La Hora

La Hora
LH - 47 - Hurt



 


 


 


 


Tamparan keras mendarat di pipi Regar. Siapa lagi kalau bukan Ridan yang menamparnya?


 


 


"Aku sudah mendengar semuanya! Kenapa kau membuatnya mengandung?! Aku memang membebaskanmu bersamanya, tapi bukan berarti kau bisa membuatnya mengandung! Itu artinya ada darah Gallardo dan darah Mahali yang tercampur dalam perut gadis itu!" Bentak Ridan.


 


 


"Aku akan memperbaiki kesalahanku." Regar menjawab dengan kepala tertunduk.


 


 


"Memperbaiki kesalahanmu?! Dengan apa?!" Bentak Ridan.


 


 


"Aku akan menghabisi makhluk dalam perutnya." Setelah berkata begitu, Regar berlalu tanpa menunggu respon dari Ridan.


 


 


Laki-laki itu berpapasan dengan Rama di depan pintu.


 


 


"Rama, pinjam motormu."


 


 


Rama menatap kakaknya dengan tatapan kecewa. "Kenapa, Kak? Rayaa adalah gadis yang baik. Kenapa Kakak melakukannya?"


 


 


Regar mendengus. "Berikan kunci motormu."


 


 


"Jika Kakak menggugurkan kandungan Rayaa, bisa-bisa gadis itu tidak bisa mengandung lagi, atau meninggal. Dia masih di bawah umur." Rama tampak serius.


 


 


"Jika kau di posisiku, memangnya apa yang bisa kau lakukan, Rama?" Tanya Regar.


 


 


Pertanyaan kakaknya membuat Rama bungkam. Regar mendecih kesal dan berlalu.


 


 


Rama tampak sedih.


 


 


-


 


 


Regar membawa Rayaa ke Danuarga Hospital. Dia mencari dokter Michael.


 


 


"Kita mau apa kemari?" Tanya Rayaa sambil mengguncangkan lengan Regar.


 


 


Laki-laki itu tidak merespon. Kebetulan dokter Michael sedang di New York bersama istrinya. Jadi, terpaksa Regar mencari dokter lain.


 


 


Rayaa baru menyadari, jika Regar ingin membunuh anaknya sendiri.


 


 


"Aku tidak mau menggugurkan anak ini! Jika kau tidak mau menerimanya, aku sendiri yang akan menjaganya! Kau tidak perlu memikirkanku lagi!" Teriak Rayaa yang mulai mengamuk.


 


 


Suster dan dokter yang melihat itu saling pandang.


 


 


Regar membatin\, __tidak akan ada rumah sakit yang mau menerima permintaan seperti ini. Hanya rumah sakit Danuarga yang bisa menolongku. __


 


 


Tanpa merasa iba, Regar menarik rambut gadis itu, hingga berdiri dengan terpaksa. Dia meringis sambil memegangi rambutnya.


 


 


"Bunuh makhluk hidup dalam perutmu!" Bentak Regar.


 


 


Beberapa dokter dan suster yang melihat itu saling pandang, mereka tampak kasihan melihat keadaan gadis itu yang kacau.


 


 


"Aku tidak mau!" Dengan sekuat tenaga, gadis itu mendorong Regar, sampai-sampai Regar terpundur beberapa langkah.


 


 


Laki-laki itu melihat helaian rambut di tangannya.


 


 


"Maaf, kami akan menunggu di dalam." Dokter dan perawat itu itu berlalu.


 


 


"Rayaa, jika kau tidak mau menggugurkan kandunganmu secara baik-baik, aku sendiri yang akan mengeluarkannya dari perutmu!" Bentak Regar sambil mendekat dan melepaskan sabuknya.


 


 


Rayaa menggeleng dan berteriak keras, ketika sabuk itu mengenai lengannya yang putih mulus.


 


 


"Tidaaaak! Kumohon! Jangan!"


 


 


"Cepat! Kamu ingin keluar dari sini, bukan?!"


 


 


"Aku mau keluar dalam keadaan hidup... hiks, hiks, hiks."


 


 


Regar menarik lengan Rayaa. "Kau akan baik-baik saja, aku hanya ingin anak itu pergi, bukan dirimu."


 


 


Rayaa terdiam.


 


 


"Cepat." Regar mendorong Rayaa ke dalam ruangan di mana dokter dan perawat itu berada.


 


 


Regar menutup pintu dan duduk di kursi tunggu. Dia mendengar suara ribut dari dalam ruangan itu. Ada rasa cemas dalam dirinya. Keringat mengalir dari dahinya. Regar bangkit dan menghampiri pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Rayaa mendorongnya dan berlari.


