La Hora

La Hora
LH - 7 -New Friend



 


 


 


-◈◈◈-


 


 


 


 


Bella memakai seragamnya. Dia melihat wajahnya yang polos tanpa make-up lewat cermin.


 


 


Regar yang memakai dasi menoleh pada perempuan yang sekarang sudah menjadi pacarnya itu.


 


 


"Sayang, aku lebih cantik pakai make-up, atau tanpa make-up?" Tanya Bella.


 


 


"Lebih cantik tanpa pakaian."


 


 


Bella tertawa mendengar jawaban Regar kemudian berlalu keluar dari kamar Regar.


 


 


Laki-laki itu menoleh ke tempat tidurnya. Ada noda darah di sprei abu-abu pudarnya.


 


 


Regar menaikkan sebelah alisnya.


 


 


Di meja makan, Rama menoleh ke arah Bella yang lahap menyantap sarapan kemudian melirik pada kakaknya juga yang sedang mengoles rotinya dengan selai coklat.


 


 


Sementara Shica tampak biasa-biasa saja.


 


 


Suasana terasa canggung, shingRama bersuara, "Kakak tidak khawatir? Bagaimana jika para bodyguard itu melapor pada papa?"


 


 


"Semalam saja tidak ada satu pun bodyguard yang berjaga di depan," kata Regar santai.


 


 


"Mereka mengawasi di rumah sebelah. Meskipun tidak ada yang berjaga, ada CCTV di rumah kita," kata Rama lagi.


 


 


Regar mulai terlihat cemas, namun dia berusaha menenangkan hatinya sendiri, "Akan aku urus mereka."


 


 


"Mungkin bodyguard lama bisa diajak 'bicara', memangnya Kakak sudah akrab dengan bodyguard yang baru?"


 


 


Kali ini Regar terdiam seribu bahasa. Dia baru ingat ada bodyguard baru di rumahnya.


 


 


Bella tidak peduli dan tidak mau tahu dengan apa yang dibicarakan oleh kedua laki-laki itu.


 


 


"Aku akan memikirkannya nanti, kalian pergi ke sekolah duluan saja. Aku akan pergi bersama Bella," ucap Regar.


 


 


Kedua adiknya berdiri dan berlalu. Namun, Regar memanggil Shica, "Shica? Kamu baik-baik saja?"


 


 


Shica menoleh kemudian mengangguk. Regar tersenyum dan mengangguk juga.


 


 


Rama dan Shica melanjutkan langkah mereka. Akhirnya Rama dan Shica pergi ke sekolah berdua.


 


 


Selama di perjalanan, Shica terdiam dan melamun. Menyadari perbedaan sikap pada adiknya, Rama merangkul adiknya itu.


 


 


"Jangan dipikirkan terus," kata Rama.


 


 


Shica menatap kakaknya, "Kapan kalian akan berhenti seperti ini?"


 


 


Rama tidak bisa memberikan jawaban. Dia tidak tahu harus bilang apa.


 


 


"Bagaimana jika aku juga diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain?"


 


 


Pertanyaan Shica membuat Rama menggeleng cepat, "Tidak, itu tidak boleh terjadi dan tidak akan pernah terjadi."


 


 


"Lalu kenapa kak Rama dan kak Regar melakukan itu pada gadis-gadis itu? Mereka terluka dan kesakitan, Kak." Shica berbicara pelan seperti akan menangis.


 


 


Rama menghela napas panjang, "Kakak tidak melakukannya jika mereka tidak mau. Bella juga melakukannya karena dia yang mau."


 


 


Shica menggeleng, "Aku tidak bicara soal Bella, Kak. Aku bertanya tentang gadis-gadis SMP waktu itu."


 


 


Rama terdiam. Dia tidak mengira Shica akan mengetahuinya.


 


 


"Kamu tahu dari mana? Siapa yang memberitahu kamu?" Tanya Rama.


