La Hora

La Hora
LH - 25 - Boyfriend



 


 


 


 


-◈ Floryn ◈-


 


 


Tak menunggu waktu lama, berita hubunganku dengan kak Rama sudah menyebar di SMA Hardiswara.


 


 


Sialnya, kenapa kak Rama harus menciumku waktu itu.


 


 


Itu first kiss bagiku. Belum lagi, dia menciumku di depan anggota PKS dan beberapa siswa yang kesiangan.


 


 


Mereka akan berpikir, kalau aku sudah pernah melakukan hubungan intim sebelum pacaran dengannya.


 


 


Nama baikku pasti tercoreng di SMA. Apalagi aku ini wakil ketua PKS di sekolah.


 


 


Ah, mati saja aku.


 


 


Awalnya aku memang menyukai kak Rama. Selain tampan, dia memiliki sifat yang baik. Dia ketua PMR dan sering membantu siswa-siswi yang pingsan, termasuk aku.


 


 


Kak Rama juga seorang kapten basket. Dia sangat aktif dalam kegiatan di sekolah. Banyak sekali gadis yang mengidolakan dia, termasuk aku.


 


 


Aku sering pingsan ketika upacara, itu tidak disengaja. Aku memang tidak terbiasa dengan sarapan.


 


 


Kalau aku sarapan dulu sebelum berangkat sekolah, rasanya perutku akan sakit.


 


 


Ini kebiasaan yang tidak boleh ditiru, yaaa.


 


 


Aku sering pingsan dan kak Rama sering menolongku. Aku senang sekali, karena seseorang yang aku sukai ternyata menolongku.


 


 


Mungkin kak Rama mengira aku sengaja tidak sarapa dan pingsan ketika upacara agar bertemu dengannya.


 


 


Tidak, tapi... anggap saja itu keuntungan, hehe.


 


 


Rasa cinta yang awalnya muncul ini berubah jadi rasa kesal, marah, benci, dan jijik, ketika mengetahui kalau dia adalah anggota geng.


 


 


Bukan hanya itu, terdengar kabar juga, kalau kak Rama sering... emm, bermain perempuan.


 


 


Aku tidak bisa membayangkan, ada berapa banyak perempuan yang pernah tidur dengannya.


 


 


Jadi, aku memutuskan untuk tidak menyukainya lagi, namun sialnya dia malah menciumku di depan siswa lain saat dirinya datang kesiangan ke sekolah.


 


 


Guru BK juga memarahi kami, lengkap sudah kesialan ini.


 


 


Ketika dihukum menghormat bendera, aku malah pingsan lagi. Kenapa harus pingsan di saat seperti ini?


 


 


Dan yang kutahu dari Shica, kak Rama yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit.


 


 


Setelah cukup kuat, aku diantar pulang oleh kak Rama dan Shica.


 


 


Sore harinya, kak Rama menghubungiku untuk datang ke sirkuit dan melihat dia balapan.


 


 


Namun, ketua bertemu dengannya, seseorang membekap mulutku dari belakang menggunakan sapu tangan.


 


 


Ada aroma yang yang menyeruak ke hidungku dari sapu tangan tersebut. Aku merasa otot tubuhku lemas dan entah apa yang terjadi.


 


 


Semuanya gelap.


 


 


Ketika aku sadar, tubuhku dalam keadaan terikat dan terbaring di sofa yang berukuran cukup besar.


 


 


Ini pasti perbuaan kak Rama!


 


 


Laki-laki itu berdiri di depan pintu lalu mendekatiku dan memaksaku untuk menjadi pacarnya.


 


 


Dia mengancamku dengan ciumannya, agar aku mau menerimanya.


 


 


Seharusnya aku senang, bukan? Tapi, tidak!


 


 


Dia laki-laki menjijikan. Bisa-bisa keperawananku hilang, kalau berpacaran dengan dia!


 


 


Tapi, ancamannya mengerikan, dia tidak akan membiarkanku keluar dari ruangan ini, kalau aku tidak menerimanya.


 


 


Dia akan mengeluarkanku, tapi dalam keadaan sudah tidak perawan.


 


 


Dia gila! Aku takut! Apalagi tubuhku dalam keadaan lemah seperti ini.


 


 


Dia anggota PMR yang pastinya mengetahui jenis obat apa pun dan salah satunya yang membuatku seperti ini.


 


 


"Iya! Aku mau!" Teriakku.


 


 


Ekspresi senang terpancar di wajah kak Rama. Dia mendekatkan wajahnya lagi dan mengecup bibirku entah sudah berapa kali.


 


 


Aku menahan dadanya dengan kedua tanganku yang lemas. Kenapa dia masih melakukan ini, padahal aku sudah menerima cintanya!


 


 


Pembohong!


 


 


Aku berteriak meminta tolong, berharap siapa pun akan menolongku.


