
-◈◈◈-
Rama melemparkan tasnya ke tempat tidur. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi teman-temannya.
Dia tampak khawatir.
"Kalian harus menemukan Shica, apa pun yang terjadi, temukan dia sebelum jam 5 sore." Rama memerintah dengan nada tegas.
Orang di seberang sana menjawab, "Kami sedang mencarinya ke setiap base camp milik anggota geng lain."
Rama menghela napas berat, "Iya, lakukan apa saja, aku akan menyusul nanti, karena sebentar lagi orang tuaku pulang, jadi aku tidak ingin mereka curiga, karena tidak melihat siapa pun di rumah."
"Iya, Bos."
Rama mengakhiri panggilannya. Dia melihat jam yang menunjukkan pukul 4.
Laki-laki itu mendengus kesal. Dia memilih untuk mandi dan bersiap-siap. Ketika menuruni tangga, dia berpapasan dengan Regar.
Aku bilang, atau jangan saja, ya? Kak Regar tidak akan memaafkanku jika dia tahu Shica menghilang.
Regar menoleh pada adiknya, "Minggir, jangan menghalangi jalanku."
Rama menepi. Regar berlalu ke kamarnya. Rama mengacak rambutnya frustasi. Suasana hati Regar tampaknya sedang kurang bagus hari ini.
Jika ada Regar di rumah, orang tuanya tidak akan terlalu curiga. Jadi, Rama akan pergi sekarang untuk mencari Shica. Orang tuanya bisa saja mengira, jika Shica sedang bersama Rama.
Ketika Rama keluar, dia mendapatkan chat dari Raihan.
Rama?
Shica sudah pulang?
Apa dia baik-baik saja?
Rama menaiki motornya sambil membalas pesan dari Raihan.
Shica tidak ada di rumah, aku sudah mencarinya ke sekolah. Aku sudah menyuruh orang untuk menanyakannya pada teman-teman sekelas Shica. Tidak ada yang tahu.
Motor Rama berderung, menandakan dia siap pergi dari rumah. Namun, Rama tidak jadi melajukan motornya, ketika melihat mobil Ridan memasuki pelataran rumah Mahali.
Dia kembali menarik kunci motornya lalu turun.
Pria paruh baya itu keluar dari mobilnya dan melihat pada Rama yang berjalan menghampirinya.
"Baru pulang sekolah?"
Rama mengangguk sambil mencium tangan sang ayah.
"Mau kemana lagi?" Tanya Ridan yang melihat Rama sudah rapi dan motor yang terparkir di depan.
Rama yang terlihat gugup malah menunjuk ke depan, Ridan menoleh ke arah telunjuk putranya dan mengernyit lalu kembali menoleh pada Rama.
"Emm, itu, Pa... aku ada kerja kelompok bersama teman sekelas." Rama mencari alasan.
"Kerja kelompok?" Tanya Ridan yang terlihat curiga.
Rama mengangguk pelan.
"Sebentar lagu UAS, kan? Kenapa masih ada kerja kelompok? Biasanya tidak ada kerja kelompok ketika mendekati UAS." Ridan menatap putranya mencari kebohongan di mata hazel-nya..
Rama menelan saliva, ah, kenapa papa selalu tahu tentang informasi sekolah? Dia tidak terlihat memperhatikan kami, tapi ternyata dia tahu semuanya.
"Ada tugas bersama yang harus selesai sebelum masa UAS," bohong Rama.
"Jangan pulang terlalu malam," kata Ridan yang masih menyimpan kecurigaan.
Rama mengangguk, dia bisa bernapas lega dan melajukan motornya meninggalkan rumah.
Di perjalanan, Pandangan Rama tertuju pada botol minum miliknya yang menggantung di cantolan motornya. Itu adalah botol minum pemberian Shica untuknya.
Shica membeli botol minum untuk ulang tahun Regar, tapi gadis itu juga membelikannya untuk Rama.
Berkali-kali dia bernapas gusar memikirkan keadaan adiknya.
Shica, kau benar-benar membuatku khawatir.
Sejak kecil, Rama yang paling sering menangis, apabila Shica diculik. Waktu penculikan terakhir, Rama tidak tidur. Dia memohon pada Ridan, agar membawa pulang adiknya yang masih kecil itu.
Apalagi dia sangat terkejut ketika mengetahui kalau penculiknya membawa Shica ke Surabaya.
