La Hora

La Hora
LH - 18 - Revenge



 


 


 


 


-◈ Raihan Alfarizi ◈-


 


 


Setelah kembali dari kediaman Mahali, aku langsung pulang ke rumah. Bukan rumahku, itu rumah dari salah seorang pelayanku, Riska.


 


 


Hanya beberapa saat aku tinggal di sana untuk menutupi jati diriku. Suaminya kak Riska bekerja sebagai bodyguard di rumahku, ah... sekarang dia bekerja di rumah Mahali atas perintahku untuk mengawasi mereka, dia adalah bang Garry.


 


 


Yeah, selama ini aku mengetahui apa pun tentang mereka. Aku tahu, ini tidak sopan, tapi ini demi misiku.


 


 


Aku tahu, Shica alergi sinar matahari, aku juga tahu, Shica itu memiliki imajinasi yang liar, aku tahu semuanya tentang Shica.


 


 


Waktu itu Shica tidak memberitahu alamat rumahnya padaku. Dia malah memintaku berkeliling dan berhenti di terminal bus, padahal saat itu aku sudah tahu di mana rumahnya.


 


 


Hanya satu yang belum kuketahui dengan pasti, seperti apa perasaannya?


 


 


Tuan besar Mahali bilang, Shica itu suka berbohong, justru yang aku lihat, dia tidak bisa berbohong padaku.


 


 


Aku suka melihat ekspresi wajah seseorang ketika berbicara, dan aku akan tahu, mana yang berbohong dan mana yang jujur.


 


 


Mungkin, kalian berpikir kalau aku berbohong, namun percayalah... ada juga orang yang sepertiku, selain orang yang ahli dibidang itu tentunya.


 


 


Aku memarkirkan motorku di depan rumah tersebut. Mobil sport merah berhenti di depan. Bang Garry keluar dari mobil tersebut. Dia menghampiriku sambil memberikan kunci mobil padaku.


 


 


"Apa Ridan Mahali tidak akan curiga?" Tanyaku sambil menerima kunci tersebut darinya.


 


 


"Tidak, Tuan."


 


 


Aku mengangguk, "Terima kasih."


 


 


Aku memasuki mobilku dan meninggalkan rumah tersebut.


 


 


Nama lengkapku adalah Raihan Al-Farizi Al-Hariz Abdurrachman. Ayah dan ibuku sudah tiada sejak aku SD. Mereka meninggal dalam insiden kecelakaan mobil. Itulah yang membuatku masuk ke dalam geng Januaar.


 


 


Anak yang tidak mendapatkan perhatian orang tua.


 


 


Sebenarnya ada alasan lain, kenapa aku masuk ke dalam geng sialan itu. Aku menyukai seorang gadis, namanya Rayaa.


 


 


Rayaa adalah kakaknya Januaar, yang merupakan ketua geng. Aku ingin mendapatkan Rayaa, meskipun dia selalu menolakku. Aku mendekati Januaar untuk mendekati Rayaa juga.


 


 


Namun, sampai sekarang pun Rayaa tidak menyukaiku. Entah apa kekuranganku di matanya.


 


 


Dia lebih menyukai Regar, anak dari keluarga Mahali itu.


 


 


Masalah muncul sejak Rayaa mengungkapkan perasaannya pada Regar, dan masalah itu masih berlanjut sampai sekarang.


 


 


Aku sampai di pelataran mansion milik ayahku. Para bodyguard berbaris menyambut kedatanganku. Mereka membungkukkan badan ketika aku keluar dari mobil.


 


 


Besok hari minggu, aku bisa santai.


 


 


Aku memasuki kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku, terpampang tubuhku yang kekar dari pantulan cermin. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari seorang pria selain tubuhnya?


 


 


Membutuhkan olahraga dan diet yang ketat untuk memiliki tubuh seperti ini.


 


 


Kulihat wajahku yang menatap tajam ke arah cermin, yeah... aku memang terlihat menakutkan ketika menatap seperti ini.


 


 


Pantas saja nona Mahali ketakutan dengan ekspresiku ini.


 


 


Ketika bibirku melengkung, wajahku terlihat lebih bersahabat dan terlihat tampan.


 


 


Kau harus mencintaiku, Shica. Ini untuk Rayaa. Aku melakukan ini hanya untuk Rayaa, gadis yang kucintai.


 


 


Aku tidak mencintai Shica, aku hanya berpura-pura menyukainya. Dan sepertinya dia memang mencintaiku dengan mudahnya.


 


 


Dia sungguh gadis yang polos bisa mempercayaiku begitu saja.


 


 


Itu memudahkanku, kan?


 


 


Secantik apa pun Shica Mahali, aku tidak akan pernah mencintainya.


