
-◈◈◈-
Sahabat yang sesungguhnya adalah dia yang ada di sampingmu saat ini, besok, dan selamanya.
-◈◈◈-
Shica tidak mendapatkan notifikasi dari siapa pun. Tidak ada Meishy dan Raihan yang biasanya mengirimkan balon percakapan di jam tersebut.
Shica menghela napas berat, dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan menutup kedua matanya.
Baru saja dia akan tertidur, ponsel Shica bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk. Setengah menggerutu, Shica mengambil ponselnya.
Panggilan dari Ridan. Shica membulatkan matanya.
Dia segera mengangkat panggilan tersebut, "Halo, Pa?"
"Shica, sore ini Papa dan mama akan pulang. Ini sedang di perjalanan."
Shica terkejut. Kenapa ayahnya baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari kemarin? Dia belum menyiapkan apa-apa.
"Shica? Kamu tidak senang kami pulang?"
Shica tersentak kaget, "Ah? Senang, senang, aku merindukan Papa dan mama."
"Kalian bertiga tidak nakal, kan?"
Shica menggeleng, seolah Ridan sedang ada di depannya, "Tidak, Pa. Kak Regar dan kak Rama juga baik selama Papa dan mama di luar kota."
"Baguslah, awas saja kalau Papa pulang, mereka berdua tidak ada di rumah."
Shica menepuk dahinya, ya ampun! Sekarang mereka berdua sedang di mana, ya?
"Shica? Kamu mendengar ucapan Papa, kan?"
"Iya, Pa. Mereka ada di rumah, sedang tidur." Shica melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4.
"Sampai jumpa di rumah."
"Iya, Pa."
Setelah panggila berakhir, Shica segera keluar dari kamarnya. Dia mencari pelayan di rumah tersebut.
"Bibi? Bibi?" Shica menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Beberapa orang pelayan menghampirinya.
"Kami, Nona?"
"Bibi, tolong siapkan makan malam untuk hari ini, papa dan mama pulang."
"Baik, Nona."
Mereka segera ke dapur.
Shica mencari para bodyguard ke depan. Dia melihat ada Izal dan Garry.
"Bang, tolong kembalikan semua benda-benda seperti semula ketika papa dan mama pergi ke luar kota. Hari ini mereka kembali," ucap Shica.
"Termasuk motor dan mobil Tuan muda?" Tanya Izal.
Shica tampak berpikir, "Iya juga, ya."
Gadis itu mengambil ponselnya dan menelepon Rama.
"Aku akan bicara pada kedua kakakku, mohon bantuannya," kata Shica.
Izal dan Garry mengangguk hormat kemudian segera bergerak.
"Ada apa Shica?" Tanya Rama, ketika panggilannya terhubung.
"Papa dan mama akan pulang hari ini, kalian di mana? Kembalikan motor dan mobil ke tempat semula, atau papa akan mengamuk," gerutu Shica.
"Mobil kak Regar ada di garasi, aku akan segera pulang untuk menyimpan motor."
"Hati-hati di jalan, Kak. Oh iya, kak Regar juga harus diajak pulang. Kalian harus ada di sini sebelum mereka tiba." Shica menaiki tangga menuju ke kamar Regar yang berantakan.
Gadis itu memutar bola matanya.
"Aku tidak tahu kak Regar dimana."
"Nanti aku akan menghubunginya." Shica membereskan CD dari meja Regar.
"Ya sudah, aku akhiri panggilannya, ya."
"Iya, Kak."
Shica membereskan kamar tersebut. Namun, beberapa pelayan datang dan mengambil alih pekerjaan tersebut.
Shica berlanjut ke kamar Rama yang sudah rapi.
"Aaaahhh, semoga tidak ada yang membuat papa marah," gumam Shica.
Ketika semua orang di rumah itu sibuk, Regar tidak bisa dihubungi oleh Shica.
"Apa fungsinya ponsel mahal, kalau tidak digunakan?" Gerutu Shica.
Dia berdiri di depan rumahnya dan melihat kinerja para bodyguard. Mereka menggembok mobil Regar seperti semula.
Tak lama kemudian, Rama kembali dengan motor sport hitam miliknya. Shica merasa sedikit lega melihat kedatangan Rama.
"Bang Dian, tolong masukkan juga motorku ke dalam," kata Rama sambil memberikan kunci motornya pada Dian.
