La Hora

La Hora
LH - 45 - Love?



 


 


 


 


-◈ Rayaa Hermawan ◈-


 


 


Perlahan aku membuka kedua mataku. Aku terkejut ketika terbangun di kamar yang tidak kukenali.


 


 


Apa yang terjadi?


 


 


Terakhir kali aku berada di __base camp__ kak Regar dan... aku meringis ketika perutku terasa sakit sekali.


 


 


Apa yang terjadi?


 


 


Kak Regar sudah... aku sudah....


 


 


Apakah sesakit ini?


 


 


__ Regar menatap Rayaa dengan serius. "Kau akan kesakitan, jadi bertahanlah."


 


 


Sebelum Rayaa merespon, sesuatu yang asing berusaha memasukinya dengan paksa. Rayaa menjerit kaget.


 


 


Tidak ada yang bisa dilakukan gadis itu selain meremas bantal. Regar mendapatkan tempat ketika dia merenggut paksa gadis itu.


 


 


Rayaa terkulai dan menangis tertahan. Dia tidak tahu, berhubungan pertama kali akan terasa sesakit itu.


 


 


Belum sampai di sana, Regar bergerak untuk mendapatkan keinginannya.


 


 


Dengan gemetar, Rayaa berpegangan pada pinggang Regar.


 


 


Kecupan hangat mendarat di bibirnya. Regar menciumnya dengan penuh perasaan.


 


 


"Terima kasih... aku mencintaimu, Rayaa."__


 


 


Aku segera menggelengkan kepala. Aku sangat menjijikan. Kenapa aku harus melakukan ini?


 


 


Aku tidak ingat apa-apa lagi, sepertinya aku pingsan. Aku tidak tahu, apakah kak Regar masih melakukannya ketika aku pingsan, atau tidak.


 


 


Pintu dibuka dari luar, menandakan ada seseorang yang masuk. Aku menoleh, ternyata kak Regar.


 


 


Laki-laki itu menatapku. Aku segera mengalihkan mataku ke kiri.


 


 


Kak Regar mendekat kemudian mengusap rambutku dengan lembut. "Mau sesuatu?"


 


 


Aku menggeleng.


 


 


"Pelayan akan membawakanmu makanan." Setelah berkata demikian, kak Regar berlalu.


 


 


Aku bangkit dan berjalan tertatih menuju ke jendela. Pemandangan yang bagus.


 


 


Tapi, aku di mana?!


 


 


Aku tidak di Jakarta?!


 


 


Aku segera keluar dari kamar dan mencari kak Regar. Aku membutuhkan penjelasan darinya.


 


 


Ketika sampai di ujung tangga, aku mendengar suara perempuan. Aku benar-benar kesal, apa mungkin ada gadis lain lagi yang mendekati kak Regar?


 


 


Aku mengintip ke ruangan di mana perempuan itu dan kak Regar berbicara.


 


 


Tiffani? Gadis yang waktu itu bersama kak Regar di ruang ganti?


 


 


Menjijikan! Aku tidak ingin mengingat itu lagi. Yang mereka lakukan membuatku sakit hati.


 


 


Aku berusaha mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


 


 


"... aku sudah merelakan kesucianku demi kak Regar, dan kak Regar mau mengakhiri hubungan ini?" Tanya Tiffani.


 


 


Aku terkejut, mereka menjalin hubungan di belakangku?


 


 


Benarkah?


 


 


"Aku tidak pernah menjalin hubungan denganmu. Dari awal pacarku hanya Rayaa. Kau tahu itu, kan? Dan soal di ruang ganti waktu itu... bukankah kau sendiri yang datang padaku dan ingin melakukannya? Jangan salahkan aku, kau yang mau." Jawaban kak Regar itu membuatku kesal, tapi membuatku senang juga. Ah! Intinya aku kesal!


 


 


"Kau memang laki-laki brengsek!"


 


 


"Dan seharusnya dari awal tidak mendekatiku, jika kau tahu itu. Aku tidak pernah mendekati perempuan yang tidak ingin tidur denganku."


 


 


"Jika kau merasa sebagai pacarnya kak Rayaa, kenapa menyentuh gadis lain dengan sembarangan?" Tanya Tiffani.


 


 


"Karena aku mencintai Rayaa. Aku mencintainya dan tidak ingin merusaknya. Dia gadis baik."


 


 


Jawaban kak Regar membuatku terkejut. Apa benar? Dia mencintaiku dengan tulus?


