La Hora

La Hora
LH - 29 - Combated



 


 


 


-◈◈◈-


 


 


 


 


Regar yang memakai jaket hitam, tampak menatap serius. Dia menaikkan maskernya sampai di bawah mata.


 


 


Dia bersama anggota geng-nya sedang di sekitar base camp Januaar. Orang-orang berjaket hitam itu tengah mengintai base camp Januaar. Ada banyak orang di sana.


 


 


Tiba-tiba peluit berbunyi.


 


 


Geng Januaar menoleh dan melihat banyak orang dari geng musuh yang tiba-tiba menyerang.


 


 


Perkelahian pun tidak dapat terelakkan lagi. Geng Januaar yang terpojok karena serangan mendadak dari geng Regar.


 


 


Apalagi geng Regar membawa senjata.


 


 


Januaar tiba dengan motornya. Dia membawa tongkat besi dan membelah kelompok Regar.


 


 


Melihat kedatangan ketua geng, Regar maju dan menghampiri Januaar.


 


 


Dua laki-laki tampan itu masing-masing membawa senjata. Regar membawa rantai.


 


 


Januaar menghantam wajah Regar dengan tongkat besinya, namun dengan segera, Regar menahannya dengan rantai.


 


 


"Apa yang kau lakukan pada adikku? Kembalikan dia!" Bentak Regar sambil menendang dada Januaar.


 


 


Laki-laki yang dua tahun lebih muda dari Regar itu terpundur beberapa langkah.


 


 


"*******! Aku tidak membawanya!" Gertak Januaar.


 


 


Regar meludah, "Aku akan menarik orang-orangku, kau harus mengembalikan adikku!"


 


 


"Memangnya kau bisa mengembalikan cahaya kehidupan kakakku?!" Januaar balik bertanya.


 


 


Regar menautkan alisnya, "Jadi benar, kau yang menculiknya?!"


 


 


Januaar mendecih, "Kau takut harga dirimu terluka?"


 


 


Regar mengepalkan tangannya geram, "Shica tidak punya masalah denganmu, kenapa kau menculiknya?"


 


 


Januaar mendengus, "Aku tidak menculiknya, Argaa yang menculiknya. Sana pergi dan tarik teman-temanmu!"


 


 


Regar terkejut, dia juga merasa curiga, "Dari mana kau tahu?"


 


 


Mana mungkin Januaar mengatakan, kalau Raihan yang meminta bantuannya untuk mencari Shica.


 


 


Dia menjawab, "Semua geng tahu, kalau adikmu sedang diculik. Berita seperti ini akan mudah menyebar, bukankah geng-mu itu terkenal."


 


 


Regar menelan saliva, bagaimana jika semua geng mempermalukannya?


 


 


"Meskipun aku tidak membalas perbuatanmu, ada orang lain yang ternyata melakukannya. Rasakan itu!" Ledek Januaar.


 


 


Regar tidak bisa menahan emosinya lagi. Mereka melanjutkan perkelahian.


 


 


"Adik perempuanmu memang pantas mendapatkannya! Dia pantas bernasib sama seperti ******-****** sewaanmu, *******!" Januaar menerjang perut Regar.


 


 


"Shica bukan ******! Yang ****** itu Rayaa! ****** itu yang datang sendiri padaku dan merelakan keperawanannya!" Hina Regar.


 


 


Januaar semakin marah dan menyerang Regar.


 


 


Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Orang-orang yang sedang berkelahi itu segera berlarian membubarkan diri.


 


 


Regar mendorong Januaar dan pergi bersama teman-temannya.


 


 


Geng Januaar juga segera bersembunyi, kalau-kalau ada polisi yang datang.


 


 


Di menara besi, Rama dan Raihan sedang bersembunyi. Raihan sedang memegang megafon, sementara Rama mengarahkan ponselnya ke megafon tersebut.