Waktu itu, Rama belum tahu Surabaya di mana, tapi tetap saja dia khawatir.
Ketika Shica berhasil dibawa pulang, Rama masih tidak bisa berhenti menangis, apalagi melihat keadaan Shica. Dia memeluk adiknya yang terlihat kurus itu. Keadaan Shica benar-benar buruk.
Rama tidak melepaskan Shica dalam pelukannya, seolah jika dilepas sedikit saja, Shica akan menghilang. Dia tidak ingin adiknya diculik lagi. Sehingga Rama yang lebih sering memperhatikan Shica.
Justru dia 'lah yang paling dekat dengan Shica, dibandingkan Regar.
Dan sebenarnya Shica juga lebih menyayangi Rama, karena Rama adalah sosok kakak yang pengertian dan menyenangkan. Suasana hati Rama selalu bagus dan jarang menunjukan emosinya.
Rama tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Tidak boleh ada yang menculik Shica.
Dia harus menemukan Shica.
-
Regar terlihat malas sekali. Sore ini dia berbaring di sofa kamarnya dan menonton TV.
Pintu kamarnya diketuk. Regar menoleh ke pintu.
"Regar?" Itu suara Ridan, ayahnya.
Dengan malas, Regar beranjak ke pintu. Dia membukanya dan melihat sang ayah.
"Kenapa, Pa?" Tanya Regar.
"Shica tidak ada di kamarnya, apa dia sudah pulang?" Tanya Ridan.
Regar tampak berpikir, dia jadi teringat pada Rama yang sudah rapi dan beberapa menit yang lalu pergi keluar.
"Aku juga tidak melihatnya hari ini," jawab Regar.
Ridan tampak khawatir, "Coba tanyakan pada teman-temannya."
Setelah berkata begitu, Ridan berlalu meninggalkan putranya dalam kebingungan.
Regar menelpon temannya di base camp, "Re, pagi ini melihat Shica di kelasnya?"
"Iya, Bos. Tapi, sore ini dia tidak ada. Kami ini juga sedang mencarinya sesuai perintah dari bos Rama."
Regar terkejut, "Mencarinya? Maksudmu, dia hilang?"
"Iya, Bos. Kami pikir, ini juga perintah dari Bos."
Regar tampak khawatir. Dia menyambar jaketnya dan menuruni tangga, "Rama di mana? Tadi dia keluar dari rumah, apa dia juga di sana?"
"Bos Rama juga sedang mencari Shica. Kami semua berpencar mencarinya ke setiap base camp anak geng."
Regar memasuki mobilnya. Dia mengakhiri panggilan dengan sepihak, lalu menghubungi Rama.
"Setelah si Rama punya pacar, dia jarang memperhatikan Shica. Seandainya aku tidak sedang menghadapi ujian, aku tidak mungkin mengabaikannya seperti ini," gerutu Regar.
Mobil Regar melaju meninggalkan kediaman keluarga Mahali.
Ridan yang sedari tadi berdiri di depan rumah, tampak curiga melihat kedua anaknya pergi dengan terburu-buru seperti itu.
"Apa mereka berdua membuat kesalahan lagi yang membuat Shica tidak ada di rumah?"
Rama mengangkat panggilan dari Regar. Dan yang pertama dia dengar, adalah amukan sang kakak.
"Apa yang membuat Shica menghilang? Apa dia diculik?! Kenapa tidak memberitahuku, Rama?!"
Rama menyelipkan ponselnya ke telinga dan helm, "Aku sedang mencarinya."
"Kenapa kau gagal memperhatikan dia?! Apa kau lebih memperhatikan pacar barumu, dibandingkan adikmu sendiri?" Regar memukul klakson dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Rama mendengus, "Aku tidak sedang bersama pacarku. Aku sedang basket tadi."
"Apa mungkin Raihan yang menculiknya?"
Rama tampak berpikir, "Tidak mungkin, tadi dia juga sedang di lapangan bersamaku. Selain itu, dia 'kan pac...."
Rama tidak melanjutkan kata-katanya. Dia hampir keceplosan.
"Pacar Shica? Raihan pacaran Shica?!"
Rama menepuk dahinya, "Tidak, Kak... maksudku, tidak mungkin Raihan menculik Shica. Tidak ada alasan baginya untuk menculik Shica, dia bukan anggota geng lagi."
