 


 


Mendengar suara seseorang yang memanggil, Raihan dan Shica menoleh, ternyata salah seorang guru.


 


 


"Shica, ayo masuk ke ruangan bu Sandra, kamu akan belajar melukis dengannya."


 


 


Shica dan Raihan saling pandang.


 


 


"Aku akan menghubungi kamu nanti," kata Raihan. Shica mengangguk, "Sampai jumpa."


 


 


"Sampai jumpa."


 


 


-


 


 


Kini Shica sedang duduk bersebelahan dengan bu Sandra. Mereka sedang melukis kanvas yang dipasang di tripod.


 


 


Bu Sandra sedang melukis pemandangan berupa persawahan yang indah. Sementara Shica melukis wajah manusia, seorang gadis cantik.


 


 


Bu Sandra menoleh ke kanvas Shica, "Menggambar manusia?"


 


 


Shica tersenyum, "Saya senang sekali melukis keindahan ciptaan Tuhan yang bergerak."


 


 


Bu Sandra mengernyit, "Tapi Shica, ketika perlombaan nanti, temanya keindahan alam Nusantara."


 


 


Shica melihat pemandangan yang dilukis oleh bu Sandra. Gadis itu terdiam.


 


 


"Emmm, saya... saya kurang bagus melukis pemandangan, Bu." Shica menunduk dalam.


 


 


Bu Sandra mengusap punggung Shica dengan lembut, "Tidak apa-apa, nanti ibu ajarkan, yaaa."


 


 


Shica menganggu lesu.


 


 


"Perlombaannya minggu depan, masih banyak waktu untuk belajar."


 


 


Seharian Shica berlatih melukis pemandangan berupa perkebunan kelapa sawit. Hasilnya cukup bagus. Ditunjukan pada bu Sandra karyanya itu.


 


 


"Bagus, Shica. Tingkatkan lagi, ya."


 


 


Shica mengangguk. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 sore.


 


 


Dia masih di sekolah bersama bu Sandra. Shica sudah menghabiskan 3 kanvas.


 


 


"Yang ini untuk Ibu, ya." Bu Sandra menunjuk lukisan gadis cantik karya Shica.


 


 


Gadis itu menganggukkan kepalanya, "Boleh, Bu."


 


 


"Sekarang sudah setengah empat, kamu boleh pulang."


 


 


Shica tersenyum sembari mengangguk. Gadis itu meraih tangan gurunya dan menciumnya, "Terima kasih bimbingannya, Bu."


 


 


"Iya, hati-hati di jalan, yaaa."


 


 


"Iya, Bu."


 


 


Shica berlalu menyusuri koridor sekolah yang sepi. Ada beberapa siswa yang masih betah berada di sekolah, di antaranya adalah murid-murid yang berkegiatan.


 


 


Shica menelepon Dian, bodyguard-nya, "Bang, jemput Shica di parkiran sekolah, yaaa."


 


 


"Baik, Nona Shica."


 


 


Gadis itu menghela napas lelah, "Terima kasih, Bang."


 


 


Diakhiri panggilan tersebut. Dia melangkah menuju kantin dan membeli roti.


 


 


Setelah itu, dia menuju ke tempat parkir, kebetulan Dian sudah tiba. Jadi, Shica tidak perlu menunggu.


 


 


Dian langsung melakukan mobil tersebut ketika Shica sudah masuk.


 


 


"Kak Rama dan kak Regar sudah pulang?" Tanya Shica.


 


 


"Tuan muda tidak ada di rumah."


 


 


Shica ber-oh-ria.


 


 


Ketika di tengah perjalanan, Shica melihat seseorang jatuh dari motor. Gadis itu menepuk pundak Dian.


 


 


"Bang, Bang, lihat ada yang jatuh." Shica menunjuk ke jalanan.


 


 


Dian menoleh sesaat tanpa menghentikan laju mobil, "Tuan besar menyuruh saya menjemput Nona, jadi saya harus segera membawa Nona pulang ke rumah."


 


 


"Tapi, Bang... lihat laki-laki itu kasihan. Tidak ada yang menolongnya," gerutu Shica.


 


 


Akhirnya Dian menepikan mobil. Mereka berdua keluar dan menghampiri laki-laki yang tampaknya seumuran dengan Shica. Hanya saja seragam SMA-nya berbeda, menandakan bahwa laki-laki itu berasal dari SMA lain.


