La Hora

La Hora
LH - 38 - Trapped?



-β—ˆβ—ˆβ—ˆ-


"Berikan tubuhmu padaku."


Deg!


Shica tercengang dengan permintaan Januaar, "Kau membenciku, dan waktu itu kau bilang, kau tidak berminat dengan tubuhku, kenapa kau mengatakan itu dan kau tahu... aku tidak mungkin melakukannya."


Januaar menyentuh rambut Shica, "Yeah, aku memang membencimu... tapi... aku tidak membenci tubuhmu. Aku menyukainya."


Pandangan Januaar difokuskan pada lekuk tubuh gadis di depannya itu membuat Shica merasa risih.


"Jangan melihatku seperti itu," gumam Shica pelan. Januaar menarik dagu Shica, "Jangan melarangku. Aku berhak atas dirimu."


"Kau tidak berhak atas diriku!" Bantah Shica sambil mengalihkan pandangannya.


"Raihan sendiri yang memberikanmu padaku. Dia yang menyerahkanmu untuk kujadikan ******," bohong Januaar.


Shica menutup kedua matanya. Dia terluka, sangat terluka mendengar nama Raihan. Apalagi ketika Januaar mengatakan banyak hal tentang Raihan, termasuk mencintai Rayaa. Januaar bilang, Raihan itu berpura-pura mencintai Shica dan sebenarnya Raihan sangat membencinya.


"Shica, Raihan itu sama sepertiku. Dia meniduri banyak gadis. Dia juga seperti kakakmu, memperkosa para gadis lalu mencampakkannya. Dia tidak sebaik yang kau pikirkan." Januaar sedang memprovokasi Shica.


Padahal yang dikatakan oleh laki-lakinya itu sama sekali tidak benar.


Gadis itu mengepalkan tangannya. Antara percaya dan tidak, namun dia berusaha untuk tidak mempercayainya. Dia yakin, Raihan bukan laki-laki yang seperti itu.


Januaar menyentuh lengan Shica, "Pasti kulitmu ini pernah disentuhnya. Bagaimana caranya menyentuh tubuhmu?"


Shica menunduk, dia tidak berani menepis tangan Januaar yang sedang mengusap lengannya. Waktu itu Januaar pernah menamparnya ketika Shica menepis tangan laki-laki itu.


"Dia pernah menyentuh tubuh gadis lain sebelum menyentuh kulitmu," ucap Januaar sembari memasang ekspresi serius membuat Shica makin muak dan tidak ingin mendengarnya.


Gadis itu menutup kedua telinganya, "Berhenti! Raihan bukan laki-laki seperti itu! Dia tidak seperti itu!"


Januaar tersenyum penuh kemenangan, "Jangan menutup telingamu, aku belum selesai bicara."


Laki-laki itu menarik tangan Shica agar tidak terus-menerus menutup telinganya, "Dia juga menyentuh kakakku. Mereka berciuman dihadapanku."


"Tidak! Raihan tidak begitu!" Shica mulai menangis.


Januaar memperlihatkan ponselnya, "Lihat... Raihan dan kakakku terlihat romantis, bukan?"


Ada banyak foto Raihan dan Rayaa ketika berciuman. Di kamar, di depan pintu, dan di sofa.


Dari mana asalnya foto tersebut?


Tentu saja Januaar memasang WebCam di setiap ruangan, termasuk kamar kakaknya.


Semua foto itu disimpan dan digunakan untuk menghancurkan perasaan Shica.


Shica benar-benar terluka melihat itu. Dalam foto tersebut, Raihan tampak mencintai Rayaa. Padahal dia tidak tahu, kapan foto itu diambil. Foto itu diambil sebelum Raihan bertemu dengan Shica, dan sebelum Raihan mencintai Shica, tepatnya sebelum mereka berpacaran.


Shica menangis. Dia sangat mencintai Raihan, yang merupakan cinta pertamanya, tapi... laki-laki itu malah mencintai orang lain dan berpura-pura menjadi mencintainya untuk melukai Shica.


"Apa kau tidak ingin membalasnya?" Januaar semakin mendekat padanya.


Shica berteriak seperti gadis gila sambil memukuli kepalanya sendiri, "Kenapa aku mencintainya? Aku bodoh sekali! Tapi... tapi... dia cinta pertamaku!"


"Sekarang lakukan bersamaku, kau harus membalas perbuatannya. Dia sudah berselingkuh di belakangmu, Shica." Januaar menarik pinggang Shica.