 


 


Regar terkejut,  dia melihat ke dalam. Dokter dan perawat yang terluka sambil meringis. Gadis itu mengamuk?


 


 


Regar mendengus dan melihat ke arah larinya Rayaa. Gadis itu sudah tidak ada.


 


 


Sementara itu, Raya berlari di tepi jalan. Dia memegangi perutnya dengan napas terengah-engah. Pandangannya tertuju pada Raihan dan Januaar di seberang sana. Kedua laki-laki itu melambaikan tangan ke arahnya.


 


 


"Rayaa, jangan kemana-mana. Aku akan ke sana." Raihan melihat ke kanan dan kiri memastikan tidak ada kendaraan yang lewat.


 


 


Rayaa tersenyum sendu melihat ekspresi Raihan yang begitu peduli padanya. Kenapa dia tidak pernah menghargai perjuangan laki-laki itu?


 


 


Kenapa dia hanya mencintai laki-laki brengsek seperti Regar?


 


 


Beberapa langkah lagi, Raihan akan mencapai Rayaa. Namun, sebuah mobil melaju ke arah Rayaa dan membuat tubuh mungil itu terlempar beberapa meter.


 


 


Kedua mata Raihan membulat sempurna. Jantungnya serasa akan berhenti saat itu juga. Laki-laki itu jatuh tertekuk melihat gadis yang dia cintai terkapar di jalanan dengan darah di sekelilingnya.


 


 


Air mata Januaar sudah mengalir membasahi pipinya.


 


 


Regar yang ada di mobil tersebut.


 


 


Januaar mengambil batu bergegas menghampiri mobil Regar dan memecahkan kaca mobil itu dengan batu di tangannya. Regar membuka pintu mobil dengan kasar hingga menubruk tubuh Januaar sampai terpundur. Januaar memukul wajah memukul wajah Regar tanpa ampun. Meskipun ukuran tubuh dan usianya jauh di bawah Regar, dia tidak takut sama sekali. Dia sedang dikuasai oleh kemarahan.


 


 


"******* kau!"


 


 


Regar tersungkur ke tanah. Januaar menindihnya dan kembali memukulnya.


 


 


"Mahali *******!" Januaar mengambil pisau, namun dengan cepat, Regar menendang ************ Januaar.


 


 


Pria Mahali itu bangkit sambil mengusap darah dari sudut mulutnya.


 


 


Januaar meludahkan darah ke tanah. "Tidak masalah jika kau mau menghabisi anak haram itu dari perut kakakku, tapi kau sudah membuatnya hampir mati!"


 


 


Januar berlari ke arah Regar dan menusukkan pisaunya ke perut laki-laki itu.


 


 


Punggung Regar membentur mobil. Dia meringis tertahan.


 


 


Raihan berdiri di depan Regar, dia menggendong Rayaa yang tak sadarkan diri. Ada banyak darah di mana-mana yang menetes membasahi tanah.


 


 


"Apa kau bangga menjadi putra dari keluarga Mahali? Keluarga Mahali yang bangsawan dan terhormat melakukan hal rendah seperti ini," ucap Raihan.


 


 


Regar mendecih sambil memegangi perutnya yang berdarah. "Gadis itu yang datang sendiri padaku, dia menolak laki-laki miskin sepertimu dan memilihku, aku tidak menginginkan dia."


 


 


Raihan menautkan alisnya. "Kau akan dapat balasannya."


 


 


Kedua laki-laki itu pergi membawa Rayaa dan meninggalkan Regar yang mulai kehilangan kesadaran.


 


 


Ketika dia membuka matanya, dia berada di rumah sakit. Ada Felix duduk di kursi sambil memperhatikannya.


 


 


"Om Felix?"


 


 


"Aku menemukanmu di jalanan dengan luka di perutmu."


 


 


Regar mengernyit. "Bagaimana bisa ini menjadi sebuah kebetulan?"


 


 


Felix tersenyum. "Jangan memikirkan hal lain. Kau perlu menjadi kuat untuk memegang semua kekuasaan ayahmu. Kau ingin mempertahankan nama Mahali, kan?"


 


 


Regar terdiam.


 


 


Di sisi lain, dokter dan para perawat sedang berusaha menyelamatkan nyawa Rayaa.


 


 


Raihan dan Januaar sedang berada di ruang tunggu. Kedua tangan Januaar yang berdarah tampak gemetar. Raihan melihat kedua tangannya yang juga berdarah.


 


 


Laki-laki itu duduk di samping Januaar. "Regar sudah sangat keterlaluan. Aku rasa, dia gila."


 


 


Januaar menutup matanya. Air mata mengalir dari sudut matanya.