 


 


"Kamu kenapa jatuh?" Shica membantu laki-laki itu berdiri. Dian membawa motor sport laki-laki itu ke pinggir jalan. Ada goresan serius di bagian depan dan sampinya karena mungkin bergesekan dengan jalan.


 


 


Jalan dan trotoarnya pun rusak. Sepertinya laki-laki itu jatuh dengan keras.


 


 


Laki-laki itu bangkit dengan bantuan Shica. Dia menatap Shica dengan tatapan tak terbaca.


 


 


"Kamu perlu ke rumah sakit. Beberapa meter dari sini ada rumah sakit Danuarga," kata Shica.


 


 


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


 


 


"Motornya bagaimana, Nona?" Tanya Dian.


 


 


"Emm, bagaimana, yaa?" Shica juga bingung.


 


 


"Ya sudah, Bang Dian bawa motornya, aku yang bawa mobil dan membawa orang ini ke rumah sakit Danuarga."


 


 


Dian menoleh pada laki-laki itu yang terlihat kesakitan, "Emm, apa Nona yakin? Nona 'kan masih di bawah umur untuk mengendarai mobil."


 


 


Shica tersenyum, "Tidak apa-apa, kasihan orang ini."


 


 


Dian mengangguk.


 


 


Shica membawa laki-laki itu masuk ke mobilnya dan dia menyetir.


 


 


Selama di perjalanan, keduanya saling terdiam. Laki-laki itu tenggelam dalam pikirannya, Shica juga sedang fokus menyetir.


 


 


Merasa keadaan sedikit canggung, Shica menoleh sesaat dan bertanya, "Kamu dari SMA Parameswara, ya?"


 


 


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, "Iya."


 


 


"Nama kamu siapa?" Tanya Shica.


 


 


"Januaar Gallardo."


 


 


"Oh, iya."


 


 


"Nama kamu siapa?" Tanya laki-laki yang ternyata adalah Januaar.


 


 


"Panggil saja Shica."


 


 


"Shica."


 


 


"Iya."


 


 


Hening.


 


 


Tiba-tiba perut Januaar berbunyi. Shica terkekeh, "Kamu lapar?"


 


 


Gadis itu memberikan roti yang dibelinya di kantin tadi pada Januaar.


 


 


"Tidak usah," tolak Januaar.


 


 


"Tidak apa-apa."


 


 


Januaar menerimanya, tapi tidak dimakan, hanya dipegang.


 


 


Sesampainya di rumah sakit Danuarga, Shica membopong tubuh Januaar menuju ke dalam.


 


 


Ketika berpapasan dengan salah seorang perawat, Shica bertanya, "Suster, dokter Michael ada?"


 


 


"Ada, mari."


 


 


Dengan bantuan perawat itu, Shica membawa Januaar ke ruang pemeriksaan pasien.


 


 


Pria tampan berjas putih itu segera memasuki ruang pemeriksaan. Dari ciri fisiknya, semua orang akan tahu, kalau pria itu memiliki darah campuran Indonesia dan bule.


 


 


"Shica?" Dokter tampan itu menyapa Shica.


 


 


"Om Mike." Shica mencium tangan dokter yang bernama lengkap Michael Lorenz Danuarga, putra dari pemilik rumah sakit tersebut.


 


 


"Kenapa dengan temanmu?" Tanya Michael.


 


 


"Jatuh dari motor," jawab Shica.


 


 


Michael memeriksa Januaar.


 


 


"Aduh." Januaar meringis.


 


 


Michael terkekeh, "Maaf."


 


 


Shica tertawa, "Om Michael suka sekali membuat pasien kesakitan."


 


 


 


 


Shica hanya menggeleng pelan mendengar itu ucapan kenalan ayahnya itu.


 


 


"Hanya luka biasa, nanti juga pulih." Michael menyuruh perawat untuk menutup luka di lutut, dahi, dan sikut Januaar dengan perban.


 


 


"Terima kasih, Om."


 


 


Michael mengusap rambut Shica, "Sama-sama, Sayang... sampaikan salamku pada tuan Mahali."


 


 


Shica tersenyum, "Siap."


 


 


Januaar menatap Shica dengan intens, cantik juga, pantas saja Raihan sampai jatuh cinta padanya. Dia melupakan kakakku demi gadis ini.


 


 


Shica menoleh pada Januaar. Laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya dari Shica.


 


 


"Nanti bang Dian akan mengantarmu," kata Shica.


 


 


Januaar mengangguk, "Iya."


