La Hora

La Hora
LH - 36 - Desperate



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Shica masih berdiri di belakang Januaar dengan ekspresi ketakutan.


 


 


"Kalian pergilah," kata Januaar.


 


 


Para bodyguard itu berlalu. Shica sedikit lega.


 


 


Januaar berbalik dan menatap gadis itu, "Kau tidak perlu memakai pakaian lagi."


 


 


Setelah berkata begitu, Januaar berlalu meninggalkan Shica.


 


 


Shica tertekuk ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya sambil bersujud.


 


 


Januaar yang menuruni tangga, tidak memperdulikan tangisan Shica. Dia tidak berniat pergi ke sekolah hari ini. Laki-laki itu akan segera keluar dari SMA Parameswara.


 


 


Rayaa menghampirinya, "Aku dengar di TV, kalau Ridan Mahali sedang mencari putrinya yang diculik. Kamu tidak khawatir? Bagaimana jika mereka datang ke sini?"


 


 


Januaar menggeleng, "Itu tidak akan terjadi."


 


 


Ponsel Januaar berdering. Ternyata Raihan menelponnya. Januaar menolak panggilan dari mantan temannya itu.


 


 


"Kenapa di-reject?" Rayaa mengambil ponsel adiknya kemudian menelpon balik laki-laki yang disukainya.


 


 


Dia ingin berbicara dengan Raihan.


 


 


"*******! Aku tahu, kau yang menculik Shica! Katakan kau di mana sekarang?! Ini sudah 24 jam, dan kau masih bisa tenang menyembunyikan anak orang!"


 


 


Rayaa terkejut mendengar suara Raihan yang sedang marah. Dia menoleh pada Januaar yang juga sedang menatapnya.


 


 


"Aku harus pergi," kata Januaar kemudian berlalu.


 


 


"Januaar! Jangan kau lukai Shica! Jika aku melihat setetes darahnya saja, aku akan membunuhmu!"


 


 


Raya menitikkan air matanya, secinta itukah dirimu pada Shica? Seingatku, kau tidak pernah sampai sekhawatir ini padaku dulu.


 


 


Tanpa mau mengatakan sesuatu, Rayaa melemparkan ponsel itu ke lantai. Dia bergegas menaiki tangga menuju ruangan di mana Shica berada. Gadis itu membuka pintu membuat Shica tersentak dan menoleh.


 


 


Rayaa menatap tajam pada Shica.


 


 


Wajahnya... sepertinya dia tidak asing bagiku, aku rasa... aku pernah bertemu dengannya, tapi kapan?


 


 


Rayaa menendang kaki Shica.


 


 


"Arrgg!" Shica berteriak kesakitan sambil melipat kakinya.


 


 


"Ini semua karenamu!" Rayaa mengambil gunting dan menjambak rambut Shica kemudian memotong rambut panjang itu dengan sembarangan.


 


 


"Aarrgghh! Jangan memotong rambutku!" Shica berusaha melepaskan diri.


 


 


Helaian rambutnya berjatuhan ke lantai.


 


 


"Kita lihat, apakah setelah seperti ini, Raihan masih mencintaimu?!" Rayaa menampar wajah Shica, tanpa peduli dengan darah yang sudah mengering di pelipis Shica karena perbuatan Januaar.


 


 


Rayaa menusukkan gunting tersebut ke punggung Shica.


 


 


Gadis itu tersungkur ke lantai dengan darah mengalir dari punggungnya.


 


 


"Mati kau!" Rayaa akan menusuknya lagi, namun tangan kekar itu menahannya.


 


 


Rayaa mendongkak menatap pemilik tangan tersebut, ternyata adiknya, Januaar.


 


 


"Lepaskan aku! Dia harus mati!" Teriak Rayaa.


 


 


"Jika Kakak membunuhnya sekarang, penderitaannya hanya sebentar."


 


 


Januaar membawa kakaknya keluar dari ruangan itu. Shica berusaha bangkit. Darah dipunggungnya mengalir ke pinggang dan pahanya.


