La Hora

La Hora
LH - 31 - Take his eyes



 


 


 


 


-◈ Regar Mahali ◈-


 


 


Aku telah tiba di rumah minggu pagi ini. Aku terkejut ketika melihat keberadaan Rama dan Shica.


 


 


Aku merasa lega ketika melihat kedua adikku baik-baik saja. Tidak kutunjukkan ekspresi apa pun saat aku masuk, suasana hatiku sedang kurang baik hari ini.


 


 


Saat aku melewati ruang tengah, papa memanggilku dan sedikit marah padaku. Aku disuruh duduk bersama Rama dan Shica.


 


 


Lalu aku dan kedua adikku disuruh berdiri. Papa mempertanyakan kejujuran pada kami.


 


 


Sialnya, laporan dari orang-orang khusus papa telah sampai di tangan papa. Seharusnya laporan itu sampai padaku.


 


 


Orangku yang bodoh, orangnya papa yang setia, atau papa yang bergerak cepat?


 


 


Aku dimarahi gara-gara itu.


 


 


Aku melihat Rama yang mencoba menahan emosinya, namun dia berucap juga. Dia mempertanyakan papa.


 


 


Kenapa dia harus begitu? Itu hanya akan membuat papa semakin marah.


 


 


Ketika papa menampar Rama, aku benar-benar terkejut. Shica langsung menghalangi Rama dari amukan papa. Dia sangat menyayangi kakaknya, aku tahu itu.


 


 


Shica gencar membela Rama. Mereka juga sempat melihat padaku, mungkin ingin mendapatkan dukungan.


 


 


Percuma saja.


 


 


Kalau papa sedang marah, apa yang bisa aku lakukan?


 


 


Saat ini aku masih berada di ruang tengah, Rama dan Shica pergi ke dalam.


 


 


Suasana hatiku sedang buruk hari ini, apalagi berita tentang penculikan Shica sedang menyebar di geng. Membuat kepalaku terasa akan pecah saja.


 


 


Jika geng musuh mendengar ini, mereka pasti akan mengincar Shica lagi dan membuatku dalam masalah.


 


 


Ada bagusnya papa menyuruh Shica pulang bersama bodyguard, itu akan menjadi keamanan yang terbaik untuk Shica.


 


 


Mereka kemana sekarang? Marah padaku?


 


 


Ya sudah, aku pergi.


 


 


Ketika aku melangkah menuju garasi, terdengar suara Rama memanggilku.


 


 


Aku menoleh.


 


 


"Kak Regar, kita perlu bicara." Rama terlihat begitu serius.


 


 


Aku melihat ke sekeliling, ada bodyguard yang sedang berjaga seperti biasa.


 


 


"Disini saja," ucapku.


 


 


"Tidak, Kak... ini sangat penting."


 


 


Aku memilih untuk berbicara di kamar Rama. Yeah, setidaknya kamar anak yang satu ini kedap suara.


 


 


Aku duduk bersebelahan dengannya di sofa.


 


 


"Shica baik-baik saja? Januar bilang, Argaa yang menculiknya. Apa si ******* itu tidak sampai menodainya?" Tanyaku.


 


 


"Tidak, tapi... si ******* itu sempat melihat tubuh Shica. Itu membuat Shica jadi syok dan takut jika mengingatnya," jawab Rama.


 


 


Beraninya ******* itu melucuti pakaian adikku dan melihat tubuhnya yang belum pernah dijamah siapa pun!


 


 


"Kau sendiri yang menyelamatkan dia?" Tanyaku.


 


 


"Sebenarnya Raihan yang menyelamatkan Shica. Dia yang masuk ke base camp Argaa dan mengambil Shica dari ******* itu."


 


 


Raihan?


 


 


Laki-laki itu?


 


 


"Dia juga yang menghentikan pertempuran geng kita dengan geng Januaar semalam. Aku dan Raihan yang menyalakan suara sirine lewat megafon."


 


 


Aku mencerna kata-kata Rama. Ini sulit dipercaya, mengingat Raihan itu membenciku, bagaimana bisa dia melakukan hal yang sebaliknya pada Shica dan geng-ku?


 


 


"Aku juga sempat tertangkap oleh geng Januaar."


 


 


Seketika aku menatap adikku, "Apa yang mereka lakukan padamu?"


 


 


"Raihan juga yang membantuku menjelaskan semuanya pada Januaar."