 


 


"Tidak akan ada yang menolong kamu. Ini wilayahku. Simpan saja suaramu untuk desahan nanti."


 


 


Kak Rama merobek kaos yang aku pakai, membuatku semakin ketakutan.


 


 


"Kak Rama, jangan begini." Aku memelas padanya.


 


 


Namun, dia tidak menghiraukan. Dia tetap merobek kaosku. Aku berusaha mempertahankan pakaianku.


 


 


"Kamu tidak bertenaga sampai besok pagi."


 


 


Aku terkejut mendengar ucapannya. Seketika aku menangis ketakutan.


 


 


Bagaimana jika kak Rama benar-benar melakukannya?


 


 


Orang tuaku bisa-bisa kecewa padaku!


 


 


Kini kaosku sudah lolos. Aku yakin dia bisa melihat perut dan dadaku sekarang.


 


 


"Kak Rama, aku sudah menerimamu... kenapa kamu mengingkari janjimu," tangisku.


 


 


Kak Rama menyeringai seram, "Aku tidak berjanji. Sekarang aku sudah terlanjur on. Kita lanjutkan saja, ya."


 


 


Aku menggeleng ketika kak Rama mencium leherku. Aku menangis dan berupaya memukul bahunya.


 


 


"Kak Rama... aku membencimu!" Tangisku.


 


 


"Aku mencintaimu," desah kak Rama di sela ciumannya.


 


 


"Kak Rama! Jangan!" Aku berteriak saat dia melepaskan jeans yang aku kenakan.


 


 


Jika aku sampai bertelanjang di depannya, ini memalukan.


 


 


"Ternyata kamu lebih cantik jika seperti ini," ucap kak Rama sambil menatapku dengan rasa lapar.


 


 


Aku benar-benar sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di depannya. Laki-laki itu melebarkan pahaku, membuat diriku benar-benar semakin merasa malu.


Dia memposisikan tubuhnya di antara kedua pahaku.


 


 


Aku merasa sangat terhina dengan pelecehannya. Mukaku terasa panas. Untuk pertama kalinya ada laki-laki yang melihatku tidak memakai baju.


 


 


Dan di posisi ini... aku tidak tahan ingin kau membunuhnya jika bisa!


 


 


Aku menggeleng saat melihat kak Rama akan melepaskan kaosnya. Tubuhnya terlihat begitu kekar dan ada lekukan-lekukan berbentuk kotak di perutnya.


 


 


Aku malu melihat dia seperti itu.


 


 


Apa dia tidak punya malu?


 


 


Tidak, karena dia sering mempertontonkan tubuhnya di hadapan para perempuan yang menghabiskan malam dengannya.


 


 


Kak Rama mengusap perutku dengan lembut. Ada desiran aneh yang membuatku merasa melayang.


 


 


"Kulit kamu putih mulus, aku menyukainya. Keringatmu juga aromanya membuatku ingin menjilatmu." Kak Rama benar-benar menjilat perutku.


 


 


Aku menahan kepalanya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


 


 


Mungkin baginya, membuat gadis jatuh adalah hal yang mudah. Rama bisa membuat mereka menunduk dan menikmati perbuatan hinanya.


 


 


Tangannya semakin turun, dan akal sehatku kembali muncul. Aku tidak ingin jatuh padanya. Aku tidak boleh menjadi wanita murahan dan jadi barang bekas.


 


 


Aku memohon dan berteriak, agar dia tidak melanjutkannya. Tangisanku dan teriakanku tidak diperdulikan olehnya.


 


 


"Kenapa menolak rasanya? Terima dan nikmati." Kak Rama mendesah menjijikan.


 


 


Ketika dia melihat ke bawah, dia tampak terkejut. Aku merapatkan pahaku.


 


 


Yang benar saja! Dia melihatnya!


 


 


Aaarrggghhh! Aku pukul saja wajahnya!


 


 


Kenapa obat sialan ini membuatku tidak bisa apa-apa?!


 


 


"Kamu benar-benar masih perawan?" Tanyanya dengan ekspresi bodoh.


 


 


Tidak kujawab, seharusnya dia tahu lewat penolakanku.


 


 


Kak Rama mengambil jaketnya dan menutupi tubuhku, "Aku pikir, kamu sudah...."


 


 


Aku menendang dadanya, "Sialan! Tadi kau mengancamku! Dan seharusnya kau tahu, aku bukan gadis yang seperti itu!"


 


 


Kak Rama menangkap kakiku, "Kalau kamu masih perawan, simpan saja untuk pernikahan kita nanti."


 


 


Apa?


 


 


Menikah dengannya?


 


 


Tidak mau!


 


 


Aku dirugikan jika menikah dengan dia!