 


 


"Kakak pikir aku tidak tahu?" Tanya Shica dengan suara bergetar.


 


 


Mobil terhenti di depan gerbang sekolah. Shica segera keluar dari mobil dan bergegas pergi. Rama akan menyusulnya, tapi Shica sudah jauh.


 


 


"What the hell with kak Regar." Rama mendengus kesal.


 


 


Padahal Regar yang salah, tapi Rama juga mendapatkan kekesalan dari Shica.


 


 


Shica menoleh ke sekeliling. Dia lupa arah menuju ke kelasnya. Yang pasti, kelasnya berada di lantai 3. Tapi, dia tidak menemukan tangga menuju ke lantai tiga. Saat ini dia berada di lantai 2.


 


 


Ingin sekali dia bertanya pada salah seorang murid yang lewat, namun dia tidak berani. Sehingga dia harus mencarinya sendiri.


 


 


Seseorang berdiri di belakangnya. Shica merasakan kehadiran laki-laki itu. Dia menoleh.


 


 


Laki-laki tampan berkulit eksotis itu tersenyum padanya. Shica terpesona melihat ketampanan laki-laki di depannya itu. Sehingga dia menatapnya lama tanpa berkedip.


 


 


"Halo?" Laki-laki itu mengibaskan tangannya


 


 


Shica tersentak kaget, "Iya?"


 


 


"Aku mencari kelas 10 MIPA B di mana, ya?" Tanya laki-laki itu. Suaranya sangat dalam dan berat membuatnya terdengar seksi di telinga Shica.


 


 


"Itu kelasku," jawab Shica.


 


 


"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita ke sana bersama." Laki-laki itu menggenggam tangan Shica membuat gadis itu semakin gugup.


 


 


"Ah... tapi... sebenarnya aku juga lupa lewat mana," kata Shica.


 


 


Laki-laki itu mengernyit, "Baiklah, kalau begitu, kita cari bersama-sama."


 


 


Shica mengangguk.


 


 


"Oh ya, namaku Raihan Alfarizi." Laki-laki itu mengubah cara memegang tangan Shica.


 


 


"Shica Ma... panggil Shica saja."


 


 


Laki-laki yang bernama Raihan itu tersenyum sambil mengangguk, "Senang bertemu denganmu."


 


 


"Senang bertemu denganmu juga."


 


 


Setelah melewati perjuangan, kedua manusia kasarung itu akhirnya bisa menemukan kelas mereka.


 


 


Beruntung kelas belum dimulai.


 


 


Melihat kedatangan Shica, Meishy melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Shica.


 


 


"Aku duduk di mana, ya?" Tanya Raihan sambil mencari bangku yang kosong.


 


 


"Sepetinya bangu terdepan itu kosong." Shica menunjuk ke kursi yang paling depan.


 


 


"Kenapa harus di depan?" Raihan menghela napas berat.


 


 


"Lalu mau di mana?" Tanya Shica.


 


 


"Di belakang."


 


 


Raihan menunjuk bangku di belakang Shica, "Yang itu kosong?"


 


 


Shica mengangguk.


 


 


"Ya sudah, aku di sana saja."


 


 


Dia pun duduk.


 


 


Shica berlalu menghampiri Meishy, "Hai, tadi aku kesulitan mencari kelas ini. Aku lupa arah dan tersesat lagi."


 


 


"Beruntung sekali datang sebelum pelajaran dimulai." Meishy menulis sesuatu di bukunya yang tebal.


 


 


"Kamu menulis apa, Meishy?" Tanya Shica penasaran.


 


 


Meishy menjawab, "Aku suka menulis cerita sejak kecil. Aku ingin menjadi seorang penulis novel fantasy yang hebat seperti J. K. Rowling."


 


 


"Wah, aku punya teman seorang pengarang. Hebat sekali," ucap Shica yang merasa bangga pada Meishy.


 


 


Mendengar ucapan temannya, Meishy tersenyum, "Aku baru belajar."


