La Hora

La Hora
LH - 13 - Volley and Basket



 


 


 


 


-◈ Shica Mahali ◈-


 


 


Di mobil Rangga, aku dan Meishy sedang berbincang, sesekali Rangga menimpali. Kami baru saja dari rumah Raihan. Aku sangat mencemaskan keadaannya.


 


 


Semalam dia kecelakaan. Raihan bilang, dia hanya terjatuh dari motor, tapi... aku rasa dia berbohong. Jika iya dia hanya jatuh dari motor, kenapa lecet-lecetnya banyak. Wajahnya juga sedikit memar, seperti sudah dipukuli orang.


 


 


Aku ingin menanyakan itu, tapi... aku sadar siapa diriku. Tidak seharusnya aku banyak bertanya yang bisa saja membuat suasana hati Raihan menjadi semakin down.


 


 


Ketika asyik berbicara, tiba-tiba ponselku bergetar, menandakan ada notifikasi yang masuk.


 


 


Ternyata chat dari kak Rama.


 


 


Kak Regar sedikit bermasalah, maksudku suasana hatinya.


Kamu sedang dimana?


 


 


Aku akan menjemputmu.


 


 


Bagaimana ini? Mana mungkin aku bilang, kalau aku bersama Rangga dan Meishy sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Raihan.


 


 


Aku akan menunggu di terminal bus.


 


 


Kukirimkan balasan chat untuknya.


 


 


Aku akan segera tiba.


 


 


Aku baru ingat, kakakku bisa membawa motor secepat angin. Sementara aku di dalam mobil yang sedang terjebak macet.


 


 


Kak Rama pasti bisa melewati kemacetan, karena dia mengendarai motor.


 


 


Bisa jadi masalah kalau aku telat tiba di terminal. Dia akan banyak bertanya dan ujung-ujungnya mengomel panjang.


 


 


"Rangga, berhenti sebentar... aku mau turun," kataku.


 


 


"Turun di sini?" Tanya Rangga dan Meishy berbarengan.


 


 


"Iya." Tanpa mau mendapatkan banyak pertanyaan, aku segera keluar dan berjalan menuju terminal.


 


 


Hanya beberapa ratus meter. Sebentar lagi sampai. Kupercepat langkahku, lama-lama aku berlari.


 


 


Tibalah aku di terminal. Dengan napas terengah-engah, aku menghempaskan bokongku ke bangku penungguan.


 


 


Seseorang menyodorkan ice cream padaku. Aku mendongkak menatap siapa pemilik tangan itu. Betapa terkejutnya aku, kak Rama sudah berada di sini?


 


 


Sejak kapan?


 


 


Kak Rama yang sedang memakan ice cream hijau di tangannya mengerakkan ice cream yang disodorkan padaku.


 


 


Aku menerimanya.


 


 


"Lama sekali," kata kak Rama sambil menghabiskan miliknya dan membuka ice cream yang baru.


 


 


Aku hanya tersenyum kaku. Untung ini kak Rama. Kalau kak Regar, pasti sudah marah padaku yang terlambat datang.


 


 


"Kak Regar masih kesal, karena kamu tidak datang ke lapangan voli," ujar kak Rama.


 


 


Aku terkejut, kenapa aku baru mengingatnya sekarang? "Ya ampun! Aku lupa!"


 


 


"Kamu lebih mementingkan Raihan, dibandingkan kak Regar?" Gerutu kak Rama.


 


 


Aku tidak seperti itu! Aku hanya lupa.


 


 


Kalian juga tidak mungkin diam saja 'kan ketika teman kalian mengalami kecelakaan lalu sakit?


 


 


"Ayo, kau harus membeli hadiah untuknya." Kak Rama menarik tanganku.


 


 


Aku memasang jaket kak Regar ke pinggangku seperti pagi ini. Lalu naik ke motor kak Rama.


 


 


"Kamu mau membeli apa untuk kak Regar?" Tanya kak Rama.


 


 


"Entahlah, aku belum memikirkannya."


 


 


"Kamu tega sekali, Shica. Kak Regar ingin sekali kamu yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun seperti biasanya. Pagi ini kamu lupa. Lalu kamu tidak berniat memberikannya hadiah juga."


 


 


Mendengar ucapan kak Rama, rasanya aku ini memang adik yang jahat.


 


 


"Raihan itu baru beberapa bulan ini kau kenali, sementara kakakmu, Regar itu sudah bertahun-tahun dan bahkan sebelum kau lahir pun, dia sudah menyayangimu."


 


 


Baru kali ini kak Rama bicara sampai seserius itu. Aku tahu, kak rama tidak sedang marah padaku. Dia hanya ingin, agar aku tidak melupakan keluargaku setelah mengenal orang baru.


 


 


Kupeluk perutnya, "Aku menyesal telah melupakan hari ulang tahun kak Regar."