 


 


Sementara itu,


 


 


Dian sedang bersandar di mobil menunggu Shica. Ada motor Januaar juga di sampingnya. Seorang pria paruh baya menghampirinya.


 


 


"Tuan, ini motor anak saya." Pria itu menunjuk pada motor Januaar.


 


 


"Saya mendapatkan telepon dari gadis bernama Shica, katanya anak saya masuk rumah sakit ini?" Tanya pria itu pada Dian.


 


 


Dian mengangguk, "Ayo, bantu saya mencarinya ke dalam, saya mengkhawatirkan anak saya."


 


 


Kedua pria itu masuk ke rumah sakit Danuarga.


 


 


Januaar merangkul bahu Shica yang meraih pinggangnya. Mereka berlalu keluar dari ruangan itu.


 


 


Shica yang membayar tagihan rumah sakit.


 


 


Di jarak sedekat itu, Januaar bisa menghirup aroma tubuh Shica. Dia juga bisa melihat wajah cantik gadis itu.


 


 


"Kenapa kau menolongku? Padahal kau tidak kenal padaku," tanya Januaar.


 


 


"Aku tidak tega melihat orang lain berada dalam kesulitan," jawab Shica.


 


 


Januaar mendecih pelan.


 


 


"Kenapa?" Tanya Shica.


 


 


"Tidak."


 


 


Tiba-tiba Januaar memeluk Shica. Gadis itu terkejut apalagi setelah merasakan sesuatu yang tajam menusuk pinggangnya.


 


 


Januaar memegang jarum suntik dan menyuntikkan sesuatu ke pinggang Shica.


 


 


"Meskipun kamu cantik, jangan harap aku akan bersikap lembut."


 


 


Pandangan Shica memudar dan dia pun pingsan dalam pelukan Januaar.


 


 


Laki-laki itu segera mengangkat tubuh Shica dengan bridal dan membawanya pergi.


 


 


Laki-laki itu mengabaikan rasa sakit di tubuhnya karena terjatuh dari motor tadi.


 


 


Dian dan orang yang mengaku ayahnya Januaar sedang berkeliling di koridor rumah sakit.


 


 


Ketika Dian lengah, pria itu memukul tengkuknya dengan keras membuat Dian kehilangan kesadaran.


 


 


-


 


 


Januaar mengambil kunci mobil dari saku seragam Shica. Dia memasukkan tubuh lunglai itu ke dalam.


 


 


Pria paruh baya tadi datang memanggul tubuh Dian dan memasukkannya ke kursi belakang.


 


 


"Bawa motorku ke rumah," ucap Januaar sambil melemparkan kunci motornya pada pria itu yang ternyata adalah salah satu bodyguard-nya.


 


 


"CCTV rumah sakit ini sudah kau urus?" Tanya Januaar.


 


 


"Sudah, Tuan... mereka tidak akan buka mulut."


 


 


"Kau duluan."


 


 


Pria itu menganggukkan kepalanya.


 


 


Januaar mengikat tubuh Dian. Setelah itu, dia duduk di kursi kemudi dan memasangkan seatbelt ke tubuh Shica.


 


 


"Dia akan bangun sekitar..." Januaar melihat jam di tangan Shica, "tiga jam lagi."


 


 


Laki-laki itu melajukan mobilnya menuju rumah Gallardo di tengah hutan.


 


 


Gallardo adalah nama belakang ibunya. Dia tidak memakai nama belakang sang ayah. Rayaa juga tidak memakai nama belakang ayahnya.


 


 


Kenapa ayahnya Januaar membangun rumah di tengah hutan? Tentu saja sengaja untuk tempat persembunyian.


 


 


Ayahnya Januaar menggunakan nama Gallardo sebagai identitas rumah tersebut.


 


 


Rumah itu tidak digunakan lagi oleh sang ayah sejak ibunya Januaar meninggal. Rumah tersebut kini jadi milik Januaar.


 


 


Rumah yang merupakan base camp kedua milik geng Januaar.


 


 


Keluarga yang penuh rahasia dan menakutkan.


 


 


Hari mulai gelap.


 


 


Mobil Shica yang dikendarai oleh Januaar mulai memasuki area berpohon. Di sekitar sana hanya ada pohon besar dan menjulang tinggi.


 


 


Tibalah mereka di rumah besar dan mewah yang berdiri tegak di tengah-tengah hutan. Lampu-lampu hias di sekitar rumah itu yang membuatnya terlihat mengangunkan walaupun di malam hari.


 


 


Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan raya, hanya saja jalannya yang membingungkan. Apalagi kalau hari menjelang malam.


