
-◈◈◈-
Regar memasuki mobilnya. Malam ini, dia pulang ke rumah. Laki-laki itu biasanya pulang sekolah langsung ke rumah. Ketika sore telah tiba, dia akan pergi ke vila dan bermalam di sana kemudian pergi ke sekolah. Begitu seterusnya.
Sesampainya di rumah besar Mahali\, Regar segera keluar dari mobil. Dia melemparkan kuncinya pada salah seorang ___bodyguard___.
"Parkirkan mobilku."
Sesuai perintah tuan muda\, salah seorang ___bodyguard___ memarkirkan mobil ke dalam garasi. Ternyata ada Rayaa yang bersembunyi di kursi belakang. Dengan hati-hati\, dia keluar dari mobil tersebut.
Suasana gelap di garasi mendukung Rayaa. Gadis itu bersembunyi di dekat patung taman yang berukuran sedang.
Dia tidak mungkin bisa keluar dengan mudah. Ada banyak __bodyguard__ di sana.
Rayaa harus menunggu beberapa saat untuk mengumpulkan nyalinya. Hanya beberapa meter lagi dia mencapai jalanan. Ada banyak taksi dan kendaraan yang lewat.
__Apa aku akan baik-baik saja?__ Dengan segenap keberanian yang sudah terkumpul\, gadis itu mengendap dan keluar lewat celah gerbang. Ukuran tubuhnya yang mungil membuatnya mudah keluar lewat sana.
Tanpa sengaja, jam tangannya berbenturan dengan besi gerbang membuat beberapa penjaga menoleh ke arah sana.
Rayaa terkejut dan panik, tapi dia berhasil memberhentikan taksi dan menyuruh sopir untuk segera pergi dari sana.
Rayaa melihat beberapa __bodyguard__ itu mengerjar di belakang.
"Ada apa, Nona? Kenapa mereka mengejar?" Tanya sopir taksi.
"Saya... saya tidak tahu, lebih baik percepat laju mobilnya."
Sopir taksi menuruti permintaan Rayaa. Sesekali gadis itu melihat ke belakang\, para __bodyguard__ rumah Mahali itu tidak mengerjar lagi.
Rayaa bisa bernapas lega.
Taksi berhenti di rumahnya. Dia segera keluar dan membayar sopir taksi. Dari mana dia punya uang untuk membayar taksi?
Sebelum masuk ke dalam mobil Regar, Rayaa sudah mempersiapkan semuanya.
Gadis itu segera memasuki rumahnya. Dia terkejut ketika membuka pintu, dia berpapasan dengan Raihan.
"Raihan, kau...." Belum sempat Rayaa menyelesaikan kalimatnya, Raihan sudah terlanjur mengecup bibirnya.
Rayaa cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Raihan dengan tiba-tiba. Dia menahan dada Raihan. Laki-laki itu melepaskan ciumannya.
"Aku mencemaskanmu. Apa yang terjadi? Sudah 4 kali kami menyerang __base camp__ Regar untuk menemukanmu."
Ucapan Raihan membuat Rayaa terkejut. Dia tidak mengira, karena dia menghilang lama, dua geng besar itu berperang?
"Aku...."
"Katakan yang sebenarnya, apa benar Regar yang menculikmu?" Tanya Raihan sambil memegang kedua lengan Rayaa.
"Iya, aku bersama Regar sejak aku menghilang." Rayaa menjawab dengan jujur.
Kedua mata Raihan membulat sempurna. Ada rasa kesal, marah, dan cemburu yang bercampur menjadi satu dalm hati Raihan.
"Dia tidak melukaimu?" Tanya Raihan.
Rayaa menggeleng dengan ekspresi ragu.
"Mana yang terluka?" Tanya Raihan sembari melihat tubuh Raya.
Gadis itu menggeleng. "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Raihan mengangguk. "Tentu saja. Januaar juga sangat khawatir. Selama beberapa hari ini dia tidak tidur."
Rayaa tampak sedih.
-
Januaar menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menutup kedua matanya.