 


 


"Buatkan cerita tentangku," kata Shica semangat. Meishy juga mengangguk setuju, "Boleh, kau tinggal menceritakannya padaku, lalu nanti aku akan menuliskannya untukmu."


 


 


Shica tersenyum, namun hanya sesaat, "Tapi, kisahku tidak ada yang menarik. Nanti karya kamu malah jelek."


 


 


Meishy menggeleng, "Semua orang punya cerita yang unik dan menarik."


 


 


"Siapa pemeran utamanya?" Tanya Shica. Meishy merespon, "Di dunia nyata, pemeran utamanya adalah semua orang. Tidak perlu khawatir, 'sutradara' kita Sang Maha Adil."


 


 


Entah kenapa, ucapan Meishy terdengar sangat bermakna bagi Shica. Mungkin karena Meishy seorang pengarang novel.


 


 


Shica tersenyum, "Kamu pintar, ya. Pantas saja mendapatkan beasiswa di sekolah ini."


 


 


Meishy menoleh pada Shica dengan ekspresi bingung, "Kamu tahu?"


 


 


Shica terkejut, "Ah, i-iya... kemarin kamu memberitahuku. Apa kamu lupa?"


 


 


Meishy tampak berpikir, "Benarkah? Oh iya, aku lupa."


 


 


Padahal Meishy memang tidak memberitahu Shica. Shica tahu dari Rama.


 


 


Itulah kelemahan Meishy, mudah melupakan percakapan yang sudah berlalu. Apa jika percakapan itu tidak terlalu penting.


 


 


Jam olahraga telah tiba.


 


 


Shica dan Meishy berganti pakaian di ruangan yang sama.


 


 


 


 


"Aku juga maunya tidak di kacamata. Tapi... pandanganku buram." Meishy membenarkan kacamatanya.


 


 


"Baiklah kalau begitu, ayo." Shica menggandeng lengan Meishy.


 


 


Keduanya memasuki lapangan voli bersama teman sekelasnya.


 


 


Di lapangan voli ada kakak kelas yang sedang bermain voli. Mereka tampak keren dengan tubuh yang tinggi tegap dan keringat yang membasahi tubuh dan membuat kulit mereka mengkilap di bawah terik matahari.


 


 


Terdengar percakapan di antara teman-teman sekelas Shica.


 


 


"Waaahhh, tampannya kapten voli!"


 


 


"Siapa namanya?"


 


 


"Aku lupa Re-Re."


 


 


"Regar Mahali."


 


 


"Ah, iya... tampannya!"


 


 


Shica tersenyum melihat kemahiran kakaknya dalam bidang voli. Dia belum pernah melihat secara langsung kakaknya bermain voli.


 


 


Singlet biru gelap yang dipakai oleh Regar membuat lengannya yang kekar terekspos. Apalagi ketika meloncat, singlet tersebut menyingkap mempertontonkan perut kotaknya meskipun sekilas.


 


 


Shica malah membayangkan tubuh kakaknya semalam ketika bersama Bella. Laki-laki itu tampak jantan dan menggairahkan... juga menakutkan.


 


 


Shica menggeleng dan berusaha menghilangkan ingatan tersebut.


 


 


Melihat Shica yang menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa alasan, Meishy bertanya, "Kamu sakit kepala?"


 


 


Shica menoleh, "Tidak, aku..." shica bingung harus menjawab apa.


 


 


"Kamu menyukai kapten voli itu?" Bisik Meishy.


 


 


Shica memundurkan kepalanya, tentu saja tidak. Regar 'kan kakaknya.


 


 


"Tidak, memangnya kenapa?" Shica balik bertanya.


 


 


"Emm, aku khawatir kalau kamu suka kepadanya. Banyak gadis yang menyatakan perasaannya dan berakhir menyedihkan," kata Meishy.


 


 


Shica terkejut, dia tidak mengira reputasi buruk kakaknya bisa diketahui oleh banyak orang. Apalagi oleh Meishy yang merupakan murid baru masuk di SMA sepertinya.


