
-◈◈◈-
Pagi yang cerah di SMA Hardiswara. Hari ini adalah hari yang istimewa. Akan diadakan upacara memperingati hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus.
Semua organisasi sekolah bersiap sesuai tugas dan kewajiban masing-masing. Ada PKS (Polisi Keamanan Siswa) yang bertugas mengurus keamanan siswa ketika akan berbaris dan menjaga agar tidak terjadi saling dorong saat memasuki lapangan upacara.
Selanjutnya ada PMR yang bertugas menolong siswa-siswi yang sakit atau pingsan ketika upacara berlangsung.
Kalau Paskibra tidak usah ditanya lagi, dengan gagah dan penuh kesiapan, mereka akan mengibarkan bendera merah putih di hari bersejarah itu.
Begitupun dengan organisasi lainnya.
Semua siswa sudah berbaris di lapangan. Meskipun lapangan upacara berada di dalam SMA, tetap saja tidak diberikan atap, karena pada umumnya lapangan memang seperti itu. Terik panas dari sinar matahari langsung menerpa siswa-siswi di lapangan.
Ketika upacara berlangsung, Shica merasa tubuhnya panas dan kepalanya pusing. Dia masih berusaha menguatkan diri. Raihan memperhatikan Shica.
Kebetulan, barisan siswa dan siswi perkelas berdampingan, jadi Raihan bisa melihat Shica dari dekat.
Raihan berdiri di belakang siswa yang berbaris di samping Shica. Dia menepuk bahu laki-laki itu untuk bertukar tempat. Dengan baik, laki-laki itu bersedia bertukar tempat.
Kini Raihan berada di samping Shica. Dia mengusap punggung gadis itu, "Kamu tidak kuat berdiri di tempat panas? Aku akan memanggil PMR."
Shica menggerakkan tangannya sebagai jawaban, namun Raihan tetap khawatir.
Di belakang barisan para murid, terlihat beberapa PMR yang berdiri sesuai perintah, ada Rama juga di sana. Dia memperhatikan Shica yang berdiri bersebelahan dengan Raihan.
Kenapa Shica harus mengikuti upacara? Dia 'kan tidak tahan dengan panas matahari.
Tiba-tiba seorang siswi jatuh pingsan. Rama segera berlari dan melihatnya, ternyata gadis yang sama, Floryn.
Gadis itu selalu pingsan ketika upacara. Rama menggendong tubuh ramping itu. Dia melihat Shica juga pingsan, namun ada Raihan yang menangkapnya. Laki-laki itu mengangkat tubuh Shica.
Rama membiarkan Raihan yang membawa Shica ke UKS, sementara dirinya membawa Floryn.
Di UKS, Raihan membaringkan tubuh Shica ke ranjang. Beberapa PMR memberikan pertolongan. Rama masuk dan menidurkan Floryn ke ranjang yang satunya, kebetulan bersebelahan dengan ranjang Shica.
Rama melihat kedua gadis itu bergantian. Rama memeriksa keadaan Shica dan Floryn bergantian. Sementara Raihan memperhatikan kesibukan laki-laki itu. Rama memberikan perintah pada anggota PMR untuk membawa atau melakukan sesuatu.
"Apa aku bisa membantumu?" Tanya Raihan. Rama menoleh sesaat, "Kau tidak tahu apa-apa, kembali saja ke lapangan."
"Di lapangan panas, di sini saja, yaaa." Raihan duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang di mana Shica terbaring.
Rama hanya memutar bola matanya mendengar jawaban Raihan. Rama mengambil sesuatu dari tasnya seperti body lotion.
"Kau membawa body lotion ke mana-mana? Apa kau juga menggunakannya di kamar mandi?" Tanya Raihan.
Anggota PMR yang ada di sana saling melemparkan pandangan, karena mendengar perkataan konyol Raihan.
"Ini bukan body lotion, bodoh! Ini obat untuk Shica!" Rama menjawab dengan nada menggerutu.
Laki-laki itu mengoleskannya ke tangan Shica yang memerah dan berbintik. Raihan memperhatikan laki-laki itu.
"Kalian boleh kembali ke lapangan, aku akan mengurus mereka berdua," kata Rama. Anggota PMR lainnya berlalu.
Rama melanjutkan mengolesi kulit Shica dengan cairan kental berwarna hijau muda itu. Dia menoleh pada Raihan.