 


 


Tiffani menghentakkan kakinya kemudian berlalu.


 


 


Kak Regar mengedikkan bahunya. "Dari mana gadis itu mengetahui keberadaanku di vila ini?"


 


 


Vila? Aku di vila?


 


 


Langkah kak Regar terdengar mendekat. Aku ingin segera pergi, tapi kak Regar terlanjur menemukanku.


 


 


"Sedang apa di sini? Mendengarkan pembicaraanku?" Kak Regar bertanya dengan penuh selidik.


 


 


"Maaf." Hanya itu yang bisa aku katakan.


 


 


"Tidak apa-apa." Kak Regar merangkul pinggangku dan kami berlalu ke ruang makan.


 


 


"Tidak ada pelayan yang mengantarkan makanan ke kamar?" Tanya kak Regar.


 


 


Aku menggeleng.


 


 


"Baiklah, kita akan sarapan di ruang makan. Pelayan di sini tidak banyak. Mereka juga tidak akan tinggal seharian di vila."


 


 


Aku dan kak Regar duduk bersebelahan di meja makan.


 


 


"Kak Regar akan mengantarku pulang, kan?" Tanyaku gugup.


 


 


Kak Regar menggeleng tegas. "Tidak, kau akan selamanya di sini bersamaku. Mulai sekarang, kau adalah milikku. Kau tidak bisa pergi ke mana pun. Mulai sekarang juga, aku tidak akan tidur dengan gadis lain lagi selain dirimu."


 


 


Ada rasa takut ketika kak Regar mengatakan itu. Dia berbicara seperti psikopat. Apa dia tidak akan melukaiku?


 


 


"Aku mencintaimu." Tiba-tiba kak Regar mengecup bibirku.


 


 


Aku rasa, kak Regar tidak mencintaiku. Dia....


 


 


-


 


 


Hari terus berlalu.


 


 


Aku tinggal di vila kak Regar selama beberapa hari bahkan minggu. Kak Regar berangkat sekolah setiap pagi dan meninggalkanku bersama beberapa pelayan.


 


 


Dia akan kembali jam 2 sore seperti semestinya. Sikapnya jauh lebih baik dan sangat lembut padaku.


 


 


Aku bingung, apa dia benar-benar mencintaiku, atau dia hanya terobsesi dengan tubuhku?


 


 


Kami melakukan hubungan intim dan aku pikir, kak Regar mempertahankanku karena dia menggunakan tubuhku.


 


 


Dia tidak mencintaiku, sama sekali tidak mencintaiku. Lama-lama aku juga bosan berada di tempat ini. Aku merindukan Januaar.


 


 


Apa dia baik-baik saja?


 


 


Setiap aku bilang ingin pulang, kak Regar akan marah. Aku jadi takut dan tidak berani memintanya memulangkanku.


 


 


Januaar pasti mencemaskanku. Aku harus menemuinya. Atau dia akan menghancurkan apa pun untuk menemukanku.


 


 


Ketika pulang dari sekolah, aku melihat kak Regar penuh kemarahan. Dia melemparkan semua benda hingga pecah di lantai.


 


 


Aku tidak berani bertanya, bahkan aku tidak ingin menunjukkan diriku di depannya.


 


 


Dia sering bilang, kalau emosinya tidak stabil. Suasana hatinya selalu buruk. Dia selalu mengingatkanku untuk tidak mendekatinya ketika dia marah. Dia tidak ingin melukaiku saat dirinya marah.


 


 


Aku hanya mengintip di dekat tangga.


 


 


"Sialan! Januaar sudah gila! Kenapa dia melakukan ini!" Teriak kak Regar.


 


 


Apa? Januaar?


 


 


Apa yang sudah dilakukan adikku?


 


 


Terdengar suara mobil yang berhenti di depan vila. Seorang pria yang mungkin berusia 35 tahunan memasuki ruangan di mana kak Regar berada.


 


 


Apa dia tuan Mahali?


 


 


Melihat kekacauan di lantai, tuan Mahali menatap putranya. "Aku sudah mendengarnya dari temanmu. Geng musuhmu membantai habis anggotamu. Apa kau sudah gila? Kenapa kau diam saja?"


 


 


Ja-jadi... ayahnya tahu, kalau kak Regar bergabung dengan anggota geng? Tapi... kenapa tidak dilarang?


 


 


"Orang tua dari korban menuntutku karena perbuatanmu."


 


 


Deg!


 


 


 


 


"Aku akan memperbaikinya, Pa." Kak Regar menjawab dengan kepala tertunduk.