 


 


"Me-memangnya apa yang dilakukan kapten voli?" Tanya Shica pura-pura tidak tahu.


 


 


"Aku tidak tahu, yang pasti mantan pacarnya itu akan sangat menderita setelah putus hubungan darinya," jawab Meishy.


 


 


Ah, ternyata Meishy tidak berpikir ke arah sana. Setidaknya reputasi kakakku tidak seburuk aslinya di mata orang, batin Shica.


 


 


Regar menoleh pada Shica kemudian tersenyum tampan. Shica juga tersenyum manis.


 


 


Meishy menoleh pada Shica dan Regar bergantian sambil membenarkan kacamatanya.


 


 


Regar mendekat dan mengusap rambut Shica. Semua teman-teman Shica yang berada di sana berteriak histeris.


 


 


"Jangan berlama-lama di tempat yang panas, ya... nanti kulit kamu kenapa-napa," kata Regar dengan lembut.


 


 


Shica mengangguk, "Iya, Kak."


 


 


"Aaaahhhh, romantisnya!"


 


 


"Aku juga mau!"


 


 


"Ya ampun!!!!"


 


 


Sementara Meishy hanya melongo.


 


 


Regar bersama timnya berlalu tanpa menghiraukan teriakan-teriakan gadis-gadis yang sudah biasa didengarnya.


 


 


"Ya ampun, kenapa dia bisa mengatakan itu kepadamu? Hati-hati, Shica. Jangan sampai kamu tergoda dengan ketampanannya. Aku takut kamu kenapa-napa," bisik Meishy.


 


 


Shica terkekeh, "Aku tidak akan dekat-dekat dengannya."


 


 


Meishy ini ada-ada saja, saking khawatirnya melarangku dekat dengan kakakku sendiri. Tapi, itu karena dia tidak tahu... kalau sebenarnya aku adiknya kak Regar. Seandainya kamu tahu, apa kamu akan tetap menjadi temanku?


 


 


Setelah selesai berolahraga voli, Meishy dan Shica tidak langsung berganti pakaian. Meishy mengajak Shica ke lapangan basket yang berada di dalam gedung. Jadi, mereka tida merasa kepanasan lagi.


 


 


"Kamu menyukai salah seorang pemain basket?" Tanya Shica. Meishy mengangguk pelan dengan kedua pipi yang memerah.


 


 


Shica terkekeh, di tim basket ada kakakku juga.


 


 


Keduanya duduk di bangku penonton. Mereka menyaksikan beberapa pemain basket yang sedang berlatih untuk lomba minggu depan.


 


 


Shica tidak melihat Rama. Mungkin kakaknya itu sibuk di ruangan PMR.


 


 


"Lihatlah... dia tampan sekali." Tatapan Meishy tertuju pada salah seorang pemain basket yang berwajah manis.


 


 


Shica terkekeh, Meishy sangat polos, ya... dia menyukai laki-laki yang manis... bukan yang seksi... ya ampun... apa yang sedang aku pikirkan.


 


 


Kepala Meishy sampai harus miring ke kiri, "Rangga... dia tampan sekali. Dia murid kelas10 IPA A."


 


 


Shica terkekeh, "Apa kamu pernah menyatakan perasaanmu?"


 


 


Meishy menoleh pada Shica, "Tidak mungkin. Ada banyak gadis yang menyukainya. Aku ini bukan gadis yang cantik, apalagi populer. Aku malu dan tahu tempatku."


 


 


Shica mengusap punggung sahabatnya itu.


 


 


"Kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?" Tanya Meishy.


 


 


Shica tampak berpikir, Seseorang yang disukai? Siapa? Selama ini aku tidak bergaul dengan siapa pun.


 


 


Terdengar suara langkah kaki memasuki gedung basket. Meishy dan Shica menoleh. Keduanya terkejut melihat laki-laki dari kelasnya yang mengenakan jersey basket SMA Hardiswara berwarna merah gelap.