Rama menghampiri Shica, "Kak Regar belum kembali? Tidak bisa dihubungi?"
"Jual saja ponselnya kalau tidak bisa dihubungi." Shica menggerutu kesal sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Rama terkekeh, "Mungkin dia sedang sibuk."
"Geng lagi?" Tanya Shica sarkas.
Rama mengedikkan bahunya, "Aku mandi dulu, ya."
Shica mengangguk.
-
Jam menunjukkan pukul 6, semua benda sudah kembali ke tempat semula. Tinggal menunggu Regar yang belum kembali.
Shica dan Rama masih berusaha menghubunginya. Mereka terkejut ketika mendengar suara mobil yang masuk ke pelataran rumah Mahali.
Orang tua mereka telah kembali. Shica menghela napas cemas. Sementara Rama berlalu menaiki tangga sambil mencoba menghubungi teman-teman kakaknya.
Shica menuruni tangga untuk menyambut kedatangan Ridan dan Ratna.
Ridan memperhatikan setiap sudut ruangan ketika memasuki rumahnya. Ratna mencari keberadaan putrinya. Yang sedari tadi dilihatnya adalah para pelayan.
Shica berlari kecil menghampiri mereka berdua. Ratna membulatkan matanya melihat Shica.
"Halo, Sayang." Ratna memeluk putrinya dengan erat. Ridan mengusap rambut panjang milik Shica.
"Kami merindukan kalian," kata Ratna sambil mengecup kening Shica.
"Aku dan kakak juga merindukan mama dan papa." Shica menarik tangan kedua orang tuanya untuk masuk ke ruang makan.
"Hari ini bibi-bibiku telah memasak banyak sekali makanan lezat untuk makan malam kita," ujar Shica.
Ratna tersenyum senang.
Rama menuruni tangga dan bergegas ke ruang makan. Dia melihat kedua orang tuanya dan adiknya duduk rapi.
"Rama Sayang." Ratna memanggil putranya. Rama memeluk sang ibu dan memberikan kecupan hangat di kedua pipi wanita itu.
Rama duduk berdampingan dengan Shica yang langsung berbisik menanyakan keberadaan Regar.
Kursi kosong di samping Ridan adalah milik Regar.
"Kemana kakak tertua kalian?" Tanya Ridan.
Shica tampak berpikir.
"Ada, kak Regar sedang mandi, sebentar lagi pasti kemari." Rama yang menjawab.
Mendengar itu Shica mengernyitkan dahinya, dia menoleh pada Rama dan memberikan ekspresi seolah bertanya.
Rama mengedipkan matanya beberapa kali sebagai kode.
Melihat tingkah mencurigakan dari kedua anaknya, Ridan mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Ridan.
Seketika Shica dan Rama menoleh pada Ridan.
"Tidak, Pa." Keduanya menjawab berbarengan.
Tanpa diduga, Regar datang dengan pakaian santai. Dia memasuki ruang makan dengan ekspresi segar.
Shica melongo melihat kedatangan kakaknya yang entah dari mana.
"Ma, Pa." Regar merangkul kedua orang tuanya. Ratna mengecup pipi Regar. Regar melakukan hal yang sama pada ibunya. Lalu dia duduk di samping Ridan.
Shica dan Rama menghela napas lega.
Mereka pun menyantap makan malam dengan tenang.
-
Pagi hari di kediaman Mahali.
Ridan menyuruh para bodyguard-nya membuka garasi untuk mengeluarkan mobil Regar dan motor Rama.
Dia akan mengizinkan anak-anaknya untuk menggunakan alat transportasi mereka lagi.
Ketika para bodyguard membuka rantai dan gembok yang mengunci mobil dan motor putranya, Ridan melihat sesuatu yang janggal.
"Ini motor siapa?" Tanya Ridan pada Garry, ketua bodyguard barunya.
Kebingungan dengan alasan yang harus dilontarkan pada tuan besar Mahali, Garry memilih diam.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia memanggil anaknya, "Regar! Rama!"
Ketiga anaknya keluar dari rumah dengan seragam yang sudah rapi melekat di tubuh mereka.
"Ada yang tahu, ini motor siapa? Kenapa jadi bisa di sini?" Tanya Ridan.
Rama dan Shica menoleh pada Regar.
"Itu motor milik Givar, dia menitipkannya beberapa hari yang lalu," jawab Regar.
