
-◈ Regar Mahali ◈-
"Aku pikir, bos mau mencari Viona."
Kuraih kerah baju salah satu temanku yang sembarangan bicara itu.
"Hati-hati ketika bicara denganku."
Rama menarik tanganku, "Kak Regar, dia hanya bercanda."
Jika tidak ada Rama, si bangsat itu sudah habis ditanganku. Kulepaskan tanganku darinya kemudian berdecak dan menatap ke arah lain.
"Aku yang mencari Viona, di mana gadis itu?" Rama mengalihkan pembicaraan.
"Sedang bersama Max." Laki-laki itu menunjuk ke belakang. Di sana ada ruangan yang seperti ruang VIP untuk kami.
Kami menyebutnya relax room. Tidak sembarangan orang yang bisa masuk. Hanya orang-orang yang sudah lama menjadi anggota geng-ku.
Kulirik Rama yang terlihat kecewa, "Ya sudah."
Dia duduk dan mengambil salah satu botol lalu meminumnya. Aku duduk di sampingnya.
"Jangan terlalu banyak, papa akan mencium baumu." Aku menarik botol itu darinya.
"Waahh, Bos sangat lembut pada adik-adiknya."
Aku hanya mendecih pelan sambil menarik sudut bibirku.
Ya, selama ini aku memang kejam pada anggotaku, meskipun mereka semua temanku, mereka harus bisa menempatkan diri dengan baik.
"Bos, kami ada balapan hari ini."
"Ya sudah, sana," kataku.
Bukannya pergi, mereka malah saling pandang.
"Uang?" Tanyaku.
Mereka tersenyum dan mengangguk dengan kompak.
Iya, tentu saja.
"Ambil di pocket money."
Setelah mendapatkan izin dariku, mereka semua pergi meninggalkan aku dan Rama berdua.
Pocket money adalah sebutan untuk bendahara geng. Semua geng yang aku kenal, memang menggunakan istilah ini.
Aku memiliki 4 orang pocket money. Tiga perempuan, dan satu laki-laki.
Tugas mereka berbeda-beda. Menerima pemasukkan, mengeluarkan keuangan, mengolah keuangan, menghitung keuangan.
Mungkin ini berlebihan, tapi beginilah kehidupan geng.
Kalian pikir, uang kami sedikit?
Jika dijumlahkan, mungkin bisa membeli sebuah rumah mewah di kawasan elit.
Anggotaku tidak hanya laki-laki, ada juga perempuan.
Tidak! Yang perempuan tugasnya bukan 'begitu', tapi ya... kalau pun mereka melakukannya, itu bukanlah sebuah tugas.
Kuambil sebatang rokok dan menyulut ujungnya. Aku menyesapnya membuat kepulan asap memenuhi rongga paru-paruku.
Terdengar suara langkah kaki keluar dari relax room.
Aku dan Rama menoleh, ternyata Max yang keluar dengan bertelanjang dada.
Damn, dia bermain di belakangku. Dia pikir, ini base camp miliknya, apa!
"Eh? Bos!" Max tampak terkejut melihat keberadaanku.
"Lama sekali, kau! Dia masih di dalam?" Tanya Rama. Dengan cepat, Max mengangguk.
"Ada balapan, sampai jumpa, Bos!" Max berlalu pergi tanpa memerlukan jawabanku.
Seseorang melihat kami dari ambang pintu relax room. Gadis cantik dengan pakaian yang acak-acakan itu melangkah mendekati kami.
Dia adalah Viona.
"Kalian di sini? Aku senang sekali kalian mau menemuiku," ucapnya dengan tatapan nakal yang terarah padaku.
Aku bersuara, "Rama yang menginginkannya, bukan aku."
"Benarkah, Baby?" Viona duduk di pangkuan Rama dan memberikan kecupan pada bibirnya. Rama membalas ciuman Viona.
****, jadi aku harus melihat mereka di sini?
"Kutunggu kau diluar," ucapku pada Rama kemudian bangkit dari tempat duduk.
Namun, Viona meraih pahaku, "Jangan pergi, aku sanggup bersama kalian hari ini."
What the hell!!
Mana mungkin aku melakukannya di depan Rama?! Bukankan itu memalukan?!
Tangannya merambat ke selangkanganku tanpa melepaskan ciumannya dengan Rama.
****! Aku tidak bisa menahan diriku.
Kuraih pinggang Viona dan kurobek pakaiannya yang asal terpasang itu.