 


 


Benarkah?


 


 


Apa Raihan tidak punya tujuan lain setelah menyelamatkan Rama dan Shica?


 


 


"Bagus kalau begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkan keberadaannya di dekat kalian," ujarku.


 


 


"Ada satu hal lagi," kata Rama yang membuatku kembali menoleh padanya.


 


 


"Kak Regar sudah salah paham pada Januaar, Kakak juga sudah menyerang geng Januaar sampai berantakan. Kak Regar harus minta maaf padanya." Ucapan Rama terdengar penuh penekanan.


 


 


Aku minta maaf pada Januaar?


 


 


Tidak!


 


 


Geng-ku lebih besar dan lebih kuat darinya. Untuk apa aku meminta maaf pada dia?


 


 


"Tidak, aku tidak mau."


 


 


Rama membuang napas kasar, "Selain apa yang Kakak lakukan di masa lalu, Kakak juga telah bersalah padanya. Jika Kak Regar tidak mau meminta maaf pada Januaar, permusuhan geng akan terus berlanjut."


 


 


Cih!


 


 


"Memangnya aku peduli? Entah aku meminta maaf atau tidak, dia memang tidak akan pernah  berhenti memusuhiku."


 


 


"Setidaknya Kak Regar mengakui kesalahan Kakak waktu menyerangnya," paksa Rama.


 


 


"Lupakan Januaar! Aku akan memberikan pelajaran pada Argaa." Aku bangkit dari sofa dan berlalu ke pintu.


 


 


"Perlu Kakak ketahui juga, Bella terlibat dalam penculikan ini."


 


 


Langkahku terhenti mendengar ucapan Rama.


 


 


Bella?


 


 


****** sialan itu?


 


 


"Aku akan mengurus mereka, kau tidak perlu khawatir."


 


 


Setelah mengatakan itu, aku melanjutkan langkah menuju ke garasi, menaiki motor sport merah milikku dan pergi ke base camp.


 


 


Seperti biasa, ada beberapa pekerja di pabrik ikan. Mereka menyapaku.


 


 


"Selamat siang, Tuan muda."


 


 


"Hemm, aku sudah bilang padamu agar laporannya sampai ke tanganku, kenapa malah sampai ke tangan ayahku?" Tanyaku pada orang yang kemarin kuberikan disk.


 


 


"Ma-maaf, Tuan... tapi... tuan besar yang langsung mendatangi orangnya dan meminta laporan itu."


 


 


Ah, begitu rupanya!


 


 


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian."


 


 


Tanpa menunggu jawaban, aku menuruni tangga menuju base camp.


 


 


Ada Givar dan Dion bersama beberapa perempuan cantik di sana.


 


 


"Adikmu sudah ketemu? Wah, pagi ini aku mendapatkan banyak berita baru," kata Dion.


 


 


Aku duduk berhadapan dengan mereka. Beberapa gadis menghampiriku dan bergelayut manja ke tubuhku.


 


 


"Aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa," kataku pada mereka. Namun, mereka tidak mengindahkan ucapanku.


 


 


Yah, kubiarkan saja.


 


 


"Berita apa saja yang kau dengar?" Tanyaku pada Dion.


 


 


Laki-laki itu segera menjawab, "Adikmu diculik oleh Argaa, ada mantan geng Januaar, yaitu Raihan yang menyelamatkannya, Rama tertangkap geng Januaar, Raihan juga yang membantunya... apa lagi, ya?"


 


 


Givar menambahkan, "Lalu polisi sedang mendatangi base camp Januaar pagi ini. Mereka mencium bau tawuran di sana."


 


 


Apa?! Polisi?!


 


 


Jika polisi menangkap Januaar, lalu Januaar menyebut namaku dan geng-ku, bisa-bisa aku berada dalam bahaya. Papa juga akan menghabisiku.


 


 


Aku berdiri, "Givar, kirimkan beberapa orang ke geng Argaa."


 


 


"Apa yang akan dilakukan orang yang kita kirim ke Argaa?" Tanya Givar.


 


 


"Panggil orang pilihan yang sudah pernah membunuh," ucapku tanpa mau menjawab pertanyaannya.


 


 


Givar menelpon seseorang dan tak lama kemudian, dua orang yang tampaknya lebih tua dariku datang.