Regar menatap tajam ke jalanan, "Itu bisa saja terjadi! Jika Shica diculik oleh geng lain, akan ada perang geng."
Rama terdiam, "Apa kita harus tawuran? Sebentar lagi UAS, akan menjadi masalah bagimu dan bagiku."
"Jika Shica diambil, itu melukai harga diriku sebagai ketua geng. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang berani mengambil adikku!"
Rama mendecih kesal, "Jadi, yang Kak Regar pikirkan adalah harga diri Kakak? Posisi Kakak? Bukan keadaan Shica? Kakak bukan mengkhawatirkan Shica, tapi mengkhawatirkan dirimu sendiri."
Regar terdiam di seberang sana.
"Ternyata benar kata orang, Kak Regar adalah orang yang egois."
"Rama! Aku...."
"Sana pulang saja ke rumah, aku akan mencari Shica sendirian dan menyelamatkan harga dirimu." Rama mengakhiri panggilannya.
Regar mendengus. Dia melempar ponselnya sampai jatuh ke bawah kursi mobil.
"Kenapa jadi begini?!"
-
"Apa yang terjadi?" Tanya Bella.
Bella tampak bingung, "Ya, karena dia masih perawan... otomatis dia berdarah."
Argaa mengusap kasar wajahnya, "Maksudku, dia berdarah sebelum aku melakukan apa-apa padanya."
Bella terbelalak, "Kau melukainya?"
Gadis itu masuk ke dalam dan melihat Shica dalam keadaan setengah telanjang. Gadis itu sedang menangis tersedu-sedu.
"Dia sedang datang bulan?" Tanya Bella.
Argaa mendengus.
Bella tertawa, "Sayang sekali, kau sudah bernafsu, ya?"
Bella menarik Argaa dan mereka berciuman dengan panasnya di samping Shica. Gadis itu ketakutan dan jijik melihat itu.
Meskipun dia sering membaca cerita dewasa, dia merasa jijik jika melihatnya secara langsung di depan matanya.
Cerita dewasa dibuat seromantis mungkin, sementara yang di depannya ini membuat Shica mual.
Terdengar suara pintu diketuk. Bella dan Argaa menghentikan kegiatan mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu.
"Aku akan menemuinya." Argaa membenarkan celananya. Dia membuka sedikit pintu dan melihat keluar, ternyata salah seorang anggotanya.
"Bos, ada anggota Regar di sini."
Argaa terkejut, "Mereka mau apa?"
"Entahlah."
Argaa turun dan menemui mereka. Terjadi perbincangan serius.
"Kami mencari adiknya bos kami, jadi kami sedang menggeledah semua base camp untuk menemukannya."
Argaa terdiam, apa Bella sudah menanganinya?
Tanpa menunggu jawaban Argaa, kedua orang itu memeriksa seluruh ruangan, termasuk kamar di mana Shica berada.
Namun, mereka berdua tidak menemukan Shica dan memutuskan kembali mencarinya di tempat lain.
Bella yang menyembunyikan Shica dengan baik. Argaa menghela napas lega.
"Aku hampir mati, ketika mereka memasuki kamar ini." Argaa menepuk bokong Shica. Gadis yang mulutnya tertutup lakban itu meringis.
"Kita lanjutkan saja," kata Bella.
Tanpa malu, mereka berdua melakukannya di depan Shica.
-
Rama menghentikan motornya ketika berpapasan dengan Raihan yang sedang mengendarai mobil sport berwarna merah.
"Raihan?" Rama memanggil laki-laki itu. Raihan menoleh, "Rama?"
"Kau mau kemana?" Tanya Rama.
"Tentu saja mencari Shica, apalagi memang?" Raihan menjawab dengan nada setengah menggerutu.
"Kau mau mencarinya kemana?" Tanya Rama.
Raihan tampak berpikir, bilang, tidak, ya?
Rama menunggu jawaban Raihan.
"Aku akan pergi ke base camp geng lamaku." Raihan menjawab jujur.
Rama terkejut, dia tidak mengira Raihan akan jujur padanya. Ternyata Raihan memang tidak pantas dicurigai.
Regar telah salah menduga.
"Raihan, kak Regar mengira, kau yang menculik Shica." Rama juga jujur pada Raihan.
Mendengar kejujuran Rama, Raihan tercengang. Orang yang satu ini benar-benar berterus terang padanya.
"Apa kau juga mencurigaiku?" Tanya Raihan.
