La Hora

La Hora
LH - 43 - Jealousy



 


 


-◈◈◈-


Regar fokus menyetir, sementara Rayaa tampak melamun di sampingnya. Gadis itu menoleh pada Regar, "Apa saja yang sudah kalian lakukan?"


Pertanyaan Rayaa membuat Regar menoleh sekilas pada gadis itu. "Maksud kamu?"


"Kak Regar dan Kak Virsya." Rayaa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Mobil Regar terhenti di depan cafe. Laki-laki itu menoleh pada pacarnya. "Tidak ada apa-apa di antara kami."


"Kalian berada di ruang ganti perempuan selama beberapa jam, apa mungkin tidak ada apa-apa?" Tanya Rayaa.


Regar menghela napas panjang. "Iya."


Rayaa bersuara, "Aku pikir, Kak Regar akan berubah."


"Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin berubah." Regar mengusap rambut Rayaa.


Gadis itu menoleh padanya. "Aku tidak senang melihat Kak Regar bersama gadis-gadis itu."


"Lalu aku harus bagaimana? Kecuali," Regar menatap Rayaa dengan intens dan menyentuh rambut gadis itu dengan sensual, "kamu...."


Rayaa tampak takut, dia menggeser duduknya. "Jangan aneh-aneh."


Regar tersenyum. "Aku tidak mungkin memaksamu untuk bermain bersamaku, jadi aku akan mencari gadis yang mau bermain denganku saja."


Regar bukanlah pria yang mengemis 'kesenangan' pada perempuan. Dia hanya akan melakukan 'permainan', apabila perempuannya yang meminta.


"Aku pacar Kak Regar," ucap Rayaa dengan suara bergetar.


Regar menyandarkan punggungnya. "Iya, kamu pacarku, tapi aku tidak menggunakan tubuhmu."


Setelah mengatakan itu, Regar keluar dari mobil sambil berkata, "Kau pasti lapar."


Beberapa detik kemudian, Rayaa keluar dari mobil dan berlalu bersama Regar memasuki cafe.


Setelah selesai di cafe dan mengantar Rayaa pulang, Regar pergi ke base camp. Sesampainya di base camp, Regar disambut dengan dua tubuh yang terbujur kaku.


Ada Givar dan Ferdad di sana menunjukkan ekspresi sedih.


"Ada apa ini? Kenapa mereka?!" Bentak Regar.


"Geng Januaar." Jawaban Givar membuat kedua tangan Regar mengepal.


"Kita harus menyerang mereka!" Bentak Regar. Givar menahan bahu sahabatnya. "Untuk apa? Kita tidak bisa melawan saat ini. Bukan hanya mereka, ada anggota lain yang meninggal juga."


Kedua mata Regar membulat sempurna. "Beraninya! Aku akan tetap pergi!"


Setelah melakukan persiapan dadakan, geng Regar menyerang geng Januaar dengan tiba-tiba. Terjadi tawuran yang tidak bisa dielakkan lagi.


Mendapatkan serangan dadakan, geng Januaar cukup terkejut dan kewalahan.


Kedua ketua geng besar itu kini berhadapan dan saling bertatap muka.


Ada rantai di tangan Regar. Dia menatap tajam ke arah Januaar. "Anak kecil! Geng bukan untuk permainan! Mundur sana!"


"Kau bisa mengecek celana dalamku, apakah aku memakai popok?" Januaar mengambil tongkat besi.


Mereka berkelahi, saling memukul, menendang, meninju, menangkis, dan menjatuhkan.


Perkelahian itu tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara sirine polisi. Geng Regar segera berhamburan melarikan diri.


Januaar menoleh ke menara di samping base camp miliknya. Ada megafon besar di sana. Raihan berdiri dengan ekspresi tak terbaca. Pandangan Januaar mulai kabur. Rantai Regar sempat mendarat di tengkuknya tadi.


Laki-laki itu jatuh dan tak sadarkan diri.


-


Ketika membuka matanya, Januaar melihat keberadaan Raihan di tepi ranjang. Dia meringis pelan sambil memegangi tengkuknya.


"Maaf, aku tidak ikut berkelahi... aku masih menyayangi nyawaku," kata Raihan.


"Dasar pengecut!" Bentak Januaar.