 


 


Mereka memiliki ekspresi kejam. Tidak ada aura persahabatan sama sekali. Aku tidak mengira, Givar memiliki orang yang seperti ini.


 


 


 


 


Aku berkata pada mereka, "Laki-laki sialan itu telah berani melihat tubuh polos adikku. Sebagai gantinya, ambil kedua matanya dan berikan padaku."


 


 


Kedua orang itu mengangguk hormat padaku kemudian berlalu.


 


 


"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Givar yang melihatku akan pergi lagi.


 


 


"Aku harus datang ke base camp Januaar."


 


 


Jawabanku membuat Givar dan Dion saling pandang.


 


 


"Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan datang sendirian?" Tanya Givar dan Dion hampir berbarengan.


 


 


"Aku akan membantunya."


 


 


Tidak peduli dengan ekspresi apa yang mereka tunjukkan. Tanpa menunggu respon, aku berlalu pergi ke base camp Januaar.


 


 


Kulihat base camp itu sedikit acak-acakan. Sepertinya telah ada penggeledahan yang dilakukan polisi sebelum aku datang kemari.


 


 


Ada beberapa orang di sana.


 


 


"Hei, *******! Apa yang kau lakukan di sini?!"


 


 


"Di mana Januaar?" Tanyaku.


 


 


"Untuk apa kau menanyakan bos kami?!" Salah satu dari mereka menarik bagian depan bajuku.


 


 


Aku mencengkram lehernya dengan kuat, "Katakan di mana Januaar!"


 


 


"Ka-kantor polisi."


 


 


Shit!


 


 


Aku segera pergi ke kantor polisi. Entah apa yang ada di pikiranku. Semoga saja Januaar tidak menyebut namaku atau pun nama geng-ku.


 


 


Sesampainya di kantor polisi, aku melihat Januaar sedang diinterogasi oleh polisi. Laki-laki itu menoleh padaku, begitu juga dengan polisi yang sedang berbicara dengannya.


 


 


"Regar Mahali, ya?" Tanya polisi itu. Aku tersenyum sambil mengangguk sopan.


 


 


Aku menghampirinya dan mencium tangannya seperti pada orang tua.


 


 


Polisi ini adalah kenalan ayahku.


 


 


"Ada apa sampai datang kemari?" Tanya polisi. Aku menoleh pada Januaar, sepertinya dia belum mengatakan apa-apa tentang geng-ku.


 


 


"Ah, begini, Pak... saya mau menemui teman saya," jawabku sambil menunjuk Januaar.


 


 


Laki-laki itu malah memundurkan wajahnya mendengar jawabanku.


 


 


"Temanmu?" Tanya polisi yang tampaknya tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


 


 


"Iya, Pak. Sebenarnya ada kesalahpahaman di sini." Tanpa permisi, aku duduk di samping Januaar.


 


 


Aku pun memberikan penjelasan palsu pada polisi. Januaar sesekali menoleh padaku.


 


 


Setelah karangan ceritaku yang masuk akal itu the end, polisi memperbolehkanku membawa Januaar.


 


 


-


 


 


Januaar duduk di belakangku, sementara aku sedang fokus mengendarai motorku.


 


 


"Kau pikir, aku akan memaafkanmu setelah apa yang sudah kau lakukan?" Ucap Januaar tiba-tiba.


 


 


Aku mendecih, "Dan kau pikir, aku ini akan meminta maaf padamu? Tidak! Aku melakukan ini atas dasar dendamku pada Argaa. Jadi, aku menukarkan posisimu di penjara dengan orang yang lebih pantas masuk penjara!"


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


Ya! Aku membuat kesaksian palsu tentang tawuran itu. Aku bilang, tersangka yang sesungguhnya adalah Argaa.


 


 


Kesalahan Argaa jauh lebih menyebalkan dibandingkan rasa kesalku pada Januaar.


 


 


"Lupakan apa yang sudah aku lakukan hari ini, anggap hari ini tidak pernah terjadi." Aku menekankan padanya.


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


"Kau begitu membenci Argaa setelah apa yang dilakukan oleh orang itu pada adik perempuanmu. Apa kau sadar, Argaa itu seperti dirimu, dan adik perempuanmu itu seperti kakakku. Karma sedang beraksi memutar balikkan roda kehidupan."


 


 


Aku tidak peduli.


 


 


Tidak perlu kudengarkan ocehannya.


 


 


Hanya omong kosong.


