
-◈◈◈-
Shica menunggu kakaknya di tempat parkir. Dia melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 4 sore. Biasanya bodyguard yang bertugas menjemput sudah datang di jam tersebut. Namun, kali ini belum juga tiba.
"Kak Rama pasti masih belajar. Kalau kak Regar, mungkin pulangnya bersama pacarnya lagi, seperti kemarin." Shica menghela napas berat.
Raihan yang sedang di tempat parkir melihat keberadaan Shica. Dia menaiki motor scoopy miliknya dan melaju mendekati Shica.
Gadis itu menoleh padanya, "Raihan?"
"Menunggu siapa?" Tanya Raihan.
Shica tampak berpikir, aku harus menjawab apa, ya?
"Hobi kamu adalah memikirkan dulu ucapan kamu sebelum melontarkannya, gadis baik." Raihan tersenyum.
Shica terkekeh, "Aku menunggu seseorang yang biasanya menjemputku ketika pulang."
Raihan memiringkan kepalanya, "Pacar?"
"Bukan, bukan." Shica mengibaskan tangannya.
"Tidak kepanasan berdiri di sana? Kulit kamu memerah. Apalagi sore ini panas sekali," tatapan Raihan tertuju pada lengan Shica, "Ayo, aku akan mengantar kamu pulang."
Ah? A-apa aku tidak salah dengar? A-apa aku boleh menerima ajakannya?
Raihan menepuk bagian belakang motornya, "Ayo, tidak perlu berpikir dulu. Aku tidak akan menagih ongkos ojek. Aku bukan tukang ojek."
Shica terkekeh, dia duduk menyamping di belakang Raihan.
Laki-laki itu memutar kunci dan melajukan motornya, namun baru beberapa meter, dia berhenti.
Shica bingung, "Kenapa?"
Raihan membuka jaket hijau pudar miliknya dan memberikannya pada Shica.
Raihan berkata, "Pakailah, aku tidak tega melihat kulit kamu memerah karena kepanasan."
Shica menerimanya dengan kedua pipi yang memerah. Raihan yang melihat wajah Shica dari spion motornya hanya tersenyum geli.
Motor pun melaju meninggalkan area parkiran sekolah.
Di perjalanan, rambut panjang Shica bergerak-gerak tertiup angin. Di saat yang bersamaan, dia bisa menghirup aroma tubuh Raihan.
Aroma mint yang menyegarkan dan menenangkan. Shica menggigit bagian bawah bibirnya.
Padahal aku baru mengenalnya, tapi aku sudah merepotkan. Aduhhh... kenapa juga aku merasa gugup... apa karena dia teman laki-laki pertamaku?
Sesekali Raihan menoleh ke spion untuk melihat ekspresi gadis cantik di belakangnya.
"Shica?"
"Iya, Raihan?"
"Arah ke rumah kamu ke mana ini?" Tanya Raihan.
Shica terdiam, apa aku harus memberitahunya ke mana arah jalan menuju rumahku?
"Jangan bilang, kamu juga lupa arah jalan ke rumah kamu sendiri."
Shica tertawa, "Aku tidak mungkin lupa jalan pulang. Rumahku tidak seperti SMA Hardiswara."
Raihan tertawa, "Jadi ini ke mana?"
Shica memberikan arah jalan yang salah dan jauh agar bisa berlama-lama dengan Raihan. Selain itu, dia tidak ingin Raihan mengetahui rumahnya dan memilih berhenti di terminal bus.
"Kenapa berhenti di sini? Memangnya kamu mau naik bus?" Tanya Raihan.
Bukannya menjawab, Shica malah mengucapkan, "Terima kasih telah mengatarku."
"Tidak apa-apa aku meninggalkanmu sendirian di sini?" Tanya Raihan. Shica menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, hati-hati, yaaaa." Raihan melajukan motornya setelah mendapatkan anggukkan dari Shica.
Gadis itu tersenyum senang sambil mengeratkan jaketnya, "Eh, jaket Raihan. Kenapa aku tidak mengembalikannya?"
Raihan dan Shica sering memberikan kabar satu sama lain lewat chat di sosial media. Mereka bertukar nomor.
Raihan, aku lupa tidak mengembalikan jaketmu.... 😢😢
Tidak apa-apa, ada hari esok. Kau bisa mengembalikannya besok. 😉😉
Shica tersenyum dan menghirup aroma mint dari jaket tersebut. Mulai sekarang, Shica akan mengingat aroma tubuh Raihan.