Tubuhnya yang dulu mulus kini memiliki banyak bekas tanda sentuhan pria.
Viona menarikku agar mengecup lehernya. Terpaksa aku melakukannya, ini sudah kepalang tanggung.
Meskipun dia barang bekas, ya... tetap saja masih bisa dipakai, kan?
Walaupun aku lebih menyukai perempuan yang masih 'gadis'. Bukankah mereka bersih dan tidak pernah melakukannya dengan sembarangan laki-laki?
Aku tidak akan ragu melakukannya. Ya, pada akhirnya aku akan meninggalkannya juga.
Memangnya apa yang diinginkan laki-laki dari perempuan kalau bukan ini?
Jangan munafik!
"Kenapa putra keluarga Mahali bisa setampan kalian?" Desah Viona ketika Rama memberikan ciuman nakal ke dadanya.
"Dan nakal," bisik Viona di telingaku.
"Memangnya kenapa? Kamu menyukainya, kan?" Ucap Rama.
Viona menggelinjang ketika ciumanku dan ciuman Rama berhenti di dadanya.
Ah! Tidak perlu kujelaskan apa yang terjadi! Yang pasti ini menjijikan.
Aku yakin, di antara kalian pasti ada yang masih di bawah umur, kan.
Jangan dibaca.
Selesai dengan 'permainan sialan' itu, aku dan adikku sedang berada di perjalanan pulang menuju ke rumah.
Rama yang menyetir.
"Kak, Kakak membawa uang lebih?" Tanya Rama.
Aku mengernyit bingung, uang lebih apa maksudnya? Aku pun bertanya, "Uang apa maksudmu?"
"Ya... uang pokoknya," ketus Rama.
"Kenapa memang? Kau juga punya uang, kan?" Ujarku tak kalah ketus.
"Kita ke mall dulu, Kak. Beli baju dulu. Memangnya kita mau pulang dalam keadaan begini?" Rama membelokkan mobil ke jalan lain yang bukan arah ke rumah kami.
"Papa dan mama pastinya juga belum pulang," sanggahku sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 1 siang."
"Kakak belikan aku baju, ya." Rama menoleh padaku.
"Kamu juga punya uang," ucapku.
"Tapi, uang jajan Kakak lebih banyak, kan?" Gerutu Rama pelan.
Iya, tapi aku tidak boros sepertinya.
"Tidak tahu kenapa... sepertinya papa lebih menyayangimu dibandingkan aku." Rama tersenyum pahit. Meskipun wajahnya tidak sedang melihat padaku, aku bisa melihatnya dari samping.
"Kenapa berpikir begitu? Sama saja. Kamu anak laki-laki juga." Aku menepis pikirannya.
"Entahlah." Rama mengedikkan kepalanya ke kiri.
Mobilku diparkirkan dengan baik oleh Rama. Kami berdua memasuki mall.
Di tempat pakaian, kulihat Rama sedang memilih dengan serius. Hmm, kasihan juga kalau tidak kubelikan. Aku 'kan kakak tertua.
"Pilih satu, nanti kubayar," kataku kemudian berlalu setelah kudapatka pakaian yang cocok untukku.
Ya, aku tidak terlalu mementingkan gaya kalau tidak sedang ada acara khusus.
Mau bagaimana pun juga, aku akan terlihat tampan dengan pakaian apa pun.
Jangan protes!
Ketika aku akan melakukan pembayaran, kulihat Rama membawa beberapa baju.
Apa dia mau membuatku bangkrut?!!
"Aku bilang satu, kan?" Tanyaku kesal.
Dia tersenyum manis, "Iya, satu hoodie, satu singlet, satu kaos, satu jeans, satu boxer."
Okay, sekarang aku mulai berpikir, seperti apa otak kiri adikku ini?
Satu ditambah satu ditambah satu lagi dan ditambah lagi satu, hasilnya tidak akan satu, kan?
Mungkin dia kira satu dikali satu. Saking pintarnya, dia tinggal di kelas IPA-A.
Baiklah, untung kau adikku, dan aku menyayangimu, Ramadiaz.
Ketika aku mengeluarkan kartu berhargaku, Rama malah berkeliling dan menunjuk barang lain seperti anak kecil.
"Apa lagi?" Tanyaku.