 


 


Jadi, suara sirine polisi itu dari ponsel Rama.


 


 


Mereka sengaja melakukannya agar pertempuran antar geng besar itu terhenti.


 


 


"Ah, sial! Aku hampir mati karena panik," gerutu Rama.


 


 


"Aku harus menemui Januaar, jangan ke mana-mana. Jangan sampai orangnya Januaar menemukanmu, atau mereka akan menangkapmu."


 


 


Rama tampak berpikir, kemudian mengangguk.


 


 


Raihan masuk ke base camp Januaar, dia menjelaskan pada mereka, kalau semuanya baik-baik saja.


 


 


Ada beberapa yang terluka, untuk saja tidak ada yang meninggal.


 


 


Raihan mengulurkan tangannya pada Januaar. Laki-laki itu menerima uluran tangan Raihan dan berdiri.


 


 


"Sial, melihat wajah si Regar, aku ingin sekali menghabisinya. Terima kasih kau datang tepat waktu." Januaar menepuk bahu Raihan.


 


 


Meskipun Januaar lebih muda darinya, tapi Januaar tidak memikirkan usia, dia menganggap Raihan seperti seumuran dengannya.


 


 


Tiba-tiba seorang temannya masuk menyeret Rama, "Bos, kami menemukannya di menara besi."


 


 


Raihan menepuk dahinya, sudah kubilang, dia harus bersembunyi. Dasar si Rama ini!


 


 


Rama tampak tidak melawan. Padahal dia bisa berkelahi, entah kenapa dia memilih diam.


 


 


"Sedang apa dia di sini?"


 


 


"Dia adiknya Regar, kan?"


 


 


"Mau apa dia kemari?"


 


 


"Bos, bunuh saja dia!"


 


 


"Gunakan dia sebagai sandera, agar si Regar menyerah pada geng kita."


 


 


Teriak teman-temannya Januaar.


 


 


"Tidak, tidak." Raihan menghalangi Rama dari Januaar dan teman-temannya.


 


 


"Kalian salah paham, dia datang ke sini bersamaku." Raihan berusaha menjelaskan. Rama menatap punggung Raihan.


 


 


"Bersamamu?" Tanya Januaar dengan tatapan tidak percaya.


 


 


"Iya, dia juga ikut membantuku menyalakan suara sirine dari megafon itu. Dia tidak berbahaya seperti kakaknya," jawab Raihan.


 


 


"Tetap saja dia adiknya Regar. Dia datang kemari, berarti dia menyerahkan nyawanya." Tatapan Januaar tertuju pada Rama.


 


 


"Tidak, kau salah paham." Raihan berusaha melindungi Rama.


 


 


"Bos, tidak perlu mendengarkan Raihan, dia bukan anggotamu lagi. Bunuh saja mereka berdua sekalian."


 


 


Raihan tetap pada posisi, begitu juga dengan Rama.


 


 


Januaar berdiri dari tempat duduknya, "Aku jadi ragu padamu, Raihan."


 


 


Tatapan penuh kekecewaan dari Januaar tertuju pada Raihan.


 


 


"Aku hanya ingin bilang sesuatu," kata Rama. Pandangan Januaar teralihkan pada Rama.


 


 


"Bilang apa?" Tanya Januaar.


 


 


Rama menatap Januaar dengan serius, "Aku ingin meminta maaf padamu, aku meminta maaf atas perbuatan kakakku. Aku sebenarnya tidak terlalu tahu dengan permasalahan kalian, tapi aku ingin meminta maaf. Itu saja. Seandainya kau memiliki dendam pada kakakku, jangan melampiaskannya pada adikku."


 


 


Januaar dan Raihan tampak terkejut. Dari mana Rama bisa tahu?


 


 


Januaar menoleh pada Raihan yang menggelengkan kepalanya.


 


 


"Memangnya kau pikir, aku akan membalas dendam melalui adikmu?" Tanya Januaar.


