
-◈◈◈-
Pandangan Regar tertuju pada tas berwarna merah muda yang dibawa oleh Shica.
"Itu apa?"
Shica menelan saliva. Dia tidak bisa berbohong, apalagi pada Regar. Dia tertunduk dalam.
Regar mengambil tas tersebut dan melihat isinya. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya melihat jaket laki-laki yang dibawa Shica.
Pandangan Bella tertuju pada Shica dan Regar.
"Jaket laki-laki? Ini milik siapa?" Tanya Regar curiga.
Rama menoleh pada Shica lalu menoleh pada Regar yang juga sedang melihat kedua adiknya secara bergantian.
"Itu milikku, Kak. Karena kekecilan, aku mau memberikannya pada temanku." Rama mengambil jaket tersebut dari Regar dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Milikmu? Ini jaket murah, tidak sampai sembilan ratus, mana mungkin kau membelinya, aku tahu seleramu, Rama. Kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Regar terlihat akan marah.
"Tidak, ini jaketku, makanya aku mau memberikannya pada temanku." Rama masih mencoba memberikan alasan.
Regar tampak berpikir kemudian mengangguk, "Ya sudah, jangan pulang terlalu malam."
Rama mengangguk kemudian berlalu menarik tangan Shica agar segera keluar.
"Tunggu." Regar kembali bersuara.
Langkah keduanya terhenti. Mereka menoleh pada Regar.
"Apa itu di bibirmu, Rama?" Tanya Regar.
Rama menyentuh bibirnya. Ada lipstik di sana. Bella tertawa melihat kekonyolan Rama.
Shica menepuk dahinya sendiri. Dia mengambil tisu dan mengelap bibir Rama yang segera merebut tisu itu darinya.
"Kami pergi, bye-bye!" Shica menarik tangan kakaknya yang masih sibuk membersihkan lipstik dari bibirnya.
Rama dan Shica memasuki mobil. Mereka berdua menghela napas panjang bersamaan.
"Aku hampir mati berdiri melihat ekspresi wajah kak Regar seperti akan memenggal kepala orang." Rama menyentuh dadanya dan merasakan detakan jantung dari sana.
Shica memeluk Rama, "Aaaahh, aku menyayangimu, Kakak!"
Rama terkejut dengan tingkah adiknya. Namun, dia membalas pelukan Shica sambil terkekeh kecil.
"Kalau tidak ada Kakak, aku bisa apa? Aaahhh, kau penyelamatku!" Ucap Shica.
"Iya, iya, aku tahu." Rama menepuk-nepuk pipi Shica.
"Bang Izal, tolong antar kita," panggil Rama.
Sementara itu,
Bella menatap Regar, "Kamu begitu lembut pada adik-adikmu. Aku tidak menyangka, kamu punya sisi baik."
"Tidak, aku tidak punya sisi baik sama sekali." Regar menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu kasar kalau sedang bersamaku?" Tanya Bella.
"Aku tidak kasar padamu," sahut Regar.
"Tidak sadar," gerutu Bella.
"Aku pernah lebih kasar pada perempuan lain," ucap Regar.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Bella penasaran.
"Aku merenggutnya dan membiarkan teman-temanku menggilirnya," jawab Regar tanpa ekspresi merasa bersalah sedikit pun.
Bella sedikit terkejut, dia benar-benar pria ********.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Bella.
"Dia seseorang dari geng musuh. Aku tidak suka," jawab Regar.
"Kenapa memperkosanya kalau kau tidak suka?" Tanya Bella dengan eskpresi cemburu.
"Aku tidak suka dengan orangnya, bukan dengan tubuhnya."
Di tempat lain,
Izal melambatkan mobilnya ketika melewati rumah sederhana bercat kuning pucat itu.
"Ini rumah Raihan?" tanya Rama.
Shica yakin, dia tidak salah alamat. Dia melihat motor Raihan yang terparkir di depan rumah itu.
Izal menepikan mobil beberapa meter dari rumah Raihan.
"Memangnya kenapa? Kakak mau bilang lagi, kalau aku tidak pantas berteman dengan dia?"
Ketika Rama akan menjawab, pintu rumah itu terbuka. Ada seorang anak kecil perempuan yang usianya sekitar 6 tahunan. Dia keluar dari rumah itu sambil membawa bola kecil di tangannya.
"Itu siapa?" Tanya Rama.
