
-◈◈◈-
Shica memasuki mobil yang menjemputnya, "Bang Dian, kakak-kakakku di mana? Mereka sudah pulang?"
"Saya tidak tahu, Nona."
Mungkin mereka di tempat berkumpul seperti biasanya, batin Shica.
Dia merasa penasaran dengan base camp kakaknya. Gadis itu belum pernah melihat seperti apa bentuk base camp anak geng. Rama pernah menceritakannya, geng Regar adalah geng terbesar dan terbaik di antara geng lainnya. Shica membayangkan base camp itu sama mewahnya seperti rumah Mahali.
"Bang Dian tahu di mana base camp kak Regar?" Tanya Shica.
Dian tampak berpikir.
"Tolong antarkan aku ke sana," kata Shica.
"Tapi, Nona...."
Shica menunjukkan ekspresi sedih, "Aku ingin ke sana dan menemui kakakku. Aku belum pernah ke sana, aku ingin tahu seperti apa base camp itu."
"Saya harus menelpon tuan muda dulu," sanggah Dian sambil membawa ponsel miliknya.
"Bang Dian tidak percaya padaku?" Tanya Shica sembari merampas ponsel pria itu.
Dian menjawab, "Saya takut dimarahi tuan muda."
"Nanti aku yang akan membela Bang Dian."
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Dian mengalah. Pria itu membawa Shica ke base camp Regar.
Sesampainya di pabrik ikan, Shica tampak bingung, "Kak Rama bilang, geng kak Regar itu geng yang besar, tapi... kenapa bentuk base camp geng-nya seperti ini?"
Gadis itu melangkah dan melihat ada banyak ikan di kolam-kolam berbentuk persegi itu. Ada beberapa pekerja juga di sana. Mereka memotong dan membersihkan perut ikan. Orang-orang itu menganggukan kepala hormat melihat keberadaan Shica.
"Ini base camp kak Regar?" Tanya Shica pada salah satu pekerja.
"Iya, Nona."
"Aku harus lewat mana untuk masuk?" Tanya Shica.
"Di sana ada tangga menuju ke bawah. Itu pintu masuk menuju base camp."
Shica melihat arah yang ditunjuk oleh pekerja, "Kak Regar ada di dalam?"
"Kau bisa ikut aku," suara seseorang di belakang Shica. Gadis itu menoleh.
Laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut kecoklatan dan warna mata jade itu tersenyum tampan.
"Kau siapa?" Tanya Shica dengan tatapan tertuju pada seragam yang melekat di tubuh laki-laki itu. Corak dan warnanya berbeda dengan seragam yang dipakai oleh Shica. Menandakan jika laki-laki itu tidak satu sekolah dengannya.
"Aku temannya Regar. Kau adiknya Regar, kan?" Jawab laki-laki itu.
Shica menganggukkan kepalanya.
"Regar sedang di sirkuit, ayo aku akan membawamu masuk ke dalam." Laki-laki itu menyentuh bahu Shica.
"Kalau kak Regar tidak ada, aku akan menunggu di sini saja," ujar Shica sambil menghindar dari laki-laki itu.
"Tidak perlu takut padaku, kau tidak percaya aku temannya Regar?" Tanyanya.
Shica tampak berpikir.
"Namaku Gafriel." Laki-laki ternyata bernama Gafriel itu mengulurkan tangannya.
Shica menerima uluran tangan Gafriel, "Rastarani, panggil saja Shica."
"Ayo."
Mereka menuruni tangga menuju ke bawah tanah. Ada beberapa orang di sana. Laki-laki dan perempuan. Mereka tampak sedang... berpacaran.
Shica melihat ke sekeliling. Ternyata di dalam base camp jauh lebih keren dibandingkan pabrik ikan di luar tadi. Tempat itu terlihat seperti bar di film-film hollywood.
"Siapa gadis itu?" Pertanyaan salah satu dari mereka membuat perhatian Shica teralihkan.
"Adiknya bos Regar," jawab Gafriel sambil menutup pintu.
"Tampaknya dia masih polos, apa bos kita mengurusnya dengan baik?"
"Punyaa adik cantik tidak bilang-bilang."
"Bos kita beruntung memiliki adik yang cantik, kalau aku jadi bos, aku memilih berkencan dengan adikku sendiri."
Shica merasa tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tidak lazim seperti itu. Dia mengusap lengannya.
"Kalian tidak boleh bicara seperti itu, dia jadi takut." Gafriel merangkul Shica sambil menunjuk ke sofa, "Silakan duduk."
Shica menggelengkan kepalanya, "Kalau kak Regar tidak ada, aku pulang saja."
"Kenapa buru-buru? Sebentar lagi dia kembali."
"Ayolah, kita perlu bersenang-senang." Laki-laki yang dari tadi duduk di sofa bangkit menghampiri Shica.
-
Regar menunggu Rama di mobilnya. Dia menyalakan rokok dan mengisap ujungnya.
