La Hora

La Hora
LH - 24 - Overslept



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


Pagi di rumah Mahali,


 


 


Shica tidak melihat kakaknya di ruang makan. Entah itu Regar, atau Rama. Mereka tidak ada.


 


 


"Pa, Ma, kak Regar dan kak Rama kemana?" Tanya Shica pada kedua orang tuanya.


 


 


"Regar menginap di rumah temannya." Ratna yang menjawab.


 


 


Shica menoleh pada Ridan, "Papa mengizinkan kak Regar menginap di rumah temannya?"


 


 


Ridan tidak menjawab. Pria paruh baya itu meneguk kopinya kemudian berlalu.


 


 


Shica mengernyit, "Kak Regar enak, ya, Ma. Selalu mendapatkan perlakuan istimewa."


 


 


Gadis itu berlalu kesal tanpa mau menunggu jawaban ibunya. Ratna hanya menggelengkan kepalanya.


 


 


Shica menaiki tangga menuju kamar Rama. Dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat Rama yang masih tertidur dengan bergelung dalam selimutnya yang hangat.


 


 


Shica menyingkap selimut tersebut lalu mengguncangkan lengan kekar kakaknya.


 


 


"Kak Rama, ini sudah jam 7. Bangun, Kak."


 


 


Rana malah menarik kembali selimutnya. Shica menarik selimut itu, alhasil mereka saling tarik-menarik.


 


 


"Kak Rama, nanti Kakak kesiangan."


 


 


Tidak berhasil dibangunkan. Laki-laki itu sepertinya tidak ingin bangun.


 


 


Shica yang kesal pergi meninggalkan Rama.


 


 


Ketika jam menunjukkan pukul 8, Rama baru bangun. Dia segera bersiap-siap dan mulai ribet sendiri.


 


 


Laki-laki itu tidak melihat siapa pun di rumahnya. Dia menepuk dahinya dan segera tancap gas menuju SMA Hardiswara.


 


 


Gerbangnya sudah ditutup. Ada beberapa siswa yang juga kesiangan seperti dirinya. Beberapa anggota PKS sedang mendata mereka.


 


 


Ada Floryn di antaranya.


 


 


Gadis itu menoleh tak peduli pada Rama. Laki-laki itu menghela napas lega ketika Floryn menghampirinya.


 


 


"Nama dan kelas?" Tanya Floryn.


 


 


Rama memundurkan wajahnya, "Kamu 'kan tahu."


 


 


"Oh iya, aku lupa. Ramadiaz Mahali kelas XI-IPA-A." Floryn menuliskan nama Rama.


 


 


Melihat ekspresi jutek Floryn, Rama sangat sedih. Biasanya gadis itu selalu ceria bila melihatnya.


 


 


"Kenapa kesiangan?" Tanya Floryn yang bersikap sesuai profesinya di SMA, anggota PKS yang galak.


 


 


Rama mendekatkan wajahnya, membuat Floryn gugup. Ternyata laki-laki itu berbisik padanya.


 


 


"Aku 'kan sering menolongmu ketika kamu pingsan, apa kamu juga tidak mau menolongku? Anggota PMR akan sangat berterimakasih pada anggota PKS." Rama berbicara sebagai pemimpin PMR.


 


 


Floryn melipat kedua tangannya di depan dada, "Jadi anda tidak ikhlas menolongku?"


 


 


Suara Floryn yang lumayan keras membuat anggota PKS yang lain dan anak-anak yang kesiangan menoleh pada mereka berdua.


 


 


Rama segera membekap mulut Floryn, "Jangan keras-keras. Iya, aku ikhlas, kok."


 


 


Floryn menepis tangan Rama, "Di dalam hukum tidak ada kerja sama organisasi. Ini sudah menjadi tugas PKS, jadi anda tidak bisa mengubah peraturan sekolah."


 


 


Floryn bicara begitu formal, membuat Rama mati-matian menahan tawa.