 


 


Shica menangis tertahan. Kedua matanya terasa perih, entah sudah berapa lama dia menangis, entah berapa banyak air mata yang sudah dia keluarkan.


 


 


Gadis itu mengambil seragamnya di lantai. Dia mengusap darah dari punggungnya.


 


 


Perutnya terasa sakit sekali. Dia bangkit dan berjalan sempoyongan menuju pintu. Berharap tidak ada siapa pun di luar. Perlahan tangannya bergerak membuka pintu.


 


 


Setelah memastikan tidak ada siapa pun, dia menuruni tangga dengan hati-hati.


 


 


Ada tong sampah di ujung tangga dia melihat ke dalam. Rotinya yang waktu itu diberikan pada Januaar ada di dalam wadah sampah. Shica mengambil roti tersebut dan segera dibuka kemasannya lalu dimakan tanpa merasa jijik sedikitpun.


 


 


Tanpa dia sadari, Januaar berdiri tak jauh darinya. Dia menyaksikan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


 


 


Januaar membuang muka sambil menutup mata sejenak lalu menghampiri Shica. Gadis itu terkejut dan mendongkak menatap Januaar dengan ekspresi takut.


 


 


Dengan kasar, Januaar menarik lengan Shica dan menyeretnya kembali ke ruangan semula.


 


 


"Jangan keluar dari ruangan ini, atau aku akan mematahkan kakimu!" Ancam Januaar.


 


 


Laki-laki itu berlalu pergi. Shica menghabiskan sisa rotinya. Dia melihat ke kamar mandi. Gadis itu pergi ke sana dan meminum air dari kran.


 


 


Januaar kembali, Shica menoleh. Laki-laki itu melemparkan baju pada Shica.


 


 


"Pakai itu, atau para bodyguard akan memperkosamu." Setelah berkata demikian, Januaar berlalu.


 


 


-


 


 


Malam harinya, Januaar mendapatkan telepon dari Regar.


 


 


"Kembalikan Shica, atau kau akan menyesal." Suara datar Regar terdengar begitu menakutkan, tapi tidak untuk Januaar.


 


 


Laki-laki itu mendecih, "Bagaimana bisa kau mengancamku? Padahal kau tidak tahu di mana aku berada. Meskipun kau mencariku, itu tidak akan berhasil. Tempat ini tidak akan bisa ditemukan."


 


 


"Jangan mencari masalah dengan keluarga Mahali."


 


 


"Apa karena keluarga Mahali itu keluarga mafia?"


 


 


Tidak ada jawaban dari seberang sana. Tampaknya Regar tidak berniat menjawab pertanyaan dari Januaar.


 


 


"Kita sama Regar, kita dilahirkan di keluarga yang kotor dan kita mencari kesenangan dengan geng motor. Pada akhirnya kita tetaplah hina."


 


 


"Jangan menyamakan aku denganmu, aku...."


 


 


"Bangsawan? Yeah, aku tahu kau akan bilang itu."


 


 


Seorang bodyguard masuk, "Tuan! Shica Mahali kabur!"


 


 


Januaar terkejut.


 


 


"Apa?! Januaar kau...."


 


 


Januaar segera memutuskan panggilan secara sepihak. Dia bergegas bersama para bodyguard untuk mencari Shica.


 


 


"Dia tidak akan pergi jauh, hutan ini gelap dan dia mungkin tersesat atau berputar-putar di hutan ini."


 


 


-


 


 


Shica memeluk tubuhnya sendiri. Dia mengenakan pakaian yang diberikan oleh Januaar siang ini.


 


 


Gadis itu melihat ke sekeliling. Sangat menakutkan dan gelap. Sedari tadi dia hanya berputar di tempat itu.


 


 


Aku harus lewat mana? Shica menangis.


 


 


Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya. Sinar rembulan cukup jelas menerangi wajah orang itu.


