
-◈ Shica Mahali ◈-
Jam menunjukkan pukul 2 malam.
Saat ini aku benar-benar sedang berada di rumah Raihan. Rumah yang sangat besar dan mungkin tiga kali lipat lebih besar dari rumahku. Tentu saja, ini mansion.
Aku pikir, rumah Raihan adalah yang waktu itu. Kamar Raihan di dominasi dengan warna madu. Sangat luas, namun tidak terlalu banyak barang.
Hanya ada tempat tidur, nakas, sebuah lemari besar, meja belajar dan sofa. Di dindingnya hanya ada poster basket.
Ada kamar mandi yang merangkap dengan kamar Raihan. Hari ini terlalu panas, dan aku ingin mandi. Aku masuk ke sana.
Aaahhhh, sejuk sekali rasanya ketika aku berada di kamar mandi ini.
Kamar mandi yang luas dan nyaman. Ada cermin panjangnya dan wastafel, dua closet duduk dan bath-up yang luas.
Sangat nyaman.
Aku sudah meminta izin pada Raihan untuk mandi. Kubuka jaket Raihan dan aku terkejut melihat ada yang merah-merah dan ungu di sekitar leherku.
Apa yang terjadi?!
Pasti Argaa yang membuatnya! Sial! Ini menjijikan, apa akan membekas selamanya?
Aku tidak tahan untuk tidak berteriak. Kuusap dan kugosok tanda-tanda menjijikan ini agar tidak selamanya menempel.
Bukannya hilang, tanda ini semakin terlihat jelas. Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Aku segera mengambil jubah mandi berwarna abu-abu dan memakainya.
Ternyata Raihan yang masuk. Dia terkejut dan berbalik membelakangiku, "Maaf, aku pikir... telah terjadi sesuatu padamu, karena aku mendengar suara teriakanmu."
Aku mengeratkan jubah mandi ini, "Ma-maaf... aku membuatmu terkejut, ya?"
Tanpa menoleh, Raihan menjawab, "Tidak, tidak... kamu kenapa sampai berteriak? Apa kamu terluka?"
Apa yang harus aku katakan?
"Shica?" Raihan menoleh padaku. Kini dia berbalik dan melihatku.
"Katakan padaku, kamu tidak apa-apa, kan?"
Aku menunduk, "Meskipun Argaa tidak menyentuhku, ada bekas-bekasnya di tubuhku."
Raihan memegang kedua lenganku, "Jangan dipikirkan, dengan mandi, bekas-bekas itu akan menghilang."
Aku menggeleng cepat, "Bekasnya tidak mau hilang. Aku tidak mau memiliki bekas-bekas ini."
Kucakar leherku sendiri dan aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak berhenti mengacak-acak tubuhku. Kurasakan Raihan menahan kedua tanganku.
"Shica! Berhenti! Kamu malah menyakiti dirimu sendiri."
Aku berhenti mengamuk. Pecahlah tangisanku.
Raihan memelukku, "Menangislah, jika ini membuatmu merasa lebih tenang."
"Aku takut... aku menjijikan...."
"Tidak, Shica... itu tidak sampai terjadi, kamu tidak sampai kehilangan kesucianmu. Kamu tidak perlu khawatir." Raihan berusaha menenangkanku.
Tetap saja menjijikan, Argaa melihat seluruh tubuhku. Dia... aaarrghhh, tidak ada yang mengerti!
Aku melepaskan pelukannya dan menunjukkan tanda kemerahan di leherku pada Raihan, "Ini akan menghilang?"
Raihan mengangguk, "Beberapa hari mungkin akan hilang."
Beberapa hari?
Besok aku pulang, dan... bagaimana jika mama dan papa melihatnya?
"Shica," panggil Raihan. Aku mendongkak menatapnya.
"Kamu tahu, kenapa Argaa begitu tergila-gila dengan tubuhmu?" Tanya Raihan dengan tatapan penuh arti.
Aku menggeleng, "Dia memang penjahat kelamin."
Raihan menarik sudut bibirnya, "Karena kamu cantik, jujur saja... aku juga berhasrat ketika melihatmu seperti ini."
Apa yang dia katakan?!
Dia....
Raihan mendekatkan wajahnya membuat hidung kami bersentuhan. Tatapannya begitu menakutkan, seolah dia ingin menelanjangiku.
