
Jam menunjukkan pukul 6 sore.
Untuk sesaat aku terdiam, setelah mendengar cerita Shica. Tidak tahu, aku harus bagaimana. Emosiku bercampur aduk. Selama 3 tahun mengenalnya, aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku merasa bersalah, karena selama itu juga aku tidak bisa membantunya yang sedang berada dalam kesulitan.
Aku benar-benar tidak mengira, jika masalah yang menimpanya waktu itu benar-benar rumit dan berbahaya. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba aku ingin sekali memeluknya dengan erat.
"Shica." Aku berusaha untuk tidak menangis.
Kurasakan tangan Shica dengan lembut membalas pelukanku.
__"Mommy?"___ Alderani yang melihat kami berpelukan mendekat. Dia ikut memeluk kami. Shica tertawa sambil memeluknya juga.
Kulihat Aldevaro dan Galvin saling pandang dengan ekspresi bingung. Mereka berlari ke arah kami dan bergabung memeluk kami.
Tiba-tiba tawaku dan tawanya Shica meledak, karena tingkah polos anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa.
Ternyata setelah menikah dengan Raihan, Shica menulis kisahnya dalam berbagai versi. Begitupun dengan Raihan.
"Meishy\, ini gila\, tapi aku ingin sekali karyaku terbit. Aku tahu\, naskahku berantakan dan jauh dari kata sempurna." Shica tertawa sambil memberikan sebuah __flashdisk__ padaku.
Aku menerimanya. "Aku akan membacanya dulu. Kau akan pulang lusa, apa tidak bisa diundur dulu?"
"Tidak, Raihan akan membawaku dan anak-anak pulang ke Paris. Jika kau kesulitan dengan naskahku, kau bisa menghubungi nomorku. Kali ini aku tidak akan berganti nomor lagi." Shica tertawa.
Aku terkekeh. "Sebenarnya... aku masih ingin kau berada di sini, ini buka masalah naskahnya. Aku bisa membaca naskahnya semalaman penuh meskipun ada 200 bab. Tapi, aku merindukan sahabatku."
Ini memalukan sekali. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka mengungkapkan isi hatiku, meskipun aku seorang perempuan yang sensitif dengan perasaan.
Shica tertawa lepas. "Kau banyak berubah, yaaa. Sekarang kau jadi pemalu begini."
Aku menggerutu kesal, "Maksudmu, dulu aku ini tidak punya malu?"
Shica menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Tidak, tidak, aku tidak bilang begitu."
Aku tertawa.
Kami melihat anak-anak masih asyik bermain. Mereka bertiga sedang membangun istana dari balok mainan milik Galvin.
"Deva, Dera, ayo pulang, nak."
Sayang sekali, kedua anaknya belum mau pulang. Mereka bersiap-siap untuk menangis, ketika Shica menunjukkan kode pemaksaan.
Aku tertawa kecil melihatnya. "Biarkan mereka bermain di sini. Mereka masih bersenang-senang. Kau juga jangan dulu pulang. Bagaimana jika kita makan malam bersama?"
Shica tampak berpikir. "Benar juga, ya? Masakanmu enak sekali. Sudah lama aku tidak merasakannya."
Malamnya, aku menyajikan makan malam dibantu Shica.
"Kau menginap di hotel?" Tanyaku. Shica menganggukkan kepalanya.
"Apa Raihan tidak akan marah, karena kau pulang terlambat?" Tanyaku.
Shica menggeleng. "Tidak, aku sudah menyuruhnya datang kemari, jika dia sudah selesai dengan pekerjaannya."
"Baguslah, kita semua bisa makan bersama-sama."
Aldevaro bersuara, "Mommy, Deva hungry. Deva mau makan."
Ucapan polos anak sulungnya Shica membuatku tertawa, begitupun dengan ibunya.
"Dia memang tidak tahu malu, seperti ayahnya." Shica masih menahan sisa tawanya.
"Tidak apa-apa, namanya juga anak kecil."