"Bukankah harus keluar dulu untuk memastikan?" Shica menjawab pertanyaan Rama dengan pertanyaan juga.
"Tunggu di sini," kata Shica kemudian keluar dari mobilnya dan menghampiri anak perempuan itu.
Rama memperhatikannya.
"Halo," sapa Shica.
Gadis kecil itu mendongkak menatap Shica dengan ekspresi takut.
Shica kembali bersuara, "Kamu adiknya Raihan, ya? Kakak temannya Raihan, kamu tidak perlu takut."
Gadis kecil itu melihat tangan Shica yang terulur. Dengan sedikit ragu, dia menerima uluran tangan Shica.
"Namaku Shica, nama kamu siapa?" Tanya Shica.
"Lala," jawab gadis kecil itu.
"Lala, nama yang manis. Kak Raihan ada di rumah?" Tanya Shica.
Lala menggeleng.
Shica mengernyit, padahal ada motor Raihan di depan rumah tersebut.
"Ibu Lala ada, nanti ibu Lala akan mencari kak Raihan," kata Lala.
"Oh begitu, ya? Apa boleh Kakak menemui mamanya Lala?" Tanya Shica.
Lala mengangguk sambil menarik tangan Shica agar ikut masuk ke dalam.
Rama mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Di dalam rumah,
Shica yang duduk di sofa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada satu pun foto Raihan di ruangan itu. Bukan hanya foto Raihan, tidak ada foto sama sekali.
Seorang wanita memasuki ruangan tersebut. Otomatis Shica berdiri.
"Tidak perlu berdiri, Nona." Wanita itu duduk berhadapan dengan Shica.
"Emm, maaf menganggu Kakak," kata Shica.
"Oh, tidak apa-apa." Wanita itu tersenyum hangat.
"Saya temannya Raihan, Raihan ada di rumah?" Tanya Shica.
Wanita itu tampak berpikir cukup lama, "Tidak ada, jika ada sesuatu yang penting, katakan saja pada saya. Nanti saya akan menyampaikannya."
"Oh begitu, ya. Ini saya membawakan jaket milik Raihan." Shica memberikan tas belanjaan berwarna merah muda itu.
Wanita itu menerimanya.
"Ya sudah, saya harus kembali, terima kasih." Shica mengangguk hormat kemudian berlalu.
Di perjalanan pulang, Shica tampak melamun.
Menyadari perbedaan suasana hati pada Shica, Rama bertanya, "Raihan sedang tidak ada di rumahnya?"
Shica mengangguk, "Entah kenapa... aku merasa kalau itu bukan rumah Raihan."
Rama mengernyit.
"Raihan itu seperti seseorang yang misterius. Dia seperti sedang berbohong." Shica membayangkan wajah Raihan.
"Ya sudah, kalau merasa seperti itu, jauhi saja."
-
Raihan memasuki rumahnya. Dia melihat ada tas belanja berwarna merah muda di sofa. Diambilnya benda tersebut. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah jaket miliknya.
Aroma feminim langsung menguak hidungnya. Raihan tersenyum mengingat aroma tersebut berasal dari parfume milik Shica.
"Dia kemari?" Gumam Raihan.
Wanita yang tadi berbicara dengan Shica menghampiri Raihan, "Nona Mahali datang kemari dan memberikan itu."
Raihan mengangguk, "Sebenarnya dia sudah memberitahuku akan datang, tapi sayang sekali aku tidak sedang berada di rumah."
-
Pagi hari yang cerah di SMA Hardiswara.
Shica belum melihat Raihan pagi ini. Beberapa kali gadis itu melihat jam tangannya.
Apa mungkin dia kesiangan? Atau sakit?
Meishy menghampiri Shica, "Halo, kamu terlihat cemas, menunggu Raihan, ya?"
Shica mengangguk, "Aku takut dia kesiangan."
"Sudah dihubungi?" Tanya Meishy.
Shica mengangguk.
Guru di jam pertama memasuki kelas. Semua murid segera duduk rapi.
Raihan belum juga tiba.
Lima belas menit kemudian, barulah Raihan datang. Dia mengetuk pintu.
"Kenapa terlambat, Raihan?" Tanya pak guru.
Raihan mengubah ekspresi wajah menirukan orang bijak, dia menjawab, "Maaf, Pak... tapi menuntut ilmu itu mengenal kata terlambat."
Semua murid di kelas menahan tawa, tak terkecuali Shica yang tidak tahan melihat tingkah konyol Raihan.