"Kau menyesal menerimaku jadi anggotamu?" Tanya Raihan.


"Iya! Kau hanya naik ke menara dan menyalakan ringtone seperti itu."


Raihan menatap lurus. "Aku bukan pengecut, aku belum bisa mati, sebelum aku melakukan apa yang diamanatkan oleh mendiang ayahku."


Januaar mendelik penasaran. "Apa yang diwasiatkan ayahmu?"


"Apa kau ingin tahu?" Raihan balik bertanya.


"Tidak." Januaar menggeleng.


"Regar sudah keterlaluan, kenapa kau tidak memberitahu Rayaa, kalau Regar sudah memukulmu?" Gerutu Raihan.


"Aku tidak mau terlihat lemah," gerutu Januaar sambil membuang muka.


"Ini bukan masalah kau lemah atau kuat, jika Rayaa tahu, dia pasti akan marah pada Regar dan memilihmu. Bisa jadi mereka putus dan Rayaa akan terhindar dari keburukan Regar." Raihan memprovokasi Januaar.


Januaar mendelik pada Raihan. "Kau mau mereka putus, karena kau cemburu. Itu untuk kepentingan dirimu sendiri."


"Bagaimana jika selama ini Regar bersikap kasar pada Rayaa, tapi Rayaa tidak mengatakannya padamu?" Raihan memasang ekspresi berpikir.


Januaar terdiam sesaat kemudian menggeleng. "Itu tidak mungkin."


-


"Berita penyerangan kita sampai di telinga geng lain. Apa tidak masalah?" Tanya Givar sambil mengompres luka di dagunya.


Regar mengelap darah yang mengalir dari hidungnya. Januaar sempat memukul hidungnya tadi. "Biarkan saja."


Dion melemparkan foto Rayaa ke meja. Regar mengernyit.


"Kenapa kau menyimpan foto pacarku?" Tanya Regar setengah marah.


"Apa kau tahu, kalau pacarmu adalah kakaknya Januaar?" Dion meringis sambil mengompres sudut bibirnya.


Regar terkejut, "Rayaa kakaknya Januaar?"


"Wah, apakah Januaar sengaja mengirim Rayaa untuk menjebakmu?" Farid menimpali.


Regar mengusap kasar rambutnya, "Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?"


Hening.


Regar tersenyum sinis. "Aku akan menyusun rencana dari sekarang."


-


Rayaa tidak melihat keberadaan Januaar di rumah, jadi dia memilih pergi ke base camp adiknya bersama bodyguard.


Melihat wajah Januaar yang memar, Rayaa sangat panik.


"Apa yang terjadi?" Rayaa menangkup wajah adiknya. Raihan yang menyahut, "Tanyakan pada pacarmu."


Rayaa menatap punggung Raihan yang berlalu meninggalkan merek berdua.


Kenapa si Raihan mengatakannya?! Batin Januaar.


"Kak Regar melukaimu? Dia yang melakukan ini?" Rayaa menanyakan kepastian dari adiknya.


"Iya, dia menyerang base camp-ku."


Rayaa memeluk adiknya sambil menangis. "Aku sudah bilang, jangan menjadi geng."


Januaar membalas pelukan kakaknya. "Tidak perlu khawatir, aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini."


"Aku akan bicara pada kak Regar." Ketika Rayaa bangkit dari tempat duduknya, Januaar menarik tangan kakaknya.


"Jangan, Kak. Jangan sampai Regar tahu, kalau Kak Rayaa adalah kakakku. Dia akan memanfaatkanmu nantinya."


Rayaa tampak berpikir. "Dia melukaimu sampai begini, apa kau tidak melakukan sesuatu yang membuatnya marah?"


Januaar menggeleng, "Mungkin ada anggotaku dan anggotanya yang berselisih, namun Regar malah menyerang dengan tiba-tiba."


Rayaa mengangguk kemudian mengusap rambut adiknya, "Aku akan mencari tahu itu."


Januaar mengerutkan dahinya. "Mencari tahu?"


"Aku akan meminta bantuan orang-orang kepercayaan papa." Rayaa berlalu.


Ketika keluar dari ruangan, Rayaa melihat Raihan yang membelakangi pintu.


Rayaa tersenyum. "Syukurlah, aku akan sedih melihat dua orang terdekatku terluka bersamaan."