Aku mendengar suara langkah kaki memasuki dapur. Ternyata suamiku sudah pulang.
"Wah, ada tamu?" Tanyanya.
"Iya, ini Shica." Aku menyahutnya.
"Shica? Shica Mahali?" Tanya suamiku memastikan.
Shica menoleh. "Namaku jadi Rastarani Abdurrachman sekarang. Tapi, karena kalian temanku, tidak masalah jika kalian memanggilku dengan nama kecilku."
Suamiku tertawa. "Lalu di mana Raihan?"
"Dia akan segera datang, kau mau bermain basket lagi dengannya?" Gurau Shica.
Aku dan Rangga tertawa.
Rangga menjawab, "Iya, kebetulan ada lapangan basket di belakang rumah yang sengaja aku buat untuk putraku."
Beberapa menit kemudian, Raihan datang dengan ekspresi kacau.
"Daddy!" Alderani langsung memeluk ayahnya. Raihan menggendong tubuh mungil itu.
"Kalian kejam sekali, kenapa membangun rumah di tempat sejauh ini? Aku mencari rumah kalian dan aku tersesat, untung saja ada orang sekitar yang mengenali perusahaan penerbitanmu, Meishy."
Rangga tertawa. "Baru datang sudah marah-marah, ayo kita makan bersama."
Kami pun duduk dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Lalu kami menyantap makanan dengan lahap.
Sembari makan, kami sedikit berbincang.
"Rangga, kau menjadi seorang guru?" Tanya Shica dengan hebohnya.
Rangga tertawa. "Iya."
Suamiku menggeleng. "Tidak, aku jadi guru Fisika."
"Aku pikir, kau akan menjadi guru olahraga," ucap Raihan. Rangga menyahut, "Aku sudah terlalu tua di bidang itu."
Kami tertawa.
Selesai makan malam, Raihan dan Rangga mengajak anak-anak untuk bermain basket di belakang rumah.
Sebenarnya aku dan Shica sudah melarang mereka, karena ini sudah malam.
Tapi, Rangga beralasan, jika di belakang rumah banyak lampu, membuat lapangan kecil itu menjadi terang benderang. Tidak apa-apa mereka bermain basket.
Aku dan Shica duduk memperhatikan mereka. Sesekali kami tertawa melihat kedua ayah itu mengajari anak-anak melemparkan bola ke __ring__.
"Mereka senang sekali, apa perut mereka tidak sakit?" Tanya Shica.
Aku menjawab, "Mereka tidak akan bisa tidur, jika bergerak terlalu banyak setelah makan."
Setelah merasa lelah, mereka memilih mengakhiri permainan basket malam. Kemudian Shica dan Raihan pamit pulang.
Aku dan Rangga mengantar mereka sampai depan.
Benar saja, sudah jam 10, Rangga tidak bisa tidur. Dia sakit pinggang dan perut.
"Aku 'kan sudah bilang, jangan main basket." Aku memijat sekitaran punggung dan pinggangnya.
"Terima kasih, Sayang." Rangga pun tertidur.
Aku tersenyum sendu kala melihat suami dan anakku yang tertidur dengan begitu pulas.
Tiba-tiba aku teringat dengan __flashdisk__ milik Shica yang berisikan naskah ceritanya.
Aku bangkit kemudian memasangnya ke laptop. Setelah kubuka, ternyata ada dua cerita. Shica menulisnya dengan baik. Dia membuat cerita ke dalam beberapa versi.
Raihan menulis dua cerita, sementara Shica menulis satu cerita. Aku membaca punya Raihan dulu yang hanya memuat sekitar 30-40 bab saja. Karena cerita Shica memuat 62 bab, jadi aku baca yang sedikit dulu.
Ketika selesai membaca novel milik Raihan, rasanya ini telalu aneh jika diterbitkan. Aku pikir, Raihan menulisnya dengan penuh perasaan. Aku beralih pada novel punya Shica.