 


 


Rama tampak terdiam sejenak, lalu dia bersuara, "Aku tidak tahu, tapi banyak orang yang mengincarnya. Mereka semua beralasan sama, karena mereka membenci kak Regar."


 


 


Januaar kembali mempercayai Raihan. Dia berbalik membelakangi kedua laki-laki itu, "Kau tidak tahu, seperti apa kejahatan kakakmu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkannya."


 


 


Rama tidak merespon.


 


 


"Kalau kau mau pergi, pergi saja. Aku tidak akan mengganggumu, Rama," sambung Januaar.


 


 


Teman-teman Januaar saling pandang. Kenapa Januaar melepaskan Rama dengan begitu mudahnya?


 


 


Raihan menarik tangan Rama, seraya berbisik, "Ayo, kita harus pergi."


 


 


"Tunggu." Januaar berbalik dan menatap pada Rama, "Jika kau bisa, suruh kakakmu datang kemari dan meminta maaf secara langsung pada kakakku, maka kau bisa tenang, aku tidak akan melakukan apa pun."


 


 


Raihan menoleh pada Rama.


 


 


"Aku tidak yakin," kata Rama.


 


 


"Ya sudah, permusuhan geng kita akan terus berlanjut sampai mati."


 


 


Rama tidak bisa berkata apa pun. Dia juga bingung harus bagaimana.


 


 


"Ayo." Raihan menarik tangan Rama. Mereka berdua pun pergi.


 


 


"Kenapa kau muncul di depan anak geng Januaar?" Tanya Raihan ketika fokus menyetir ke jalanan.


 


 


"Aku tidak menunjukkan diri. Dia yang melihatku," kata Rama.


 


 


 


 


Kedua laki-laki itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


 


 


"Aku akan menemui Shica hari ini," ujar Rama. Raihan menoleh, "Orang tuamu tidak apa-apa?"


 


 


Rama melihat jam tangannya, "Tidak, ini sudah jam 11 malam."


 


 


"Regar pasti tidak ada di rumah, Shica ada di rumahku, dan kau di sini. Mereka pasti khawatir. Setidaknya hubungi mereka."


 


 


Rama menatap Raihan.


 


 


-


 


 


Ratna terlihat cemas. Dia berdiri sambil bolak-balik di ruang keluarga. Wanita itu mengusap pipinya yang basah karena air mata kekhawatiran.


 


 


Sesekali pandangannya tertuju pada jam dinding di ruangan tersebut. Dia mencemaskan ketiga anaknya yang tidak kunjung pulang.


 


 


Ridan masuk dan melihat istrinya yang belum tidur. Dia bisa mengerti dengan kecemasan Ratna. Meskipun tidak menunjukkannya, sebenarnya Ridan juga sedang khawatir.


 


 


Pria itu mengusap punggung istrinya, "Aku sudah menyuruh para bodyguard untuk mencari anak-anak."


 


 


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak kita? Apalagi Shica, bagaimana jika dia diculik? Aku mengkhawatirkannya... sangat mengkhawatirkan mereka."


 


 


Ridan memeluk istrinya.


 


 


Tiba-tiba ponsel Ridan bergetar, menandakan ada notifikasi. Dia melepaskan pelukannya dari Ratna kemudian melihat layar ponselnya, tertera nama Rama di sana.


 


 


Segera diangkat panggilannya itu, "Rama? Kamu di mana?"


 


 


Ratna menoleh pada suaminya.


 


 


"Pa, sekarang aku sedang berada di rumah temanku, kami masih mengerjakan tugas kelompok. Tadi aku mencari Shica, ternyata dia juga sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Siang ini dia lupa meminta izin, jadi aku sangat khawatir dan pontang-panting mencarinya."


 


 


Ridan menghela napas lega, "Papa mengerti, syukurlah jika kalian tidak apa-apa. Lain kali, bilang pada Papa."