 


 


Januaar.


 


 


Laki-laki itu berdiri dengan ekspresi marah, ada tongkat  besi di tangannya.


 


 


"Senang sekali bermain petak umpet malam-malam begini, ya?" Geram Januaar.


 


 


Shica menggeleng, dia segera berlari dengan sisa tenaga yang ada.


 


 


Januaar mengejarnya.


 


 


Shica tidak memperdulikan kakinya yang tergores rerumputan berduri di hutan. Gadis itu bahkan tidak mengenakan alas kaki.


 


 


Tongkat besi itu menghantam punggungnya, Shica tersungkur jatuh.


 


 


Januaar mendekat.


 


 


Shica menyeret tubuhnya dengan mengesot.


 


 


"Sepertinya aku harus mematahkan kakimu agar kau tidak bisa berjalan lagi!"


 


 


Januaar memukul kaki Shica dengan tongkat besinya.


 


 


"Aaaarrrggghhh!!!!" Teriakan Shica menggema di hutan itu.


 


 


Gadis itu sekarang tidak bisa bergerak. Januaar mengangkat tubuh Shica dan memanggulnya seperti karung beras.


 


 


Laki-laki itu kembali ke rumahnya. Rayaa melihat adiknya tampak marah dengan Shica dibahunya.


 


 


Januaar menaiki tangga menuju ruangan yang sama. Dia masuk ke kamar mandi di ruangan tersebut dan melemparkan tubuh Shica ke bath-up.


 


 


Shica sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suaranya. Tenggorokannya sakit sekali.


 


 


Januaar menyalakan kran air mengisi bath-up membuat Shica meringis kedinginan.


 


 


"Kudengar, kau adalah siswi yang cerdas, tapi... kau tetap harus diberikan pelajaran!"


 


 


Ketika air memenuhi bath-up, Januaar menenggelamkan tubuh Shica membuat air di dalam bath-up meluber keluar.


 


 


Shica kelabakan dan tidak bisa bernapas.


 


 


Januaar mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video dengan Regar.


 


 


Kepala Shica muncul di permukaan air. Dia terbatuk-batuk dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.


 


 


Regar mengangkat video call dari Januaar. Dia terkejut melihat Shica.


 


 


"Shica!"


 


 


 


 


Januaar menenggelamkan lagi kepala Shica.


 


 


"******* kau! Jangan melukainya!"


 


 


Januaar tertawa, "Kau sangat menyayangi adikmu, ya?"


 


 


"Januaar! Jangan sakiti adiku, *******!"


 


 


"Memohon padaku sekarang, atau dia akan mati kehabisan oksigen!"


 


 


"Brengsek! Sialan kau!"


 


 


"Memohon, *******! Bukan mengumpat!"


 


 


"Jangan melukainya, Januaar! Kumohon jangan!" Regar terlihat panik.


 


 


Januaar tersenyum penuh kemenangan, "Katakan sekali lagi."


 


 


"Januaar kumohon! Dia bisa mati!"


 


 


Januaar menarik rambut Shica ke permukaan air. Namun, gadis itu tidak sadarkan diri. Januaar terkejut.


 


 


"******* kau! Shica! Shica! Bangun, Shica!"


 


 


Januaar segera mengakhiri panggilannya. Dia mengangkat tubuh Shica ke lantai dan menepuk-nepuk pipi Shica dengan keras.


 


 


"Bangun gadis sialan! Jangan membuatku panik! Shica, bangun!" Januaar menekan dada Shica.


 


 


Air keluar dari mulut gadis itu.


 


 


"Jangan mati dulu! Aku belum puas menyiksamu!" Januaar menekan-nekan dada Shica.


 


 


Semakin banyak air yang keluar dari mulutnya.


 


 


Januaar mendekatkan wajahnya, lalu kembali memundurkan kepalanya.


 


 


"Aku tidak mau melakukannya, tapi...."


 


 


Januaar menempelkan mulutnya ke bibir Shica dan memberikan napas buatan.