__Januaar kecil sedang mengintip ke ruang tamu.
Tuan Gallardo, ayahnya, sedang sedang berbincang dengan seorang tamu dari luar negeri.
"Ini pertama kalinya aku datang ke Indonesia," ucap pria paruh baya bermata segaris itu.
"Semoga kau terbiasa dengan cuaca tropis di negara ini," ujar Gallardo.
"Iya, aku senang berada di sini."
Tuan Gallardo menghisap cerutunya.
"Sepertinya aku akan jadi kaya jika membangun perusahaan cabangku di Jakarta."
Gallardo menoleh, "Kau sudah kaya, Park Johan."
Park tertawa. "Kau lebih kaya dariku. Kau bahkan memiliki banyak wanita di sampingmu. Ada banyak penerus juga nantinya."
Gallardo tertawa. "Apa yang kau bicarakan? Aku akan melihat dulu, mana keturunanku yang mampu memegang kekuasaanku. Maka dia akan mendapatkan nama besar Gallardo di belakang namanya."
Januaar masih mendengarkan dengan serius.
Park mendecih. "Apa kau mengakui anak-anakmu sebagai keturunanmu?"
Gallardo mengangguk. "Tentu saja, aku hanya tidak ingin mereka mendapatkan masalah hanya karena memiliki nama belakangku."
"Kenapa tidak tinggal di luar negeri saja? Bukankah lebih aman?" Tanya Park.
"Aku akan pergi ke luar negeri suatu hari nanti. Bagaimana denganmu? Kau masih di Korea?" Gallardo balik bertanya.
"Iya, aku hanya memiliki seorang putra dan seorang putri angkat. Mereka memerlukanku. Aku hanya akan pergi ke luar negeri jika ada yang mendesak. Itu pun sebentar." Park membayangkan wajah kedua anaknya.
"Kau benar-benar terlihat seperti seorang ayah." Ucapan Gallardo terdengar pujian, tapi juga terdengar seperti ejekan juga.
Park mengedikkan kepalanya. "Aku bukan pria yang baik sejak awal, jadi aku harap, aku bisa jadi ayah yang baik."
Januaar tampak sedih di balik pintu. Dia ingin sekali Gallardo memiliki perasaan seperti Park. Meskipun sama-sama __gangster__\, mereka sungguh berbeda. Gallardo memiliki cara sendiri dalam mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya.
"Kau masih ada kontrak dengan Dewa Gangster?" Tanya Gallardo. Park mengangguk. "Kenapa?"
"Tidak, apa kau sering bertemu dengannya?" Tanya Gallardo.
Park tampak berpikir. "Belakangan ini dia mengetatkan aturan dan penjagaan. Tidak sembarangan orang bisa menemuinya, meskipun itu termasuk aku."
Gallardo mengangguk paham. "Kenapa dia disebut dewa __gangster?__"
"Mungkin karena kekuasaannya yang besar. Kau mau bertemu dengannya? Aku akan membantumu."
Gallardo menggeleng. "Tidak untuk saat ini."
Januaar akan pergi, tapi Gallardo kembali bersuara. "Aku bermasalah di sini. Aku ingin pergi ke luar negeri."
__Papa akan pergi lagi?___ Batin Januaar.
Gallardo menyambung kalimatnya. "Keluarga Mahali sangat berbahaya. Aku pikir, wilayah kekuasaannya sangat luas di Indonesia. Aku sedikit kesulitan bernapas."
"Aku mengerti."
Januaar mengernyit. __Mahali?__
-
Laki-laki itu membuka matanya. Dia terhenyak ketika mendengar suara pintu dibuka. Januaar menoleh, ternyata Rayaa.
"Kak Rayaa." Laki-laki itu segera menghampiri Rayaa dan memeluknya. "Apa yang terjadi? Aku tidak bisa menemukanmu. Aku benar-benar pemimpin geng yang bodoh, kenapa aku tidak menemukanmu."
Rayaa membalas pelukan adiknya. "Aku baik-baik saja. Jangan menyalahkan dirimu."
Rayaa mengangguk pelan.
