
-◈◈◈-
Ridan duduk bersebelahan dengan Ratna sementara Shica dan Rama duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Ada banyak hidangan di atas meja. Namun, tidak ada seorang pun yang menyentuh makanan-makanan itu.
Mereka menunggu Regar.
Di saat sunyi seperti itu, entah perut siapa yang berbunyi. Shica dan Rama saling pandang.
Merasa kasihan pada Rama dan Shica, Ratna bersuara, "Kalau kalian lapar, makan saja."
"Emm, tidak apa-apa. Kami akan menunggu kak Regar," ucap Shica.
Rama mengambil gelas yang berisi air. Dia meneguknya sampai habis.
Sampai setengah jam menunggu, Regar belum datang juga.
"Kalian makan saja," kata Ridan.
Akhirnya mereka berempat makan tanpa Regar.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan. Mereka menoleh, ternyata Regar.
Dengan ekspresi kacau, laki-laki itu mengambil air dan meneguknya sampai habis kemudian berlalu tanpa sepatah kata pun.
Sikapnya membuat keempat orang yang sedang makan itu terheran-heran.
Namun, tidak ada yang berniat mengeluarkan suara. Mereka semua melanjutkan makan.
Setelah selesai makan, semuanya kembali berkegiatan masing-masing.
Di kamar,
Shica sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk hari pertamanya di SMA lusa nanti.
Namun, dia teringat pada Regar.
Kakak pasti lapar, dia harus makan sesuatu.
Shica sedikit takut jika harus menegur Regar dalam keadaan kacau seperti tadi. Dia memutuskan mengajak Rama untuk mendatangi kamar kakak tertuanya.
Kalau Regar marah, setidaknya Rama juga ikut dimarahi, itu yang ada dalam pikiran Shica.
Dia sampai di depan kamar Rama. Digedornya pintu itu.
Laki-laki yang sedang serius melihat layar laptopnya itu tersentak kaget sambil menoleh ke pintu.
Dia mendengus kesal.
"Siapa?"
"Shicaaa," jawab Shica di luar.
Rama memutar bola matanya. Dia bangkit dari kursi belajar dan membuka pintu.
Shica tersenyum lebar, "Hai, Kak."
"Sudah tersenyum seperti ini, biasanya ada yang diinginkan. Mau apa?" Tanya Rama to the point.
"Kak Regar pasti kelaparan belum makan. Ke kamarnya, yuk," ajak Shica. Rama tampak berpikir, "Uang jajannya lebih banyak dari kita."
Rama masuk ke kamar. Shica menyusul. Dia melihat layar laptop Rama yang menyala.
"Kakak sedang menonton apa?" Tanya Shica.
Rama menoleh dia menutup laptopnya, "Jangan dilihat."
"Blue film?" Tanya Shica dengan polosnya. Rama membulatkan matanya, "Bukan."
Shica melihat kamar Rama yang rapi dan bersih. Kamar kakak keduanya itu di cat dengan warna biru gelap yang agak pudar.
"Katanya mau ke kamar kak Regar," ujar Rama.
Shica mengangguk.
Mereka berdua melangkah menuju ke kamar kakak tertua. Regar itu memiliki sifat yang berubah-ubah. Kadang sangat baik, kadang sangat kasar. Sebenarnya itu tergantung dengan suasana hatinya.
Regar memiliki wajah yang begitu tampan seperti ayahnya. Wajah India-Indonesia jelas sekali tercetak di parasnya itu. Kedua matanya yang sayu dengan bulu mata tebal dan lentik membuat siapa pun bisa jatuh ke dalamnya berpadu dengan kedua alis yang bertautan namun terkesan manly dan berkharisma. Bibirnya yang merah gelap dan merekah memberikan kesan sexy pada putra sulung Mahali yang disegani kawan mau pun lawannya.
Rambutnya berwarna hitam gelap bergelombang menyerupai ombak di malam hari.
Tubuhnya tinggi dan kekar, karena dia sering berolahraga. Apalagi Regar seorang kapten voli terbaik di sekolahnya. Setidaknya dia harus memiliki six pack di perutnya. Dan sekarang dia memiliki eight pack yang sempurna.
Sampailah Rama dan Shica di depan pintu kamar Regar. Kedua kakak beradik itu tampak ragu untuk mengetuknya.
Mereka malah berbisik-bisik dan saling menyuruh satu sama lain.