 


 


Laki-laki itu melepaskan tautan bibirnya kemudian kembali menekan dada Shica.


 


 


Gadis itu terbatuk-batuk, namun kedua matanya tak kunjung terbuka.


 


 


Januaar membawa tubuh Shica ke ruangan semula. Dia menyuruh pelayan untuk menggantikan baju Shica.


 


 


-


 


 


Sarapan pagi di rumah Gallardo.


 


 


Rayaa menoleh pada Januaar, "Semalam dia kabur?"


 


 


Januaar mengangguk, "Dia tidak akan bisa kabur lagi. Aku sudah memukul kedua kakinya."


 


 


"Kau sudah menceritakan kebejatan moral kakaknya?" Tanya Rayaa lagi.


 


 


"Hari ini dia harus tahu, dan aku sendiri yang akan merenggutnya dengan paksa," jawab Januaar kemudian meneguk air sampai habis.


 


 


Rayaa terkejut, "Kau menyukai tubuhnya?"


 


 


"Yeah, sayang sekali jika dia mati dalam keadaan perawan, kan? Apalagi belakangan ini aku tidak bertemu dengan gadis-gadis yang biasanya menemaniku di rumah lama."


 


 


Rayaa tidak bertanya lagi. Dia melanjutkan memakan sarapannya.


 


 


Januaar memanggil salah seorang pelayan, "Pelayan, bawakan dia makanan."


 


 


"Baik, Tuan."


 


 


Rayaa mendecih, "Jangan bilang kau menyukainya."


 


 


Januaar berdecak kesal, "Mana mungkin aku menyukai gadis itu. Meskipun dia cantik, aku bisa mendapatkan 100 gadis yang lebih cantik dari dia."


 


 


"Tuaaaan!"


 


 


Teriakan pelayan di lantai atas membuat Januaar dan Rayaa terkejut. Kedua kakak beradik itu segera menaiki tangga dan melihat apa yang terjadi.


 


 


Shica tergeletak lemah di lantai dengan darah yang menggenang di sekitarnya.


 


 


Gadis itu memotong pergerakan tangannya dengan gunting.


 


 


Rayaa menutup mulutnya karena mual melihat pemandangan itu.


 


 


Januaar segera menyuruh bodyguard untuk memanggil dokter.


 


 


Laki-laki itu mengangkat tubuh Shica ke kamarnya. Darah gadis itu menetes di sepanjang lantai. Dan sekarang membasahi bedclothes-nya yang berwarna putih.


 


 


"Jangan mati sekarang, nyawamu hanya akan diambil dengan tanganku sendiri."


 


 


Setelah memanggil dokter dan beberapa perawat yang membawa seluruh peralatan medis lengkap, mereka langsung memberikan penanganan pada Shica.


 


 


Dalam sekejap mata, kamar Januaar terlihat seperti rumah sakit VIP.


 


 


Januaar dan Rayaa menunggu di luar.


 


 


Dokter keluar menemui Januaar, "Dia kehabisan darah, perlu pendonor bergolongan darah A untuk menyelamatkannya."


 


 


Januaar dan Rayaa saling pandang.


 


 


"Aku akan mencarinya, mungkin pelayanku ada yang bergolongan darah A." Januaar berlalu dan mengumpulkan para pelayan.


 


 


Dia menjanjikan 12 juta untuk orang bergolongan darah A yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Shica.


 


 


Beruntung ada seorang pelayan yang mau melakukannya.


 


 


Shica bisa diselamatkan.


 


 


-


 


 


Rama melihat Regar yang tidak bisa diam, laki-laki itu mondar-mandir di depan Rama dan Raihan.


 


 


"Kau mantan anggota geng si ******* itu, bagaimana bisa kau tidak tahu lokasinya!" Bentak Regar pada Raihan.


