
Malam yang cukup ramai,
Raihan sedang melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ketika laki-laki itu melihat ke spion, dia melihat ada mobil yang mengikutinya di belakang.
Raihan melambatkan laju motornya berharap mobil itu melaju melewatinya, namum tidak.
Sepertinya mobil itu memang sengaja mengikutinya. Laki-laki itu mengeratkan helm yang dipakainya.
Jalanan ini terlalu ramai. Orang dibelakangku tidak akan berani melakukan apa-apa, batin Raihan.
Ketika melewati jalanan sepi, Raihan mempercepat laju motornya.
Hanya tinggal 40 meter lagi, aku sampai di tempat yang lebih ramai, ucap Raihan dalam hati.
Namun, kecepatan mobil itu lebih unggul dan dengan sengaja menubruk bagian belakang motor Raihan.
Raihan kehilangan keseimbangan, dia jatuh berguling ke aspal jalanan. Kedua matanya membelalak ketika ban mobil itu akan melindas kepalanya. Dengan segera, Raihan bergerak menghindar sehingga mobil itu lewat di atasnya dan Raihan baik-baik saja ketika berada di kolong mobil.
Tangan Raihan bergerak menyentuh dadanya yang bergemuruh karena masih syok dengan apa yang hampir saja menimpanya.
Satu sentimeter saja Raihan tidak segera bergerak dari posisi semula, dia pasti akan mati dengan kepalanya yang terlindas.
Keluarlah dua orang dari mobil itu. Belum sempat Raihan mengembalikan pikirannya, dua orang itu langsung memukulnya tanpa ampun.
Raihan tidak bisa melawan dengan keadaan tubuhnya yang lemah karena jatuh terlempar dari motor.
Namun, mendengar suara motor yang mendekat, kedua orang tak dikenal itu langsung memasuki mobilnya dan tancap gas.
Motor-motor itu berhenti dan menolong Raihan.
"Sialan orang-orang dari geng Regar," umpat salah seorang dari mereka sambil membopong tubuh Raihan.
Di malam yang sama, Regar dan Rama kembali pulang ke rumah. Mereka tidak melihat keberadaan Shica di manapun, termasuk di kamarnya.
"Ke mana anak itu?" Tanya Regar mulai panik. Rama juga mencari ke setiap ruangan.
Ketika memasuki ruang makan, Rama terkejut sembari tersenyum sendu melihat adik perempuannya itu tertidur dengan posisi kepala terlelap pada kedua tangannya yang terlipat di meja makan.
Rama menghampiri adiknya itu. Ada banyak makanan di meja, namun semuanya masih utuh.
Shica menunggu kepulangan kakak-kakaknya untuk makan malam bersama dan gadis itu ketiduran.
Rama mengusap rambut Shica. Gadis itu bergerak dengan mata yang masih tertutup.
Regar masuk ke ruang makan, dia menghela napas lega melihat Shica di sana.
"Ah, anak ini membuatku merasa mau mati saja." Regar mengangkat tubuh Shica dengan bridal style menuju ke kamar gadis itu.
Rama membukakan pintunya. Dibaringkan Shica ke ranjang oleh Regar. Rama menyelimutinya.
"Kakak tidak kasihan pada Shica?" Tanya Rama.
"Memangnya kenapa?" Regar balik bertanya.
"Kakak memaksanya untuk tidak berdekatan dengan laki-laki yang disukainya, sementara dia tidak melarang kakak dekat dengan Bella, padahal Shica tidak menyukai Bella."
Regar mendecih, "Masalahnya dia menyukai Raihan, apa kau tidak khawatir dengan keselamatan adikmu kalau dia dekat dengan Raihan?"
Rama terdiam.
Regar kembali bersuara, "Shica hanya sedang cinta monyet, nanti dia juga bosan dengan Raihan dan akan menyukai laki-laki lain."
Rama tidak berniat membantah kakaknya.
"Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Itu akan membuatmu menjadi lemah dan lamban, Petir."
Setelah mengatakan itu, Regar berlalu. Namun, langkahnya terhenti mendengar suara notifikasi dari ponsel Shica yang tersimpan di meja.
Regar mengambilnya, ternyata dari Meishy.
Shica, aku mendapatkan kabar dari Rangga...
Raihan kecelakaan!
Shica kamu di mana?
Regar menautkan alisnya, "Rama, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjauhkan gadis ini dari Shica?"