Tiba-tiba pintu dibuka. Merka berdua terkejut. Regar yang mau keluar dari kamarnya juga terkejut melihat keberadaan kedua adiknya.
"Sedang apa kalian di depan kamarku?" Tanya Regar curiga.
Rama malah menunjuk pada Shica. Sementara yang ditunjuk mengibaskan kedua tangannya.
"Kalian ini kenapa?" Tanya Regar sambil menepuk pelan kepala Rama dan Shica kemudian berlalu.
Mereka berdua menyusul Regar.
"Kak, Kakak mau kemana?" Tanya Rama. Shica menambahkan, "Kakak belum makan, Kakak pasti lapar."
Regar menuruni tangga, kedua adiknya masih menyusul.
"Kalian berisik sekali," gerutu Regar.
Mendengar suara langkah kaki dari ruang keluarga, Regar segera berbalik dan kembali menaiki tangga. Shica dan Rama saling pandang karena heran.
Langkah itu semakin dekat. Rama dan Shica menoleh, ternyata Ridan. Pria itu menoleh melihat ke arah anak-anaknya.
"Sedang apa kalian di sana?" Tanya Ridan.
Shica dan Rama saling pandang. Keduanya sedang memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayah mereka.
Beruntung sekali, Ridan berlalu menaiki tangga dan melewati mereka tanpa menunggu jawaban.
Di kamarnya,
Regar mengotak-atik laptopnya. Ketukan pada pintu kamarnya sama sekali tidak membuat fokusnya berkurang.
"Kak Regar? Buka pintunya, Kak." Suara Rama.
"Kalian itu mau apa?" Tanya Regar.
"Mau melihat Kakak," jawaban konyol Shica membuat kedua mata laki-laki itu mengerling.
Dibukanya pintu kamar tersebut. Tampaklah kedua adiknya tersenyum manis.
"Masuk."
Setelah mereka berdua masuk, Regar menutup pintunya. Shica dan Rama menatap ke sekeliling kamar Regar yang sedikit berantakan.
"Ada apa?" Tanya Regar sambil kembali fokus ke laptop.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Shica sambil menggeser duduknya mendekati sang kakak. Dilihatnya layar laptop itu. Regar sedang menuliskan program yang tidak dimengerti oleh Shica.
"Tidak," jawab Regar setelah beberapa menit mendapatkan pertanyaan dari Shica.
Rama duduk di sisi Regar yang satunya. Dia juga melihat ke layar meniru Shica.
Kepala dua orang itu menghalangi pandangan Regar. Laki-laki itu memutar bola matanya sambil membuang napas kasar.
Shica memundurkan tubuhnya dan bersandar ke ujung bawah ranjang, "Tadi Papa menyuruhku menghubungi Kakak, tapi Kakak tidak menjawab VC dariku."
"Mobilku kehabisan bensin," kata Regar.
Rama menyahut, "Mana mungkin, biasanya Kakak tidak seceroboh itu."
Regar mendelik tajam pada Rama membuat laki-laki itu menutup mulutnya seketika.
Shica cemberut, "Ooohhh... jadi begitu... karena kalian sama-sama anak laki-laki, kalian merahasiakannya dariku, iya?"
"Iya," jawab Regar.
Mendengar jawaban kakaknya, Shica melipat kedua tangan di depan dada.
"Kamu tidak boleh tahu, nanti kamu malah melaporkan kami pada Papa. Kamu 'kan di pihak Papa." Regar mengatakannya dengan santai.
Shica tampak berpikir, "Kalau kalian melakukan kesalahan, ya... aku laporkan."
Rama mendengus pelan, "Kamu tidak ingat, waktu itu papa pernah menghukum kami dengan memukul kaki kami menggunakan besi? Kamu tidak kasihan?"
Shica tampak sedih mengingat kejadian yang sudah lama itu. Dia menghela napas panjang.
"Iya, tapi... itu salah kalian sendiri mer...." Shica tidak melanjutkan kata-katanya ketika Regar dan Rama membekap mulutnya.
"Jangan disebut lagi, bagaimana jika papa ingat lagi dan memukul kita lagi?" Gerutu Rama.
Shica menepis tangan kedua kakaknya, "Iya, iya!"
"Memangnya ada apa?" Tanya Shica kembali bertanya pada Regar.
Regar mendekatkan dan berbisik ke telinga Shica. Dengan serius, Shica mendengarkan.