 


 


"Maaf, Pa."


 


 


"Regar di mana?" Tanya Ridan.


 


 


"Di rumah kak Givar, Pa."


 


 


"Baiklah, jangan tidur terlalu malam." Tersirat rasa peduli yang amat tinggi dari ucapannya.


 


 


"Iya, Pa."


 


 


Ratna memberikan kode pada suaminya. Ridan mengerti, "Mama kamu ingin bicara."


 


 


"Rama Sayang?" Panggil Ratna dengan ekspresi sendu.


 


 


"Ma? Mama belum tidur?"


 


 


Ratna menghela napas lega ketika mendengar suara putranya, "Mama tidak bisa tidur, ketika anak-anak Mama tidak ada di rumah. Kamu sudah makan, nak?"


 


 


"Emm, iya."


 


 


"Tugas kelompoknya nanti saja, makan dulu, jangan berbohong. Kalau kamu sakit, Mama yang cemas, bukan guru kamu. Kalau tugasnya belum selesai, Mama sendiri yang akan bicara pada wali kelas kamu." Rasa khawatir Ratna menunjukkan sisi nyonya Mahali yang penuh kekesalan.


 


 


"Iya, Ma. Mama juga harus makan. Besok Rama akan pulang bersama Shica."


 


 


"Setelah makan, cepat tidur."


 


 


"Iya, Ma."


 


 


Panggilan pun berakhir.


 


 


Raihan menoleh pada Rama yang menyimpan ponselnya. Raihan merasa jika Rama jauh lebih beruntung darinya. Laki-laki itu masih memiliki orang tua yang lengkap dan begitu mengkhawatirkan dirinya jika tidak pulang cepat.


 


 


Sementara Raihan, tidak pernah ada yang mengkhawatirkan dirinya. Dia bebas pulang malam dan tidak pulang sekali pun.


 


 


Itu adalah salah satu alasan, kenapa dia masuk geng Januaar. Dia sangat kesepian, membutuhkan banyak perhatian.


 


 


Rama menoleh, "Motorku ada di rumah temanmu."


 


 


"Besok saja kita mengambil motormu. Ini sudah malam, tidak enak mengganggu mereka. Mereka pasti sudah tidur."


 


 


Rama mengangguk.


 


 


Sesampainya di mansion milik keluarga Abdurrachman, Rama benar-benar terpukau dengan bangunan besar tersebut. Sangat mewah dan berkelas.


 


 


"Ini rumah... eh, ini mansion milik keluarga besarmu? Ada banyak orang yang tinggal di sini? Apa tidak masalah aku datang? Apa tidak mengganggu?" Rama mengeluarkan semua pertanyaannya pada Raihan.


 


 


"Aku sendiri, hanya ada beberapa pelayan." Raihan menjawab seadanya.


 


 


Mereka masuk ke dalam. Ada banyak bodyguard dan pelayan di sana. Mereka membungkukkan badan ketika Raihan dan Rama berjalan melewati mereka.


 


 


Raihan membawa Rama ke kamarnya, di mana Shica berada.


 


 


Gadis itu masih tertidur, sepertinya dia kehabisan tenaga setelah diculik oleh Januaar.


 


 


Rama mengusap rambut adiknya, "Ini karma... karma dari perbuatanku dan kakakku. Tapi... kenapa harus Shica yang mengalaminya? Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah sama sekali."


 


 


Raihan menepuk bahu Rama, "Kau pasti lapar, aku akan menunjukkan kamarmu, nanti akan ada pelayan yang mengantarkan makanan."


 


 


Raihan membawa Rama ke kamar tamu. Rama benar-benar terpana dengan gaya kamar tamu yang akan digunakannya.


 


 


"Bagaimana bisa orang sepertimu bersekolah di SMA Hardiswara, bukankah akan lebih keren, kalau kau bersekolah di tempat yang jauh lebih baik dari SMA Hardiswara?" Tanya Rama.