 


 


"Kau tidak akan mengerti, Raihan. Dunia gelap memang seperti ini. Tapi, masalahnya kak Rayaa tidak tahu apa-apa. Meskipun dia anak ayahku, dia tidak terlibat apapun."


 


 


Ucapan Januaar terdengar ambigu. Raihan memang tidak mengerti. Dia tidak tahu apapun.


 


 


 


 


Januaar menghela napas berat.


 


 


Setelah perjuangan para dokter itu sampai di titik penghabisan, Rayaa bisa diselamatkan. Tuhan memberikan kesempatan pada Rayaa agar lebih lama menghirup oksigen di planet bumi.


 


 


Meskipun calon bayi yang baru berusia dua bulan itu tidak bisa ddiselamatkan.


 


 


Januaar dan Raihan bisa sedikit bernapas dengan lega melihat Rayaa yang sudah pulih, walaupun gadis malang itu tidak bisa berjalan.


 


 


Terpaksa Rayaa harus menggunakan kursi roda. Gadis itu mengalami lumpuh selama 7 bulan lamanya.


 


 


Setelah itu dia bisa berjalan, walaupun tidak berjalan dengan baik seperti dulu.


 


 


Januaar miris sekali melihat keadaan kakaknya. Sang ayah juga tidak menunjukkan dirinya meskipun Januaar sudah memberitahukan keadaan Rayaa pada tuan Gallardo.


 


 


"Jika dia tidak bisa menjadi seorang ayah untuk kami, buat apa aku menjadi seorang anak untuknya?"


 


 


-


 


 


Raihan duduk berhadapan dengan Januaar. Dia melihat ekspresi kesal di wajah laki-laki itu.


 


 


"Ternyata si brengsek itu punya adik perempuan yang masih remaja seumuran denganku... apa dia tidak memikirkan adiknya ketika menyakiti gadis lain?" Geram Januaar sambil melemparkan foto-foto Shica ke meja di depan Raihan.


 


 


Rayaa juga di sana. Dia melihat foto-foto Shica di meja.


 


 


"Aku ingin membuat perhitungan lewat gadis itu." Januaar mengepalkan tangannya.


 


 


Rayaa bangkit dan berjalan tertatih menghampiri Raihan. Dia menangkup wajah Raihan dan menatapnya dengan intens.


 


 


"Kamu mencintaiku, kan?" Tanya Rayaa.


 


 


Tentu saja, Raihan mengangguk.


 


 


"Lakukan apa yang pernah dilakukan oleh Regar padaku. Kamu harus melakukannya pada gadis ini. Berikan dia penderitaan yang sama denganku... aku ingin Regar merasakan apa yang dirasakan olehku," ucap Rayaa penuh penekanan.


 


 


Raihan terkejut mendengarnya. Dia menoleh pada Januaar yang tampaknya setuju dengan ucapan Rayaa.


 


 


"Aku tahu, kau belum pernah melakukannya sebelumnya, bukankah ini keuntungan juga untukmu? Melakukan pertama kalinya dengan gadis yang masih perawan. Aku yakin, Regar dan Rama menjaga adik mereka dengan baik, meskipun kedua pria sialan itu suka meniduri sembarangan gadis," ujar Januaar.


 


 


"Kenapa harus aku yang melakukannya? Kenapa tidak kau saja?" Gerutu Raihan pada Januaar.


 


 


"Aku tidak ingin menyentuh gadis itu, aku benci padanya." Januaar mendecih kesal.


 


 


"Gadis ini tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa. Kenapa kalian ingin melukainya?" Tanya Raihan.


 


 


"Jika aku membalas dendam pada Regar, itu tidak akan membuat laki-laki sialan itu sadar, dia perlu diberikan pelajaran lewat orang yang disayanginya." Januaar duduk berhadapan dengan Raihan.


 


 


"Bagaimana?" Tanya Januaar.


 


 


Raihan menatap Januaar dengan serius. "Pertama aku harus keluar dari geng ini."


 


 


Mendengar jawaban Raihan, Januaar tampak kaget. Raihan mengambil salah satu foto Shica.


 


 


"Kenapa kau harus keluar dari geng dulu?" Tanya Januaar.


 


 


"Agar Regar tidak mencurigaiku dan kau." Raihan mengambil pisau di meja. Dia melukai jari kelingkingnya sendiri.


 


 


Rayaa mengalihkan pandangannya ketika darah dari luka itu mengalir dan menetes ke meja.


 


 


Januaar mengangguk. "Aku akan mengurus yang lainnya."


 


 


-


 


 


Shica sedang duduk di salah satu meja restoran. Dia memesan makanan. Hari ini dia pulang cepat.