Raihan tersenyum penuh kemenangan. Dia duduk di belakang Shica seperti biasanya.
-
Jam istirahat, Rangga datang ke kelas IPA-B dia mengajak Meishy ke laboratorium fisika.
Shica dan Raihan memilih pergi ke kantin. Mereka berjalan bersebelahan.
Ketika melewati beberapa gerombolan siswi, mereka berbisik-bisik.
"Lihatlah gadis itu, kalian ingat 'kan kak Regar Mahali pernah mendekatinya? Sekarang dia mendekati Raihan."
"Iya, dia benar-benar tidak punya malu."
"Memangnya dia cantik, hah!"
"Aku tidak suka padanya."
Mendengar ucapan mereka, Shica kesal sekaligus sakit hati. Namun, dia memendamnya. Shica mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mungkin beberapa dari mereka tidak ada yang tahu, kalau Shica adalah adiknya Regar dan Rama.
Raihan menoleh pada Shica, "Mereka hanya iri. Jangan didengarkan. Aku senang bersamamu."
Shica menatap Raihan kemudian tersenyum. Dan tanpa diduga, laki-laki itu menggenggam tangan Shica. Membuat gadis itu gugup.
Kedua pipinya memerah.
-
Regar sedang mengotak-atik ponselnya. Faried yang merupakan salah seorang temannya itu mendekat dan berbisik.
"Bos, ada berita baru."
"Berita apa?" Tanya Regar datar.
"Adikmu sedang dekat dengan seorang kapten basket." Faried tersenyum dan ingin melihat ekspresi seperti apa yang akan ditunjukkan bosnya itu.
Regar terbelalak dan menarik dasi Faried dengan kasar, "Kenapa baru bilang sekarang?"
Faried sedikit terkejut dengan sikap kasar bosnya yang tiba-tiba, "Aku juga baru tahu tadi."
Kenapa aku sampai tidak mengetahuinya? Apa karena aku terlalu sibuk dengan Bella?
Kenapa Rama sampai tidak tahu juga? Biasanya dia akan cepat menyadarinya.
Regar jadi teringat dengan jaket berwarna hijau gelap itu, jaket itu... jangan-jangan....
Regar bangkit dari tempat duduknya dan berlalu keluar meninggalkan Faried.
-
Rama bersama anggota PMR lainnya sedang berada di ruangan PMR. Mereka sedang berbicara santai.
Kedatangan Regar yang tiba-tiba membuat Rama dan teman-temannya sedikit terkejut.
"Rama, kita perlu bicara."
Rama dan Regar bersandar di luar. Kedua tangan mereka dimasukkan ke dalam saku celana.
"Aku tahu, kau menyayangi Shica, tapi dengan mendukungnya berbohong padaku, itu akan membuatnya dalam masalah." Regar mengucapkan kalimat panjang itu dengan datar.
"Maaf, tapi aku tidak tega melihat adikku yang sedang bahagia karena menemukan cinta pertamanya," kata Rama pelan.
Regar memijat pelipisnya sambil mendengus, "Apa kau tahu, siap laki-laki itu?"
Rama tampak berpikir, "Aku rasa, aku pernah bertemu dengannya. Tapi, aku lupa itu kapan."
Regar mendekatkan wajahnya ke telinga Rama. Regar membisikkan sesuatu yang membuat Rama membulatkan matanya.
"Aku akan menjalankan sebuah rencana sebelum laki-laki itu membuat Shica jatuh cinta padanya." Regar menatap lurus dengan penuh keyakinan.
Rama mengangguk.
-
"Kemarin aku ke rumah kamu, tapi kamu tidak ada di rumah." Shica tampak kecewa.
Raihan tertawa, "Aku juga menyesal malah pergi keluar dan tidak membawa ponsel. Jadi, aku tidak membaca chat darimu yang akan datang ke rumah."
Kamu tidak sedang berbohong, kan? Batin Shica.
Ada apa denganku? Batin Raihan.
-
Ketika pulang, Shica memasuki mobil yang menjemputnya. Dia terkejut melihat Regar yang menyetir dan Rama duduk di sampingnya.
"Kakak sudah diperbolehkan membawa mobil?" Tanya Shica pada Regar.
Laki-laki itu tidak menjawab dan memilih melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir.
Shica melihat Regar dan Rama yang tidak seperti biasanya. Mereka seperti sedang 'dingin' padanya.