 


 


Kak Rama mengusap tanganku yang berada di perutnya, "Bukan berarti aku lebih menyayangi kak Regar dibandingkan dengan kamu, tapi... aku mengenal dia luar dalam. Dia tidak segalak itu, Shica. Dia berhati lembut... hanya saja..."


 


 


"Kenapa?" Tanyaku.


 


 


"Hanya saja dia tidak bisa mengatur suasana hatinya," jawab Rama.


 


 


"Kakak melarangku juga untuk dekat dengan Raihan?" Tanyaku.


 


 


"Iya, dia tidak baik untukmu. Dia anak geng juga," jawab kak Rama cepat.


 


 


Aku terkejut. Mana mungkin Raihan anak geng.


 


 


Aku bertanya, "Kakak tahu dari mana?"


 


 


"Kenapa dia bisa kecelakaan dan dipukuli seperti itu? Itu karena dia memiliki banyak musuh, banyak orang yang tidak menyukainya." Kak Rama memberikan pertanyaan sekaligus jawabannya.


 


 


"Kakak tahu dari mana?" Aku bertanya penuh dengan rasa penasaran.


 


 


"Kamu 'kan tahu, Kakak juga geng."


 


 


Aku tidak memberikan tanggapan. Aku masih tidak percaya, jika Raihan itu anak geng seperti kakak-kakakku. Dia tampak seperti anak baik-baik.


 


 


Selain itu, anak geng biasanya memiliki motor yang kira-kira bisa dipakai balapan. Motor Raihan 'kan motor biasa.


 


 


"Kalau kamu terlalu dekat dengannya, kamu bisa dalam bahaya," ucap kak Rama.


 


 


"Lalu bagaimana dengan kalian? Aku bersama kalian yang juga anak geng, apa itu tidak membahayakanku?" Tanyaku ketus.


 


 


"Kami kakak kamu, kami tidak akan membiarkanmu dalam bahaya. Sementara Raihan itu orang lain, meskipun dia menyukaimu, apa kau yakin dia akan melindungimu kalau kau dalam bahaya?"


 


 


Lagi-lagi aku kalah berdebat.


 


 


Sejujurnya aku bingung, apa yang bisa kubelikan untuk kak Regar?


 


 


Hadiah apa yang mungkin disukainya?


 


 


Jika dia mau, dia bisa membeli apa pun yang dia inginkan.


 


 


Kak Rama memarkirkan motornya di parkiran mall.


 


 


Kami masuk dan mencari sesuatu yang bisa dibeli. Ada beberapa benda-benda lucu yang menarik perhatianku.


 


 


Wadah bekal makanan, sendok-sendok imut, dan botol air minum.


 


 


Jiwa ibu-ibu sedang menguasai diriku, hehe.


 


 


Ada botol minuman bergambar hati berwarna merah berlatarkan warna merah muda.


 


 


Kak Regar adalah tipe orang yang jarang minum. Dia bisa makan banyak meskipun tidak minum, entah bagaimana kerongkongannya.


 


 


Setelah berolahraga pun, dia malas minum. Kadang, ketika dia ingin minum dan malas mengambil air, dia memilih untuk tidak minum.


 


 


"Shica, ayo kita ke tempat pakaian, kak Regar menyuruhku membelikan kamu rok baru," kata kak Rama sambil menggandeng tanganku.


 


 


Kami menuju ke tempat pakaian. Di sana, bukan aku yang memilih rok, tapi kak Rama yang memilihkannya untukku.


 


 


Setelah dia menyuruhku untuk mencobanya dan terlihat pas, kak Rama membayarnya.


 


 


Kami menuju ke tempat parkir. Kak Rama bertanya, "Mana hadiah untuk kak Regar."


 


 


Aku menunjukkan botol minum padanya. Kak Rama tertawa.


 


 


"Manis sekali hadiahmu. Kak Regar akan tertawa dan mengira, kalau ini adalah hari valentine, bukan hari ulang tahunnya."


 


 


Aku terkekeh sambil memberikannya pada kak Rama, "Ini untuk Kakak."


 


 


Kulihat kak Rama terkejut dan menerimanya, "Untukku?"


 


 


"Iya, aku beli dua. Satu lagi untuk kak Regar supaya kalian couple." Kutunjukkan satu botol yang sama.


 


 


Kak Rama tertawa, "Terima kasih, kau memang pengertian."


 


 


Aku senang mendengarnya.


 


 


Sesampainya di rumah, aku memberikan hadiah tersebut pada kak Regar. Untung saja dia mau menerimanya.


 


 


Aku senang sekali....


 


 


Di kamar, aku menghubungi Raihan untuk menanyakan keadaannya.


 


 


Kami melakukan video call.


 


 


Tampaknya dia lebih segar dengan senyuman cerah yang kurindukan.