 


 


Tuan Mahali menyandarkan punggungnya ke sofa sembari menumpangkan kakinya ke meja. "Kau putra sulungku yang aku percayai. Setelah aku, kau yang harus memegang tahta keluarga kita."


 


 


Tahta?


 


 


Maksudnya?


 


 


Jangan-jangan... keluarga Mahali....


 


 


"Regar, kau harus siap."


 


 


"Aku akan melakukan yang terbaik, Pa."


 


 


"Apa gadis itu di sini?" Tuan Mahali mengedarkan pandangannya.


 


 


Pertanyaannya membuatku merinding. Apa maksudnya 'gadis itu' adalah aku?


 


 


Siapa lagi memang? Hanya ada aku di sini.


 


 


Kak Regar mengangguk.


 


 


"Lebih baik biarkan gadis itu bersama Januaar. Atau kau akan berada dalam bahaya." Tuan Mahali menatap putranya serius.


 


 


"Aku mencintainya. Aku akan mempertahankannya, meskipun Papa melarangku." Kak Regar tampak begitu tegas.


 


 


Sebenarnya aku terharu dengan ucapan kak Regar.


 


 


"Aku tidak pernah melarangmu bersama siapa pun, meskipun Rayaa anaknya musuhku, aku tidak masalah jika itu membuatmu bahagia."


 


 


Deg!


 


 


Musuh?


 


 


Ayahku... dan ayahnya kak Regar....


 


 


"Jangan bermain dengan sembarangan perempuan, aku akan membunuhmu jika kau terkena virus kelamin." Setelah mengatakan itu, tuan Mahali pergi.


 


 


Aku segera berlalu untuk bersembunyi.


 


 


Rasanya ini menakutkan. Aku tidak mengira, keluarga Mahali adalah keluarga mafia sepertiku. Jadi, ini adalah rahasia yang selama ini mereka sembunyikan?


 


 


Pantas saja tidak ada yang berani mengganggu keluarga Mahali. Aku mengerti sekarang. Tidak seharusnya aku mendekati kak Regar dari awal.


 


 


Ayahku tidak memberikan nama belakang Gallardo pada anak-anaknya agar anak-anaknya berada dalam masalah\, karena dia ketua __gangster__.


 


 


Aku melelapkan tubuhku ke tempat tidur.


 


 


Aku yakin, kak Regar tidak ingin menjadi penerus tahta gelap ayahnya. Januaar juga begitu. Aku pun sama.


 


 


Kenapa kami harus mendapatkan masalah seperti ini?


 


 


Dunia gelap mereka membuat kami harus menderita dalam ketakutan. Kami harus berjuang tanpa tahu perjuangan itu untuk apa.


 


 


Jika mereka ingin berjuang, lakukan saja sendiri. Jangan membawa anak-anak ke medan pertempuran.


 


 


Jangan menikah sekalian. Tanggung saja semuanya sendiri.


 


 


Geng anak-anak mereka ternyata terhubung dengan jaringan mereka. Seharusnya aku menyadari ini dari awal.


 


 


Aku tersentak ketika merasakan lengan kekar itu memeluk tubuhku dari belakang.


 


 


"Aku lelah." Itu suara kak Regar.


 


 


Aku mendongkak menatapnya. Kedua mata laki-laki itu tampak sembab.


 


 


Dia menangis?


 


 


"Apa yang terjadi? Kak Regar bisa menceritakannya padaku." Aku mengusap tangannya.


 


 


"Tidak ada yang aku inginkan selain keberadaanmu. Tetap di sini, Rayaa. Kau adalah ketenangan untuk perasaanku."


 


 


Apa dia sedang dalam fase romantis?


 


 


"Apa ayahmu seperti papaku?" Tanya kak Regar.


 


 


Jika membicarakan ayahku, sepertinya tidak ada yang menyenangkan.


 


 


"Dia bukan orang baik. Bukan pria baik, bukan ayah yang baik." Aku pikir, kak Regar akan mengerti dengan jawabanku.


 


 


"Kenapa kita dilahirkan?"


 


 


Pertanyaan itu juga muncul dari kepalaku dan aku tidak tahu jawabannya.


 


 


Hening.


 


 


Apa kak Regar tertidur? Tidak, dia sedang merenung.


 


 


"Kita dilahirkan untuk melanjutkan apa yang sudah mereka bangun. Dunia gelap yang sudah mereka bangun akan terus berlanjut jika mereka memiliki keturunan. Kita tidak dianggap anak oleh mereka. Kita adalah pion catur selanjutnya."