"Benarkah?" Tanya Ridan sambil menyipitkan matanya tanda curiga.
"Iya, kalau Papa tidak percaya, Papa bisa menanyakannya langsung." Regar tampak serius.
"Nanti kutanyakan," ujar Ridan sambil memberikan kunci pada Regar dan Rama.
"Jangan macam-macam lagi, atau aku tidak akan memberikan kalian fasilitas lagi selamanya," ancam Ridan kemudian berlalu memasuki mobilnya.
Regar dan Rama tersenyum penuh kemenangan.
"Shica mau ikut siapa?" Tanya Rama. Shica menunjuk Rama.
Regar berpose di mobilnya, "Tidak mau ikut denganku? Di mobil lebih nyaman dan teduh, gadis muda."
Shica dan Rama terkekeh melihat momen konyol Regar yang langka itu.
Mereka bertiga berangkat le sekolah.
Para siswi yang awalnya tidak suka pada Shica, tiba-tiba jadi mendekatinya. Mereka yang awalnya mengucapkan kata-kata buruk padanya, menjadi memberikan kalimat baik.
"Waahh... mereka bertiga manis sekali."
"Aku senang melihat sisi lembut kedua laki-laki tampan itu."
"Aku suka melihatnya."
Shica mendecih, kemarin mengataiku gadis murahan dan tidak punya malu. Dasar gadis-gadis bermuka dua!
Bukan tanpa alasan, mereka melakukan itu, mereka juga ingin dekat juga dengan Regar dan Rama melalui Shica.
Namun, Shica tidak menghiraukan mereka. Dia memperlihatkan kharisma seorang gadis dari keluarga Mahali yang membuat beberapa orang segan padanya.
Shica bersikap seperti itu hanya pada mereka yang sudah membuat dirinya kesal saja, tidak pada temannya yang baik.
Shica memasuki kelasnya, dia melihat Meishy sedang menulis di bukunya yang tebal seperti biasa. Itu artinya Meishy sedang menulis cerita.
Shica tidak ingin mengganggunya.
Entahlah, sejak Regar mengumumkan kalau Shica adalah adiknya Regar, Meishy jadi jarang berkomunikasi dengannya.
Di saat melamun seperti itu, Raihan menghampirinya.
"Kenapa melamun?" Tanya Raihan. Shica menggeleng, "Tidak."
Raihan menoleh sesaat pada Meishy kemudian kembali memusatkan pandangannya pada Shica, "Kalian bertengkar?"
Shica mengedikkan bahunya, "Entahlah, aku merasa dia menghindariku karena mengetahui kalau aku ini adiknya kak Regar."
Raihan tersenyum, "Setelah aku mengetahui kalau kamu putri dari keluarga Mahali, sepertinya aku juga harus berpikir dua kali untuk mendekatimu."
"Kamu jangan seperti itu juga, temanku hanya kamu dan Meishy. Kalau kalian berdua menjauhiku, aku tidak punya teman lagi." Nada bicara Shica terdengar menyedihkan.
Raihan menatap Shica dengan penuh makna, kenapa kau begitu berbeda dengan Regar dan Rama? Apa kau benar-benar polos, atau berpura-pura polos?
Ketika Shica mendongkak menatapnya, Raihan segera mengubah ekspresinya menjadi cerah. Jika tidak begitu, Shica tidak mau lagi bicara dengannya seperti waktu itu.
"Jangan menjauh hanya karena aku memiliki nama belakang Mahali." Shica menatap Raihan penuh arti.
Sejenak keduanya saling menatap.
Shica yang lebih dulu mengalihkan pandangannya memutuskan kontak mata.
"Memangnya apa yang membuat orang-orang tidak menyukai keluarga Mahali?" Tanya Shica.
Raihan membatin, yeah, keluarga Mahali terlalu angkuh dan suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.
Memangnya dunia ini milik keluarga Mahali?
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Shica menyikut perut Raihan.
"Kenapa malah melamun?"
Raihan menoleh pada Shica, "Bagiku, aku merasa kurang nyaman saja bersama seseorang yang berasal dari keluarga berpengaruh seperti keluarga Mahali. Semua orang tahu reputasi keluargamu."
Termasuk menutupi kejahatan dan membungkam publik dengan uang serta kedudukan mereka, *******! Batin Raihan.