"Kenapa masih di sini? Kau juga harus pergi."
Raihan menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Kenapa aku harus pergi? Apa kau gugup karena aku memperhatikanmu?"
Rama memutar bola matanya.
"Aku pikir, pembalap petir sepertimu tidak akan memiliki rasa gugup," ujar Raihan.
Floryn bergerak, menandakan dia sudah sadar. Rama berhenti sejenak dan memberikan gelas berisikan air hangat yang merupakan larutan gula merah pada Floryn. Gadis itu meneguknya.
Raihan mengambil alih pekerjaan Rama. Dia mengolesi kulit Shica yang lainnya dengan krim tersebut.
"Kenapa kamu selalu pingsan ketika upacara? Kamu tidak sarapan lagi?" Tanya Rama pada Floryn.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Raihan menoleh ke arah mereka tanpa menghentikan kegiatannya.
"Kenapa kamu tidak pernah sarapan? Itu tidak baik untuk kesehatanmu, makanya kamu pingsan terus," kata Rama.
Dengan polos, gadis itu menjawab, "Aku rela pingsan terus agar bisa bertemu dan berbicara dengan kak Rama."
Rama menoleh pada Raihan yang segera mengalihkan perhatiannya dan pura-pura tidak mendengar.
"Kenapa ingin bertemu denganku?" Tanya Rama sambil mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis Floryn. Gadis itu tersenyum manis.
"Karena... Kak Rama belum menjawab perasaanku," kata Floryn. Rama menyahut, "Aku sudah menjawabnya waktu itu, kan?"
Floryn cemberut.
Shica membuka kedua matanya. Rama menoleh pada adiknya, "Raihan, berikan adikku larutan gula merah."
Dengan segera, Raihan melakukan apa yang diperintahkan Rama.
"Lain kali jangan begitu, jangan membahayakan kesehatanmu sendiri," kata Rama. Floryn menganggukkan kepalanya, "Jika Kak Rama yang menyuruh, aku akan melakukannya."
Shica dan Raihan melihat pada Rama dan Floryn.
"Kakak sedang tidak punya pacar, kan? Aku mau jadi pacar Kakak," ucap Floryn.
Shica dan Raihan membulatkan matanya mendengar kepolosan gadis itu.
"Apa yang kamu katakan, tidurlah." Rama sedikit mendorong bahu Floryn agar berbaring, namun gadis itu malah menetapkan posisinya.
"Aku tidak mau."
Rama beralih pada Shica. Dia mengusap kaki adiknya yang memerah, "Raihan, oleskan di sini."
Raihan menurut.
Floryn memainkan telunjuknya, "Aku juga mau seperti itu."
Rama menoleh padanya, "Ini untuk luka bakar karena sinar matahari, kamu 'kan tidak mengalaminya."
Floryn menoleh pada Shica, "Jangan terlalu banyak memberika gel itu, nanti tidak baik untuk kulitnya."
"Tidak ada yang bisa membuat kulitnya lebih baik selain ini," kata Rama.
Hening.
Shica menoleh pada Rama dan Raihan, "Kalian akrab, ya?"
Rama segera menjawab, "Tidak, kebetulan saja tadi dia membawamu kemari."
Shica ber-oh-ria.
Floryn bangkit dari ranjang UKS dan berlalu, namun Rama menyusulnya.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Rama. Floryn tampak berpikir, "Upacaranya belum selesai, kan? Aku harus kembali."
Gadis itu melanjutkan langkahnya, tapi Rama meraih tangan Floryn, "Tidak perlu ke lapangan lagi, nanti kamu pingsan lagi, bagaimana?"
"Kalau aku pingsan lagi, Kak Rama harus menolongku lagi."
Rama memutar bola matanya, "Kembali lagi ke ruang UKS, sekarang."
Floryn menggeleng, "Tidak mau."
Rama mendengus dingin, "Aku tidak mau kamu kenapa-napa, nanti pembimbing PMR bisa memarahiku."
Floryn terkekeh, "Kak Rama mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja," jawab Rama segera.
Floryn membulatkan matanya, "Aaaahhhh... senangnyaaaaa... kalau begitu, kita pacaran, yaaaa."
Rama mengusap kasar wajahnya, ada apa dengan kepala gadis cantik ini?
"Ya, ya, yaaaa."
"Tidak."
-
Sepulang sekolah, Rama pergi ke base camp. Tidak ada kakaknya, karena laki-laki itu sedang sibuk dengan simulasi.