Mereka saling menatap.


Sial, aku harus sedikit lebih lembut padanya, agar dia mau melakukan ini karena kemauannya sendiri.


Januaar memberikan perintah, "Mendekatlah, cium aku."


Tanpa diduga, gadis itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Januaar.


Laki-laki itu bisa merasakan bibir Shica yang dingin, namun menggairahkan.


Yeah, kau memang gadis bodoh dan mudah sekali dibohongi.


Shica ******* bagian bawah bibir Januaar, sementara Januaar ******* bagian atas bibir Shica.


Cukup lama mereka berciuman. Januaar menarik tubuh Shica agar keluar dari kamar mandi, gadis itu agak terhuyung, karena kedua kakinya masih belum bisa berjalan dengan baik.


Januaar mengangkat tubuh Shica tanpa melepaskan ciumannya. Keduanya terhempas ke ranjang dan meneruskan kecupan-kecupan yang lebih panas lagi di ranjang.


Januaar berada di atas tubuh Shica. Laki-laki itu menangkup wajah Shica yang berada di bawahnya dan memperdalam ciuman mereka.


Eummhhh... mimpi semalam harus benar-benar terjadi hari ini.


Januaar membalikkan posisi, jadi Shica berada di atasnya. Laki-laki itu mengusap punggung Shica dan mencoba menurunkan resleting belakang gaun atasan yang digunakan oleh gadis itu.


Gaun itu melorot, namun masih menutupi sebagian besar dadanya.


"Emmhhh." Shica mendesah membuat Januaar semakin bergairah.


Laki-laki itu membatin, dia memang memiliki daya tahan yang bagus. Sial, aku sampai kewalahan dengan ciumannya. Selain memiliki imajinasi yang liar, dia memang liar sungguhan.


"Kau memang liar, ya." Januaar menurunkan gaun Shica dan dia bisa mengusap punggung mulus gadis itu. Dia juga bisa melihat belahan dada Shica.


Lebih besar dari yang kubayangkan. Lebih besar dibandingkan yang di mimpi,Β  batin Januaar. Padahal dia belum melihat dada gadis itu sepenuhnya.


Januaar bangkit. Dia menarik kepala Shica agar terlelap pada ceruk lehernya. Januaar menyesap ceruk leher kiri Shica dan sebaliknya, Shica mengecup bagian leher kanan Januaar.


Keringat gairah mengalir dari tubuh keduanya. Shica melakukannya dengan kedua pipi yang basah dipenuhi air mata. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi dia marah dan kecewa pada Raihan.


Januaar akan menurunkan gaun Shica, namun dia tidak jadi melakukannya, karena melihat Shica yang menangis tanpa suara.


Sejenak mereka saling menatap.


"Kau semakin terlihat cantik ketika menangis." Entah kenapa Januaar jadi ingin mengatakan itu.


Pertama kalinya Shica mendengar hal bagus yang keluar dari mulut laki-laki itu. Namun, Shica tidak peduli dan tidak merasa senang dengan pujian langsung itu.


Tanpa mereka tahu, di ruangan lain, Rayaa yang sedang mengurus komputer, mengambil gambar dan video dari WebCam yang terpasang di kamar adiknya. Dia menyimpan semua adegan itu dan mengirimkannya pada Raihan.


Ini pacarmu, Raihan.


πŸ“·πŸ“Έ


What the... Rayaa... bilang pada Januaar untuk tidak menyentuhnya!


Melihat tanda seru di akhir kalimat, Rayaa sangat kesal. Dia menelpon Raihan.


Laki-laki itu segera mengangkat panggilan dari Rayaa.


"****** itu menikmati sentuhan adikku, dan kamu masih mau mempertahankannya? Kamu mencintai gadis yang berselingkuh di belakangmu?"


"Rayaa, dia...."


"Kamu mengingkari janjimu, dulu kamu sangat mencintaiku dan ingin melakukan apa pun untukku, termasuk membuat adiknya Regar menderita. Tapi, sekarang kamu berubah dan malah mencintainya!" Rayaa menangis.


"Rayaa...."


"Sekarang katakan! Kau mencintaiku atau gadis itu?!"


"Aku mencintai Shica."


Deg!


Rayaa mengepalkan tangannya marah mendengar jawaban Raihan.


"Lalu aku apa bagimu?" Tanya Rayaa dengan suara bergetar.


"Aku menyayangimu, Rayaa."


