
-◈◈◈-
Malam ini, Shica dan Raihan datang ke sekolah untuk menghadiri pesta kesenian kelas sepuluh IPS. Raihan mengenakan kemeja hitam yang membuatnya tampak lebih tampan, sementara Shica mengenakan gaun berpunggung rendah warna putih selutut.
Mereka tampak serasi.
Raihan menggandengkan tangan Shica ke tangannya, seolah Shica akan pergi, jika tidak melakukan itu.
Semua orang yang melihat itu tampak iri. Apalagi Raihan adalah kapten basket yang disukai banyak gadis.
Raihan dan Shica saling pandang lalu saling melemparkan senyuman.
Lalu pandangan semua orang tertuju pada gadis cantik yang bersama Rangga, apakah gadis itu kekasihnya Rangga?
Mereka tampak romantis.
Tidak ada yang mengenalinya, dan mereka baru menyadari, kalau itu adalah Meishy.
Gadis berkacamata yang kini melepaskan kacamatanya. Meishy mengenakan softlens warna biru terang. Gaun panjang berwarna navy yang dikenakan gadis itu tampak sempurna. Rambut yang biasanya dikepang dua sekarang dibiarkan terurai panjang.
Semua gadis semakin iri dengan penampilannya.
Sebenarnya Meishy tidak percaya diri jika harus memakai make-up dan pakaian seperti itu, namun Shica yang memaksanya.
Beberapa jam yang lalu di rumah Shica,
Meishy celingukan ketika ibunya Shica menyuruh pada perias untuk mendandani dua gadis itu.
"Tante, Meis tidak perlu memakai riasan wajah, yaaa." Gadis itu memelas pada Ratna.
Shica mengguncangkan lengan Meishy, "Kamu harus cantik malam ini."
"Tapi, aku 'kan...." Meishy tidak melanjutkan perkataannya, ketika Ratna mengusap bahu gadis itu.
"Tante sudah memberikan baju untuk Meishy, masa Meishy tidak mau memakainya." Ratna berbicara sambil memperlihatkan ekspresi sedih.
Akhirnya, dengan berbagai paksaan, Meishy bersedia.
Ketika Meishy akan memakai kacamatanya, Shica menahan tangan sahabatnya.
"Jangan pakai kacamata itu lagi," ucap Shica. Meishy menatap Shica, "Tapi, aku tidak bisa melihat jelas. Di jarak seperti ini, aku juga tidak dapat melihatmu dengan jelas."
Shica mengambil lensa kontak berwarna biru cerah, "Aku akan memakaikan lensa mata untuk kamu."
Shica memasangkannya dengan telaten.
Meishy berkedip dan melihat ke cermin. Kedua matanya membulat melihat riasan natural yang pas di wajahnya.
Shica tersenyum, "Cantik, kan?"
Meishy tersenyum sendu, "Terima kasih, Shica, Tante Ratna, dan kakak-kakak perias."
Shica tersenyum.
Di pesta,
Meishy sedikit gugup, apalagi semua mata kini sedang terarah padanya. Biasanya Meishy cuek ketika ada yang melihatnya sedang berpidato atau lomba di depan banyak orang.
Tapi, kali ini berbeda lagi ceritanya.
Rangga mengeratkan genggaman tangannya pada Meishy, membuat Meishy semakin gugup saja.
Di malam itu, murid kelas sepuluh IPA dan IPS tampak berbaur dan bersenang-senang bersama.
Sebagai tuan rumah pesta, banyak sekali penampilan yang ditunjukkan oleh anak-anak IPS. Mereka juga memberikan kesempatan kepada anak IPS yang ingin menunjukkan bakat seni mereka.
Meishy menepuk lengan Shica, "Kamu tunjukkan bakat bernyanyi kamu."
Namun, gadis itu menggeleng. Rangga dan Raihan harus ikut memaksanya.
"Aku sudah lama tidak bernyanyi," bisik Shica. Floryn menggenggam tangan Shica, "Tidak apa-apa, ayo."
Ketika Shica berdiri di antara teman-teman kelas 10, dia merasa gugup. Sewaktu di SMP, dia tidak segugul itu.
Perlu beberapa menit untuk menguasai dirinya sendiri. Floryn mengerti dengan keadaan Shica. Dia mengambil mic dan berbicara untuk memberikan waktu pada Shica.
"Halo semuanya, kita sudah melihat bakat-bakat tersembunyi dari rekan kita, kelas IPS, dan malam ini... kita akan mendengarkan suara dari seseorang." Floryn mengusap bahu Shica.