Shica tidak tahu alasannya. Dia mencoba memikirkan beberapa kemungkinan yang membuat kedua laki-laki itu marah padanya.
Apa mungkin kak Regar sudah tahu tentang kedekatanku dengan Raihan? Atau kak Rama yang memberitahunya?
Mobil Regar terhenti. Bella masuk dan duduk di samping Regar. Dia mengecup bibir Regar di depan Rama dan Shica.
Kedua mata Shica terbelalak, namun Rama menutup mata Shica. Jadi, gadis itu tidak melihat sepenuhnya.
"Kakak, bisakah kau mengendalikan pacarmu agar tidak melakukannya di depan Shica?" Gerutu Rama.
"Memangnya kenapa? Dia juga sudah dewasa." Bella yang menyahut.
Regar melajukan lagi mobilnya.
"Kalian menjaga adik perempuan kalian dengan baik, padahal kalian suka mempermainkan perempuan, dasar *******." Bella mendecih.
Shica cemberut.
"Diamlah," kata Regar.
Sesampainya di rumah, Shica membanting pintu mobil dan berlalu ke kamarnya. Dia melemparkan tas dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Kenapa juga mereka seperti itu? Maaf, Pa... aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjaga mereka," gumam Shica.
Sampai keesokan harinya pun, Regar dan Rama tidak banyak bicara pada Shica. Mereka seolah sengaja ingin membuat Shica kebingungan sendiri.
Shica pergi ke sekolah duluan naik taksi. Dia sarapan dulu.
Malas sarapan dengan mereka bertiga.
Sesampainya di sekolah, Shica menghampiri Meishy. Semalaman mereka berbicara di chat. Hari ini Meishy dan Rangga akan pergi untuk olimpiade fisika.
"Semoga kalian mendapatkan juara satu untuk nama baik sekolah kita."
Meishy tersenyum, "Semoga saja, terima kasih do'anya."
Shica mengangguk.
-
Seperti biasa... di jam istirahat, Raihan dan Shica pergi ke kantin.
"Nanti sore, boleh aku mengajakmu jalan-jalan?" Tanya Raihan.
Shica tampak berpikir, "Aku harus bilang dulu pada kakakku."
"Oh, kamu punya kakak?" Tanya Raihan.
Shica mengangguk pelan.
"Kalau boleh, aku saja yang meminta izin pada kakakmu," kata Raihan sambil tersenyum hangat.
Seketika Shica mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak, aku saja yang bilang padanya. Kakakku bukan orang yang ramah."
Kak Regar dan kak Rama sama-sama sedang menyebalkan belakangan ini.
Raihan tersenyum, "Baiklah."
Di saat yang bersamaan, Shica melihat Regar memasuki kantin bersama Bella. Mereka tampak mesra.
Shica mengernyitkan dahinya, apa urat malu sudah putus dari leher mereka? Bermesraan di sekolah bisa membuat mereka dalam masalah.
Raihan menoleh pada arah pandang Shica, "Kamu menyukai Regar Mahali?"
Shica terkejut dan segera menggelengkan kepalanya.
Raihan tersenyum pahit, "Dia memang tampan dan mempesona."
Pemarah dan menyebalkan... tapi aku memang menyayanginya.
"Kamu menyukai orang lain, padahal aku menyukaimu."
Perkataan Raihan membua Shica membeku dan berhasil membuat kedua pipi Shica memerah.
"Aduh, kenapa aku bilang?" Gumam Raihan sambil menutup mulutnya.
Shica menunduk dan memainkan ujung roknya. Dia gugup sekarang.
"Ke-kenapa kamu menyukaiku?" Tanya Shica pelan.
Raihan tersenyum, "Apa harus ada alasan untuk menyukai seseorang?"
"Tentu saja."
"Jangan menunduk, aku di depan kamu, bukan di lantai." Raihan mengibaskan tangannya.
"Aku sedang malu." Shica menggelinjang.
Raihan tertawa, "Apa kamu menyukaiku juga?"
Shica mengangguk pelan, "Sedikit."
Raihan mengernyit, "Kenapa sedikit?"
"Jangan tanya," ucap Shica.
Raihan terkekeh, "Apa aku orang pertama yang kamu sukai?"
Shica mengangguk lagi, "Jangan bertanya lagi."
Raihan terkejut, "Wah, aku senang sekali."
Regar memperhatikan mereka diam-diam.
-◈◈◈-
12 April 2016
Ucu Irna Marhamah