Januaar mengepalkan tangannya geram. "Apa saja yang sudah dilakukan si brengsek itu?"
"Dia... Uoookkk." Rayaa berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan isi perutnya.
Januaar tampak panik. Dia menghampiri Rayaa yang membasuh wajahnya dengan air di wastafel.
"Regar memperkosamu?" Tanya Januaar dengan tatapan tajam.
Rayaa tidak menjawab. Januaar itu mengguncangkan tubuh kakaknya. "Katakan, apa dia memperlakukanmu seperti boneka **** untuknya?"
Rayaa menggeleng.
Januaar membawa Rayaa ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kakaknya. Dan benar saja, gadis itu sedang mengandung.
Januaar mengusap kasar wajahnya.
"Kak, aku tidak mau tahu, keluarkan anak haram itu dari perutmu." Januaar menunjuk perut rata Rayaa.
Gadis itu segera menggeleng dan memeluk perutnya. "Jangan memaksaku! Dia tidak bersalah! Aku akan mempertahankannya!"
"Anak dalam perutmu itu tidak hanya memiliki darah Gallardo, dia juga mempunyai sebagian darah Mahali!" Bentak Januaar.
"Jika kau mau menghilangkan bayi ini, aku juga akan menghilang dari dunia ini!" Teriak Rayaa.
Tak peduli meskipun suara mereka menggema di koridor rumah sakit.
Januaar mendengus kesal. "Jangan kemana-mana. Kau harus tetap berada di rumah. Tidak perlu berangkat ke sekolah."
-
Seperti apa yang diucapkan Januaar. Rayaa tidak pergi kemana pun. Dia tinggal di rumah selama beberapa minggu. Tidak ada kegiatan lain. Dia hanya akan berbincang dengan Raihan yang akan datang ke rumahnya sore hari.
Raihan sudah mengetahui semuanya. Dia tahu, Rayaa mengandung anaknya Regar. Itu tidak membuat pandangannya terhadap Rayaa berubah. Dia tetap mencintai Rayaa dengan tulus.
Sore ini, Raihan tidak datang. Entah kemana perginya laki-laki itu. Mungkin sedang berada di klub basket bersama timnya.
Rayaa menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat diterimanya dari belakang.
Rayaa mengenali aroma maskulin itu.
"Aku merindukanmu. Kenapa pergi?" Suara __baritone__ yang membuat gadis itu mendongkak menatap laki-laki yang tak lain adalah Regar.
"Kak Regar."
"Aku sedih sekali ketika tidak menemukanmu di kamar. Aku takut kau benar-benar pergi." Regar meletakkan dagunya di ceruk leher Rayaa.
Gadis itu tidak merespon.
"Pelayanku tidak menemukanmu. Aku menghukum mereka."
Deg!
Rayaa mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Semua bodyguard-nya terkapar tak sadarkan diri dengan luka dan darah di tubuh mereka.
Regar sekejam itu?
"Pulanglah."
Rayaa melepaskan pelukannya dan menatap laki-laki itu dengan serius. "Kak Regar, aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Aku rasa, kita akhiri saja."
Mendengar ucapan Rayaa, Regar benar-benar marah. Dia mengepalkan tangannya geram. "Apa maksudmu?! Kenapa kau tiba-tiba mau mengakhiri ini?! Bukankah waktu itu kau sendiri yang menginginkan hubungan ini tetap berlanjut?!"
"Iya, tapi sekarang tidak! Kak Regar dan keluarga Mahali bermusuhan dengan keluarga Gallardo! Kalian ingin menghabisi adikku yang merupakan pemimpin selanjutnya setelah papa!" Rayaa berteriak dengan wajah yang sudah memerah.
Regar terdiam.
"Januaar adikku satu-satunya! Meskipun dia seperti itu, dia tetaplah adikku!"
Regar mencengkram kedua lengan Rayaa membuat gadis itu meringis. "Aku memang akan membunuh Januaar, tapi aku tidak akan membunuhmu. Aku mencintaimu!"
Regar memukul titik kesadaran Rayaa membuat gadis itu terkulai dalam pelukannya.