 


 


"Kau bisa memasukkanku ke ruang BK, ini tugas BK, kan?" Ujar Rama.


 


 


Floryn menggeleng, "Tidak, ini tugas PKS."


 


 


Rama menghela napas berat. Jika dia dimasukkan ke ruang BK, dia bisa 'berbicara' baik-baik dengan guru BK.


 


 


"Come on, Floryn... aku tidak pernah kesiangan sebelumnya. Apa kamu tidak akan memberikan toleransi?" Ucap Rama dengan nada memelas.


 


 


Floryn mengedikkan bahunya, "Tunggu hukuman untukmu."


 


 


Gadis itu berlalu. Rama segera turun dari motornya. Dia menarik pinggang Floryn. Gadis itu terkejut dan menoleh.


 


 


Kedua matanya membulat saat bibir Rama menempel di bibirnya. Kedua pipinya langsung memanas.


 


 


Murid-murid yang melihat ciuman itu secara langsung tampak syok.


 


 


-


 


 


Sesuai keinginan Rama, sekarang mereka berada di ruang BK. Bukan hanya Rama, Floryn juga dipanggil. Seragam PKS masih menempel di tubuh gadis itu. Ekspresinya begitu tegang.


 


 


Guru BK belum masuk. Jadi, hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


 


 


Rama tersenyum senang karena telah berhasil membuat Floryn berada di ruangan BK juga. Yang membuatnya lebih senang adalah ciuman tadi.


 


 


Rama menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Floryn. Merasakan tubuh Rama yang mendekat, gadis itu menoleh.


 


 


"Yang tadi ciuman pertamamu, ya?" Goda Rama. Floryn mengalihkan pandangannya, karena itu benar.


 


 


"Apa kamu tidak mau melanjutkannya?" Rama menarik dagu Floryn. Gadis itu menahan dada Rama.


 


 


"Jangan macam-macam, kau!" Gerutu Floryn.


 


 


Rama tertawa, "Aku tidak macam-macam, aku hanya satu macam, aku laki-laki."


 


 


Floryn menepis tangan Rama.


 


 


"Kenapa jadi menolakku? Waktu itu kamu ingin sekali menjadi pacarku, sekarang aku mau jadi pacar kamu."


 


 


Ucapan Rama membua Floryn terkejut. Ada rasa senang di hatinya, namun dia juga merasa kesal, karena laki-laki setampan dan sebaik Rama adalah anggota geng.


 


 


Floryn tidak bisa menebak, berapa banyak gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya.


 


 


"Menyesal aku menyukai laki-laki semacam dirimu." Floryn mendengus dingin.


 


 


"Kenapa? Karena aku anggota geng? Kamu juga sedang apa di sirkuit?" Tanya Rama.


 


 


Floryn kembali menoleh pada Rama, "Aku pembalap, bukan anggota geng."


 


 


"Yeah, aku tahu."


 


 


Seorang guru BK perempuan memasuki ruangan. Kedua orang itu langsung membenarkan posisi mereka.


 


 


"Kalian membuat masalah," ucap guru BK sambil duduk berhadapan dengan Rama dan Floryn.


 


 


Floryn menunduk dalam. Selama ini dia belum pernah membuat masalah. Jadi, dia cukup takut untuk berbicara.


 


 


Sementara Rama terlihat biasa saja.


 


 


"Kalian berciuman di depan gerbang sekolah, itu memalukan."


 


 


Floryn mengangkat kepalanya dan menatap guru BK, "Saya tidak berciuman, Bu."


 


 


"Saya yang menciumnya," ujar Rama. Guru BK menoleh pada Rama, "Kamu tidak punya malu, ya?"


 


 


Rama merangkul Floryn, "Mau bagaimana lagi, Bu. Pacar saya terlalu cantik, jadi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya."