 


 


Aku sampai di base camp milik Januaar. Semua orang di tempat itu menoleh padaku. Tatapan tak percaya tertuju padaku.


 


 


Tidak kuhiraukan tatapan bodoh itu. Aku memilih kembali ke base camp milikku.


 


 


Ketika memasuki ruangan, ada Givar sendirian sedang meminum sampanye. Aku mendengar suara gaduh dari relax room. Dion memang suka bermain kasar, ingin sekali aku menggunakan headset.


 


 


Givar tertawa melihat kedatanganku, "Aku mendapatkan kabar baru, ketua geng Regar Mahali telah menyelamatkan ketua geng musuhnya, Januaar."


 


 


Aku mengernyit, "Berita itu menyebar?"


 


 


Givar mengangguk dan menunjukkan ponselnya.


 


 


Kami memiliki media sosial tertutup khusus untuk anggota geng, fungsinya sebagai berita dan pengumuman.


 


 


Apa pun yang terjadi, akan muncul di sini.


 


 


Aku mendengus kesal. Ada saja orang yang mau menulis ini.


 


 


"Tidak perlu dipikirkan, bukankah ini bagus? Bisa jadi hubungan geng kita dengan geng Januaar jadi membaik.


 


 


Aku mendecih pelan, "Tidak mungkin."


 


 


Hening.


 


 


Givar menyimpan kasar botolnya ke meja.


 


 


"Tidak bermain dengan gadis-gadis itu?" Tanyaku. Givar menggeleng malas, "Bosan."


 


 


Aku menyandarkan punggungku ke sofa, "Siapa dua orang tadi?"


 


 


"Yang kau suruh mendatangi Argaa?" Givar balik bertanya.


 


 


Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.


 


 


"Dua orang itu sebenarnya orang-orang kepercayaan papa. Mereka akan bertindak, jika ada yang mau mencelakai keluarga Hardiswara," ucap Givar.


 


 


Wah, keluarga Gustiar penuh dengan kejutan. Aku tidak mengira mereka begitu berhati-hati sampai harus mempekerjakan orang yang seperti itu.


 


 


"Antisipasi yang bagus," ucapku.


 


 


Givar tertawa, "Yeah, kau pasti mengerti... pengusaha besar seperti orang tua kita memiliki banyak pesaing yang ingin menjatuhkan kita dengan cara kotor. Jadi, sebelum itu terjadi, kita harus menyiapkan orang untuk mengantisipasi."


 


 


Aku mengerti, "Koneksi keluargamu sangat luas, ya?"


 


 


Givar menoleh padaku, "Kudengar koneksi keluarga Mahali lebih luas lagi. Mereka ada hubungan dengan angkatan darat."


 


 


Aku tertawa, "Benarkah? Tidak juga."


 


 


"Semuanya akan lebih mudah jika ada koneksi. Tidak perlu repot jika mau sesuatu," gumam Givar.


 


 


Aku mengangguk.


 


 


Jika tidak, aku pasti sudah masuk penjara sejak lama. Givar juga, begitupun dengan Dion.


 


 


Dua orang yang tadi disuruh oleh Givar telah kembali. Mereka membawakan pesananku.


 


 


Dalam tabung kecil yang tembus pandang itu ada sepasang bola mata berwarna sapphire. Aku tahu, ini memang mata mesum milik si ******* itu.


 


 


Givar menutup mulut karena jijik. Aku tertawa, "Kedua orang ini pantas mendapatkan hadiah. Apa yang kalian mau?"


 


 


Givar menyahut, "Hadiah untuk mereka biar nanti saja aku yang memberikan. Buang itu segera dari depanku."


 


 


Givar terlihat seperti ibu hamil yang sedang mual ketika hamil muda.


 


 


"Aku juga harus memberikan hadiah pada kalian. Katakan saja apa yang kalian mau."


 


 


Ternyata mereka menginginkan wanita penghibur. Tentu saja aku menyanggupinya.


 


 


Setelah sepakat, aku menaiki tangga menuju ke pabrik ikan. Kulemparkan dua organ menjijikan itu ke bak yang penuh dengan ikan bawal.


 


 


Lagsung saja menjadi santapan yang diperebutkan.


 


 


Itu hasil dari perbuatanmu sendiri, Argaa.


 


 


Jangan mencari masalah denganku.


 


 


-◈◈◈-


 


 


10 September 2019


Ucu Irna Marhamah