"Jangan membuatku lupa diri."
-
Ketika Rayaa bangun\, dia terkejut mendapati dirinya berada di __base camp__ Regar. Namun\, __base camp__ yang berbeda. Tempat itu sangat terpencil membuat Rayaa cemas.
Regar sedang duduk di sofa di dalam ruangan tersebut. Dia menatap Rayaa dengan seduktif.
"Tetaplah bersamaku, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu." Regar mengancam seolah dia seorang pembunuh.
Rayaa bersuara, "Aku hamil."
Regar terbelalak mendengar pengakuan Rayaa. Dia berdiri dari sofa dan tanpa diduga, laki-laki itu menjambak rambut Rayaa.
Gadis itu meringis kesakitan. Untuk pertama kalinya Regar berbuat kasar padanya.
"Apa kau bilang?!" Regar benar-benar panik. Dia tidak mengira Rayaa sedang mengandung benihnya. Selama ini dia tidak pernah membuat gadis-gadis yang ditidurinya mengandung.
Jika Ridan tahu, Regar pasti akan dihukum. Hukuman Ridan tidak tanggung-tanggung. Bisa saja Ridan membunuh Rayaa, karena Ridan sangat membenci keluarga Gallardo. Regar tidak ingin itu terjadi.
Dia mencintai Rayaa. Dia tidak mau Rayaa mati. Tapi, dia juga tidak mau Rayaa mengandung anaknya. Dia benci dengan kenyataan itu.
"Gugurkan anak ini!" Bentak Regar.
Rayaa terbelalak. "Tidak! Aku tidak mau!"
"Gugurkan, atau aku akan berbuat kasar padamu!" Regar mendorong Rayaa dan menindihnya.
"Aku tidak mau membunuh makhluk tidak berdosa ini!" Teriak Rayaa.
Hal terburuk dalam hidup Rayaa dimulai. Gadis itu benar-benar berada dalam kesengsaraan. Regar mencintainya, tapi cinta yang dimiliki Regar bukan cinta yang normal.
Ketika Regar pergi\, tanpa diketahuinya\, teman-teman Regar di __base camp__ itu memperkosa Rayaa. Gadis itu tidak berani mengadukan perbuatan teman-temannya Regar. Mereka mengancam Rayaa.
Sementara itu, Januaar dan Raihan pontang-panting mencari Rayaa. Mereka melacak keberadaan Rayaa.
"Aku sudah memasang alat pelacak di cincinnya, tapi entah kenapa lokasinya masih tidak bisa ditemukan! Aku sangat mengkhawatirkan keadaan kakakku, apa lagi dia sedang mengandung!" Gerutu Januaar.
Raihan tampak berpikir. "Sepertinya mereka memiliki wilayah yang tidak bisa dijangkau dari luar, tapi mereka bisa menjangkau keluar dari dalam."
Januaar menoleh pada Raihan. "Kau tahu dari mana?"
Raihan menatap Januaar dengan serius. "Aku tahu dari temannya papa, karena dia seorang militer. Biasanya ini digunakan untuk menjaga wilayah penting."
Januaar mencerna kata-kata Raihan. "Tapi, bagaimana bisa? Regar hanya anak geng biasa, bagaimana bisa dia memiliki wilayah yang tidak bisa tercium seperti itu?"
Raihan terdiam sesaat dengan ekspresi tegang. Januaar mengguncang lengan Raihan.
"Kenapa? Apa kau tahu sesuatu?" Tanya Januaar.
Raihan menatap Januaar dengan tatapan serius. "Itu artinya... keluarga Mahali memiliki koneksi dengan orang militer."
Januaar membeku. Seketika bulu kuduknya merinding.
Kekuasaan Gallardo sangat besar dan kuat, tapi mendengar kekuatan rahasia keluarga Mahali, nyali Januaar jadi makin ciut.
"Bos, alat kami menemukan lokasinya."
Januaar dan Raihan menoleh pada orang kepercayaan sang ayah.
"Danuarga Hospital."
22 September 2016
Ucu Irna Marhamah