 


 


Aku merasa ucapan kak Regar terlalu jauh. Padahal kami masih SMP.


 


 


"Aku bicara omong kosong. Tidurlah." Kak Regar mengeratkan pelukannya.


 


 


-


 


 


Semakin hari, aku semakin bosan di vila ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan.


 


 


Orang-orang disekitarku pasti cemas. Mereka akan mengira kalau aku diculik dan menghilang.


 


 


Ponselku diambil kak Regar. Januaar maupun Raihan tidak akan bisa melacak keberadaanku.


 


 


Melihat ada ruangan di samping kamar ini, aku masuk. Selama di vila, aku tidak pernah memasuki ruangan ini, karena selalu terkunci. Kali ini kebetulan tidak dikunci.


 


 


Aku masuk dan melihat ke dalam. Ternyata ruangan ini adalah perpustakaan. Ada banyak buku di rak.


 


 


Anehnya, buku-buku di ruangan ini sepertinya adalah buku yang berisi tentang keluarga Mahali, seperti silsilah keluarga, nama-nama yang berurutan sesuai aturan keluarga.


 


 


Mereka sangat ketat. Ternyata nama keluarga Mahali tidak sembarangan dibuat. Meskipun nama mereka panjang dan unik, mereka memiliki cara untuk menentukan huruf apa yang bisa dipakai.


 


 


Aku menghabiskan waktuku untuk membaca di ruangan ini. Rasanya menyenangkan juga. Kebosananku teralihkan dengan buku-buku ini.


 


 


Setiap kak Regar pulang, aku akan segera keluar dari ruangan itu dan bersembunyi. Aku takut, dia marah jika menemukanku membaca buku-buku di ruangan itu tanpa izin.


 


 


Tak terasa sudah dua bulan aku di vila Mahali. Apa Januaar tidak mencariku? Atau mungkin dia tahu, aku baik-baik saja? Atau bagaimana?


 


 


Seperti biasa, aku akan berada di ruangan perpustakaan pagi-pagi setelah kak Regar berangkat sekolah.


 


 


Namun, hari ini aku menemukan buku baru di meja. Sepertinya buku itu baru dibaca kak Regar semalam dan lupa menyimpannya.


 


 


Aku membuka buku tersebut. Ternyata isinya adalah tulisan kak Regar yang rapi. Apa ini __diary__ miliknya? Buku ini menceritakan kesehariannya di mulai tahun 2013-2015.


 


 


Tidak ada yang menyenangkan di buku ini. Kak Regar seperti tertekan. Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa kehidupannya. Aku rasa, beban hidupnya jauh lebih buruk dibandingkan hidupku. Ini seperti terjebak dalam ikatan darah keluarga Mahali.


 


 


Aku baru tahu, dia punya adik perempuan. Halaman terakhir, aku terkejut melihat nama-nama keluarga dari pihak ayahku.


 


 


Ada beberapa coretan berwarna merah di atas nama beberapa orang. Mereka adalah orang-orang yang sudah meninggal, apa ini artinya....


 


 


Nama terakhir adalah Januaar.


 


 


Kak Regar ingin menghabisi adikku?!


 


 


Ini tidak boleh terjadi!


 


 


Januaar adalah satu-satunya keluargaku, saudara terdekatku yang jauh lebih baik dibandingkan saudara-saudariku yang lain.


 


 


Aku mendengar suara langkah kaki menuju ruangan ini. Aku harus bagaimana?


 


 


Pintu dibuka, kak Regar masuk dan terkejut melihat keberadaanku.


 


 


"Sedang apa di sini?" Tanyanya.


 


 


"Aku hanya sedikit bosan, jadi aku menemukan banyak buku di sini. Maaf, aku tidak bilang," kataku.


 


 


Aku mengira\, kak Regar akan marah\, ternyata dia hanya mengangguk sambil mengambil __diary__ yang sempat aku baca.


 


 


"Malam ini aku harus pulang ke rumah. Ibuku pasti mengira aku kabur dari rumah, karena selama sebulan ini aku tidak tidur di rumah, ya meskipun kadang aku makan siang dan makan malam di sana."


 


 


Aku mengangguk mengerti.


 


 


Ini kesempatanku. Aku harus pergi dari sini dan memberitahu Januaar.


 


 


-◈◈◈-


 


 


22 September 2016


Ucu Irna Marhamah