Raihan dan Meishy tampak serius melihat Shica di depan sana. Suasana menjadi hening, tampaknya semua orang penasaran dengan suara adik dari kapten-kapten jantan sekolah mereka.
Musik mulai menguasai keheningan. Semua orang terlarut ke dalam alunan sendu itu.
Shica mulai bernyanyi, suara lembutnya terdengar indah dan tenang. Semua orang bertepuk tangan.
Raihan terpukau dengan pesona gadis itu. Shica terlihat sangat cantik di sana, begitupun dengan suaranya. Meishy dan Rangga juga melongo. Floryn tidak berhenti bertepuk tangan dia juga terlihat begitu menghayati lagu sendu yang dibawakan oleh Shica.
Shica, gadis yang sering memenangkan lomba solo di SMP dan lomba melukis itu menunjukkan bakatnya di SMA. Walaupun di SMA dia menyembunyikan bakatnya.
Saat ini dia memilih lagu Anji, yang berjudul Dia. Di masa itu, lagu tersebut sangat populer. Shica menyanyikan lagu tersebut dengan caranya sendiri, namun tetap indah didengar.
Bukan hanya enak didengar, lagu itu juga sangat berarti untuk Shica. Raihan tidak hanya melihat Shica dan menikmati suaranya, dia juga mendengarkan liriknya dengan serius.
Entah kebetulan atau bagaimana, tapi Shica menyanyikan lagu yang rasanya sesuai dengan perasaan Raihan saat ini.
Laki-laki itu tidak bisa berbohong lagi, dia memang mencintai Shica. Dia sangat mencintai gadis itu.
Tapi, dia juga mencintai Rayaa. Dia telah terjebak ke dalam targetnya sendiri. Menjalakan misi untuk membuat Shica mencintai dirinya, namun dirinya yang jatuh cinta pada Shica.
Apa kau akan tetap membohongi dirimu sendiri, Raihan?
Shica telah menyelesaikan lagunya. Semua orang bertepuk tangan semangat untuk Shica.
Gadis itu tampak tersipu.
Meishy memeluknya, "Penampilan kamu bagus sekali, aaaahhh sahabatku."
Shica tersenyum lalu membalas pelukan Meishy.
"Kalian mau minum? Aku akan mengambilkannya," ujar Rangga.
Meishy dan Shica mengangguk. Rangga dan Raihan berlalu untuk mengambil jus.
Shica dan Meishy melihat penyanyi selanjutnya. Seorang laki-laki menghampiri Shica.
"Halo, bisa bicara?" Tanya laki-laki yang ternyata adalah Argaa.
Meishy menahan tangan Shica agar tidak ikut denganku laki-laki asing itu.
"Hanya sebentar," ucap Argaa. Shica mengangguk, "Di sini saja."
Argaa menoleh sebentar pada Meishy yang menatap curiga padanya. Argaa tersenyum untuk menghilangkan rasa canggung.
"Aku terpesona dengan suaramu," kata Argaa.
Shica tersenyum kaku, "Terima kasih."
"Kakak siapa?" Meishy menimpali dengan memberikan pertanyaan.
"Mau berkenalan?" Argaa mengulurkan tangannya pada Meishy.
Gadis itu menerima uluran tangan Argaa.
"Namaku Argaa, aku bersekolah di SMA Jaya Citra. Kebetulan ada adikku di sini yang mengajakku datang," bohong Argaa.
"Tapi, ini pesta untuk kelas 10 saja, tampaknya Kakak ini kelas 11, atau kelas 12." Meishy tampak curiga.
Argaa hanta tersenyum, "Aku sudah bilang, aku datang karena ada adikku di sini."
Shica memberikan kode pada Meishy agar tidak banyak bertanya lagi. Argaa menoleh ke sekelilingnya.
"Baiklah, sampai jumpa lain kali." Tanpa menunggu jawaban dari Shica dan Meishy, laki-laki itu berlalu.
Shica tampak berpikir.
Raihan telah kembali bersama Rangga, mereka membawa jus untuk kekasih masing-masing.
Raihan mengajak Shica duduk. Mereka meminum jus itu.
Raihan menatap Shica dengan lekat, "Kamu punya suara yang bagus, Shica."
"Terima kasih, Raihan."
Hening.
Tiba-tiba Shica melelapkan kepalanya ke dada Raihan. Laki-laki itu merangkul Shica.