"Raihan." Aku menahan dadanya, "Aku tahu, kau menyukaiku... tapi... jangan seperti ini."
Bukannya mendengarku, dia malah mengecup bibirku. Kurasakan bibirnya yang hangat menyesapku.
Apa dia pernah melakukan ini dengan perempuan lain sebelumnya?
Raihan menarik tubuhku agar semakin merapat padanya. Kurasakan dadaku bersentuhan dengan dadanya.
Dia memperdalam ciumannya. Entah kenapa aku malah membalasnya dengan sebisaku.
Sentuhannya sangat lembut dan membuatku ingin merasakan lebih lagi. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
Raihan mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di wastafel. Kini aku sedikit lebih tinggi darinya. Dia harus mendongkak untuk mendapatkanku.
Dia berdiri diantara kedua pahaku yang sedang duduk di wastafel.
Tangannya menyentuh jubah mandi yang kupakai membuatnya turun sampai sikut. Dia bisa melihat dadaku. Raihan mengusap punggungku dengan lembut.
Ciuman kami terlepas, karena kehabisan oksigen untuk bernapas. Aku menatap wajah tampannya dengan napas tersengal. Wajahnya yang berwarna coklat seperti caramel itu tampak seksi dengan keringat yang membasahinya.
Raihan sangat tampan dan aku mencintainya.
Dia membuka kaos putih yang dikenakannya. Kini terlihat olehku dada dan perutnya yang kekar. Selama ini dia tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun. Aku hanya pernah melihat lengannya saja, itu pun ketika memakai jersey basket.
Ternyata dia memiliki tubuh yang bagus. Ada enam pack di perutnya. Ingin sekali aku menyentuh bagian itu, tapi aku terlalu malu.
Raihan menarik tanganku dan menyentuhkan telapak tanganku ke perutnya. Kedua pipiku terasa makin panas. Perutnya sangat keras, apakah ini hasil berolahraga dan bermain basket?
"Shica, apa kau menyukainya?" Tanya Raihan dengan senyuman nakal.
Aku mengangguk pelan.
Ah, shit!
Kenapa aku harus mengangguk?
Memalukan!
"Mulai sekarang ini milikmu," desah Raihan. Dia mendekat dan memberikan kecupan pada leherku.
Geli sekali rasanya.
"Tubuhmu juga milikku, jangan ada yang menyentuhnya," bisik Raihan dengan lirih.
Tanganku masih mengusap perutnya. Tangan yang satu lagi memeluk tengkuknya.
"Bekas-bekas ini tidak ada artinya, aku akan membuat tandaku sendiri." Raihan mendesah di sela ciumannya. Dia menyesap bagian atas dada kiriku.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mendesah.
Raihan ingin membuatku gila.
Aku meremas rambutnya yang berombak. Dia memberikan kecupan lembut, lumayan basah, dan menyesap leher beserta dadaku.
Sekarang tubuhku tidak hanya di banjiri keringat, ada saliva Raihan yang menempel di mana-mana.
Kamar mandi yang awalnya terasa dingin, sekarang menjadi panas. Namun, aku jadi tidak ingin mandi.
Raihan berhenti. Dia menatapku dengan intens. Tersirat hasrat yang penuh lewat iris onyx miliknya.
"Maafkan aku, kamu terlalu sayang untuk dilewatkan." Setelah berkata demikian, Raihan menaikkan kembali jubah mandiku.
"Aku mencintaimu, aku hanya akan melakukannya ketika kita telah resmi menjadi suami istri," ucap Raihan kemudian mengecup pipiku dan mengusap rambutku.
Setelah beberapa detik menatapku, dia berlalu.
Aku memeluk tubuhku sendiri.
-
Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku tidak tidur semalam. Yeah, aku tidak bisa tidur. Apa yang dilakukan Raihan membuatku tidak mau tidur.
Setelah mandi, aku mendapati pakaian baru di tempat tidur. Mungkin Raihan menyimpannya di sana, ketika aku mandi. Dan sekarang aku memakainya.
Semalaman aku hanya mondar-mandir di dalam kamar Raihan dan melihat barang-barang Raihan.
Ini memang tidak sopan, tapi aku tidak menyentuhnya, hanya melihat saja.