Rama gelagapan, "Itu...."
"Aku jadi tidak bisa mempercayaimu, kalau kamu seperti ini, Rama. Harusnya kamu mengerti, ini untuk melindungi Shica," kata Regar sambil menghapus balon percakapan dari Meishy.
Regar mencari percakapan Shica dengan Raihan. Ketika menemukannya, Regar membaca semua percakapan itu.
"Ikut aku, Rama." Regar meletakkan kembali ponsel Shica ke meja.
Rama mengangguk.
-
Keesokan harinya, Shica menuruni tangga untuk berangkat ke sekolah seperti biasa, namun Rama memanggilnya.
"Kita bertiga akan berangkat ke sekolah bersama, tunggu kak Regar sebentar," kata Rama.
Shica mengangguk.
Regar menuruni tangga sambil bersuara, "Hari ini bersamaku naik motor, pulangnya juga."
Shica tampak berpikir.
Mereka bertiga keluar. Shica terkejut melihat mobil sport merah yang terlihat masih baru terparkir di pelataran rumahnya.
"Kakak membeli motor baru? Papa tahu?" Shica bertanya pada Regar.
"Givar memberikannya padaku, karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Sepertinya hanya dia yang ingat," jawab Regar.
Shica terkejut, kenapa aku bisa lupa?! Ini hari ulang tahun kak Regar! Ya ampun, dia bisa marah padaku.
Regar menaiki motor tersebut lalu memakai helm. Dia menoleh pada Shica yang tidak kunjung naik.
"Kenapa?" Tanya Regar.
Shica mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung kakinya, "Aku... aku kesulitan naiknya."
Regar menunduk melihat rok pendek yang dikenakan oleh Shica.
"Buang saja rok sialan itu, lain kali aku akan membelikan yang lebih pantas dilihat," kata Regar ketus.
Rama tertawa.
Regar melepaskan jaketnya, "Kamu mau memakai jaketku juga, kan?"
Pertanyaan Regar membuat kening Shica mengernyit.
"Kamu 'kan pernah memakai jaket Raihan," ucap Regar yang mengerti dengan kebingungan Shica.
Gadis itu menunduk sambil mengambil jaket Regar dan memasangkannya ke pinggang. Dia naik ke motor sambil memasang helm.
Rama melajukan motornya lebih dahulu. Regar menyusul di belakang.
Di sepanjang perjalanan, Shica tidak berani menegur Regar. Dia hanya diam dan berpegangan pada pinggang kakaknya.
Regar melihat ke spion. Tidak tega juga melihat Shica yang tertekan. Itu mendorong Regar untuk berbicara lebih dulu.
"Hari ini aku ada pertandingan persahabatan di lapangan. Jadi, akan ada SMA Parameswara yang akan datang ke SMA. Kamu harus ada di bangku penonton untuk melihatku. Biasanya kalau ada kegiatan seperti ini, jam pembelajarannya juga tidak akan berjalan efektif."
Tidak ada jawaban dari Shica. Gadis itu memeluk perut kakaknya. Regar melihat tangan Shica yang melingkar di perutnya.
"Happy birthday, Big Bro... I'm sorry, I'm late to say it." Shica melelapkan kepalanya di punggung kekar milik Regar.
"Why? Kamu lupa atau sibuk? Biasanya kamu adalah yang pertama mengatakannya." Regar masih merasa kecewa.
Tidak ada respon. Shica malah memberikan pertanyaan, "Kakak marah padaku?"
"Aku hanya kecewa." Regar menjawab dengan nada datar.
"I'm sorry." Shica menghela napas berat.
"Okay, I'm fine, Little Sister."
Sunyi.
"Papa sering menanyakan kalian. Aku menjawab dengan kebohongan. Aku selalu merasa bersalah pada papa, ketika aku berbohong. Tapi, aku juga merasa sedih apabila papa menghukum kalian." Shica membuang napas kasar setelah mengatakan itu.
Regar mendengarkan.
"Kakak bisa menebak, kenapa aku melakukannya? Kenapa aku berbohong?"
"Karena menyayangi kami?" Tanya Regar dengan tatapan tertuju pada punggung Rama yang sedang mengendarai motor di depannya.
"Benar, lebih tepatnya sangat, sangat, sangat menyayangi kalian. Aku merasa lebih dekat dengan kalian dibandingkan dengan mama dan papa," ucap Shica.