 


 


"Aku sudah lama keluar dari geng-nya meskipun sesudahnya kami masih berhubungan! Aku juga sudah melacak lokasi Januaar! Tapi, aku tidak tahu, kenapa lokasinya tidak ditemukan!" Raihan balik membentak.


 


 


"Kalau kau tidak datang tiba-tiba dan mendekati adikku, ini tidak akan pernah terjadi!" Regar menunjuk wajah Raihan.


 


 


Tidak terima disalahkan, Raihan beranjak dari tempat duduknya dan menujuk wajah Regar, "Ini salahmu! Kenapa kau melukai Rayaa, jika waktu itu kau tidak melukainya, ini tidak akan terjadi!"


 


 


Rama memijat kepalanya sakit.


 


 


"Kita tidak perlu membicarakan masa lalu, kita harus membawa Shica kembali. Januaar itu tidak punya hati, dia bisa melukai siapa saja, meskipun wanita, dia tidak segan memukulnya," kata Raihan.


 


 


Kini Rama bersuara, "Dia benar, Kak. Jika kalian terus membicarakan masa lalu, itu tidak akan ada habisnya. Masalah kalian terlalu rumit. "


 


 


"Aku akan mencari Shica dengan caraku sendiri," kata Regar sambil memakai jaketnya.


 


 


"Ingat kata papa? Kita tidak boleh ke mana-mana sekarang. Ini hari ketiga, Shica belum ditemukan juga," kata Rama.


 


 


"Aku tidak mau bekerja sama dengan dia!" Gerutu Regar sambil menunjuk wajah Raihan kemudian berlalu.


 


 


"Kak Regar!" Panggil Rama.


 


 


Regar tidak menghiraukan panggilan adiknya.


 


 


"Kak Regar berhenti atau aku yang mengeretmu!!" Bentak Rama dengan ekspresi marah.


 


 


Langkah Regar terhenti.


 


 


Rama melangkah dan menarik lengan Regar dengan kasar.


 


 


Rama terlihat lebih galak dan tidak ingin dibantah, "Papa punya orang kepercayaan, kita bisa meminjamnya tanpa bilang-bilang."


 


 


"Itu bukan meminjam, tapi mencuri." Raihan yang menyahut.


 


 


Rama mendelik tajam pada Raihan. Laki-laki itu bungkam melihat death glare dari Rama.


 


 


"Kita harus menyusun rencana dengan baik," sambung Rama.


 


 


"Tidak perlu!"


 


 


Ketiga laki-laki itu terkejut mendengar suara bariton milik Ridan.


 


 


Sejak kapan dia berdiri di dekat pintu?


 


 


Tatapannya tertuju pada Raihan, "Aku ingin bicara denganmu."


 


 


-


 


 


Ridan dan Raihan tengah duduk berhadapan.


 


 


"Kenapa kau seperti ini? Aku sempat percaya padamu. Aku bahkan membiarkanmu mendekati putriku dan menjaganya. Tapi... kau pernah menjadi geng-nya Januaar."


 


 


Raihan menunduk dalam.


 


 


"Aku melihat cinta di matamu untuk putriku, tapi ternyata kau berbohong."


 


 


Raihan mendongkak menatap Ridan, "Saya bisa jelaskan. Awalnya niat saya mendekati putri anda memang buruk, tapi setelah mengenal putri anda, saya jadi mengurungkan niat awal saya. Saya mencintainya dengan tulus."


 


 


Ridan menatap kedua mata Raihan. Tidak ada kebohongan yang tersembunyi di mata onyx itu. Yang ada hanyalah kejujuran.


 


 


"Baiklah, aku anggap kali ini kau bicara jujur. Lalu... kenapa kau berbohong? Waktu itu, kau bilang kau adalah anak yang tidak mampu, padahal kau anak dari pengusaha batu bara."


 


 


Raihan tidak tahu harus menjawab apa.


 


 


"Jika kau mencintai putriku, seharusnya tidak ada kebohongan sejak awal."


 


 


-◈◈◈-


 


 


17 September 2016


Ucu Irna Marhamah