 


 


Ketika mobil berhenti di depan rumah tersebut, beberapa bodyguard yang berjaga langsung menghampiri. Mereka membukakan pintu mobil dan membawa tubuh Dian yang terikat.


 


 


Januaar membawa Shica ke sebuah ruangan kosong di rumah tersebut.


 


 


Ruangan yang berukuran 4 × 4 meter itu hanya di lengkapi jendela lebar di salah satu sisinya. Tidak ada barang apa pun di dalam.


 


 


Tapi, ada kamar mandi kecil yang merangkap dengan ruangan tersebut.


 


 


Januaar menyandarkan tubuh Shica ke dinding. Laki-laki itu berjongkok di depannya dan menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan kasar.


 


 


"Bangun."


 


 


Januaar menarik dagu Shica, "Bangun gadis pemalas."


 


 


Tidak ada reaksi.


 


 


Januaar melihat jam tangan Shica yang menunjukkan pukul 8.


 


 


"Satu jam lagi."


 


 


Laki-laki itu berlalu keluar dari ruangan tersebut dan menuruni tangga. Dia berpapasan dengan Rayaa.


 


 


Gadis itu terlihat cemas melihat perban di dahi adiknya.


 


 


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rayaa sambil menangkup wajah adiknya.


 


 


"Tidak, Kak." Januaar mengusap kedua tangan kakaknya.


 


 


"Kenapa kamu harus melukai dirimu sendiri untuk membawanya? Kenapa tidak menyeretnya saja?" Gerutu Rayaa.


 


 


"Gadis itu bersama bodyguard, jadi aku harus berhati-hati membawanya," jawab Januaar.


 


 


Tangan Rayaa mengepal, "Aku ingin melihat gadis itu."


 


 


"Tidak sekarang, nanti Kakak malah melukainya. Tidak asyik menyiksanya ketika tidur," kata Januaar sambil menarik tangan Rayaa.


 


 


"Kita makan malam saja."


 


 


Januaar melemparkan roti pemberian Shica ke tong sampah di dekat tangga.


 


 


-


 


 


Di ruang makan.


 


 


Ada banyak sekali makanan yang tersedia di meja.


 


 


Januaar dan Rayaa tengah menikmati hidangan makan malam tersebut dengan lahap.


 


 


Januaar membawa Shica atas keinginan Rayaa. Kakaknya itu memberitahu Januaar, kalau Raihan sudah tidak mencintainya. Rayaa tahu Raihan telah mencintai Shica dan itu membuatnya sakit hati.


 


 


Rayaa ingin Januaar sendiri yang membawa Shica dan menyiksanya. Tidak perlu Raihan yang melakukan itu, karena tidak mungkin Raihan akan menyakiti orang yang dicintainya.


 


 


Januaar tahu, Shica adalah gadis yang memiliki hati lembut. Jadi, dia menjatuhkan dirinya di jalan agar Shica menolongnya.


 


 


Seandainya Shica tidak menolong, dia tetap akan mengambil Shica dengan paksa.


 


 


Ternyata sesuai rencana, gadis itu menolongnya.


 


 


Selesai makan malam, Rayaa dan Januaar membicarakan sesuatu.


 


 


"Ruangan itu tidak perlu diberi lampu, tidak perlu diberi gorden, tidak perlu ada kasur. Biarkan saja dia tidur di lantai dalam ketakutan," kata Rayaa penuh dendam.


 


 


"Iya," jawab Januaar.


 


 


"Apa dia sudah bangun?" Tanya Rayaa.


 


 


Januaar mengedikkan bahunya, dia beranjak dari kursi, "Aku akan melihatnya. Kakak tidur saja."


 


 


Rayaa mengangguk.


 


 


Januaar menaiki tangga sambil meminum anggur dari gelasnya. Dia membuka pintu ruangan di mana Shica berada.


 


 


Gadis itu masih pingsan dalam posisi yang sama. Januaar jongkok di depannya sambil meminum anggur.


 


 


"Masih belum bangun juga, padahal sudah jam setengah sembilan." Januaar menyiram rambut Shica dengan anggurnya.


 


 


Rambut, wajah, dan sebagian seragamnya jadi basah.


 


 


"Bangunlah!" Teriak Januaar.


 


 


Percuma, gadis itu masih belum sadar.


 


 


"Okay, I will be waiting for you."


 


 


-◈◈◈-


 


 


12 September 2016


Ucu Irna Marhamah