"Bukan berarti aku tidak menyayangi mereka. Hanya saja... waktuku lebih banyak bersama kalian. Itu pun dulu. Sekarang kalian sudah punya kesibukan sendiri dan meninggalkanku sendirian di rumah," sambung Shica.
Regar tidak merespon.
"Kak...." Shica merasa kesal karena tidak ditanggapi serius oleh kakaknya.
"Kamu sedang merayuku?" Tanya Regar ketus.
Regar melanjutkan kalimatnya, "Jika kamu pikir, kami akan membiarkanmu dekat-dekat dengan si Raihan, itu salah. Meskipun kamu merayuku dan merayu Rama, itu tidak akan berhasil."
Shica cemberut. Dia mengatakan hal yang sejujurnya. Dia memang lebih dekat dengan kedua kakaknya dibandingkan dengan orang tuanya.
Shica berucap, "Padahal aku bicara seperti ini tulus dari hati. Soal Raihan... meskipun kalian tidak mengizinkanku, aku akan tetap dekat-dekat dengannya."
"Jika kamu tetap mau dekat dengan dia, aku akan membuatnya menderita," kata Regar serius.
Shica mendengus, kenapa kakakku yang satu ini sulit sekali diajak romantis dan bercanda?!
"Jangan galak jadi orang," gerutu Shica. Regar tersenyum, "Galak-galak begini, kamu sayang, kan?"
Shica memutar bola matanya, "Iya, aku sayang sama Kakak."
"Aku bisa melihat wajah kamu, ekspresinya harus diganti." Regar melirik kaca spion.
Shica baru menyadari kaca spion dari motor tersebut mengarah padanya. Dengan terpaksa, Shica tersenyum, "Iya, aku sayaaaang Kakak."
Regar tertawa, "Kamu penggoda yang baik, jangan seperti itu."
"Memangnya Kakak tergoda olehku?" Tanya Shica.
"Jangan sering menonton film dewasa." Regar menegaskan.
"Aku hanya menggoda kakakku, tidak dengan laki-laki lain. Aku 'kan tidak mengenal laki-laki lain selain kalian."
Regar bergumam sendiri, "Sepertinya adikku ini sudah tidak waras."
"Bilang sesuatu?" Tanya Shica. Regar menggeleng, "Tidak, mungkin kamu salah dengar."
"Kak, jangan berhenti di tempat parkir, ya. Kakak berhenti di depan gerbang dulu untuk menurunkanku di sana lalu Kakak boleh ke tempat parkir setelah itu," kata Shica.
"Iya."
Regar melajukan motornya melewati Rama. Rama menoleh sejenak melihat motor kakaknya yang melaju langsung ke pintu gerbang sekolah.
"Kak Regar tidak ingat letak tempat parkir, ya?" Rama bergumam. Dia menyusul kakaknya.
Tibalah mereka di area sekolah. Regar menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang, dia melepaskan helm yang dikenakannya.
Beberapa siswi yang melihat Regar bersama Shica tampak histeris dan cemburu.
Rama menghentikan motornya di belakang motor sang kakak, "Kenapa berhenti di sini? Kita harus berputar lagi untuk memarkirkan motor."
Shica yang menjawab, "Aku mau turun di sini." Gadis itu turun dari motor kakaknya.
Regar membantu melepaskan helm dari kepala sang adik. Shica menatap kakaknya.
"Tidak ada bekas ciuman kak Bella di wajah Kakak, kan?" Tanya Shica.
Regar mengerutkan keningnya bingung, "Tidak, memangnya kenapa?"
Shica menarik dasi Regar membuat laki-laki itu sedikit mendekat padanya. Kecupan hangat mendarat di pipinya. Shica yang mencium Regar. Regar sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shica.
Semua siswi yang melihat itu menjerit histeris. Rama menahan tawa karena tingkah kakak dan adiknya itu.
"Terima kasih, Kak Regar!" Suara Shica sengaja ditinggikan seolah ingin membuat gadis-gadis itu semakin iri.
"Ih, perempuan murahan, tidak tahu malu."
"Mau-maunya kak Regar bersamanya."
"Nanti kalau kak Regar bosan, dia dibuang juga."
Shica tidak peduli dengan ucapan mereka. Yang penting dia senang melihat ekspresi kecewa dan cemburu di wajah mereka.
Shica berlalu ke kelasnya.
Sementara itu, Regar memarkirkan motornya bersama Rama.