Shica mendengus, "Tidak menyenangkan punya kakak pelit! Main rahasia-rahasiaan!"
Gadis itu berlalu meninggalkan Rama dan Regar yang tertawa melihat kemarahan adiknya.
"Apa yang terjadi, Kak?" Tanya Rama mulai serius.
"Kenapa papa tidak menyuruh Shica bersekolah di luar negeri? Bukankah itu lebih aman?" Regar malah balik bertanya.
"Memangnya kenapa? Di SMA kita ada yang mengawasinya?" Tanya Rama.
Regar mengedikkan bahunya, "Shica bisa menjadi sasaran empuk bagi mereka."
"Tapi, bagus 'kan kalau Shica berada di satu sekolah dengan kita? Jadi, jika bisa mengawasinya dari dekat." Rama menyatakan pendapatnya.
"Tidak selamanya kita bisa mengawasi Shica. Ada kalanya kita berada di dalam kelas," ujar Regar.
"Iya juga, ya. Seharusnya kita tidak melakukannya waktu itu," gumam Rama dengan ekspresi menerawang.
"Itu sudah berlalu." Regar menepis ucapan adiknya.
Rama menghela napas berat, "Iya, tapi akibatnya masih ada sampai sekarang."
Regar menghela napas berat, "Kembalilah ke kamarmu."
Rama mengangguk dan berlalu.
Regar meregangkan tubuhnya lalu menghempaskan diri ke atas ranjang.
Dilepaskan dasi dari lehernya. Laki-laki itu kembali bangkit dan masuk ke kamar mandi. Di dalam sana, dibukanya seluruh seragam yang melekat di tubuhnya.
Dalam keadaan telanjang, Regar menatap pantulan dirinya dari cermin. Ada banyak bekas cakaran di tubuhnya.
Apa saja yang sudah dilakukan oleh laki-laki berusia 17 tahun itu?
"Shit," umpat Regar sambil menyandarkan dahinya ke cermin.
Tangannya bergerak menyetuh perutnya yang kekar. Bentuk tubuh yang bagus untuk ukuran anak SMA.
Air dari shower mulai berjatuhan membasahi rambutnya dan mengalir ke tubuhnya.
Regar menutup kedua matanya. Sebuah ingatan melesat begitu saja dalam benaknya seperti sebuah film lama yang berputar menampilkan beberapa kejadian.
"Tidaaaak! Kumohon! Jangan!"
"Cepat! Kamu ingin keluar dari sini, bukan?!"
"Aku mau keluar dalam keadaan hidup... hiks, hiks, hiks."
"Kak? Kak Regar?"
Mendengar suara Shica, Regar terkejut, lamunannya pun buyar.
Shica yang mendengar suara gemericik air di kamar mandi, menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Kak Regar sedang mandi, ya? Aku tunggu saja di sini, batin Shica sambil meletakkan makanan yang dibawanya ke meja.
Shica mengambil remote dan menyalakan TV. Tidak banyak acara yang bagus menurutnya. Berkali-kali gadis itu memindahkan chanel-nya, berharap ada acara yang lebih menarik.
Tak lama kemudian, Regar keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya.
Shica menoleh pada kakaknya yang berlalu ke cermin. Laki-laki itu mengusap rambutnya yang basah.
Melihat tubuh kakaknya yang terpahat sempurna, Shica sedikit melongo dan terpesona. Ya, meskipun dia seorang adik, dia juga perempuan normal yang memiliki ketertarikan pada laki-laki.
Sewaktu kecil, mereka bertiga sering mandi bareng, dan tidak ada pemikiran seperti sekarang. Sejak SD, mereka mulai membatasinya.
Melihat tatapan adiknya lewat pantulan cermin, Regar tersenyum geli.
"Apa yang kamu lihat?"
Shica sedikit terhenyak dan malah menjawab hal yang tidak nyambung, "Kakak makan dulu, aku tahu Kakak belum makan."
"Terima kasih. Tunggu sebentar, aku akan berpakaian dulu," jawab Regar sambil kembali ke kamar mandi dengan beberapa pakaian di tangannya.
Shica kembali memusatkan perhatiannya ke laya kaca. Regar kembali dengan kaos putih dan jeans selutut berwarna hitam.
Laki-laki itu tampak segar. Dia duduk di samping Shica.
"Jangan melihatku seperti itu lagi," kata Regar. Shica tersenyum polos, "Memangnya kenapa? Kakak 'kan tampan."