Terima kasih sudah mengantarku, Raihan. 😊😊😊
Iya, Shica. Aku akan jadi ojek pribadimu, aku rela meskipun tidak dibayar... 😂😂😂
Shica tertawa, "Mana ada tukang ojek setampan dirimu."
Setelah hari itu, hubungan Shica dan Raihan semakin dekat. Begitupun Meishy dengan Rangga.
Shica merasa aman jika kakak-kakaknya tidak mengetahui kedekatannya dengan Raihan. Dia khawatir kalau-kalau kakaknya tidak akan memberikan izin.
Raihan adalah laki-laki yang suka membuat suasana menjadi lebih baik. Dia memiliki aura yang bagus dan membuat siapa pun akan merasa nyaman apabila berada di dekatnya.
Raihan mempunya wajah yang tampan. Dia memiliki sepasang alis yang melengkung seperti pelangi ketika tertawa, kedua matanya yang berwarna onyx itu tampak sayu ketika memandang sendu, dan bisa berubah tajam ketika serius. Bagian bawah bibirnya sedikit merekah dan keseluruhannya berwarna merah gelap.
Tubuhnya tinggi tegap. Dia memiliki badan yang bagus dan kekar, namun selalu disembunyikan. Kulitnya berwarna coklat eksotis menyerupai caramel dia tampak seperti seseorang yang berketurunan Timur-Tengah.
Sejak menjadi kapten basket untuk kelas 10 di SMA Hardiswara, dia menjadi populer dikalangan para gadis. Entah itu yang seumuran atau kakak kelasnya.
Shica dan Meishy sedang duduk di pinggir lapangan. Seperti biasa, mereka menonton Raihan dan Rangga yang sedang bermain basket.
Terdengar suara langkah kaki memasuki gedung basket. Shica dan Meishy menoleh. Ternyata Rama dan timnya.
Ada ban kapten berwarna hitam di lengan Rama, menunjukkan kalau dirinya adalah seorang kapten basket dari kelas 11.
Rangga dan Raihan menoleh melihat kedatangan kakak kelas mereka.
"Hei, bukankah kalian akan ada pertandingan? Kenapa tidak berlatih dengan kami?" Tanya salah satu anggotanya Rama.
"Iya, kami sedang berlatih." Rangga yang menjawab.
"Kenapat tidak berlatih bersama kami?" Tanya temannya Rama.
Raihan dan Rangga saling pandang.
Shica melihat teman-temannya Rama tidak memiliki ekspresi bagus apalagi ekspresi bersahabat. Dia tidak ingin mereka menjahili Raihan dan teman-temannya.
Pertandingan basket antara kakak kelas dan adik kelas itu dimulai. Shica dan Meishy tampak khawatir.
"Semoga mereka tidak melukai adik kelas mereka yang manis-manis itu." Meishy bergumam pelan.
Melihat Rama bermain basket, membuat sisi lembut seorang ketua PMR hilang. Dia sangat keren di lapangan.
Kak Rama keren sekali... Raihan juga sangat keren! Shica membatin.
Namun, entah bagaimana, salah satu temannya Rama dan salah satu temannya Raihan terjatuh yang akhirnya malah berkelahi.
Melihat itu, Shica dan Meishy berdiri karena panik.
Raihan dan Rama berusaha memisahkan teman mereka yang sedang berkelahi itu.
"Wajahmu sangat menyebalkan!" Temannya Rama menunjuk wajah temannya Raihan.
"Kenapa menyalahkanku!" Temannya Raihan tidak mau kalah.
Rama menjewer telinga temannya, "Minta maaf saja, apa susahnya? Kau pikir, aku tidak melihatmu yang sengaja menginjak kakinya?"
Setela mendengar bisikan tajam dari Rama, laki-laki itu terpaksa meminta maaf pada temannya Raihan.
Rama dan Raihan bersalaman dengan jantan dan setengah memeluk satu sama lain.
Setelah itu, Rama dan teman-temannya meninggalkan lapangan basket.
Shica menatap Rama yang sama sekali tidak menoleh padanya.
Kenapa kakak tidak melihat padaku? Apa mungkin dia marah?
"Ah, kaget sekali... aku pikir kakak kelas kita itu akan menendang wajah kita," kata Rangga.
Shica mendelik kesal pada Rangga. Mana mungkin Rama memiliki sifat buruk seperti itu. Seingat Shica, selama ini Rama tidak pernah menyakiti orang lain.
"Dia kakak kelas yang baik, bukan? Dia menyuruh anggotanya meminta maaf pada temanku. Jarang ada kakak kelas yang memiliki sikap rendah hati seperti itu," bela Raihan.
Rangga menyahut, "Yeah, mungkin kak Rama tidak seperti itu. Tapi, kak Regar pernah begitu..."