"*******! Kau berbohong!" Rayaa mengakhiri panggilannya secara sepihak lalu menangis sejadi-jadinya.


Shica menatap Januaar, "Katakan... katakan padaku, apa yang terjadi? Jangan berbohong."


Januaar menarik gaun Shica, namun gadis itu menahan tangan Januaar.


"Aku tahu, kau sedang berbohong. Aku ingin sekarang kau bicara jujur dan menceritakan semuanya padaku," ucap Shica penuh penekanan.


"Jadi, kau menjebakku?" Tanya Januaar, "Kau menjebakku dengan mempermainkan gairahku seperti ini? Lalu kau akan menghentikannya dengan tiba-tiba?"


Shica terdiam.


"Kau tidak takut apabila aku memukulmu lagi?" Tanya Januaar.


"Memangnya kau bisa memukulku di saat seperti ini?" Tanya Shica.


Januaar ingin sekali menampar gadis itu, tapi dia jadi tidak ingin melakukannya, karena dia sedang menahan dirinya.


Shica menepuk pipi Januaar dengan sedikit kasar, "Aku tahu, kau mau menjebakku, tapi... kau yang masuk dalam jebakanku. Yeah, aku memiliki imajinasi yang liar, karena suka membaca cerita dewasa. Tapi, tidak buruk membaca cerita dewasa, aku mendapatkan banyak informasi. Salah satunya, pria yang sedang dalam ketegangan ketika bermain lembut, tidak bisa bermain kasar pada wanita di depannya, karena dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Kau memang kasar padaku, tapi itu ketika kau tidak sedang terangsang. Dan sekarang... emm, aku baru tahu, ini juga titik lemahmu."


Shica bangkit dari tubuh Januaar. Laki-laki itu memperhatikan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Dengan langkah berat, Shica berlalu menjauh dari Januaar sambil membenarkan gaunnya.


Gadis itu menatap Januaar dengan intens.


Januaar mendecih sambil tersenyum, "Kau sama liciknya seperti Regar. Ternyata... kau bisa berakting juga."


Ekspresi Shica tampak lebih serius dari biasanya. Jadi, tangisan itu hanya kebohongan. Dia juga tidak mempercayai ucapan Januaar sepenuhnya.


Dia memang tidak mengenal Raihan, tapi dia percaya pada pacarnya itu.


Januaar menyibakkan rambutnya ke belakang, "Sialnya, kau gadis pertama yang membuatku mati rasa di saat seperti ini."


Shica duduk di sofa dan masih memperhatikan laki-laki itu.


Januaar mulai tampak serius, "Baiklah, karena kau berhasil membuatku cukup terkejut, aku akan menjelaskan semuanya. Tidak ada kebohongan lagi."


Shica menautkan alisnya.


Januaar menatap lurus mengingat kembali apa yang telah terjadi waktu itu.


"Ini terjadi 3 tahun yang lalu. Meskipun sudah cukup lama, aku tidak mungkin melupakannya."


Seragam SMP melekat ditubuh Januaar. Meskipun dia baru beranjak remaja, tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat laki-laki itu tampak lebih dewasa dan dia cukup disegani oleh teman-teman yang seumuran, bahkan siswa yang lebih tua pun ada juga yang takut padanya dan memilih jadi anggota geng Januaar.


Laki-laki itu membentuk kelompok geng motor ketika dia kelas 1 SMP. Banyak sekali yang ingin bergabung dengannya, mengingat ayah dari Januaar adalah anggota mafia. Mereka berpikir, akan mudah sekali menjadi anggota geng Januaar dan mendapatkan perlindungan dari anak mafia sepertinya.


Namun, Januaar itu cukup kejam. Dia merekrut anggota baru dengan cara ekstrim. Anggota baru harus melepaskan semua baju dan semalaman berada di dalam kolam yang berisikan air yang dingin sekali.


Bila ada yang ingin keluar dari geng-nya, jari kelingkingnya harus disayat.


Namun, tidak ada yang peduli dengan itu. Tetap saja ada yang mau masuk geng tersebut, bahkan semakin lama semakin banyak saja. Apalagi Januaar akan merekrut siapa saja yang mau masuk ke geng-nya, jika orang itu memiliki kemampuan dan bisa melewati tantangannya.


Dia tidak mempermasalahkan, apakah anggotanya memiliki motor, mobil, atau tidak sama sekali. Jika anggotanya sudah lama bersama, maka Januaar akan memberikan motor atau mobil kepada orang tersebut sesuai posisi dan kemampuannya.