 


 


"SMA Hardiswara adalah SMA terbaik ke-7 di Indonesia, aku nyaman di sana."


 


 


Rama mengangguk mengerti.


 


 


"Aku pergi, ya."


 


 


Lagi-lagi Rama mengangguk.


 


 


-


 


 


Perlahan, Shica membuka kedua matanya. Dia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang sama sekali tidak dikenalinya.


 


 


"Kamar siapa ini?" Gumam Shica sambil bangkit duduk. Dia melihat ada sketsa wajah Raihan di nakas. Itu adalah gambar buatannya.


 


 


Jadi, dia sedang di rumah Raihan?


 


 


Shica baru mengingatnya. Memori itu kembali berputar dalam kepalanya.


 


 


Mendadak dia merinding mengingatkan hal buruk yang hampir menimpanya. Dia takut sekali, ketika Argaa mencoba untuk memperkosanya. Beruntung dia sedang tamu bulanan. Namun, parahnya lagi dia menyaksikan secara langsung adegan panas Argaa dan Bella di depan matanya.


 


 


Shica sangat ketakutan. Dia jadi tidak ingin membaca cerita dewasa lagi.


 


 


Pintu kamar terbuka, ternyata Raihan yang masuk. Laki-laki itu terkejut melihat Shica yang sudah bangun.


 


 


"Syukurlah kamu baik-baik saja." Raihan duduk di tepi ranjang. Dia mengusap rambut Shica dengan lembut.


 


 


"Mau makan?" Tanya Raihan. Shica mengangguk.


 


 


Laki-laki itu menyuruh pelayan membawakan makanan ke kamar dan melihat Shica memakannya.


 


 


Laki-laki itu merasa sedih, Januaar, apa kau tega melukai gadis yang polos ini? Aku harus menghentikannya, jangan sampai Januaar menyakiti Shica.


 


 


Gadis itu menoleh pada Raihan, "Kita di mana?"


 


 


Raihn tersenyum mendengar suara Shica lagi, "Di rumahku."


 


 


Shica melihat ke sekeliling, "Aku mau pulang."


 


 


Raihan menggeleng, "Jangan khawatir, di sini aman. Ada kakak kamu juga di kamar tamu."


 


 


Shica terkejut, "Kak Rama?"


 


 


Raihan mengangguk, "Besok hari minggu. Kalian bisa kembali bersama besok pagi. Sekarang tidur saja, ya."


 


 


"Lalu... bagaimana jika mama dan papa khawatir?" Tanya Shica lagi.


 


 


"Mereka tidak akan khawatir, tadi Rama sudah menelpon."


 


 


Shica menghela napas lega. Raihan sedang memperhatikan Shica. Laki-laki itu kembali teringat dengan tubuh Shica sore ini. Pikiran nakal mulai menggerogoti akal sehatnya.


 


 


Tatapan Raihan membuat Shica takut.


 


 


"K-kenapa melihatku seperti itu? Sudah kubilang, jangan melihatku seperti itu," ucap Shica.


 


 


Raihan menaikkan kedua alisnya, "Maaf, aku... aku khawatir sekali. Jadi, sekarang aku sangat senang dan tidak ingin melepaskan pandanganku darimu."


 


 


Shica menunduk, "Argaa benar-benar tidak waras. Dia membuatku ketakutan. Dia orang sialan pertama yang melihat tubuhku. Untung saja dia tidak sempat melakukannya."


 


 


Raihan mengusap rambut Shica dengan lembut, "Yang penting kamu tidak apa-apa, lupakan kejadian itu. Aku mencemaska kesehatanmu."


 


 


Shica menganggukkan kepalanya, "Raihan... aku mau mandi."


 


 


Raihan menelan saliva, kemudian mengangguk.


 


 


-◈◈◈-


 


 


6 September 2016


Ucu Irna Marhamah