Novel Shica diberi judul **Benciku Cintaku Juga**. Aku penasaran dengan isinya. Aku membacanya sampai tamat\, tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Mungkin ada 2000-3800 kata perbabnya.
Aku menguap pelan. Sambil menoleh ke arah Rangga dan Galvin yang masih tertidur pulas.
Tulisan Shica sangat menyenangkan dibaca. Aku menyukai jalan ceritanya yang menjelaskan kehidupan remaja. Namun, sayang sekali ini tidak sesuai dengan kenyataan.
Mungkin hanya ada 15% kisah nyatanya di novel ini. Sisanya hanya fiksi belaka.
Aku jadi ingin melengkapi naskah ini. Mungkin jadi 100 bab.
Keesokan harinya, Shica datang lagi bersama anak-anak. Aku menanyakan langsung padanya tentang pendapatku mengenai naskahnya.
"Aku percaya padamu. Tapi, aku harap... kau jangan mencantumkan nama asli di buku itu." Itu yang dia katakan.
Tiba waktunya di mana keluarga Abdurrachman harus kembali ke Paris. Kami mengantarkan mereka sampai bandara.
Selama beberapa bulan aku memperbaiki, melengkapi, dan menganti nama tokoh cerita itu. Bahkan aku membuatnya ke dalam beberapa versi.
Versi asli karya Shica berjudul **Benciku Cintaku juga**. Aku menggarap sebagian besar isinya dan mengubah judulnya menjadi **Dibalik Keburukan Dirimu**
Versi lainnya adalah **Don't Leave Me**\, mungkin yang ini yang terpanjang\, karena memuat 155 bab\, termasuk Prolog dan Epilog.
Satu lagi versi asli keseluruhan yang merupakan kisah nyata kehidupan Shica. Aku memberinya judul **Darkside**. Di sini tokohnya adalah Regar dan Raihan. Novel ini memuat 70 bab.
Setelah itu, aku menghubungi Shica dan menceritakan tentang naskahnya yang sudah aku perbaiki.
Shica menyambutnya dengan senang. Berbanding terbalik dengan Raihan.
Melalui __video call__\, Raihan menggerutu padaku.
"Kenapa di Don't Leave Me kau membuatku mati? Itu menyedihkan."
Aku tidak tahan untuk tidak tertawa. "Aku senang sekali membuat tokoh ceritaku berada dalam masalah."
"Hidupkan aku lagi," gerutu Raihan. Shica yang duduk di sampingnya juga tertawa lepas.
"Aku akan menghidupkanmu di berbagai versi. Bagaimana menurutmu Shica?" Tanyaku.
"Aku suka yang judulnya **Dibalik Keburukan Dirimu**."
Setelah mendapatkan jawaban, aku pun menerbitkan buku tersebut. Banyak sekali yang menyukai cerita tersebut. Apalagi ending-nya yang bahagia. Shica bersama Raihan dalam kebahagiaan dan tinggal di Paris bersama kedua anaknya. Ya, itu memang sesuai dengan kenyataan.
Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Di semua cerita itu, aku tidak memasukkan tokoh Rama. Karena Tuan Mahali sudah menghilangkannya dan menganggap bahwa Rama tidak pernah ada di dunia ini. Dia dianggap sebagai seseorang yang bukan berasal dari keluarga Mahali.
Sejujurnya aku lebih __respect__ kepada kak Rama.
Sehingga aku membuat karya terakhirku dari kisah nyata ini. Isinya memuat kisah dengan tokoh yang lengkap. Ada Rama di cerita baruku ini. Ini adalah salah satu tanda rasa hormatku pada Rama.
Aku memberinya judul La Hora, yang artinya jam dalam bahasa Spanyol.
Aku menganggap cerita ini spesial, karena di sini ada Rama. Ketika dunia tidak mengakui keberadaannya, La Hora yang membuatnya hadir dan hidup kembali.
Terima kasih, Rama. Kau adalah sosok kakak yang tidak bisa tergantikan.
La Hora
-◈◈ The End ◈◈-
By Ucu Irna Marhamah