 


 


"Apa kamu sedang bahagia?" Tanya Raihan sambil tersenyum menatapku.


 


 


"Iya, kamu tahu dari mana? Padahal aku tidak sedang tertawa," kataku.


 


 


Dia memang tukang tebak jitu.


 


 


"Apa perlu tertawa dan tersenyum untuk menunjukkan kebahagiaan? Aku bisa merasakannya."


 


 


Entah kenapa... aku merasa ucapan Raihan lebih sulit diartikan dibandingkan ucapan Meishy yang notabenenya adalah pengarang cerita.


 


 


 


 


"Siapa yang menangkapku?" Tanyaku.


 


 


"Ada hal yang tidak boleh dilakukan... satu, jangan menoleh ke belakang ketika kamu sedang berjalan. Dua, jangan menunduk ketika ada mahkota di kepalamu. Tiga, jangan melamun ketika ada seseorang di belakangmu."


 


 


Aku sedikit terkejut dan agak takut, sehingga aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun di belakangku.


 


 


"Kamu ini bicara apa? Aku takut," kataku menggerutu.


 


 


Raihan malah tertawa, "Aku tidak bilang ada orang di belakangmu."


 


 


"Tetap saja aku takut."


 


 


Bukannya meminta maaf, Raihan malah menatapku penuh arti. Aku tidak tahu itu tatapan apa. Ketika dia menatapku, tidak ada yang aneh, namun tidak jarang dia memperlihatkan tatapan yang tidak terbaca.


 


 


Seperti ada sesuatu yang membuatnya menatapku seperti itu.


 


 


Bukan tatapan seperti itu. Itu seperti tatapan kebencian.


 


 


Apakah dia membenciku?


 


 


Jika iya... apa alasannya.


 


 


"Jangan melihatku seperti itu," ucapku ketus.


 


 


Kulihat ekspresinya berubah 180° menjadi lebih bagus.


 


 


"Kamu takut padaku?" Tanyanya.


 


 


"Ti-tidak... tatapanmu aneh seperti tadi. Sudah saja, ya... aku mau tidur." Aku akan mematikan laptopku.


 


 


"Eh, jangan tidur dulu. Baru juga bicara sebentar." Nada bicara Raihan seperti anak kecil.


 


 


Aku cemberut.


 


 


"Maaf... tatapanku suka aneh, ya? Aku hanya ingin mengingat wajahmu dengan baik. Kalau misalnya nanti kita berpisah, aku akan mengingatnya."


 


 


Aku tidak senang dengan perkataan Raihan, "Memangnya kamu mau kemana?"


 


 


Raihan menggeleng, "Entahlah... aku merasa kita tidak akan bertemu lagi."


 


 


"Jangan berkata begitu... kamu benar-benar membuatku panik, tahu!" Aku setengah menggerutu.


 


 


"Katakan kau menyukaiku, aku tidak akan pergi."


 


 


Kedua pipiku memerah, "Haruskah? Aku tidak mau."


 


 


"Atau aku akan menatapmu seperti ini," kata Raihan sambil memperlihatkan tatapan seduktif padaku.


 


 


Aku benar-benar gugup ditatap seperti itu!


 


 


"Berhenti Raihan, aku akan mencekikmu lain kali!" Gerutuku.


 


 


"Aku menyukaimu, kamu juga harus menyukaiku," gerutu Raihan tidak mau kalah.


 


 


"Aku tidak mau mengatakannya, karena kau memaksaku," ujarku ketus.


 


 


"Itu karena kamu tidak pernah mengatakannya," gerutu Raihan.


 


 


"Kau melupakannya? Waktu di kantin apa? Aku juga mengatakannya padamu." Aku balik bertanya.


 


 


"Di kantin? Mengatakan apa?" Tanya Raihan dengan menunjukkan ekspresi kalau dia sudah lupa.


 


 


Dasar menyebalkan!


 


 


"Aku sudah bilang, aku menyukaimu," kataku setengah berteriak.


 


 


Kulihat Raihan membulatkan matanya mendengar ucapanku. Dia tersenyum jahil.


 


 


Aku baru menyadari ucapanku. Segera aku menutup mulut. Bagaimana bisa aku terjebak dalam permainan kalimatnya?!


 


 


"Akhirnya kamu mengatakannya... aku senang sekali. Yeah... aku juga ingat waktu di kantin kamu mengakuinya."


 


 


"Menyebalkan."


 


 


"Maafkan aku... aku tidak bisa berhenti membuatmu kesal." Raihan tertawa lepas.


 


 


Ah, memalukan!


 


 


-


 


 


Keesokan harinya.


 


 


Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama kak Regar dan kak Rama.


 


 


Kali ini aku tidak akan lupa untuk datang ke lapangan melihat pertandingan kak Regar dan kak Rama ketika melawan murid dari SMA Parameswara.