"Aku tahu, Raihan."
Ucapan Shica membuat Raihan cukup terkejut. Laki-laki itu mulai cemas.
"Aku tahu masalahmu dengan kak Regar."
Raihan menelan saliva, apa ini sudah saatnya aku membawamu, Shica?
"Masalah apa?" Raihan masih mencoba menenangkan pikirannya.
"Kak Regar pernah melukai Rayaa," ucap Shica. Tangan Raihan bergerak mendekati leher Shica.
Jika gadis itu tahu dengan rencananya, Raihan harus membuatnya pingsan dan membawanya pergi sesuai rencananya dulu.
"Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi... aku benar-benar menyesal. Jika kamu mau, aku akan datang pada Raya dan meminta maaf secara langsung padanya."
Hati Raihan bergetar mendengar perkataan Shica. Tangannya berubah untuk mengusap lembut rambut gadis itu.
"Kak Rama."
Raihan memutar bola matanya, sebenarnya Rama juga tidak tahu dengan apa yang telah dilakukan oleh kakaknya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, itu bukan salah kamu. Rayaa tidak bisa ditemui. Jika kamu membahas hal itu, dia akan sedih lagi."
Shica meringis dalam hati, kamu sampai tahu kondisinya. Kamu masih mencintainya. Aku tahu, Raihan.
-
Shica sudah sampai di rumahnya. Tidak ada siapa-siapa di rumah, menandakan semua orang sedang keluar.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Shica memasuki kamarnya dan menelepon seseorang.
"Halo, Shica?" Suara orang dari seberang sana.
"Bagaimana, Vita? Menemukan sesuatu tentang Raihan?" Tanya Shica tampak serius.
Di sana, Vita sedang melihat laptopnya. Gadis itu adalah temannya Rama sewaktu di SMP yang juga satu sekolah dengan Raihan.
"Raihan sudah tidak menjadi anggota geng Januaar lagi. Sepertinya sekarang dia menjadi siswa biasa. Tidak ada hubungan apa pun antara Raihan dan Rayaa dari dulu sampai sekarang pun."
Shica mendengarkan dengan serius, "Apa kau tahu sesuatu tentang masalah Raihan dan kak Regar?"
"Aku tidak tahu pasti, karena SMP Bunga Indah menutup masalah tertentu apabila masalah tersebut bisa mempermalukan nama baik sekolah."
Shica membatin, sepertinya ini masalah yang serius. Apa aku harus mencari tahunya juga?
"Shica?"
Gadis itu terhenyak, "I-iya?"
"Sejauh ini, hanya informasi itu yang bisa aku berikan. Jika ada informasi tambahan, aku akan memberitahumu."
"Terima kasih."
Setidaknya Shica sudah mendapatkan kepastian, kalau Raihan tidak punya hubungan apa pun dengan Rayaa.
Hatinya sedikit lega.
-
Keesokannya harinya, Ridan mengajak Shica dan Rama untuk menghadiri acara makan malam di rumah rekan kerjanya.
Rumah keluarga Gustiar.
Adam Hermano Gustiar, pemilik perusahaan Gustiar menyambut mereka dengan baik, begitupun dengan Sarah Gustiar, istrinya.
Kabarnya, pengusaha kaya itu baru kembali dari New York.
Mereka memiliki dua orang anak, yang pertama adalah Svender, tampaknya dia seumuran dengan Regar, yang kedua Shaquellin, sepertinya seumuran dengan Rama.
Mereka berdua memiliki ciri fisik kaukasia yang kental. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan sisi persahabatan. Mereka cenderung dingin dan tidak banyak bicara.
Adam dan Sarah yang aktif berbicara bersama Ridan.
"Putra-putrimu sangat tampan dan cantik," kata Ridan. Adam tersenyum, "Putra-putrimu juga begitu mempesona. Mereka sangat manis ketika tersenyum."
Ridan tertawa.
"Bagaimana keadaan di New York?" Tanya Ridan.
"Jika berbicara tentang perusahaanku, dia baik-baik saja," canda Adam.
Ridan juga tertawa, "Kudengar putra-putrimu bersekolah di sana. Bagaimana sistem pendidikan di tempat itu?"
Adam terdiam sejenak, namun dia kembali bersuara, "Sangat bagus."
"Aku ingin putra tertuaku kuliah di sana," kata Ridan. Sarah menanggapi, "Itu bagus, anak-anak akan mandiri jika berada di sana."
Rama dan Shica saling pandang.