Berarti tugas pengawasan geng ada di tangan Rama.
Ferdad dan Reza menghampirinya, "Ada balapan mobil. Geng Argaa yang menjadi tuan rumah, mereka 'kan punya sirkuit besar."
"Haruskah aku kesana? Memangnya hadiahnya apa? Ada gadis juga?" Tanya Rama.
"Ada, gadis yang masih 'utuh' juga ada pastinya. Kau tahu pilihan Argaa, kan?" Jawab Reza di akhiri dengan pertanyaan.
"Dia perusak seperti kakakku," jawab Rama dengan sarkas.
Ferdad merangkul Rama, "Ayolah, Rama... kau sudah cukup dewasa untuk bermain tanpa kakakmu."
"Aku tidak membawa mobil, kalian lihat sendiri 'kan... aku kemari dengan motor." Rama menunjuk motornya.
"Are you kidding?" Reza membuka tirai di samping pabrik ikan. Ternyata ada mobil sport di sana.
Rama terpukau dengan keindahan model dari mobil berwarna ungu tersebut.
"Baunya memang tidak menyenangkan, tapi kecepatannya luar biasa," kata Ferdad.
"Kenapa warnanya harus ungu? Kalian meledekku karena aku tidak punya pacar?" Rama menggerutu kesal.
Ferdad dan Reza tertawa.
Rama memasuki mobil tersebut dan menyalakan mesinnya. Suara dari mobil tersebut benar-benar membuat siapa pun merinding
Rama menoleh pada Ferdad dan Reza dengan memperlihatkan ekspresi terpukau.
Akhirnya mereka pergi ke tempat balapan geng Argaa.
Ada banyak mobil terbaik dan tercepat yang kini sudah berbaris di garis start.
Rama ikut bergabung, namun seseorang menghampirinya, "Kau kesini dengan uang, kan?"
Rama mengangguk dan memberikan kartu ATM miliknya pada orang itu. Rama mengenakan kacamata hitamnya.
Dua gadis cantik berpakaian seksi berdiri di depan mobil. Mereka melambaikan bendera, tanda balapan dimulai.
Semua mobil itu melaju dengan kecepatan luar biasa. Rama memakai masker penutup mulut dan hidung. Dia mempercepat laju mobilnya dan berhasil memenangkan balapan.
Semua orang bersorak atas keberhasilan pria Mahali itu. Namun, laki-laki berambut coklat menghampiri Rama.
"Jangan senang dulu, pejantan Mahali, balapan mobil tidak sehebat balapan motor, kan?" Ujar laki-laki yang tidak lain adalah Argaa, pemimpin geng.
Rama menautkan alisnya, sial! Apa dia akan menyuruhku balapan motor?
"Aku tahu, kau adalah pembalap motor sejati. Menangkan balapan motornya. Maka kau akan mendapatkan uangnya dan ketiga gadis itu." Argaa menunjuk ketiga gadis cantik berpakaian seksi di dekatnya.
Gadis-gadis cantik itu mendekat dan langsung menempel pada Rama. Kecupan-kecupan diterima oleh laki-laki itu.
"Jangan melakukannya di tempat ini," kata Argaa sambil tertawa dan menarik gadis-gadis itu agar menjauh dari Rama.
Beruntung sekali, Rama menyuruh Ferdad membawa motornya ketika mereka kemari.
Dengan agak malas, Rama memakai perlengkapan untuk balapan. Dia mengambil sarung tangan dan helm miliknya dari Ferdad.
"Menangkan balapannya, Rama." Ferdad dan Reza menepuk punggung adik dari bos mereka itu.
Rama menaiki motor sport hitamnya, "Baiklah, sayang... kita harus memenangkan balapan dan mengambil kembali ATM-ku ditambah tiga gadis cantik itu."
Seolah-olah Rama sedang berbicara dengan motornya.
Balapan dimulai, Rama menunjukkan seperti apa petir di sirkuit. Dia jauh lebih keren di motor dibandingkan ketika memacu mobil.
Tidak ada yang mampu menyaingin kecepatannya. Reza dan Ferdad bertepuk tangan sambil bersorak meneriakkan nama Rama.
Kemenangan sudah ada di depan mata. Sebentar lagi Rama akan melewati garis finish, namun tiba-tiba motor sport biru gelap lebih dulu menginjak finish.