"Shica, aku ini kakakmu, tahu!" Ucap Regar sambil menepuk dahi adiknya. Shica tidak bergeming dan membiarkan kakaknya makan.
"Memangnya ada laki-laki dalam hidupku selain kalian bertiga?" Tanya Shica dengan polosnya.
Regar menoleh, "Bertiga?"
"Papa, kak Regar, kak Rama," jawab Shica dengan nada ketus.
"Memangnya kenapa?" Tanya Regar.
"Tidak ada yang bisa dilihat selain kalian," lagi-lagi jawaban konyol yang diucapkan Shica.
Regar menaikkan sebelah alisnya, setelah makananya tertelan, dia kembali bersuara, "Kamu pernah nonton film dewasa, ya?"
Shica tampak berpikir, "Emm, iya... waktu itu kak Rama meninggalkan laptopnya. Aku penasaran jadi...."
Perkataan jujur Shica membuat Regar terkejut dan membulatkan matanya.
"Jangan meniru film itu," kata Regar.
Shica menggeleng, "Tidak, kok."
"Jangan nakal." Regar memberikan peringatan. Shica cemberut, "Kakak juga nakal."
Regar menaikkan sebelah alisnya, "Aku nakal bagaimana?"
"Waktu itu aku pernah melihat kakak berciuman dan hmmm...." Shica berhenti berbicara karena mulutnya dibekap Regar.
"Jangan keras-keras, nanti papa mendengar." Regar menggerutu.
Shica mengangguk-anggukkan kepalanya. Regar melepaskan tangannya dari Shica.
"Kamu tahu dari mana?" Tanya Regar.
"Aku pernah melihat Kakak... emm... itu... waktu papa dan mama ke Den Haag." Shica tampak ragu.
"Katakan saja," ucap Regar.
Shica menoleh ke pintu kamar yang terbuka lebar. Dia segera bangkit dan menutupnya lalu kembali duduk di samping kakaknya.
"Waktu papa dan mama pergi ke Den Haag, Kak Regar mengajak perempuan itu ke rumah. Mungkin Kakak mengira aku tidak ada di rumah, padahal aku sudah pulang, aku pikir... Kakak sedang melakukan sesuatu di kamar," cerita Shica sambil memainkan telunjuknya.
Tidak ada jawaban dari Regar.
Aku sudah lupa, kapan itu terjadi?
"Kenapa Kakak melakukan itu? Kakak tidak kasihan kepada perempuan itu?" Tanya Shica membuat Regar kembali menoleh padanya.
"Perempuan yang mana?" Tanya Regar yang menyudahi makanannya karena sudah habis.
"Semua perempuan itu," jawab Shica.
"Tidak, mereka sendiri yang mau. Tapi, kamu tidak boleh seperti itu." Itu jawaban Regar.
"Kenapa? Aku juga ingin tahu," ucap Shica membuat Regar terkejut.
"Itu tidak baik. Kamu perempuan, kalau perempuan akan ada bekasnya. Perempuan yang pernah melakukannya sekali akan kehilangan kehormatan selamanya," jelas Regar.
"Lalu Kakak sendiri?" Tanya Shica.
"Itu beda lagi. Laki-laki tidak ada bekasnya. Ya ampun, kenapa juga aku menjelaskan ini?" Regar menepuk dahinya sendiri.
Shica masih terlihat bingung. Meskipun dia sudah cukup usia untuk memahami hal tersebut, Shica tidak pernah mengetahuinya. Pergaulan yang sangat terbatas membuatnya sedikit 'ketinggalan informasi'.
Regar menangkup pipi Shica, "Intinya kamu jangan berbuat aneh-aneh, ya. Meskipun Kakak-kakak kamu ini bukan laki-laki yang baik, kami tidak ingin kamu menjadi seperti perempuan-perempuan itu, ya?"
Shica menganggukkan kepalanya, "Iya, aku mengerti."
"Lalu Kakak tadi dari mana? Kenapa pulang terlambat?" Tanya Shica.
Regar tampak berpikir, "Itu rahasia."
"Kakak geng-geng-an?" Tanya Shica.
"Memangnya kenapa?" Tanya Regar.
"Bukankah SMA Hardiswara itu melarang siswa-siswinya berkelompok?" Shica menjawab dengan pertanyaan.
"Iya, tapi aku menyukai posisi ini."
-◈◈◈-
30 Maret 2016
Ucu Irna Marhamah