 


 


Aku duduk di samping Meishy. Kami membeli cemilan untuk menemani saat melihat pertandingan.


 


 


"Kelas 10 tidak jadi diikutsertakan. Hanya kelas 11 dan kelas 12 saja," kata Meishy.


 


 


"Jadi, Raihan dan Rangga tidak jadi bertanding? Syukurlah, aku mengkhawatirkan keadaan Raihan, meskipun dia terlihat baik-baik saja, aku yakin dia masih sakit." Aku melirik Raihan yang duduk di kursi khusus untuk para atlet.


 


 


Di sana dia mengenakan jersey basket bersama Rangga dan semua atlet kelas 10 lainnya.


 


 


Yang pertama adalah pertandingan voli, kak Regar dan timnya maju. Mereka sangat keren. Para gadis yang menonton berteriak histeris.


 


 


Tim kak Regar di antaranya; kak Regar sebagai kapten, kak Givar, kak Dion, kak Gilang, kak Rey, kak Farrel, dan kak Fahriza sebagai pemain cadangan.


 


 


Mereka semua memiliki tinggi badan bentuk badan yang bagus, yeah... itulah pesona mereka.


 


 


Tim kakakku menang! Mereka akan melanjutkan bertanding dengan tim yang kemarin memenangkan pertandingan juga dari SMA Parameswara.


 


 


Kini tim basket yang akan memulai pertandingan. Kakakku, Rama, yang turun ke lapangan bersama timnya.


 


 


Tim basket tidak kalah dari tim voli. Mereka sangat cepat dan tangkas.


 


 


Mungkin di beberapa sekolah, basket adalah olahraga terpopuler bagi para siswi yang mengidolakan para pemainnya. Lain halnya dengan SMA Hardiswara. Di sini, tim voli lebih populer dan lebih diunggulkan.


 


 


Bukan berarti basket tidak diunggulkan, hanya saja prestasi yang diraih tim voli sedikit lebih banyak dan timnya juga rata-rata memiliki kemampuan yang sudah tidak diragukan lagi.


 


 


Permainan basket berlangsung. Karena para pemainnya melakukan kontak fisik dengan lawan, sudah bukan hal aneh lagi jika sering terjadi pelanggaran atau saling menubruk.


 


 


Seperti saat ini, tim kak Rama ada yang cedera pada bagian lututnya.


 


 


Permainan dihentikan sesaat.


 


 


"Ya ampuuun, kasihan sekali."


 


 


"Oh tidak!"


 


 


"Bagaimana ini?"


 


 


Orang-orang di belakangku terdengar mengkhawatirkan pemain yang cedera itu.


 


 


Kak Rama mendatangi bangku atlet kelas 10. Dia berbicara pada mereka, dan entah kenapa Raihan berdiri. Kak Rama dan Raihan turun ke lapangan.


 


 


Apakah Raihan bersedia menggantikan posisi pemain yang cedera itu?


 


 


Are you kidding me?!


 


 


Raihan melepaskan ban kaptennya dan memasukkannya ke dalam saku celana.


 


 


Kenapa kak Rama harus memilih Raihan? Kenapa kak Rama tidak memilih orang lain saja?


 


 


Diantara belasan pemain basket kelas 10, kenapa harus Raihan?


 


 


Kulihat mereka berdua terlibat percakapan dengan wasit.


 


 


"Itu Raihan, ya?" Tanya Meishy sambil membenarkan letak kacamatanya.


 


 


"Iya."


 


 


"Apa kapten basket itu tidak tahu, kalau Raihan habis kecelakaan?" Gerutu Meishy.


 


 


Dia tahu, dan tampaknya dia tidak peduli.


 


 


Aku menoleh ke arah kak Regar yang duduk dibangku atlet kelas 12. Dia memberikan kode padaku. Aku tidak mengerti kode apa itu.


 


 


Ternyata dia menyuruhku membuka ponsel.


 


 


Aku merogoh tas dan mencari di mana ponselku sekarang? Setelah mendapatkan benda persegi berwarna merah muda ini, aku melihatnya.


 


 


Ada notifikasi dari kak Regar.


 


 


Kubaca chat darinya.


 


 


Jangan kemana-mana sebelum pertandingan final voli selesai, yaaa.


 


 


Aku mengernyit bingung dan kuputuskan membalas chat darinya.


 


 


Ada apa, Kak?


 


 


Kejutan!


 


 


Yang penting jangan kemana-mana, atau aku akan marah lagi.


 


 


Kenapa semua orang suka sekali mengancamku.


 


 


Iya, Kak.


 


 


Kupusatkan perhatianku pada Raihan dan kak Rama yang sudah bersiap di posisi mereka.


 


 


-◈◈◈-


 


 


18 April 2016


Ucu Irna Marhamah