Rama tampak berpikir, "Awalnya iya, tapi... ketika melihatmu bersama Shica, sepertinya kau memang mencintainya dengan tulus."
"Iya, aku memang mencintainya." Entah kenapa, Raihan mengatakan itu dengan jujur. Dia tidak malu mengakui itu pada kakak dari pacarnya.
"Jangan menghilangkan kepercayaanku padamu," ujar Rama sambil menatap Raihan dengan serius.
Raihan mengangguk, "Ya sudah, ayo cepat."
Rama menganggukkan kepalanya, "Kalau kau mau mencarinya ke base camp lamamu, aku akan mencarinya ke tepat lain, jika kau menemukannya, beritahu aku."
"Let's go."
Rama mengangguk sambil melajukan motornya disusul oleh Raihan.
Itu mobil Raihan, ya? Kok, bisa dia punya mobil sekeren itu? Kak Regar saja kalah. Rama membatin.
Di dalam mobil, Raihan tampak khawatir, "Shica... kamu di mana?"
-
Regar menghentikan mobilnya dia sudah sampai di pabrik ikan. Dia melihat para pekerja di sana. Mereka membungkukkan badan ketika melihat kedatangan tuan muda Mahali.
"Ada anak-anak di bawah?" Tanya Regar pada salah satu dari mereka.
"Ada dua orang, Tuan."
"Apa Rama datang kemari?" Tanya Regar.
"Tidak, tapi tuan Rama menyuruh anggota untuk mencari nona Shica. Mereka sedang misi sekarang."
Regar mengangguk, "Sekarang bantu aku... tolong hubungi orang khusus papa, katakan ini misi dari papa, tapi laporannya jangan sampai ke tangan papa. Laporan ini harus sampai padaku."
Regar memberikan disk pada orang itu.
Setelah mendapatkan anggukan, Regar berlalu menuruni tangga menuju ke base camp.
Ada dua orang pocket money di sana. Kedua perempuan menoleh pada Regar yang baru datang.
"Rama tidak memberikan misi pasa kalian?" Tanya Regar.
Dua orang itu menggeleng.
"Kami bertugas di sini."
"Iya, piket kami di dalam ruangan."
Regar mengangguk mengerti, dia menoleh pada salah satu komputer yang menyala.
"Kalian bisa melacak lokasi?" Tanya Regar. Dua perempuan itu saling pandang lalu menganggukkan kepalanya.
"Cari lokasi adikku berdasarkan kartu ponselnya." Regar melemparkan sebuah disk ke meja.
"Tapi, itu ilegal, karena... itu... data milik polisi."
Regar mendengus, "Tidak perlu dipikirkan, polisi tidak akan menangkap kalian, hanya karena kalian mencari lokasi. Ayahku punya koneksi dengan mereka, jangan khawatir."
Mereka berdua langsung melaksanakan perintah. Ketika di cek, mereka tidak menemukan lokasi Shica.
"Bos, tidak ditemukan lokasinya. Mungkin kartu dari ponsel adiknya Bos sudah dicopot."
Regar tampak khawatir, "Cari lokasi Rama."
Mereka mengangguk.
"Lokasinya tidak ditemukan."
Regar tampak berpikir, "Dia pasti sedang kesal padaku. Ponselnya mungkin dimatikan."
Regar ingat, ketika Rama mengakhiri pembicaraan mereka di telepon secara sepihak.
Hening.
Entah kenapa, Regar jadi ingat pada Raihan. Dia mencari kontak Raihan dari ponselnya dan memberikannya pada kedua perempuan itu.
"Cari lokasi Raihan."
Mereka berdua saling pandang sesaat.
Regar punya kontak Raihan?
Bagaimana bisa?
"Tunggu apa lagi, cepat dicek."
Mereka segera memasukkan kontak Raihan di pencaharian. Komputer sedang memproses. Regar tampak cemas.
"Base camp geng Januaar."
Regar terbelalak, sudah kuduga, dia yang menculik adikku. Aku harus memberikan pelajaran pada mereka.
Regar berkata, "Siapkan keuangan, bisa saja hari ini kita akan tempur."
"Tempur?"
Regar mengangguk, "Sekarang aku harus mencari adikku sebelum terjadi sesuatu, atau aku akan dipermalukan oleh geng lain."
Setelah berkata demikian, Regar berlalu.
-◈◈◈-
4 September 2016
Ucu Irna Marhamah