"Lihat, lihat!" Dia menunjukkan CD baru Avengers padaku. Ya, dia suka sekali dengan Captain America dan Iron Man.
"Iya, aku sudah melihatnya." Aku menjawab dengan ketus.
Jujur saja, dia terlihat begitu manja padaku seperti anak kecil. Padahal dia bisa lebih manly dariku ketika di ranjang.
Aku tidak mengintip!
Bukankah tadi aku melihatnya ketika 'bermain bersama'? Kalian lupa?
Ya, dia seperti pria dewasa.
"Kak Regar!" Rama mengejutkanku.
"Ya sudah, ambil."
"Ye! Thanks."
Kuanggukan kepala sebagai jawaban.
"Oh ya, Kak. Kemarin aku melihat rok sekolah milik Shica kependekan sekali, mungkin segini." Rama menunjuk pahanya.
"Kenapa dia membelinya?" Tanyaku.
"Katanya mama yang membelikan," ujar Rama.
"Ya sudah, carikan yang menurutmu bagus." Aku menunggunya.
Setelah beberapa menit Rama memilih, dia kembali dan memperlihatkannya padaku.
"Ini bagus, tidak?" Tanya Rama.
Mau dilihat dari manapun, tampaknya rok itu kekecilan.
"Ini sekitar 6 cm di atas lutut. Bagus, kan?" Rama berbicara layaknya mbak-mbak yang suka promosi pakaian di Tanah Abang.
"Itu kekecilan Rama, Shica tidak sekecil ini pinggang dan bokongnya," ucapku.
Entah aku salah bicara atau apa, tapi Rama melihatku dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kakak suka melihat... bokong Shica?" Bisik Rama.
Emm, tidak begitu juga.
Melihat dan terlihat itu... dua hal yang berbeda, kan?
"Kakak, dia itu adik kita. Kakak melarangku memperlihatkan tontonan aneh padanya, tapi Kakak malah 'menonton bokongnya', tak baik, tak baik." Rama menggelengkan kepalanya seperti boneka tak berleher.
"Apa yang kau bicarakan?" Aku memukul lehernya karena kesal.
Setelah melakukan pembayaran, kami ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Di ruangan yang berbeda!
Mana mungkin kami satu ruangan!
Bagi seorang laki-laki, akan sangat memalukan apabila berada dalam satu ruangan dalam keadaan telanjang.
Jika kalian pria, dan merasa biasa-biasa saja ketika berdua dengan sesama pria da bertelanjang dalam satu ruangan...
apa kalian merasa kalian normal?
Aku juga tidak mengerti, kenapa perempuan lebih suka berada dalam satu ruangan ketika berganti pakaian?
Jadi, kalau kalian perempuan, kalian bisa saling melihat satu sama lain ketika berganti pakaian di ruangan yang sama?
Baiklah, aku tidak peduli.
Kami telah selesai dengan semua 'keribetan' ini.
Sampailah kami di rumah.
Benar dugaanku, papa dan mama belum pulang.
Ketika kami masuk, terlihat Shica sedang menonton TV sambil memakan cemilan.
Melihat kedatangan kami, perhatiannya teralihkan dari TV dan menoleh, "Kakak membeli baju baru?"
Mungkin melihat pakaian yang kami pakai, makanya dia bertanya demikian.
"Untukku mana?" Shica mengambil tas belanja milik Rama. Dia mengeluarkan isinya dan melihat pakaian-pakaian untuk pria itu.
"Ini untuk kak Rama saja? Untuk aku mana?" Shica mengguncangkan lenganku.
Aku bingung harus bilang apa.
Rama menunjukkan satu tas belanja yang terpisah pada Shica, "Kami membelikan kamu rok SMA."
Shica mengernyit dan melihatnya, "Aku sudah punya rok SMA. Dan... ini kekecilan, Kak."
Aku tertawa, "Pilihan Rama memang buruk."
Shica menghela napas kesal dan kembali duduk sambil memakan cemilannya lagi.
"Jangan marah, Ca. Kalo kamu mau, ambil saja satu pakaian Kakak buat kamu," ujar Rama dengan polosnya.
"Aku tidak marah, tidak apa-apa. Mana mungkin aku memakai pakaian laki-laki," kata Shica ketus.
"Tidak marah?" Tanya Rama.
"Tidak!" Jawaban dan nada bicara Shica berbanding terbalik.
Aku hanya terkekeh melihat mereka seperti itu. Ya sudah, biarkan saja. Nanti juga baikan lagi.