Geng Januaar menjadi sangat besar, kuat, dan terkenal di antara geng motor lainnya.


Di sisi lain ada geng Regar yang juga memiliki popularitas di antara geng lain. Anggota geng Regar rata-rata adalah anak-anak dari para pengusaha kaya yang kurang mendapatkan perhatian, sehingga mereka memilih melampiaskannya di pergaulan seperti itu.


Regar adalah orang yang pemilih. Dia hanya akan menerima anggota yang memiliki kedudukan bagus dan minimal punya motor sport untuk membuktikan, kalau anggotanya itu sangat berkelas.


Tidak ada aturan khusus untuk masuk ke geng-nya. Cukup memiliki motor sport. Mau keluar juga, ya tinggal keluar saja.


Geng Regar sudah lebih dulu dibentuk sebelum geng Januaar, tapi lama-lama popularitas geng Januaar mengalahkan geng Regar.


Tentu saja itu membuat Regar cukup kesal.


Selama beberapa bulan, geng Januaar dan geng Regar bersaing sengit untuk popularitas masing-masing.


Tak jarang, ada perkelahian di antara anggota dari kedua geng tersebut.


Bahkan ada juga yang sampai meninggal.


"Dia hanya bayi yang baru lahir," ujar Regar.


Givar tertawa, "Coba kita suruh dia balapan dengan Rama."


Regar menoleh, "Bagaimana denganmu? Apa kau mau balapan dengan dia?"


"Aku? Ah, aku bahkan tidak bisa naik sepeda." Givar menepuk dahinya sendiri.


"Aku tahu! Tapi, aku tidak menyuruhmu balapan sepeda dengan dia!" Regar menggerutu sebal.


Givar tertawa, "Iya, aku mengerti. Mau tidak mau kita harus mengembalikan harga diri geng ini."


Dion menanggapi, "Januaar tidak pernah menunjukkan kecepatannya di arena balapan, tapi banyak yang mengatakan, kalau dia bisa membawa motor, atau mobil dengan kecepatan seperti angin."


Regar dan Givar menoleh pada laki-laki itu.


"Mobilnya sangat cepat," gumam Givar.


"Kemampuan seseorang bukan terletak pada mobilnya. Januaar memang lihat ketika menyetir. Dia bisa mengendarai motor saat usianya 7 tahun." Dion yang menyanggah ucapan Givar.


"Usia 7 tahun... waktu itu aku belajar sepeda dan jatuh terus," canda Givar. Dion tertawa, "Tidak peduli kau bisa sepeda atau tidak, yang penting kau bisa balapan motor dan mobil sekarang."


Regar tampak berpikir, "Rama bisa bisa melajukan motornya secepat kilat. Memangnya angin dan petir itu lebih kuat yang mana?"


"Kau ini membicarakan orang, atau membicarakan fenomena alam?" Gerutu Givar.


Bukannya menjawab, Regar malah mengatakan hal lain, "Aku dengar, Amerika membuat mobil keluaran terbaru tahun ini. Aku akan membelinya. Dion, persiapkan dirimu untuk mobil itu, sementara Rama akan bergerak bersama motornya."


"Ah, aku perlu menyesuaikan diri dengan mobil barumu nantinya. Apa kau punya tempat?" Tanya Dion setengah menggerutu.


"Kudengar, ayahmu punya lahan luas yang digunakan untuk bermain golf. Pinjam saja tempat itu untuk sementara," ujar Regar dengan polosnya.


Givar tidak bisa menahan tawanya. Dia sampai duduk sambil memegangi perutnya karena tertawa.


Dion menaikkan sebelah alisnya, "Dia pasti akan memenjarakanku jika aku mengacak-acak lapangan itu."


"Kenapa tidak meminta pada ayahmu untuk membelikan sirkuit saja? Bapak Walikota sangat kaya dan baik hati. Beliau membangun jembatan dan bangunan untuk masyarakat, kenapa tidak membelikan anaknya sirkuit?" Tanya Givar.


Regar menoleh pada Dion, tampaknya dia juga penasaran dengan jawaban Dion.


"Mungkin aku anak tirinya."


Jawaban Dion berhasil membuat Regar dan Givar tertawa ngakak.


"Itu uang negara, bodoh! Ayahmu orang yang baik, tidak seperti dirimu!"


-β—ˆβ—ˆβ—ˆ-


17 September 2016


Ucu Irna Marhamah