 


 


Selesai mandi, aku langsung merebahkan tubuhku ke ranjang. Rasanya lelah sekali hari ini. Aku menghabiskan semua energiku untuk berakting.


 


 


Ponselku berdering, ada notifikasi dari Shica rupanya.


 


 


Ada PR Kimia, jangan lupa dan jangan kesiangan hari senin nanti. 😆


 


 


Entah kenapa, ingin sekali aku tersenyum membaca chat darinya sambil membayangkan wajah polos itu.


 


 


Iya, aku akan mengerjakannya besok. 😅


 


 


Besok? PR-nya sangat banyak. Nanti kamu lupa. 😢😢


 


 


Aku tidak akan lupa, Shica. Waktu kelas 11 di SMA Parameswara, aku pernah mempelajari bab ini.


 


 


Iya, Shica... aku sedang mengerjakannya. 😉😊


 


 


 


 


Tidak ada balasan lagi dari Shica, mungkin dia sudah tertidur di jam ini.


 


 


Aku menyimpan ponselku ke nakas. Kelingkingku yang memiliki bekas luka tidak sengaja menyentuh ujung nakas.


 


 


"Aw!" Meskipun luka ini sudah lama kering, namun masih terasa sakit.


 


 


Aku jadi teringat Rayaa, kuputuskan untuk menelpon Januaar di jam malam begini.


 


 


"Ada apa, Raihan? Kau baik-baik saja?" Suara Januaar dari seberang sana.


 


 


"Iya, aku hanya ingin menanyakan kabar Rayaa." Aku bangkit untuk duduk.


 


 


"Kak Rayaa sudah tidur, aku akan bilang padanya besok, kalau kau menelepon."


 


 


Aku segera menyahut, "Tidak perlu, besok aku akan datang ke rumahmu."


 


 


"Baiklah."


 


 


Hening.


 


 


"Kenapa kau memilih keluar dari geng?"


 


 


"Demi Rayaa, aku harus menutupi semua identitasku untuk menghancurkan anak Mahali itu," jawabku dengan tangan mengepal.


 


 


"Aku heran, kenapa Rayaa tidak bisa membuka hatinya pada laki-laki baik sepertimu. Kenapa dia malah menyukai laki-laki brengsek seperti Regar Mahali?" Tanya Januaar.


 


 


Dari nada bicaranya, dia sepertinya begitu geram. Aku tidak merespon, karena aku juga tidak tahu jawabannya.


 


 


"Kalau ada apa-apa, beritahu aku... jangan seperti waktu itu."


 


 


"Untuk apa? Aku bukan anggotamu lagi," kataku.


 


 


"Kau calon kakak iparku, kan?"


 


 


Aku mendecih, "Rayaa tidak mencintaiku, bodoh!"


 


 


"Lama-lama dia akan mencintaimu. Kau hanya perlu sedikit bersabar."


 


 


"Tidak apa-apa jika dia tidak menyukaiku, tapi aku akan tetap melakukan apa yang dia inginkan," ucapku yakin.


 


 


"Aku percaya padamu."


 


 


Aku pun mengakhiri panggilan di antara kami.


 


 


Aku kembali merebahkan tubuhku. Semua ingatan 3 tahun yang lalu masih tersimpan jelas dalam benakku.


 


 


Januaar melemparkan foto-foto itu di depan meja. Ketika dilihat satu per satu, ternyata foto seorang gadis yang cantik dengan wajah khas orang Eropa.


 


 


"Dia Shica Mahali, adiknya Regar, cantik 'kan?" Tanya Januaar. Aku menoleh pada Rayaa yang sedang melamun. Meskipun dia tidak sedang menyimak percakapan kami, aku yakin... sedikit banyak, dia bisa mendengarnya.


 


 


"Ternyata si brengsek itu punya adik perempuan yang masih remaja seumuran denganku... apa dia tidak memikirkan adiknya ketika menyakiti gadis lain?" Geram Januaar.


 


 


Aku tidak berniat meresponnya. Saat itu, posisi Januaar adalah ketua geng. Meskipun aku lebih tua darinya, aku harus menghargainya.


 


 


Rayaa bangkit dan berjalan tertatih menghampiriku. Dia menangkup wajahku dan menatapku dengan intens.


 


 


"Kamu mencintaiku, kan?" Tanyanya.


 


 


Tentu saja, aku mengangguk.


 


 


"Lakukan apa yang pernah dilakukan oleh Regar padaku. Kamu harus melakukannya pada gadis ini. Berikan dia penderitaan yang sama denganku... aku ingin Regar merasakan apa yang dirasakan olehku dan adikku," ucap Rayaa penuh penekanan.


 


 


Aku cukup terkejut mendengarnya. Kenapa aku harus melakukannya?