 


 


Guru BK tampak terkejut mendengar jawaban polos Rama. Apalagi Floryn dia lebih terkejut lagi. Gadis itu berusaha mendorong Rama agar menjauh darinya.


 


 


"Kalian anggota organisasi di sekolah ini, tidak seharusnya kalian seperti ini."


 


 


"Maaf, Bu. Lain kali, kami akan melakukannya di tempat lain."


 


 


Floryn menginjak kaki Rama dengan sepatu PKS yang berat membuat laki-laki itu meringis tertahan.


 


 


"Kalian harus dihukum!"


 


 


-


 


 


Bendera merah putih yang gagaj berkibar mengikuti arah angin. Rama dan Floryn berdiri di depan tiang bendera. Keduanya sedang dalam posisi hormat.


 


 


Beberapa murid yang melihat itu berbisik-bisik.


 


 


"Ketua PMR dan anggota PKS itu kenapa? Apa yang mereka lakukan, sehingga dihukum bersamaan?"


 


 


"Gadis cantik itu kasihan sekali. Dia pasti malu dengan seragam PKS yang dikenakannya."


 


 


"Kapten basket yang tampan itu tetap terlihat mempesona dalam keadaan apa pun."


 


 


"Kenapa mereka tampak serasi, ya."


 


 


"Aaahhh, aku rela dihukum jika harus berdiri berduaan di sana bersama kak Rama."


 


 


"Aku saja yang menggantikan posisi gadis itu."


 


 


Shica menepuk dahinya melihat sang kakak sedang di hukum, sementara Raihan menggaruk kepalanya yang tidak gagal. Dia merasa kasihan juga pada Rama, yang merupakan kapten basket juga seperti dirinya.


 


 


Rama yang sudah berkeringat karena kepanasan menoleh pada Floryn. Gadis itu tampak pucat.


 


 


"Kamu baik-baik saja?" Bisik Rama.


 


 


Tidak ada jawaban dari Floryn.


 


 


Rama membatin, dia 'kan sering pingsan, apalagi kalau berada di bawah terik matahari seperti ini.


 


 


Tiba-tiba Floryn terhuyung dan jatuh pingsan, untuk Rama menangkap tubuh itu dengan sigap.


 


 


"Ooowwwhhh romantis sekali!"


 


 


"Aku mau seperti itu!"


 


 


"Jangan-jangan dia pura-pura pingsan!"


 


 


"Kak Rama lembut sekali padanya!"


 


 


Laki-laki itu segera mengangkat tubuh Floryn dan membawanya ke UKS.


 


 


Rama sendiri yang menanganinya. Beberapa anggota PMR datang membantu. Shica masuk ke ruang PMR. Dia juga membantu kakaknya.


 


 


 


 


-


 


 


Di rumah sakit, Rama tidak bisa diam. Dia bolak-balik di depan ruangan di mana Floryn diperiksa.


 


 


Sementara Shica duduk di kursi sambil memperhatikan kakaknya.


 


 


"Seharusnya aku tidak melakukan itu. Ini salahku, tapi dia juga kena hukuman." Rama seolah sedang bicara dengan dirinya sendiri.


 


 


"Memangnya apa yang sudah Kakak lakukan?" Tanya Shica.


 


 


"Aku menciumnya."


 


 


Kedua alis Shica terangkat, "Di sekolah?!"


 


 


Rama mengangguk.


 


 


"Kakak benar-benar...." Shica tidak melanjutkan kata-katanya, karena dokter keluar dari ruangan itu.


 


 


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


 


 


"Kalian boleh menemuinya."


 


 


Rama dan Shica segera masuk dan melihat keadaan Floryn. Gadis itu ternyata sudah sadar.


 


 


Rama duduk di kursi yang berada di samping ranjang tersebut. Shica duduk di tepi ranjang. Dia menggenggam tangan Floryn.


 


 


"Floryn, maafkan aku." Rama terlihat menyesal. Shica mengusap tangan Floryn.