"Si Rama lama sekali." Regar memainkan ponselnya dan tiba-tiba muncul nama Dian di layar, Regar segera mengangkat panggilan dari bodyguard-nya itu.
"Ada apa, Bang?"
"Tuan muda, nona Shica memaksaku untuk mengantarnya ke base camp. Aku tidak bisa menolak permintaannya. Maafkan aku."
Regar terkejut, "Kenapa tidak bilang padaku?"
Rama datang bersama dua anggota barunya yang berhasil memenangkan balapan.
Dia masuk ke mobil.
"Maaf, Tuan. Tadinya saya akan menelpon, tapi nona Shica marah."
Regar segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Merasa mobil yang membawa mereka ngebut, Rama tampak bingung.
"Ada apa, Kak?"
Regar menyahut, "Shica di base camp."
Rama terbelalak, "Apa?! Bagaimana bisa?"
"Jangan bertanya! Aku juga tidak tahu! Tadi bang Dian yang bilang."
Rama cemberut, "Katanya tidak tahu, itu tahu."
"Apa yang Bos khawatirkan? Mereka tidak akan berani melukai adiknya Bos," kata salah satu anggota barunya Regar.
"Bukan masalah itu. Jika Shica melihat hal yang buruk di base camp, dia akan melapor pada ayahku." Regar masih terlihat cemas.
Rama mendelik sesaat pada kakaknya kemudian mengambil ponsel dari tas. Dia menelpon Shica.
"Diangkat?" Tanya Regar yang tampaknya bisa membaca pikiran Rama.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
Regar tampak cemas.
Setibanya di base camp, Regar segera membanting pintu mobil lalu bergegas masuk. Dia melihat beberapa temannya duduk di sofa.
Regar menarik bagian kerah baju salah seorang laki-laki di sana, "Mana Shica?!"
"Relax room."
Regar tercengang, dia segera mendobrak pintu ruangan privasi itu. Kedua matanya membulat sempurna.
Shica dan Gafriel menoleh ke pintu. Mereka berdua tampak sedang berbincang santai di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Kalian sedang apa di ruangan ini?" Gerutu Rama.
"Berbicara," jawab Gafriel.
Rama dan Regar saling pandang.
-
Di perjalanan pulang, Dian yang tampak tertekan menyetir mobil. Regar di sampingnya, Rama dan Shica di kursi belakang.
Shica terlihat melamun.
Shica menggelengkan kepalanya, "Kalau kak Regar tidak ada, aku pulang saja."
"Kenapa buru-buru? Sebentar lagi dia kembali."
"Ayolah, kita perlu bersenang-senang." Laki-laki yang dari tadi duduk di sofa bangkit menghampiri Shica.
Gafriel mendorong dada laki-laki itu, "Jangan membuatnya takut, dia adiknya Regar."
"Memangnya kenapa?"
Tidak berniat menjawab, Gafriel membawa Shica ke relax room. Mereka berdua duduk berhadapan di sofa.
Shica mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di ruangan itu ada dua tempat tidur yang nyaman.
Shica tampak berpikir, untuk apa ada tempat tidur di base camp? Memangnya mereka menginap?
"Jangan memikirkan sikap dan ucapan mereka. Mereka memang seperti itu," kata Gafriel.
"Kakakku sering tidur dengan perempuan, ya?" Tanya Shica dengan tatapan tertuju pada dua tempat tidur di belakang Gafriel.
Gafriel menoleh ke arah pandang Shica.
Gadis itu membayangkan wajah-wajah kesakitan para gadis yang dipaksa memberikan pelayanan oleh kedua kakaknya.
Gafriel kembali menoleh pada Shica, "Aku tidak tahu."
"Kak Gafriel temannya kak Regar, mana mungkin tidak tahu." Shica menatap serius pada Gafriel.
Merasa tidak direspon, Shica kembali bersuara, "Aku pernah melihat kakakku berciuman dan... melakukan sesuatu yang lain. Aku rasa, dia sudah salah bergaul. Kenapa dia masuk geng seperti ini?"
"Kau bisa bertanya langsung pada kakakmu." Itu yang dikatakan Gafriel.
Shica menatap kosong pada vas bunga di meja, "Papa sering menghukum mereka. Itu karena kesalahan mereka sendiri. Aku disuruh mengawasi mereka, tapi aku berbohong, karena tidak ingin melihat kakakku dihukum."
Gafriel masih setia mendengarkan.
"Geng telah membuatnya berubah menjadi pria buruk."
Gafriel mengangguk mengiyakan perkataan Shica, "Mungkin ucapanmu tidak salah, tapi dari 100 orang anak geng, pasti ada 2-3 orang yang tidak pernah bermain perempuan. Aku masuk geng ini untuk balapan, bukan bermain perempuan."
Shica mengernyit, "Siapa yang membangun geng ini? Apakah kakakku?"
Gafriel menatap Shica dengan serius, "Bukan...."
Shica dan Gafriel menoleh ke pintu, ketika ada seseorang yang mendobraknya dari luar, ternyata Regar dan Rama.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Regar sambil menoleh ke belakang, tepatnya pada Shica.