-


Rama sedang bermain game di kamarnya. Regar masuk tanpa mengetuk pintu, kemudian duduk di samping adiknya.


Rama menoleh sekilas kemudian kembali fokus ke layar. Regar mengambil snack dari meja dan memakannya. Laki-laki itu melihat ke layar. Ternyata Rama sedang fokus dengan game balapan motor.


"Persiapkan dirimu, motor barumu menanti, sekitar seminggu lagi kau harus siap." Regar menepuk bahu Rama.


"Ada balapan?" Tanya Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.


"Iya, lawanmu angin."


"Oh."


Regar merasa diabaikan. "Jangan menyepelekannya. Dia bisa lebih baik darimu."


"Aku akan menyesuaikan diri dengan motor baru." Rama memenangkan permainannya. Dia mengakhirinya dan menoleh pada Regar.


Melihat ada luka lebam di wajah tampan kakaknya, Rama bertanya, "Apa yang terjadi? Apa ada tawuran?"


"Aku menyerang geng Januaar, setelah mendapatkan laporan, kalau anggota-anggotaku meninggal karena anggotanya."


Rama mulai serius. "Bagaimana dengan orang tua anggotamu, Kak? Mereka pasti sedih dan menanyakan banyak hal."


Regar menghela napas berat. "Aku sudah mengatasinya."


Sunyi.


Regar menepuk bahu Rama. "Orang yang akan melawanmu nanti di sirkuit adalah Januaar Gallardo, pembalap angin."


Rama menatap kakaknya. Dia ingat pada Januaar, laki-laki yang waktu itu datang ke sirkuit Argaa untuk mendaftarkan anggotanya dalam balapan amatir.


"Dia orangnya?"


Regar mengangguk. "Sialnya, aku berpacaran dengan kakaknya."


Rama tercengan. "Bagaimana bisa?"


"Aku akan menyusun rencana." Regar mengepalkan tangannya.


"Jangan melibatkan kakaknya, kita hanya akan berurusan dengan Januaar," sanggah Rama.


"Kau fokus dengan balapannya, yang lainnya biar aku yang urus."


-


"Regar menyerang Januaar karena anggotanya Januaar sempat beradu mulut dengan anggotanya Regar dan terjadi perkelahian yang menyebabkan beberapa anggotanya Regar meninggal."


Rayaa mengakhiri panggilannya. Dia menghela napas berat.


"Seharusnya ayah mengurus kami dengan baik."


Sesudah 4 hari setelah kejadian, geng Januaar memperbaiki semuanya dengan mudah. Mereka bisa kembali berdiri tanpa waktu yang lama. Base camp yang sempat rusak karena serangan Regar, kini kembali utuh seperti semula. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Popularitasnya pun semakin tinggi dan melampaui geng Regar. Itu membuat Regar semakin kesal. Namun, Regar melampiaskan kekesalannya pada Rayaa.


Dia mulai menunjukkan kedekatannya dengan gadis lain. Tidak ada bermain di belakang pacarnya, dia bermain di depan Rayaa. Regar tidak berniat memutuskan Rayaa, dia ingin mempermainkan perasaan gadis itu, seperti gadis-gadis lain yang pernah bersamanya.


Rayaa harus menahan luka melihat Regar yang bermesraan dan melakukan hal yang tidak senonoh di depannya, tanpa memikirkan perasaan dan status gadis itu.


Rayaa berupaya mati-matian menahannya. Dia sudah jatuh terlalu dalam dengan pesona Regar. Dia terlalu mencintai Regar sampai-sampai dia tidak mampu berpaling dari laki-laki itu.


Cintanya seperti obsesi yang jauh dari kata wajar.


Rayaa tidak menceritakan masalahnya pada Januaar. Dia tidak ingin membuat adiknya khawatir.


Sementara Raihan mengetahuinya. Dia yang selama ini memperhatika Rayaa. Dia juga tahu, Regar sudah tidak menganggap Rayaa sebagai pacarnya. Mereka masih terikat hubungan, namun Regar bebas dekat dengan siapa pun.


Raihan yang ada untuk Rayaa. Dia yang mendengarkan semua curahan hati Rayaa.


"Kenapa tidak menyerah saja dengan perasaanmu?" Tanya Raihan.