 


 


Gadis itu mengangguk.


 


 


Shica menoleh pada Rama dan Floryn bergantian, "Floryn, kamu memaafkan laki-laki ini? Dia sudah... aaahhh."


 


 


Shica mendesak karena kesal pada kakaknya sendiri. Rama tertawa.


 


 


"Aku tidak mau berurusan lebih lama lagi dengan kak Rama," gerutu Floryn.


 


 


Rama terlihat sedih, "Kenapa? Tadinya aku mau kamu jadi pacar aku."


 


 


Shica menoleh pada Floryn. Dia ingin melihat reaksi gadis itu.


 


 


"Lupakan, aku tidak mood."


 


 


Shica tertawa.


 


 


-


 


 


Di rumah,


 


 


Floryn sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ada notifikasi masuk, ternyata dari Rama.


 


 


Halo, adik kelas. 😋


 


 


Floryn mengerutkan keningnya.


 


 


Kak Rama tahu kontakku dari siapa? 😴


 


 


Dari anggota PMR yang satu kelas denganmu. 😂


 


 


"Ah, pasti Intan." Floryn hanya tahu satu orang yang menjadi anggota PMR di kelasnya.


 


 


Ada apa menghubungiku? 🙄


 


 


Masih marah? Aku mau minta maaf. 😢


 


 


Melihat emote yang dikirimkan Rama, Floryn merasa kasihan juga.


 


 


Aku sudah bilang 'kan tadi. 🙄


 


 


Emm, iya. Tapi, sepertinya kamu belum memaafkanku dengan tulus. 😢


 


 


Floryn menghela napas kesal.


 


 


Aku tulus. 😉


 


 


Benarkah?


Kamu rela? 😃


 


 


Floryn tampak berpikir, "Apa yang sedang dibicarakan oleh orang ini?"


 


 


Rela. 🙄


 


 


Ciuman itu. 😁


 


 


Kedua alis Floryn terangkat. Seketika wajahnya memanas mengingat ciuman itu.


 


 


Mesum! 😒


 


 


Maafkan aku. Oh ya, ada waktu tidak untuk hari ini? 😃


 


 


Floryn tampak berpikir, "Memangnya dia mau apa?"


 


 


Ada apa memangnya? 🙄


 


 


Ada balapan di sirkuit, aku ingin kau melihatku. 😁


 


 


Floryn tersenyum, "Masih mau berbuat dosa."


 


 


-


 


 


Floryn datang ke tempat yang sudah disebutkan Rama. Gadis cantik itu memakai jaket balap miliknya, dan mengendarai motor sport baru berwarna merah.


 


 


Sesampainya di sirkuit, ada banyak sekali orang di sana. Namun, Floryn tidak melihat keberadaan Rama.


 


 


Tidak ada motor hitam yang biasa digunakan oleh laki-laki itu.


 


 


Gadis itu melepaskan helm dan melirik kesana kemari, "Mana orang itu?"


 


 


Ketika dia turun dari motornya, seseorang menepuk bahunya. Gadis itu berbalik, ternyata Rama.


 


 


"Kenapa Kak.... hmmmmppp."


 


 


Ada orang di belakang Floryn dan membekap mulutnya dengan sapu tangan. Gadis itu terkulai lemas.


 


 


Rama tersenyum dan mengangkat tubuh yang sudah pingsan itu.


 


 


Sebenarnya apa yang ada dipikirkan laki-laki itu?


 


 


-


 


 


Perlahan kedua mata kecil itu terbuka, menunjukkan iris kuning gelap yang cantik.


 


 


Floryn terbangun dalam keadaan seluruh tubuhnya terikat. Dia tampak panik dan melihat ke sekeliling. Dia sedang berada di sebuah tempat yang tidak dikenalinya.


 


 


"Kenapa aku jadi di sini?" Floryn mengingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum dia sadar.