"Kak Gafriel tidak banyak bicara." Shica meyakinkan kakaknya.
Rama dan Regar saling pandang.
-
Popularitas geng Januaar semakin tinggi, bahkan mengalahkan geng Regar yang notabene lebih lama berlayar di geng motor.
Itu cukup membuat Regar kesal. Persaingan ketat dimulai.
Selama beberapa bulan, geng Januaar dan geng Regar bersaing sengit untuk popularitas masing-masing.
Tak jarang, ada perkelahian di antara anggota dari kedua geng tersebut.
Bahkan ada juga yang sampai meninggal.
"Dia hanya bayi yang baru lahir," ujar Regar.
Givar tertawa, "Coba kita suruh dia balapan dengan Rama."
Regar menoleh, "Bagaimana denganmu? Apa kau mau balapan dengan dia?"
"Aku? Ah, aku bahkan tidak bisa naik sepeda." Givar menepuk dahinya sendiri.
"Aku tahu! Tapi, aku tidak menyuruhmu balapan sepeda dengan dia!" Regar menggerutu sebal.
Givar tertawa, "Iya, aku mengerti. Mau tidak mau kita harus mengembalikan harga diri geng ini."
Dion menanggapi, "Januaar tidak pernah menunjukkan kecepatannya di arena balapan, tapi banyak yang mengatakan, kalau dia bisa membawa motor, atau mobil dengan kecepatan seperti angin."
Regar dan Givar menoleh pada laki-laki itu.
"Mobilnya sangat cepat," gumam Givar.
"Kemampuan seseorang bukan terletak pada mobilnya. Januaar memang lihai ketika menyetir. Dia bisa mengendarai motor saat usianya 7 tahun." Dion yang menyanggah ucapan Givar.
"Usia 7 tahun... waktu itu aku belajar sepeda dan jatuh terus," canda Givar. Dion tertawa, "Tidak peduli kau bisa sepeda atau tidak, yang penting kau bisa balapan motor dan mobil sekarang."
Regar tampak berpikir, "Rama bisa bisa melajukan motornya secepat kilat. Memangnya angin dan petir itu lebih kuat yang mana?"
"Kau ini membicarakan orang, atau membicarakan avatar?" Gerutu Givar.
Bukannya menjawab, Regar malah mengatakan hal lain, "Aku dengar, Amerika membuat mobil keluaran terbaru tahun ini. Aku akan membelinya. Dion, persiapkan dirimu untuk mobil itu, sementara Rama akan bergerak bersama motornya."
"Ah, aku perlu menyesuaikan diri dengan mobil barumu nantinya. Apa kau punya tempat?" Tanya Dion setengah menggerutu.
"Kudengar, ayahmu punya lahan luas yang digunakan untuk bermain golf. Pinjam saja tempat itu untuk sementara," ujar Regar dengan polosnya.
Givar tidak bisa menahan tawanya. Dia sampai duduk sambil memegangi perutnya karena tertawa.
Dion menaikkan sebelah alisnya, "Dia pasti akan memenjarakanku jika aku mengacak-acak lapangan itu."
"Kenapa tidak meminta pada ayahmu untuk membelikan sirkuit saja? Bapak Walikota sangat kaya dan baik hati. Beliau membangun jembatan dan bangunan untuk masyarakat, kenapa tidak membelikan anaknya sirkuit?" Tanya Givar.
Regar menoleh pada Dion, tampaknya dia juga penasaran dengan jawaban Dion.
"Mungkin aku anak tirinya."
Jawaban Dion berhasil membuat Regar dan Givar tertawa ngakak.
"Itu uang negara, bodoh! Ayahmu orang yang baik, tidak seperti dirimu!"
Regar jarang menyisakan sedikit waktunya untuk Rayaa. Dia terlalu fokus dengan ambisinya menjatuhkan kelompok Januaar.
Rayaa tidak tahu, kalau Regar dan Januaar bermasalah di geng. Regar juga tidak tahu, kalau Rayaa adalah kakaknya Januaar. Hanya Januaar yang tahu semuanya. Dia tahu semua tentang Regar dari Raihan.
Januaar sangat mengandalkan Raihan di geng-nya. Posisi Raihan lama-lama semakin bagus di mata Januaar. Rayaa sempat marah pada adiknya, karena Raihan dimasukkan menjadi anggota geng, padahal Raihan laki-laki baik yang tidak seharusnya bergabung dengan kumpulan orang seperti Januaar.
Raihan menjelaskan, kalau itu kemauannya sendiri.
Rayaa bersedih ketika melihat Regar yang sering bermain perempuan di belakangnya. Benar sekali kata Januaar, Regar tidak akan pernah berubah.
Namun, Rayaa sangat mencintai laki-laki itu. Dia tidak ingin mengakhiri hubungannya. Regar adalah cinta pertamanya.
-◈◈◈-
20 September 2016
Ucu Irna Marhamah