 


 


Pandangan Shica tertuju pada gadis cantik yang duduk tidak jauh dari mejanya. Tatapan gadis itu tertuju padanya.


 


 


__Apa dari tadi dia menatapku? Siapa dia?__ Batin Shica.


 


 


Shica yang merasa takut karena diperhatikan seperti itu segera menghabiskan makanannya. Ketika keluar dari restoran, dia bertabrakan dengan seorang laki-laki.


 


 


"Maaf." Shica segera berlalu tanpa melihat wajah laki-laki yang baru saja bertabrakan dengannya. Jika dia menoleh sedikit saja, maka dia akan melihat wajah Raihan.


 


 


Ya, laki-laki yang barusan bertubrukan dengannya adalah Raihan.


 


 


Laki-laki itu menatap punggung Shica yang menjauh meninggalkan restoran.


 


 


-


 


 


Regar sedang melamun di __base camp__-nya. Saat ini geng-nya sedang berada di puncak kekuatan. Namun\, Regar tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali.


 


 


Dia ingin sekali bertemu dengan Rayaa. Dia merindukan gadis itu. Hanya Rayaa yang bisa membuatnya jatuh cinta.


 


 


Rama menghampiri kakaknya. "Kak Regar, hari ini ada balapan. Apa Kakak tidak mau mengantarku?"


 


 


Regar menoleh pada adiknya. "Ayo, pergi."


 


 


Di arena balapan, Regar masih melamun. Pandangannya teralihkan pada Raihan yang sedang menonton balapan juga.


 


 


Regar berbisik pada Dion, "Dia sedang apa sendirian di sini?"


 


 


"Dia sudah keluar dari geng Januaar," jawab Dion.


 


 


Givar tertawa. "Mau bagaimana lagi, dia hanya anak orang miskin yang bahkan tidak memiliki motor. Dia tidak akan bisa apa-apa dengan kedua kakinya."


 


 


Regar melihat Rama yang melambaikan pialanya. Laki-laki itu memenangkan balapan seperti biasanya.


 


 


-


 


 


Raihan sedang memainkan ponselnya, tapi suara seseorang memanggilnya membuat laki-laki itu menoleh, ternyata Regar.


 


 


Raihan membuang muka sambil mendecih.


 


 


Regar mengalihkan pandangannya. "Aku... aku hanya ingin menanyakan kabar Rayaa."


 


 


"Setelah kau mencoba membunuhnya, kau sekarang menanyakan keadaannya?!" Bentak Raihan.


 


 


"Aku tidak mencoba membunuhnya. Aku hanya ingin membunuh sesuatu dalam perutnya."


 


 


Raihan mengepalkan tangannya geram. "Kau memiliki adik perempuan. Apa kau tidak pernah berpikir jika suatu hari nanti akan ada seseorang yang bisa melakukan hal yang sama pada adikmu?"


 


 


Regar menatap Raihan dengan tajam. "Apa maksudmu?! Jangan membawa adikku ke dalam percakapan kita! Ini hanya urusanku denganmu. Adikku tidak ada hubungannya!"


 


 


"Rastarani Mahali, itu nama yang indah. Aku menyukainya, apalagi orangnya. Dia sangat cantik dan polos. Aku menyukai gadis seperti itu." Raihan menyeringai dingin.


 


 


Regar menarik bagian depan baju Raihan. "Jangan macam-macam dengan Mahali!"


 


 


"Kenapa? Karena kalian punya banyak koneksi? Percayalah, suatu hari nanti dunia gelap yang selama ini kalian sembunyikan akan runtuh!"


 


 


Regar melayangkan pukulannya, tapi Raihan segera menangkap tangan kekar itu.


 


 


"Aku akan membuat adikmu jatuh cinta padaku. Dengan begitu, kau tidak bisa memisahkanku darinya."


 


 


"Dia tidak akan menyukai laki-laki miskin sepertimu! Awas saja jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya."


 


 


Raihan tersenyum. "Aku tidak hanya ingin menyentuh rambutnya, aku juga ingin menyentuh tubuh indahnya."


 


 


Regar mendoring dada Raihan. "Menjijikan."


 


 


Regar bergegas pergi meninggalkan Raihan yang tersenyum sinis.


 


 


Raihan mendaftarkan diri di SMA Parameswara. Namun, setelah dia naik kelas, dia mendengar Shica mendaftar di SMA Hardiwara, sehingga dia terpaksa pindah sekolah ke SMA Hardiswara di kelas 10, padahal dia sudah kelas 11.


 


 


Kenapa Raihan harus melakukan sampai sejauh itu?


 


 


Karena dia mencintai Rayaa.


 


 


-◈◈◈-


 


 


22 September 2016


Ucu Irna Marhamah