 


 


"Yang penting jadi pacarku, jangan dekat-dekat dengan siapa pun, atau aku akan mengambilnya dengan paksa."


 


 


"Kenapa kau begitu memaksa?!" Aku menggerutu kesal padanya.


 


 


"Bukankah dulu kamu juga memaksaku untuk jadi pacarmu?" Kak Rama mengambil kaosnya dan memakainya kembali.


 


 


"Itu dulu!"


 


 


Kak Rama mendekat dan menarik lagi jaketnya yang menutupi tubuhku, "Menolak jadi pacarku? Aku akan melanjutkan yang tadi. Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis yang lemah karena obat itu?"


 


 


Aku terdiam, tidak bisa mengatakan apa pun.


 


 


 


 


Aku menatap punggung kak Rama yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu.


 


 


Sekilas memori itu muncul ketika aku sedang membaca buku Sejarah.


 


 


Tatapan kebencian dari teman-teman sekelasku membuatku risih. Mereka yang mengidolakan kak Rama pasti membenciku.


 


 


Aku tahu.


 


 


Biarkan saja.


 


 


Sepulang sekolah, kak Rama menungguku. Dia memang sudah menyuruhku pulang bersamanya ketika dia menjemputku ke rumah pagi ini.


 


 


Aku naik ke motornya.


 


 


"Di mana Shica?" Tanyaku ketika motornya melaju meninggalkan area sekolah.


 


 


"Bersama pacarnya," jawab kak Rama.


 


 


Hening.


 


 


Aku masih kesal padanya. Jadi, aku tidak mau banyak bicara.


 


 


"Maafkan aku, Floryn." Kak Rama tiba-tiba mengatakan itu.


 


 


Aku tidak berniat menjawabnya. Memangnya aku akan memaafkan dia dengan semudah itu?


 


 


Aku hampir mati ketakutan kemarin!


 


 


"Floryn?" Tegur kak Rama.


 


 


"Apa?" Aku menanggapi dengan ketus.


 


 


"Aku minta maaf, aku pikir... gadis pembalap sepertimu... bermain-main dengan pembalap pria, jadi...."


 


 


Jadi, dia mengira aku ini perempuan yang... ah, sial.


 


 


Bukankah kemarin dia mengancam akan mengambil keperawananku, jika aku tidak menerimanya!


 


 


Dia itu... ah, ingin kubunuh saja sekarang!


 


 


"Floryn?"


 


 


"Apa?"


 


 


"Apa kamu mau memaafkanku?" Tanyanya lagi.


 


 


"Kemarin aku memaafkanmu dan kau malah membuatku hampir gila dengan apa yang kamu lakukan." Aku menjawab dengan nada menggerutu.


 


 


Rama tertawa, "Aku sudah lama tidak tidur dengan gadis cantik, jadi jiwa kelelakianku muncul lagi ketika melihatmu."


 


 


Tanpa rasa malu, dia mengatakan itu?


 


 


Apakah ini benar-benar dengan putra dari keluarga Mahali yang terhormat?


 


 


Gila.


 


 


"Mulai sekarang jangan panggil aku Kakak," kata kak Rama.


 


 


"Kenapa?" Tanyaku.


 


 


"Aku bukan kakakmu!" Jawab kak Rama ketus.


 


 


Iya, kau memang bukan kakakku, dan aku juga tidak mau punya kakak semacam dirimu.


 


 


Tuhan, berikan kesabaran untuk Shica yang ditakdirkan memiliki kakak seperti ini.


 


 


"Panggil saja Rama, aku 'kan pacarmu sekarang."


 


 


Pacar.


 


 


Yeah, aku tahu.


 


 


"Jangan balapan lagi," kata kak Rama.


 


 


Memangnya kenapa? Aku hanya balapan, tidak 'bermain-main' di tempat tidur seperti dirinya.


 


 


Ingin sekali aku mengatakan itu.


 


 


"Kenapa?" Aku memilih meringkas pertanyaanku.


 


 


"Sirkuit sangat berbahaya untuk perempuan. Itu bukan tempat untuk perempuan," kata kak Rama.


 


 


Apa dia mengkhawatirkanku?


 


 


"Tempat tidur lebih berbahaya," kataku pelan. Namun, aku yakin... dia pasti masih bisa mendengarku.


 


 


Benar saja, kudengar kak Rama mendecih.


 


 


"Tempat tidur tidak berbahaya."


 


 


Terserah.


 


 


"Kalau begitu, berhenti bermain perempuan," kataku datar.


 


 


"Kenapa? Cemburu?"


 


 


"Aku akan berhenti menguasai balapan, kamu juga harus berhenti bermain perempuan, Rama." Untuk pertama kalinya aku memanggil nama Rama.


 


 


"Jika aku tidak mendapatkan kepuasan dari perempuan, aku harus bagaimana? Apa kamu yang akan membuatku puas? Baru dibuka baju saja kamu sudah menangis dan menjerit seperti akan mati saat itu juga," kata Rama.