Rayaa menatap Raihan. "Jika aku menanyakannya hal yang sama, apa jawabanmu?"


Raihan terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia juga mencintai Rayaa, sangat mencintai gadis itu, meskipun jelas sekali jika Rayaa tidak mencintainya.


Rayaa tampak sedih. "Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Begitu juga denganku."


"Kenapa tidak mengatakan ini pada Januaar?" Raihan mengalihkan pembicaraan.


Rayaa menunduk. "Aku tidak mau dia marah pada Regar dan terjadi lagi tawuran antar geng. Aku tidak mau melihat Januaar atau pun Regar terluka."


Raihan menghela napas berat.


-


Sirkuit Argaa.


Ada banyak orang di sana, termasuk para ketua geng. Januaar dan Regar di antaranya. Keduanya sama sekali tidak melakukan kontak mata. Mereka fokus pada para pembalap di arena.


Raihan duduk di samping Januaar berbisik, "Kau akan melawan Rama Mahali, kudengar dia adalah pembalap petir."


"Aku harus memenangkan balapan," ucap Januaar dengan penuh keyakinan.


Setelah beberapa ronde, balapan umum selesai. Garis start di sapu bersih untuk balapan terakhir.


Argaa bangkit dari tempat duduknya. Laki-laki bermata sapphire itu mengeluarkan suaranya, "Sekarang adalah balapan yang sesungguhnya. Pembalap dari dua geng besar akan menunjukkan kecepatan mereka."


Regar menoleh ke tempat duduk Januaar yang sudah kosong, laki-laki itu sudah bersiap-siap rupanya.


Rama bersiap di garis start dengan motor sport hitam barunya. Laki-laki itu menoleh ke arah Regar. Sang kakak mengangkat sebelah tangannya yang langsung dibalas anggukkan oleh Rama.


Motor sport berwarna silver itu melaju lambat dan berhenti tepat di samping motor Rama.


Rama menoleh melihat Januaar yang sudah menurunkan kaca helmnya.


"Ketua geng Januaar sendiri yang turun ke lapangan. Dia adalah pembalap angin yang akan melawan pembalap petir andalah geng Regar, Rama Mahali."


Semua gadis dari geng Argaa berteriak memberikan semangat.


Rama menurunkan kaca helmnya. Dia tidak suka berbasa-basi, ya?


Seorang gadis cantik berpakaian seksi maju ke depan sambil mengibarkan dua bendera di tangannya untuk memberikan aba-aba.


Ketika bendera itu diangkat, Rama dan Januaar memacu motor mereka dengan kecepatan tinggi.


Raihan berdiri dari tempat duduknya. Dia memperhatikan kedua motor itu dengan serius.


Regar tampak khawatir, begitupun dengan Givar di sampingnya.


Motor Rama dan motor Januaar memiliki kecepatan yang sama, sehingga keduanya bersebelahan di jarak beberapa meter.


Januaar menoleh sesaat pada Rama. Dia cepat juga, apa dia mampu sampai putaran terakhir?


Rama tetap fokus ke depan. Jangan menoleh Rama, tetap fokus. Meskipun dia lebih muda darimu, dia memiliki kecepatan yang menyamaimu.


Ketika sampai di putaran terakhir, semua orang menyipitkan mata melihat siapa pemenangnya.


Tampaknya kedua pembalap itu sama-sama menduduki posisi pemenang balapan.


Argaa melihat komputer yang terhubung dengan kamera di dekat garis finish.


"Wah, ini cukup sulit, namun aku sudah bisa menemukan pemenangnya." Argaa tampak semangat.


"Pembalap yang memenangkan pertandingan adalah..."


Regar menautkan alisnya. Givar menepuk pahanya sendiri karena tidak sabar menunggu nama yang disebutkan Argaa. Raihan menelan saliva.


"... Januaar!" Argaa bertepuk tangan.


Regar mengepalkan tangannya. Raihan tercengang.


Semua orang di sana bertepuk tangan, kecuali geng Regar.


Januaar melepaskan helmnya kemudian berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Beberapa anggotanya membawa motor Januaar.


Rama memperhatikan Januaar yang melangkah gegas menjauhi sirkuit.


-◈◈◈-


21 September 2016


Ucu Irna Marhamah