Rama sampai harus menoleh pada orang itu. Reza dan Ferdad tercengang dengan mulut membentuk huruf O.
Argaa memberikan semua uang dari pembalap yang kalah pada pemenang baru. Begitupun dengan kartu ATM milik Rama.
Rama menghentikan motornya di samping orang yang sudah mengalahkannya itu.
Argaa menyuruh gadis-gadisnya untuk menemui pemilik baru mereka. Ketika ketiga gadis itu menempel padanya, orang itu malah mendorong dan menepuk-nepuk badannya sendiri.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak suka gadis!" Gerutunya. Rama dan Argaa terkejut mendengar suaranya, ternyata pemenang baru itu adalah perempuan.
Ketika helm itu dibuka, Rama dan Argaa semakin terkejut melihat wajah cantik itu, dia Floryn.
Rama melongo tak percaya.
"Aku tidak mau tiga gadis itu, aku mau dia!" Floryn menunjuk Rama.
Argaa menoleh pada Rama yang juga terkejut dengan permintaan Floryn.
Argaa menjawab, "Dia bukan termasuk hadiahnya, dia juga pembalap di sini."
"Ya sudah." Floryn menuruni motornya dan berlalu sambil membawa uang dang ATM dalam koper hitam yang diberikan Argaa padanya. Beberapa anak buah dari Floryn membawa motor tersebut.
Rama menyuruh Reza dan Ferdad untuk membawa motornya. Dia berlari menyusul Floryn.
"Hei, hei, tunggu aku."
Mendengar suara Rama yang memanggilnya, Floryn tersenyum tanpa mau menghentikan langkahnya.
"Floryn tunggu!"
Akhirnya gadis itu berhenti. Dia menoleh pada Rama.
"Mau mengambil kembali ATM milikmu?" Tanya Floryn sambil mengembalikan ATM Rama.
Laki-laki itu mengibaskan tangannya, "Tidak perlu, itu sudah menjadi milikmu."
"Simpan saja untuk pernikahan kita," ujar Floryn sambil memasukkan ATM tersebut ke dalam saku celana Rama.
Rama jadi membeku. Floryn menatap Rama kemudian tertawa.
"Aku bercanda, lagian Kak Rama tidak menyukaiku, kan?" Floryn melanjutkan langkahnya.
Rama menarik lengan Floryn dengan agak kasar, "Kenapa kamu bisa berada di tempat seperti ini? Ini berbahaya untuk perempuan baik-baik seperti kamu."
Floryn tersenyum mendengar nada cemas dari kalimat yang diucapkan oleh Rama.
"Aku juga tidak mengira... laki-laki sebaik dirimu bisa berada di sini. Ketua PMR dan pemain basket terbaik... ternyata seseorang yang seperti ini." Floryn menepis tangan Rama kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Rama yang berdiri terpaku.
Floryn menoleh, "Oh ya, namaku Floryn."
Di base camp,
Rama meminta bantuan Dion dan Givar untuk mencari tahu tentang Floryn. Kebetulan mereka berdua baru pulang simulasi bersama Regar.
Givar membaca informasu lewat laptop miliknya, "Floryn tidak terdaftar di geng manapun. Dia seorang pembalap wanita yang lumayan terkenal di antara para pembalap lainnya. Mungkin dia gadis yang hanya sesekali masuk ke sirkuit, dan meskipun sesekali, tapi dia selalu memenangkan pertandingan."
Regar dan Dion menoleh pada Rama yang tampaknya sedang berpikir.
"Kenapa penasaran padanya?" Tanya Regar. Rama menjawab, "Aku hanya ingin tahu saja."
"Bukannya suatu pelanggaran, kalau ada perempuan yang ikut balapan di sirkuit pria?" Tanya Dion.
"Ah, mana kutahu." Rama mendesah pelan sambil melihat kartu ATM miliknya.
"Argaa 'kan memang suka seenaknya. Dia terlalu membebaskan apa pun." Givar yang menyahut.
"Tampaknya dia pembalap yang kuat. Bukanka hebat bisa mengalahkan para pria di arena balapan?" Ujar Dion diakhiri dengan pertanyaan.
Rama memutar bola matanya, "Kuat bagaimana, dia tukang pingsan apabila sedang upacara."
Regar tertawa, "Sehebat apa pun manusia, dia pasti memiliki titik lemah."
-◈◈◈-
22 April 2016
Ucu Irna Marhamah