"Apa saja yang sudah ditoton oleh adikmu itu? Dia benar-benar...." Regar memutar bola matanya.
"Adikmu juga, Kak." Rama melepaskan helm dan menyimpannya ke motor.
"Iya, itu karena dia sering bergaul denganmu dan mungkin saja dia melihat-lihat isi dari laptopmu." Regar masih menggerutu.
"Bersyukur dia hanya mencium pipimu," kata Rama sambil tertawa.
Regar juga tertawa.
-
Shica memasuki kelasnya. Namun, dia tidak jadi masuk kelas, karena ada Rangga yang memanggilnya.
"Shica, Shica!"
Gadis itu menoleh.
"Ada apa, Ga?" Tanya Shica.
"Kamu tahu, gak... Raihan gak masuk karena kecelakaan?" Tanya Rangga.
Shica terkejut, "Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
"Meishy bilang, di sudah memberitahumu, tapi kau hanya membaca chat darinya."
Shica terdiam, pasti kak Regar atau kak Rama yang membuka HP-ku tanpa izin semalam.
"Dia di rumah sakit?" Tanya Shica yang khawatir dengan keadaan Raihan.
"Tidak, dia di rumahnya."
Meishy menghampiri mereka berdua, "Shica, kamu sudah menemui Raihan?"
"Aku tidak membaca chat darimu, Meishy." Shica tampak cemas.
"Tapi, ada laporan terbaca." Meishy tampak bingung.
"Ya sudah, kalian antar aku ke rumah Raihan, yaaa... biar aku yang meminta surat izin pada guru piket. Kalian berdua tunggu di sini, yaaaa." Setelah mengucapkan itu, Shica berlalu.
Rangga dan Meishy saling pandang.
"Kira-kira... kita diperbolehkan pergi, tidak, ya?" Tanya Meishy.
Rangga menjawab, "Sepertinya kita akan diberikan izin, karena beberapa guru dan siswa ada sedang sibuk dan kemungkinan jam belajar akan sedikit terganggu, mengingat hari ini akan ada atlet dari SMA Parameswara."
Meishy mengangguk.
Di lapangan voli,
Regar tidak melihat keberadaan Shica, dia sudah memberitahu adiknya itu, kalau dirinya akan bertanding.
Apakah Shica lupa?
Tidak mungkin.
Dion menepuk bahu Regar, "Kapten, kau baik-baik saja?"
Regar mengangguk.
-
Rangga yang menyetir mobil tampak fokus ke jalanan, sementara Shica dan Meishy duduk di kursi belakang.
Hanya ada kesunyian di antara mereka. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Oh ya... aku sudah mendengar kabar tentang kalian yang memenangkan olimpiade. Selamat, yaaaa." Shica tersenyum untuk teman-temannya.
Rangga terkekeh, "Aku sungguh tidak menyangka akan menang. Aku mengira, Meishy saja yang akan menang. Dia sangat cepat paham dengan materi."
Meishy tersenyum dengan kedua pipi memerah, "Kamu juga hebat dan mudah memahami materi."
Melihat kedekatan Rangga dan Meishy, Shica jadi malu sendiri.
"Ada siapa di rumah Raihan? Apa orang tuanya tahu?" Tanya Meishy pada Rangga.
"Ada kak Riska dan Lala... Raihan tidak punya orang tua. Kudengar orang tuanya sudah meninggal sejak Raihan masih kecil."
Shica terkejut, ya ampun... kenapa aku baru tahu? Kenapa Raihan tidak memberitahuku? Aku merasa telah menjadi teman jahat untuknya, karena tidak tahu apa pun tentang dia.
"Kak Riska dan Lala itu saudaranya Raihan?" Tanya Shica.
"Aku juga tidak tahu," jawab Rangga sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak Riska itu ibunya Lala?" Tanya Shica lagi.
Rangga mengangguk.
"Raihan itu orang yang misterius, ya? Aku pikir, kamu mengenalnya dengan dekat," ujar Meishy pada Rangga.
"Kami hanya sebatas mengenal di lapangan basket sewaktu SMP. Dia memang orang yang mudah akrab dan menyenangkan, tapi dia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya."
Perkataan Rangga membuat Shica merasa semakin iba pada Raihan. Laki-laki itu selalu terlihat ceria dan menyenangkan, tapi sebenarnya dia sangat kesepian.
-◈◈◈-
17 April 2016
Ucu Irna Marhamah