Pergi ke halaman belakang, itu pilihanku.
Ponselku bergetar. Ada panggilan video dari teman-temanku.
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, aku mengangkatnya.
Terlihat teman-temanku yang membawa piala dan papan nominal uang, "Bos! Kita menang balapan!"
Aku hanya tersenyum melihat ekspresi bahagia yang tercetak di wajah mereka.
"Bagus."
"Kita punya banyak uang untuk geng kita."
"Tidak, uang itu untuk kalian saja."
"Tapi, kita balapan atas nama geng."
"Iya, tapi yang balapan kalian, bukan semua anggota geng. Jadi, itu untuk kalian saja."
"Waahh, terima kasih, Bos! Bos memang baik!"
Aku mendecih, "Aku bukan orang baik, berhenti mengatakan kalau aku orang baik."
"Hehe... iya, Bos. Kami bercanda."
Kuakhiri panggilan tersebut dan memilih duduk di ayunan taman. Halaman belakang dan halaman belakang rumahku cukup luas. Mama sengaja menyuruh untuk menanam banyak bunga dan meletakkan bangku taman di halaman depan. Sementara di halaman belakang, ada banyak bunga dan ayunan.
Ini juga agar kami yang masih kecil dulu merasa nyaman tinggal di rumah. Ya, sewaktu kecil, pergaulan kami benar-benar dibatasi.
Hingga SMP, aku mengenal yang namanya geng. Awalnya aku tidak ingin Rama ikut juga. Tapi, karena dia juga tidak punya teman, aku khawatir dengan keselamatannya.
Aku tidak ingin ada geng musuh yang melukainya, karena mengetahui kalau dia adalah adikku.
Kalau Rama bergabung menjadi anggota geng, maka orang lain juga tidak akan berani padanya.
Aku menoleh ketika mendengar suara langkah kaki menghampiriku.
Laki-laki itu tertawa melihatku yang sedang duduk di ayunan.
"Kau tampak seperti anak kecil berusia 5 tahun, Regar." Dia tertawa dan duduk di ayunan yang satunya lagi di sampingku.
"Kau tampak seperti anak kecil berusia 3 tahun, Givarel." Aku membalas ucapannya.
Dia adalah Givarel Hardiswara, putra dari pemilik SMA Hardiswara, temanku.
"Kenapa jarang ke pabrik ikan? Sibuk?" Tanyaku.
"Belakangan ini ayahku mengawasiku. Jadi, aku sedikit kesulitan bergerak." Givar mengayunkan tubuhnya.
"Ayahmu sangat menyayangimu, Var." Aku menyahut.
"Memangnya ayahmu tidak?" Tanya Givar. Aku terkekeh, "Ya, sama saja. Semua orang tua menyayangi anaknya."
"Mungkin karena aku anak tunggal, fokus mereka hanya satu... padaku."
Aku mengangguk mengerti.
"Akan ada banyak siswi baru besok. Mau memilih?" Tanya Givar menggodaku.
"Bukan hanya siswi baru, siswa baru juga banyak. Kita membutuhkan anggota baru." Aku meluruskan.
Givar hanya terkekeh, "Kau selalu menginginkan 'barang baru', pilih 'lah dengan baik."
Aku mendelik padanya, "Jadi... kesini untuk mengatakan itu?"
"Tidak juga, aku ingin mengajakmu ke arena balapan. Sudah lama kau tidak menginjak gas." Givar menepuk dadaku.
"Haruskah?" Tanyaku.
"Terlalu lama tidak berlari cepat akan membuatmu jatuh ketika harus mendadak berlari."
Laki-laki ini memang suka sekali mengucapkan peribahasa yang tidak aku mengerti.
Mungkin juga kepalaku tertinggal di laboratorium Kimia.
"Sejauh ini tidak ada yang lebih cepat dibandingkan Rama. Dia memang menguasai mobil dan motor dengan baik," kataku.
"Iya, ajak juga dia... ayo!" Givar bangkit dari ayunan sambil membenarkan jaketnya.
"Kenapa harus sekarang? Teman-temanku sudah memenangkan balapannya," kataku yang malas berdiri.
"Come on, Gar! Sirkuit itu tidak hanya ada satu." Givar bertolak pinggang.
"Baiklah, ayo balapan."
-◈◈◈-
3 April 2016
Ucu Irna Marhamah