 


 


"Aku tahu, kau belum pernah melakukannya sebelumnya, bukankah ini keuntungan juga untukmu? Melakukan pertama kalinya dengan gadis yang masih perawan. Aku yakin, Regar dan Rama menjaga adik mereka dengan baik, meskipun kedua pria sialan itu suka meniduri sembarangan gadis," ujar Januaar.


 


 


"Kenapa harus aku yang melakukannya? Kenapa tidak kau saja?" Tanyaku pada Januaar.


 


 


"Aku tidak ingin menyentuh gadis itu, aku benci padanya." Januaar mengepalkan tangannya geram.


 


 


 


 


"Jika aku membalas dendam pada Regar, itu tidak akan membuat laki-laki sialan itu sadar, dia perlu diberikan pelajaran lewat orang yang disayanginya."


 


 


Aku perlu memikirkannya terlebih dahulu. Aku harus memikirkannya dengan matang.


 


 


"Bagaimana?" Tanya Januaar.


 


 


"Pertama aku harus keluar dari geng ini."


 


 


Mendengar jawabanku, Januaar tampak kaget. Aku menatap foto-foto Shica.


 


 


"Aku akan mengurus yang lainnya."


 


 


Foto-foto itu masih ada padaku sampai sekarang. Saat ini aku juga sedang melihatnya.


 


 


Shica memang cantik, namun Rayaa jauh lebih cantik darinya. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya terlihat lebih menarik dari Rayaa.


 


 


Orang bilang, gadis perawan akan terlihat lebih menawan dan mempesona dibandingkan perempuan yang sudah tidak perawan.


 


 


Entahlah, aku tidak mengerti, bagaimana bisa itu jadi patokan?


 


 


Aku belum pernah melakukannya dengan perempuan, jadi aku juga tidak tahu.


 


 


Kulihat foto-foto Shica di tanganku. Kedua mataku terasa berat, rasa kantuk mulai menyerang, dan aku pun tertidur.


 


 


Kulihat Shica memejamkan matanya dengan rapat, kepalanya menengadah sambil menggigit bagian bawah bibirnya.


 


 


Tampaknya dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.


 


 


Aku terkejut, ketika menyadari aku sedang berada di atasnya dan tubuh kami... tanpa pakaian.


 


 


Bagian lain dari diriku tengah berada dalam tubuh Shica. 'Dia' sedang berpenetrasi untuk mendapatkan kenikmatan. Apakah ini yang membuatnya kesakitan.


 


 


Namun, berbanding terbalik denganku, aku merasakan sesuatu yang membuatku seolah akan melayang ke udara.


 


 


Aku tidak bisa menjelaskan perasaan macam apa ini.


 


 


"Ra-Raihan... K-kenapa... kenapa kau melakukan ini padaku?" Tanya Shica dengan suara bergetar. Kedua matanya yang berlinangan air mata menatapku dengan tatapan kecewa.


 


 


Tidak ada jawaban dariku. Sisi lain dalam diriku menyuruhku untuk bergerak menuntaskan hasrat kelelakianku.


 


 


Shica meringis tertahan sambil mencakar dadaku, ketika aku memulai pergerakan.


 


 


"Raihan... hhhhh... sakiiittt!" Teriak Shica.


 


 


Baru kali ini aku merasakan sensasi yang luar biasa. Aku mempercepat gerakanku tanpa memperdulikan teriakan Shica.


 


 


"Hentikan! Kau menyakitiku! Raihan!" Shica mendorong tubuhku, namun percuma, tenaganya tidaklah sebanding denganku. Keadaannya sangat lemas.


 


 


Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya, lehernya, dan dadanya.


 


 


Dia sungguh cantik.


 


 


Jauh lebih cantik kalau dalam keadaan seperti ini.


 


 


Keringat bercucuran membasahi tubuhku, rambutku juga ikut basah. Shica tidak melawan lagi, yang ada pada wajahnya adalah ekspresi putus asa dan pasrah.


 


 


Tubuhnya yang putih mulus tampak mengkilap karena keringat. Tubuhnya bergerak karena gerakanku yang liar.


 


 


Ekspresi dan keadaannya yang lemah itu, membuatku semakin menginginkannya. Mau bagaimana ekspresinya, dia tetaplah cantik.


 


 


Aku merasa ada gejolak yang muncul dari kepalaku, kudorong dan kulepaskan di dalam, rasanya sungguh luar biasa.


 


 


Aku tidak tahan untuk tidak menyebutkan nama Shica di sela puncakku.


 


 


Shica tersentak dan berpegangan pada bahuku, seolah dia akan terjatuh jika tidak melakukannya.


 


 


Shica terbelalak ketika merasakan sesuatu di dalamnya, "Hhhh... Raihan!! Periiihhh!!! Raihan!"


 


 


Aku merasa tubuhku kehabisan tenaga dan aku pun terkulai lemas di atas tubuh Shica. Kulit kami bergesekan secara langsung membuat keringat di tubuh kami jadi bercampur.