Shica tampak berpikir, ya... Regar memang memiliki sifat yang kurang bagus. Laki-laki itu akan berubah-ubah sesuai dengan suasana hatinya.
"... waktu di SMP, dia juga pernah menendang wajah orang sampai haru dilarikan ke rumah sakit." Rangga menyambung kalimatnya. Jadi, dia pernah satu sekolah dengan Regar di SMP dulu.
Shica tidak senang ada orang lain yang menjelek-jelekkan kedua kakaknya seperti itu.
"Apa yang terjadi dengan orang itu?" Tanya Raihan penasaran.
Meishy melihat ekspresi Shica yang tidak bisa diartikan.
"Tapi, keluarga Mahali langsung meminta maaf dan membayar ganti rugi dan lain-lain," sambung Rangga.
Raihan menoleh pada Shica, "Bagaimana menurutmu, Shica?"
Shica langsung menjawab, "Menurutku, tidak usah membicarakan orang lain, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukan?"
Meishy langsung mengiyakan, "Iya, kita juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya... bisa saja berita itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi."
"Ya sudah, ayo ke kantin." Raihan menggiring teman-temannya agar segera berlalu.
-
Bel pulang telah berbunyi.
Shica dan Meishy keluar dari kelas. Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir.
"Oh ya, kamu pulang kemana?" Tanya Shica.
Meishy menyebutkan alamat rumahnya.
"Itu 5 kilometer dari sini, kan? Kamu jalan kaki?" Tanya Shica yang terkejut.
Meishy menganggukkan kepalanya, "Iya, waktu SMP dulu aku juga suka jalan kaki."
Shica merasa iba. Dia membawa sesuatu dari tasnya, "Ini untuk kamu."
Shica memberikan ponsel baru pada Meishy.
"A-apa?" Meishy terkejut.
"Aku mohon terimalah, aku sudah memasukkan nomorku. Jadi, nanti kamu harus menghubungiku, ya. Atau aku saja yang menghubungi kamu." Shica memelas.
"Maaf, Shica... tapi... aku tidak bisa menerimanya. Ini barang mahal dan ini milik kamu." Meishy mengibaskan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa, aku ingin berkomunikasi dengan kamu lewat ponsel ini. Ini tidak mahal, ini barang bekas," bohong Shica.
"Shica, aku akan merasa terbebani dengan ini," kata Meishy sambil menyimpan kedua tangannya di belakang menandakan dia tidak ingin menerimanya.
"Kamu sahabat pertamaku, apa kamu mau menolakku? Aku mohon... ini bukan apa-apa, kok."
Meishy menerimanya, "Aku terlalu payah dan tidak bisa memakainya."
Shica terdiam sesaat, apakah gadis secerdas dirimu tidak pernah memegang ponsel sebelumnya?
Shica merasa sedih, "Nanti setelah kamu sering menggunakannya, kamu akan mengerti. Aku tahu, kamu adalah orang yang mudah paham."
"Terima kasih, Shica... aku akan menggunakannya dengan baik." Meishy tersenyum sendu.
Shica mengusap bahu Meishy.
Shica melihat Dian, salah satu bodyguard-nya sudah tiba dengan mobil yang biasa menjemputnya.
"Shica, aku pulang, yaaa... nanti aku akan menghubungimu." Meishy melambaikan tangannya.
Shica tersenyum dan melakukan hal yang sama. Setelah itu, dia memasuki mobilnya.
"Kak Rama sebentar lagi, Bang."
"Iya, Nona."
Beberapa menit kemudian, Rama datang dan masuk ke dalam.
Mobil pun melaju meninggalkan area sekolah. Di perjalanan, Shica sibuk dengan ponselnya. Rama sedikit memiringkan tubuhnya melihat dengan siapa Shica berhubungan.
Ada nama Raihan di sudut kiri atas balon percakapan.
"Kapten basket kelas 10 itu, ya?" Tanya Rama yang membuat Shica terkejut.
"Tidak perlu terkejut juga," kata Rama. Shica menyimpan ponselnya, "Kakak tidak marah?"
Rama menjawab, "Tidak,"
Shica menghela napas lega,
"tapi... tidak tahu bagaimana dengan kak Regar." Sambung Rama.
Shica menggeleng dan mengguncangkan lengan Rama, "Jangan beritahu kak Regar, Kak, please."
"Meskipun aku tidak memberitahunya, dia akan tahu sendiri," ujar Rama.
"Apa salah aku memiliki teman laki-laki?" Tanya Shica pelan, tapi Rama masih bisa mendengarnya.