 


 


Rama!


 


 


Pintu ruangan terbuka. Floryn melihat Rama berdiri di sana. Gadis itu akan turun dari sofa, namun naas, dia malah terjatuh ke lantai, karena kedua kakinya juga terikat.


 


 


Rama mendekat dan menarik tubuh Floryn agar melihat padanya, "Kamu lapar? Atau haus? Mau makan sesuatu?"


 


 


Floryn meronta, "Apa yang kak Rama lakukan padaku! Kenapa aku diikat begini?!"


 


 


Rama mengangkat tubuh Floryn agar kembali berbaring di sofa, "Aku hanya ingin kamu jadi pacarku, itu saja."


 


 


Floryn membelalak, "Tidak, sekarang aku tidak mau."


 


 


"Kenapa?" Tanya Rama setengah menggerutu.


 


 


Floryn tampak berpikir, "Aku... aku sudah tidak menyukai kak Rama."


 


 


"Benarkah?" Rama mendekatkan wajahnya membuat Floryn gugup. Laki-laki itu melahap bibir Floryn dengan penuh penuntutan membuat Floryn terkejut.


 


 


Gadis itu berusaha melepaskan diri, atau dia akan kehabisan napas.


 


 


Rama melepaskan ciumannya dan menatap Floryn dengan napas terengah, "Masih mau menolakku?"


 


 


Floryn tidak diberikan kesempatan untuk berpikir, Rama kembali ******* bibir Floryn. Gadis itu menggigit bibir Rama, namun itu tidak membuat Rama melepaskan ciuman mereka.


 


 


Floryn menghentakkan kepalanya ke dahi Rama membuat laki-laki itu agak tersentak.


 


 


"Sialan kau! Jika kau berani, lepaskan ikatan ini dan berkelahi dengan jantan!" Marah Floryn.


 


 


Rama mengelap bibirnya yang basah, dia melepaskan tali yang mengikat tubuh Floryn. Gadis itu merasa tubuhnya sangat lemas, sehingga dia terkulai di atas sofa.


 


 


Rama tertawa. Dia menindih Floryn, "Mau berkelahi dalam keadaan seperti ini?"


 


 


Rama kembali mengecup bibir Floryn. Gadis itu mendorong Rama, "Berhenti."


 


 


Dia akan menangis, karena takut pada Rama. Merasa kasihan dengan keadaan Floryn, Rama menangkup wajah gadis itu.


 


 


"Jadilah pacarku, aku akan berhenti menggoda bibirmu," ucap Rama sambil menyentuh bibir Floryn yang agak basah.


 


 


"Lepaskan aku," kata Floryn.


 


 


"Aku mau kamu menjawabku dulu. Memangnya apa yang membuatmu menolakku? Waktu itu kamu ingin sekali menjadi pacarku." Rama menatap serius pada gadis yang berada di bawahnya itu.


 


 


"Ketua PMR yang baik dan kapten basket yang tampan. Hanya itu yang aku tahu, tapi... tapi... kau... kau menjijikan." Floryn menatap kesal pada Rama.


 


 


Laki-laki itu menyeringai dan kembali mendekatkan wajahnya. Hidung mancung mereka beradu. Manik hazel dan ivory itu bertemu.


 


 


"Mau tidak, jadi pacarku? Aku tidak menerima alasan pertama, kedua, dan ketiga. Sekarang terima aku jadi pacarmu, atau kau akan keluar dari tempat ini dalam keadaan tidak perawan."


 


 


Ancaman Rama benar-benar menakutkan. Floryn tidak bisa menggeleng atau pun mengangguk. Tangan Rama bergerak turun ke dadanya.


 


 


"Iya! Aku mau!" Teriak Floryn.


 


 


Kecupan basah itu kembali berlangsung.


 


 


-◈◈◈-


 


 


1 September 2016


Ucu Irna Marhamah