"Kalau begitu, jangan menganggapku keluarga Mahali, anggap saja aku ini temanmu." Shica mengguncangkan lengan kekar milik Raihan.
Laki-laki itu melihat tangan Shica yang menyentuhnya. Dia tersenyum.
"Iya, Shica."
-
Rama sedang rapat PMR bersama anggotanya.
"Hari senin mendatang akan ada upacara kemerdekaan, kita harus mempersiapkan diri untuk membantu siswa-siswi yang pingsan saat upacara berlangsung. Obat-obatan dan tempat harus sudah tersedia hari ini. Aku akan memastikan semuanya siap digunakan besok."
Sementara Regar sedang mengadakan pengayaan simulasi untuk ujian. Meskipun masih semester 1, SMA Hardiswara sangat memperhatikan kelas 12 sejak semester satu untuk mengantisipasi nilai yang akan mereka peroleh nantinya.
Lalu... Shica pulang dengan siapa?
Ketika di tempat parkir, Shica duduk menunggu kakak-kakaknya. Namun, tidak ada kabar dari keduanya. Tidak ada notifikasi sama sekali. Mereka berdua tidak bisa dihubungi.
Shica melihat Meishy menghampirinya. Dia sangat senang melihat temannya itu melambaikan tangannya.
Meishy duduk di samping Shica.
"Aku pikir, kamu marah padaku," ucap Shica sambil cemberut.
Meishy tampak sedih, "Maaf, aku telah bersikap seperti ini. Aku terlalu takut untuk dekat denganmu. Padahal... tidak seharusnya aku bersikap seperti ini."
Shica memeluk Meishy, "Aku pikir, aku akan kehilangan satu-satunya temanku."
Meishy membalas pelukan Shica, "Satu-satunya? Lalu Raihan apa?"
Hening.
Meishy tertawa, "Oh iya, aku lupa... dia pacarmu."
Shica tertawa sambil mencubit kedua pipi Meishy, "Aku bukan pacarnya."
Meishy terkekeh, "Raihan yang telah menyuruhku untuk merenung memikirkanmu. Dia yang membuatku sadar, kalau menjauhimu itu adalah pilihan yang salah."
Shica terkejut, dia tidak mengira Raihan akan melakukan itu untuknya. Raihan telah mengembalikan Meishy padanya.
Shica membatin, Meskipun kamu aneh, kamu punya hati yang baik, Raihan... tidak salah aku me....
"Kau pulang sendirian? Di mana kakak-kakakmu?" Tanya Meishy sambil melihat ke sekelilingnya sambil membenarkan kaca matanya.
"Mungkin mereka sibuk, aku akan menunggu mereka di sini."
"Bagaimana kalau mereka lama?" Gerutu Meishy.
Rangga menghentikan mobilnya di depan kedua gadis itu. Shica dan Meishy menoleh padanya.
"Meishy, ayo aku antar pulang," kata Rangga.
"Shica ajak juga, yaa." Meishy mengangguk-anggukkan kepalanya pada Rangga.
Rangga tampak berpikir.
Shica segera mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak, aku akan pulang bersama kakakku saja."
"Aku akan menghubungi Raihan," kata Rangga sambil melihat pada motor Raihan yang masih terparkir di sana.
"Jangan, Ga... jangan merepotkannya," larang Shica.
"Sama pacar 'kok merepotkan," gerutu Rangga sambil mengambil ponselnya.
Kedua pipi Shica jadi memerah, apalagi setelah Meishy menggodanya dengan mengguncangkan lengannya.
Tak lama kemudian, notifikasi muncul di ponsel Shica. Gadis itu segera membukanya, ternyata dari Raihan.
Aku akan mengantarmu pulang, tunggu sebentar, yaaa. 😏😊
Kedua mata Shica membulat.
Raihan, bukan aku yang menyuruh Rangga menghubungimu. 😅
Tidak apa-apa, aku senang jika harus mengantarmu pulang. 😉
Shica terkekeh pelan membuat Rangga dan Meishy tertawa.
Maaf merepotkanmu. 😅
Tidak, tidak, kau belum merepotkanku... aku belum mengantarmu, kan? 😂
Shica tertawa, "Terima kasih, Rangga, Meishy, kalian boleh meninggalkanku... jangan mengabaikan kencan kalian."
Meishy langsung blushing.
"Iya."
-◈◈◈-
19 April 2016
Ucu Irna Marhamah