"Aku mengizinkan kamu berteman dengan gadis berkacamata itu."
"Raihan tidak jahat, kok."
"Jangan memintaku membantumu kalau kak Regar mengetahui hubungan kalian. Kalian pacaran, kan?"
Shica menggeleng cepat, "Belum."
"Belum? Berarti akan?" Tanya Rama.
"Ti-tidak maksudku tidak," jawab Shica yang terlihat gugup.
"Sudah kubilang, jangan dekat-dekat dengan sembarangan orang," kata Rama sambil membenarkan posisi duduknya.
"Apa Kakak menguntitnya juga?" Tanya Shica penuh harap.
"Untuk apa? Tidak penting sama sekali."
Shica cemberut, "Biasanya Kakak suka menguntit orang, seperti Meishy waktu itu."
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya, tapi di mana, ya?" Rama mengingat-ingat wajah Raihan.
"Benarkah?" Shica tampak semangat.
"Emmm, iya."
-
Shica sudah rapi dengan pakaian rumahan. Dia memakai kaos putih berlengan panjang dengan gambar hati berwarna merah muda di bagian perut. Untuk bawahan, dia mengenakan hotpants berwarna navy blue.
Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Dia tampak manis dengan pakaian seperti itu. Dia mengambil jaket Raihan yang sudah dicuci olehnya. Dimasukkannya jaket tersebut ke dalam tas belanjaan berwarna merah muda.
Dia sudah mendapatkan alamat Raihan dari orangnya langsung. Jadi, dia ingin mengembalikan jaket milik laki-laki itu sekarang juga.
Dengan ceria, Shica keluar dari kamarnya. Dia menoleh sebentar ke kamar Rama yang sedikit terbuka. Laki-laki yang sedang terbaring di sofa itu menoleh sesaat lalu bangkit duduk dan segera keluar.
"Mau kemana?" Tanya Rama yang melihat punggung Shica.
Gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kakaknya sambil tersenyum, "Ke rumah Raihan."
Rama terkejut lalu mengikuti Shica yang menuruni tangga dan menaiki tangga yang berhadapan dengan tangga barusan untuk menuju kamar orang tuanya.
"Kamu mau kemana dulu?" Tanya Rama lagi.
"Ke ruang make-up, aku mau mencari lipstik mama." Shica mengetuk pintu yang dicarinya. "Permisi, Ma. Shica mau meminjam lipstik."
Seolah mendapatkan jawaban, Shica masuk. Rama menggeleng pelan melihat tingkah menggemaskan adiknya itu. Dia juga masuk.
Ada banyak make-up di meja di ruangan tersebut. Bukan hanya make-up, ada pakaian, tas, dan sepatu juga di sana.
Shica mengambil lipstik berwarna peach pink. Dengan telaten, dia memakainya.
Rama memperhatikan apa yang dilakukan oleh adiknya itu, "Haruskah tampil secantik ini untuk bertemu dengan yang namanya Raihan itu?"
"Emm, laki-laki tidak akan mengerti," kata Shica.
"Dari mana kau tahu rumahnya? Dia yang memberitahumu?" Tanya Rama.
Bukannya menjawab, Shica malah menyodorkan lipstik tersebut pada Rama, "Mau mencoba? Lipstik ini ajaib, rasanya sejuk dan manis."
Rama mengambilnya dan dengan konyol, dia memakainya. Shica terkekeh melihat tingkah kakaknya. Dia mengambil lipstik itu dari tangan Rama dan mengoleskannya dengan benar ke bibir kakaknya itu.
Rama tersenyum, "Iya, lipstik ini sejuk di bibirku, rasanya juga manis. Pantas saja...."
Shica menatap curiga pada Rama. Dia menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarka kakaknya.
Namun, laki-laki itu tidak melanjutkan ucapannya.
Shica mengambil ponselnya dan berselfie dengan Rama. Keduanya memasang ekspresi konyol lalu tertawa.
Rama dan Shica menuruni tangga dan seketika mereka berhenti ketika berpapasan dengan Regar dan Bella di ujung tangga.
"Kalian mau kemana?" Tanya Regar.
Rama menoleh pada Shica yang kebingungan harus menjawab apa.
Sebagai kakak yang baik, Rama mencarikan jawaban untuk adiknya, "Shica mau jalan-jalan sebentar ke mall, dia ingin membeli beberapa baju karena waktu itu kita tidak membelikannya."
Pandangan Regar tertuju pada tas berwarna merah muda yang dibawa oleh Shica.
"Itu apa?"
-◈◈◈-
11 April 2016
Ucu Irna Marhamah