Selesai makan malam, Adam dan Ridan menyuruh anak-anak mereka untuk berbincang-bincang.
Shaquellin mengajak Shica ke kamarnya.
Shica terpukau melihat kamar Shaquellin yang di dominasi oleh warna merah muda. Shica tersenyum, karena dia juga menyukai warna tersebut.
"Kamu bersekolah di SMA Hardiswara, ya?" Tanya Shaquellin.
Shica menoleh pada gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu mengenal Givarel?" Tanya Shaquellin.
Shica mengangguk, "Kak Givar teman kakakku."
"Dia juga temanku." Shaquellin tersenyum cantik.
Sehari tadi Shica memperhatikan Shaquellin, baru pertama kalinya dia melihat senyuman gadis itu.
Shica juga tersenyum, "Begitu, yaaa."
Shaquellin mengangguk, "Kami teman sejak kecil, tapi papa membawaku pergi ke New York, dan kami berpisah."
Shica mengusap punggung Shaquellin, "Kalau kamu mau, kakakku akan mempertemukan kalian."
Shaquellin menoleh pada Shica, "Apa dia bertambah tampan?"
Shica tampak berpikir lalu mengangguk, "Iya."
Shaquellin tertawa, "Waktu kecil, dia itu sangat jelek."
Shica ikut tertawa, "Masa, sih?"
Shaquellin mengangguk serius, "Dia benar-benar jelek dan suka mengompol."
Shica tidak mengira, laki-laki setampan dan sekeren Givar memiliki masa kecil yang jorok.
"Oh ya, kudengar keluarga Mahali memiliki nama yang panjang-panjang. Boleh aku tahu namamu?" Tanya Shaquellin.
"Nama panjangku Rastarani Primantari Savannah Riandhini Dharma Wijaya Kusuma Mahali."
Shaquellin terbelalak, "Sepanjang itu? Apa di akta kelahiranmu juga ditulis seperti itu?"
Shica menggeleng, "Dia surat negara, namaku hanya Rastarani Mahali."
Shaquellin tampak berpikir.
Shica menambahkan, "Ada surat lain di keluarga Mahali yang menuliskan nama lengkap anak-cucu mereka."
Shaquellin mengangguk mengerti, "Nama ayah ibumu juga panjang?"
Shica tampak berpikir, "Yeah, tapi aku tidak ingat nama panjang mereka."
Shaquellin mengangguk, "Nama kakakmu?"
"Kakak tertuaku, Regarian Pripaskha Amega Riananda Dharma Wijaya Kusuma Mahali. Sementara kakak keduaku, Ramadiaz Prasega Adibhrata Rivaaldi Dharma Wijaya Kusuma Mahali."
Shaquellin menghela napas pelan, "Kamu benar-benar adik yang baik, bisa mengingat nama sepanjang itu.
Shica tertawa.
Sementara itu, Rama dan Sven tidak banyak bicara. Mereka hanya duduk bersebelahan di kamar Sven. Keduanya fokus ke TV.
Padahal tidak ada acara yang menarik, hanya ada iklan. Rama merasa sangat canggung dalam keadaan seperti itu.
Dia memikirkan pertanyaan yang bisa menjadi pemecah kecanggungan.
"Emm, suka basket?" Rama mencoba mencairkan suasana. Karena dia memang bukan orang yang suka berdiam diri ketika ada orang lain di sampingnya.
Sven menoleh sesaat, "Di sekolahku tidak ada basket."
Rama merasa telah salah bertanya demikian. Dia memilih untuk tidak bertanya lagi.
"Di SMA-ku hanya mempelajari ekonomi dan pelajaran yang berhubungan dengan perusahaan," sambung Sven.
Rama mengangguk mengerti, "Itu bagus."
Lagi-lagi Sven menoleh padanya, "Tidak ada yang bagus, itu membosankan."
Lagi-lagi Rama merasa salah telah berkata demikian.
"Aku lebih suka menyetir mobil dengan kecepatan tinggi," sambung Sven.
Rama terkejut, "Kau seorang pembalap?"
Sven mengedikkan bahunya. Itu ambigu bagi Rama, sehingga dia kembali bertanya.
"Apa kau ada rencana balapan?"
"Iya."
Rama semangat sekali jika membahas balapan, "Di sirkuit?"
"Di jalanan."
Rama bingung, "Kapan?"
"Tanya penulisnya."
-◈◈◈-
29 Agustus 2016
Ucu Irna Marhamah