 


 


Ada Raihan di sana.


 


 


"Wah, mereka anak kelas kita... dan... mereka pemain basket?"


 


 


Ada ban kapten berwarna putih yang terpasang di lengan kekar milik Raihan.


 


 


Laki-laki itu kapten basket?


 


 


Shica terpukau dengan kemahiran Raihan saat bermain basket. Tanpa disadarinya, Meishy memperhatikan Shica yang sedang menatap Raihan.


 


 


"Oh, laki-laki yang kamu sukai itu... dia?" Tanya Meishy sembari tersenyum senang karena telah menyadarinya.


 


 


Shica terkejut, "Tidak, tidak."


 


 


Meishy terkekeh, "Tidak apa-apa... jangan malu."


 


 


"Aku baru mengenalnya pagi ini ketika dia datang ke sekolah dan sama-sama mencari kelas." Shica menyanggah tuduhan Meishy.


 


 


Meishy terkekeh, "Pantas saja tadi aku melihat kalian berdua datang bersamaan, sambil berpegangan tangan pula. Aku pikir, kalian itu pacaran."


 


 


Shica menggeleng pelan sembari tertawa kecil mendengar itu.


 


 


Keduanya menonton pertandingan basket sampai selesai.


 


 


Raihan dan Rangga bersalaman jantan kemudian berlalu akan keluar dari gedung.


 


 


Raihan menoleh ke arah Shica dan Meishy, "Kalian mau ke kantin? Ayo sekalian."


 


 


Shica dan Meishy saling pandang.


 


 


Jika ada Rangga, aku mauuuuuu, jerit Meishy dalam hati.


 


 


"Bagaimana?" Bisik Shica pada Meishy yang langsung dibalas dengan anggukkan oleh gadis berkacamata itu.


 


 


Mereka berempat berlalu ke kantin dan memesan makanan. Posisi duduknya yaitu, Shica berhadapan dengan Raihan, Meishy berhadapan dengan Rangga.


 


 


"Kulihat tadi kapten voli mendekatimu, Shica. Kalian akrab?" Tanya Raihan.


 


 


"Emm...." Shica bingung harus menjawab apa. Namun, ketika Shica kebingungan mencari jawaban, pelayan datang menyajikan makanan yang dipesan oleh keempat orang itu.


 


 


"Makanannya lezat sekali," kata Rangga. Meishy makan sambil menunduk. Dia malu ketika duduk berhadapan dengan Rangga.


 


 


"Oh ya, kamu Meishy Addilara yang akan didaftarkan olimpiade fisika itu, kan?" Tanya Rangga.


 


 


Otomatis Meishy mengangkat wajahnya menatap Rangga. Kedua pipinya sudah memerah karena gugup. Gadis itu menganggukkan kepalanya berulang-ulang.


 


 


"Aku juga didaftarkan masuk olimpiade fisika. Apa mungkin kamu perwakilan perempuan dan aku perwakilan laki-laki?" Tanya Rangga.


 


 


Meishy lebih terkejut lagi.


 


 


Be-benarkah? Waaahhhh... kenapa bisa seindah ini ceritaku?


 


 


Shica tersenyum melihat ekspresi Meishy yang gugup.


 


 


"Wah, kau berbakat dibidang akademik juga, ya." Raihan memuji Rangga.


 


 


"Tidak juga... Meishy, jika ada waktu kita belajar bersama, yaaa. Aku memiliki banyak pertanyaan yang masih menjadi teka-teki." Rangga tersenyum tampan.


 


 


Shica mengguncangkan lengan Meishy karena merasa senang Meishy bisa berdekatan dengan orang yang disukainya itu.


 


 


Ya ampun, kenapa harus tersenyum di saat seperti ini? Aku jadi kenyang, Rangaaaaa.


 


 


-◈◈◈-


 


 


10 April 2016


Ucu Irna Marhamah