 


 


Tubuh Shica sedikit berguncang, mungkin dia sedang menangis sekarang.


 


 


Aku telah merenggut kecantikannya, tapi aku merasa puas dan bahagia.


 


 


Aku sedikit bangkit untuk mencondongkan tubuhku dan menatap Shica yang masih menangis.


 


 


Dia tampak rapuh dan kesakitan. Rasanya tidak tega melihat gadis ini menderita, padahal aku ingin sekali membuatnya menderita, seperti yang diinginkan Rayaa.


 


 


Aku mengusap rambutnya dengan lembut. Dia tidak berani memandangku. Mungkin dia masih syok dan takut padaku.


 


 


"Shica, inilah yang dirasakan Rayaa... Regar telah melakukan hal yang sama pada Raya, bahkan jauh lebih kasar dan kejam. Sekarang kamu merasakannya?" Aku meninggikan suaraku.


 


 


Kedua mata Shica begerak. Kini sepasang iris coklat pudar itu menatapku dengan gemetar.


 


 


"Kenapa kau melakukannya padaku, Raihan?"


 


 


"Karena kau adiknya Regar."


 


 


"Jika perbuatan dosa kakakku bisa ditebus olehku, maka ambil saja nyawaku. Dan kau akan merasa lebih tenang," kata Shica dengan suara bergetar.


 


 


Aku menyeringai dingin, "Aku tidak membutuhkan nyawamu , Shica. Aku hanya membutuhkan tubuhmu yang indah ini."


 


 


Aku menyentuh dadanya dan perutnya, "Kamu harus membayarnya dengan ini."


 


 


Lagi-lagi air mata Shica lolos membuat pipinya semakin basah saja. Sialnya, itu membuatku menginginkannya lagi.


 


 


"Siapa Rayaa?" Tanya Shica sambil mengalihkan pandangannya.


 


 


"Dia gadis yang kucintai," ucapku.


 


 


Shica menutup kedua matanya, seolah apa yang aku katakan barusan telah menyakitinya.


 


 


Aku meraih dagunya agar menoleh padaku. Aku melumat bibirnya. Shica menunjukkan penolakan dengan mendorong dadaku dan menggigit bibirku.


 


 


"Jangan melawan... kau tidak mau aku bermain kasar, kan?" Aku mengancamnya.


 


 


"Jangan lagi, Raihan... sakiittt."


 


 


Aku mengunci pergelangan tangannya ke atas. Lalu aku kembali memasukinya dengan sedikit kasar.


 


 


Shica melenguh kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dariku. Namun percuma, aku tidak akan pernah melepaskannya.


 


 


Aku kembali begerak untuk mencapai kepuasanku... dan...


 


 


Krriiinggg!!!


 


 


Aku tersentak bangun dari tempat tidurku. Alarm di nakas berbunyi keras dan membuatmu terbangun.


 


 


Foto-foto Shica berhamburan ke lantai karena pergerakanku yang tiba-tiba.


 


 


Aku melihat salah satu foto Shica yang sedang tersenyum cantik.


 


 


Damn! Yang barusan adalah mimpi?


 


 


Mimpi indah atau mimpi buruk? Yang pasti saat ini selangkanganku rasanya sesak dan sakit.


 


 


Shit, aku harus bagaimana ini?


 


 


Aku mandi di bawah guyuran air shower yang dingin, dan 'dia' kembali 'tertidur'.


 


 


Gila memang, melihat fotonya saja membuatku berhasrat.


 


 


Bukan berarti aku mencintainya, kan? Ini hanya perasaan napsu semata.


 


 


Kenapa juga alarm bisa berbunyi di hari minggu?!


 


 


Aku ingat, hari ini aku akan menemui Rayaa. Aku ingin melihat kabarnya.


 


 


Setelah mandi, aku memakai pakaian yang rapi dan berlalu ke ruang makan.


 


 


Para pelayan sedang menyiapkan hidangan untukku sarapan.


 


 


Di mansion ini, aku hanya tingga sendirian. Hanya ada beberapa pelayan dan bodyguard.


 


 


Aku anak tunggal dari ayahku, Al-Hariz Abdurrachman dan ibuku, Salma Nadhiraa Abdurrachman.


 


 


Aku berketurunan Arab-Indonesia. Ayahku dulu adalah seorang pengusaha batu bara di salah satu kota di Indonesia. Saat ini, aku belum bisa mengambil alih perusahaan tersebut, karena aku masih belum cukup dewasa.


 


 


Aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, cinta pertamaku adalah Rayaa. Aku juga berharap dia akan menjadi cinta terakhirku suatu hari nanti.


 


 


-◈◈◈-


 


 


21 April 2016


Ucu Irna Marhamah