Namun, tidak ada barang yang aneh, hanya ada sketsa wajah buatanku di meja belajarnya.
Jika ini kamar Raihan, lalu... Raihan tidur di mana, ya?
Aku membuka gorden dan melihat keluar jendela. Ternyata jendela ini mengarah ke halaman belakang rumah. Ada taman kecil di halaman belakang. Banyak sekali bunga dan tanaman hijau. Aku menyukainya.
Pintu kamar diketuk. Aku menoleh dan segera membuka pintu, ternyata kak Rama.
Aku memeluknya dengan erat, "Kak Rama!"
Aku rasakan pelukan kakakku juga tak kalah erat, "Kamu menghilang dan membuatku hampir gila, karena mencemaskanmu."
Aku merasa sangat merindukan kakakku ini. Seolah kami telah berpisah selama belasan tahun.
"Kakak, aku merindukanmu," kataku.
"Aku juga... untung saja Raihan memberitahuku, kalau dia yang sudah membawamu ke rumahnya."
Kami melepaskan pelukan yang sesak ini. Sejenak kak Rama menatapku.
"Tidak ada yang sakit? Apa saja yang sudah dilakukan oleh Argaa? Aku harus menghabisinya." Kak Rama terlihat begitu marah.
"Dia tidak sempat melakukannya, tapi... dia melihat tubuhku...." Aku tidak melanjutkan ucapanku, karena aku takut dan terhina setiap mengingatnya.
Kak Rama kembali memelukku, "Maaf, tidak seharusnya aku bertanya begitu, tapi aku sangat mengkhawatirkan kamu."
Aku mengangguk mengerti.
Raihan menaiki tangga dan melihat ke arah kami berdua.
"Kalian sudah bangun? Pelayan akan mengantarkan sarapan ke kamar kalian." Setelah mengatakan itu, Raihan berlalu.
Dia tampak canggung ketika melihatku. Mungkin dia masih mengingat kejadian semalam. Harusnya aku yang malu, kan?
Yeah, aku malu. Tapi, aku pura-pura tidak ingat.
"Raihan, kenapa tidak makan bersama?" Tanya kak Rama.
Raihan menghentikan langkahnya, "Di rumah ini tidak ada makan bersama."
Aku merasa sedih mendengarnya, mungkin itu karena dia sendirian dan selalu makan sendiri. Jadi, dia berkata seperti itu.
-
Aku dan kak Rama bersiap-siap untuk pulang. Raihan ingin mengantarkan kami sampai rumah, namun kak Rama melarangnya.
"Jika papa atau kak Regar melihatmu bersama kami, mereka akan berpikir buruk tentangmu, terutama papa. Hari ini mereka pasti akan mewawancari kami. Kami tidak ingin kau mendapatkan masalah. Aku sudah sangat berterima kasih dengan bantuanmu." Kak Rama menepuk bahu Raihan.
Rasanya senang sekali melihat kakakku yang sudah akrab dengan pacarku.
Raihan mengangguk mengerti.
Kami pun pulang dan sampai di rumah jam 8 pagi.
Benar saja, papa dan mama belum berangkat ke kantor. Meskipun hari minggu, mereka tidak pernah terlambat pergi di jam segini.
Tampaknya kak Regar juga tidak ada di rumah. Kemana dia?
Mama menghampiri kami dan pelukan hangat yang kami dapatkan. Aku dan kak Rama membalas pelukan mama.
"Mama sangat khawatir, ketika tidak melihat kalian di rumah."
"Maaf, Ma." Kak Rama yang menjawab.
"Ma, Papa mau bicara sama mereka," kata papa. Mama mengangguk, "Mama harus ke kantor, kalian istirahat, yaaa."
Mama berlalu, dan sekarang kami berdua duduk berhadapan dengan papa.
"Kalian sedang berbohong, kan? Sekarang katakan saja, apa yang terjadi."
Perkataan papa membuatku benar-benar takut. Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Kami menoleh, ternyata kak Regar.
Dia masuk dan berlalu melewati kami begitu saja, tapi papa memanggilnya.
"Datang dan pergi tanpa permisi, kembali dan duduk di samping adik-adikmu."
Kak Regar menghentikan langkahnya dan duduk di samping kak Rama.
Kami bertiga menunduk. Setelah sekian lama, baru kali ini lagi papa terlihat marah. Apa yang membuatnya marah?