 


 


"Berhenti bermain perempuan, atau berhenti menjadi anggota geng?" Ancamku tak mau mengalah. Dia juga tukang mengancam.


 


 


Rama tersenyum, aku bisa melihatnya lewat spion yang mengarah pada wajahnya.


 


 


"Aku dengar, anak IPS memang sangat pandai berbicara. Mereka adalah calon pengacara yang sulit didebat, meski guru sekalipun yang mendebat mereka."


 


 


Aku tidak berniat merespon.


 


 


"Apakah semua anak IPS seperti itu?" Tanya Rama.


 


 


"Anak IPS lebih dari itu. Mereka tidak hanya belajar teori, mereka juga mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan sosial, interaksi sosial. Itulah sebabnya, kenapa organisasi sekola banyak dikuasai oleh anak IPS." Aku mengatakan itu, karena memang itu kenyataannya.


 


 


"Kamu rasis juga, ya?"


 


 


"Aku tidak rasis, pada dasarnya, mau IPA ataupun IPS, sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Sudah itu saja, tidak perlu dibandingkan."


 


 


Rama mengusap rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan, "Aku sedang membahas hubungan kita, kenapa membahas hal lain?"


 


 


"Aku hanya ingin kamu menjadi laki-laki yang baik, seperti dalam perkiraanku sebelumnya." Aku menegaskan keinginanku.


 


 


"Aku memang seperti ini, Floryn. Jika aku berubah karenamu, itu artinya aku tidak punya pendirian. Aku seorang anggota geng yang punya prinsip."


 


 


Apa lagi yang bisa kukatakan?


 


 


"Tapi, aku menghargaimu sebagai pacarku, jadi aku tidak akan mendekati perempuan lain."


 


 


Deg


 


 


Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Apa dia memang serius?


 


 


Perasaan apa ini? Apa aku mulai mencintainya lagi?


 


 


-


 


 


Hari berlalu dengan cepat mengikuti detik jarum jam. Aku dan Rama semakin dekat, dia menunjukkan perubahan yang bagus.


 


 


Tidak bermain perempuan lagi, karena alasannya sudah memiliki pacar, yaitu aku.


 


 


Aku juga sudah tidak balapan lagi. Rama masih balapan dan menjadi anggota geng.


 


 


Aku tidak mempermasalahkan itu, daripada dia harus bermain perempuan, kan?


 


 


Hubunganku dengan Shica juga baik. Dia gadis yang sangat baik dan ingin berteman dengan siapa saja. Dia juga tidak ragu untuk memarahi kakaknya, kalau kakaknya itu membuatku sedih.


 


 


Semenjak berpacaran dengan Rama, aku jadi dekat dengan keluarga Mahali.


 


 


Mereka tidak seburuk yang diceritakan orang-orang. Ayahnya Rama baik dan peduli, meskipun terlihat dingin dan terkesan jutek. Ibunya Rama yang cantik dan ramah juga membuat siapa pun nyaman berada di dekatnya.


 


 


Banyak orang yang memberikan penilaian miring tentang keluarga Mahali.


 


 


Saat ini, aku sedang bersama Rama di sebuah cafe. Sembari menunggu pesanan, kami berbincang ringan.


 


 


"Kita menuju akhir semester. Sebentar lagi akan ada banyak UAS, kegiatan di organisasi juga akan semakin berkurang. Tapi, jangan sampai hubungan kita bermasalah, atau putus kontak."


 


 


Aku hanya mengangguk.


 


 


Yeah, titik tersibuk ada di bulan ini.


 


 


Setelah kembali dari cafe, Rama mengantarku pulang ke rumah. Dia menghentikan motornya di depan.


 


 


"Terima kasih sudah menghabiskan waktu bersamaku hari ini," ucapnya.


 


 


Aku mengangguk, kemudian berlalu, namun dia menarik tanganku. Aku berhenti dan menoleh padanya.


 


 


Rama mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku dengan lembut.


 


 


Entah kenapa, aku malah membalas ciumannya. Hanya terjadi beberapa saat. Aku melepaskan tautan bibir kami.


 


 


"Apa orang tuamu ada?" Tanya Rama sambil menoleh ke rumahku.


 


 


Perasaanku tidak enak, untuk apa dia menanyakan itu?


 


 


"Mereka di luar kota," jawabku.


 


 


Rama kembali mengecup bibirku sekilas, "Sampai jumpa besok, hati-hati di rumah."


 


 


Aku tersenyum, "Seharusnya aku yang bilang hati-hati."


 


 


Rama mengangguk dan melajukan motornya meninggalkan rumahku.


 


 


-◈◈◈-


 


 


2 September 2016


Ucu Irna Marhamah