Jika papa tahu, aku diculik, seharusnya papa khawatir 'kan bukan marah?
Atau... ada hal lain yang membuatnya marah?
"Berdiri kalian," kata papa.
Kami bertiga berdiri.
"Siapa yang mau menjelaskan kebohongan kalian?"
Tidak ada yang bersuara. Aku juga bingung harus bicara apa. Yang mana yang harus dijelaskan?
"Shica?"
Aku terhenyak dan mendongkak menatap papa.
"Papa tidak tahu, apa kamu sedang melindungi kakak-kakak kamu, atau bagaimana. Tapi, kamu diculik dan kamu tidak bilang sesuatu?" Tanya papa.
Aku terkejut, jadi benar, papa tahu aku diculik?
"Aku... aku tidak mau Papa dan mama khawatir, tapi... aku baik-baik saja, kok." Aku berusaha memperlihatkan ekspresi wajar.
"Justru kebohongan kalian membuat papa khawatir. Regar, kenapa kamu menyuruh orang-orang khusus Papa untuk turun tangan? Ini sangat memalukan!"
Apa? Memalukan?
Jadi, papa bukan khawatir padaku? Papa mengkhawatirkan harga dirinya?
Kulihat kak Regar tampak terkejut, begitupun kak Rama.
"Rama, di sini kamu yang paling banyak berbohong!"
Kak Rama menunduk, kulihat tangannya mengepal, "Apakah nama baik keluarga Mahali jauh lebih penting?"
Aku terkejut mendengar suara bernada rendah kak Rama. Dia tidak seperti kak Rama yang biasanya. Sepertinya kak Rama sedang menunjukkan emosinya yang jarang terlihat.
"Apa maksud kamu?!" Tanya papa.
"Jika Papa mengkhawatirkan anak Papa, seharusnya Papa memperhatikan mereka dengan serius. Jika Papa hanya mengkhawatirkan nama baik Papa, sekarang tidak perlu lagi. Semuanya sudah baik-baik saja."
Berakhirnya kalimat itu, tamparan keras mengenai wajah kak Rama.
Aku tercengang.
Sebelum papa melakukan hal lain, aku segera menghalangi kak Rama dari papa.
"Papa, kak Rama tidak salah, Pa. Ini salah Shica." Aku menyalahkan diriku sendiri, padahal aku juga tidak tahu, apa salahku.
"Kak Rama yang semalaman mencari Shica dan dia juga yang menyelamatkan Shica dari mereka, Pa. Jangan menyakiti kak Rama." Aku berusaha menjelaskan.
"Apakah dia kakak yang baik untukmu, sehingga kamu membelanya walaupun dia bersalah?!" Bentak papa.
Kak Rama menarikku mencoba menghentikanku agar tidak melawan pada ayah.
"Jika kakakmu tidak bersalah, siapa yang bersalah?!"
Aku dan kak Rama menoleh pada kak Regar. Kenapa dia malah diam saja di saat adik-adiknya kesulitan?
Kenapa dia tidak mencoba membela kami?
Padahal jelas saja, ini semua karena dia. Banyak orang yang membencinya dan adik-adiknya yang menjadi korban.
Dia bukan kak Regar yang kukenal. Dia orang lain.
"Shica, tidak seharusnya kamu seperti ini. Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar rumah atau ke mana-mana. Pulang sekolah langsung ke rumah. Tidak perlu pergi bersama kakak-kakakku lagi. Bodyguard yang akan menjemputmu."
Setelah mengatakan itu, papa pergi keluar.
Aku berbalik menangkup wajah kak Rama, ada sedikit darah di sudut bibirnya. Aku mengusapnya.
"Aaww." Kak Rama meringis pelan.
Aku menariknya pergi ke ruangan lain, "Kakak kenapa diam saja ketika papa menyalahkan Kakak? Kenapa kak Regar tidak membantu kita?"
"Kak Regar membantu kita. Dia bahkan harus menyuruh orang-orang papa untuk mencarimu."
"Lalu kenapa papa hanya menyalahkan kak Rama?" Aku menggerutu kesal.
"Karena...."
"Papa lebih menyayangi kak Regar?"
-◈◈◈-
10 September 2016
Ucu Irna Marhamah