
Regar dan Rama menunggu kepulangan Shica. Mereka tidak menemukan Shica di tempat parkir ketika kedua laki-laki itu keluar dari kelas.
"Si Raihan itu pasti membawanya pergi, kenapa Kakak tidak membawa Shica saja waktu Kakak melihatnya bersama Raihan di kantin?" Tanya Rama.
"Aku punya rencana lain. Kita pulang saja dulu, Ferdad dan Rendi sedang mengikuti Shica."
Rama mengangguk.
Mereka memilih pulang dan menunggu Shica di rumah.
"Kemana Bella? Tumben tidak bersamanya," tanya Rama.
"Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya," jawab Regar.
"Baru 2 bulan...." Rama tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku bosan."
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Kebetulan kedua laki-laki itu juga sedang berada di tangga.
Mereka menoleh, ternyata Shica.
Gadis itu melewati kedua kakanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, Regar menarik lengannya.
"Kenapa tidak bilang, kalau kamu punya pacar?" Tanya Regar.
Shica berhenti melangkah, "Aku tidak punya pacar, Kak."
"Shica, seharusnya kamu meminta izin dulu sebelum pergi ke mana pun. Kak Rama tidak mengajarkanmu seperti ini," ujar Rama menambahkan.
"Yang penting aku sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja, kan?" Shica melepaskan tangan Regar darinya.
"Shica, jujur saja kalau kamu punya pacar. Kak Regar tidak akan marah." Rama meyakinkan adiknya.
"Aku memang tidak pacaran," ucap Shica.
"Lalu laki-laki yang bersamamu di kantin tadi itu siapa? Kalian tampak akrab?" Tanya Regar.
"Dia teman sekelas." Shica akan berlalu sebelum Rama menghalangi jalannya, "Dia tidak baik untukmu, Shica."
"Aku benar-benar tidak ada hubungan dengan dia. Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja pada Meishy." Shica mendorong Rama kemudian berlalu.
"Kamu kenapa terburu-buru? Ada janji untuk berkencan?" Tanya Regar.
Langkah Shica terhenti. Dia berbalik, "Kalian juga punya teman, kenapa aku tidak."
Regar dan Rama tidak bisa menjawab dan membiarkan Shica memasuki kamarnya.
Shica mendengus kesal.
Dihempaskan bokongnya ke sisi ranjang.
"Kalau misalnya kakakmu tidak memberikan izin, kita tidak usah pergi," ucap Raihan.
Shica terdiam.
Keduanya sedang melangkah menuju tempat parkir.
Shica melihat temannya Regar. Dua orang itu tampaknya biasa-biasa saja. Tapi, Shica yakin mereka sedang mengikutinya atas perintah Regar.
"Kenapa kita tidak pergi saja, meskipun kakakku tidak memberikan izin?" Tanya Shica.
"Tidak boleh begitu, nanti mereka marah padamu dan tidak menyukaiku." Raihan menduduki menyuruh Shica duduk di motornya sementara dia berdiri.
"Mereka juga pernah punya teman yang banyak. Aku hanya punya dua orang teman, Meishy dan kamu." Shica menghela napas berat.
"Itu karena mereka menyayangimu. Mereka tidak ingin kamu salah bergaul," ujar Raihan.
Laki-laki itu menatap Shica yang sedang menunduk kesal. Tersirat sesuatu di iris matanya ketika melihat Shica.
"Aku tidak pernah memiliki teman sebelumnya, aku merasa senang memiliki teman seperti kalian," kata Shica sambil mendongkak menatap Raihan.
Shica sedikit terkejut karena sedari tadi Raihan tengah menatapnya.
"Kamu melihat apa?" Tanya Shica.
Raihan tersenyum lembut, "Melihat kamu, tidak ada yang bisa dilihat selain kamu."
Shica menggeleng pelan kemudian mengalihkan pandangannya. Ferdad dan Rendi masih berada di tempat parkir.
Jadi... mereka memang sedang mengawasiku? Kak Regar, kau berlebihan, batin Shica.
Raihan bertanya, "Boleh aku mengantarmu pulang lagi? Sekalian aku menemui kakak-kakakmu dan berkenalan dengan mereka."
Perhatian Shica teralihkan pada Raihan, "Tidak perlu."
"Tentu saja perlu, aku harus mendapatkan pengakuan mereka sebelum mengajakmu berkencan. Kalau bisa, aku juga akan menemui ayahmu," kata Raihan.
"Tidak, tidak, itu tidak perlu. Aku akan bilang padamu kalau mereka mengizinkanku pergi dengan...." Shica menghentikan kalimatnya, "... berkencan?"
Raihan tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Yeah...."
Kedua pipi Shica memerah lagi. Dia mengalihkan pembicaraan, "Aku harus mencari taksi, kakakku pasti sudah di rumah."
"Kenapa mereka meninggalkanmu?" Tanya Raihan cemas.
"Belakangan ini mereka memang sedang mendiamkan aku," jawab Shica pelan.
Raihan terdiam, "Baiklah, kalau kau tidak mau kuantar pulang, aku akan mencarikan taksi untukmu."
Setelah Raihan memberhentikan taksi, Shica masuk dan melambaikan tangannya pada Raihan ketika taksi itu melaju pergi.
Raihan melakukan hal yang sama.
Shica menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya. Diambilnya ponsel dari dalam tas kemudian menghubungi Raihan.
Kakakku tidak memberikan izin. Maafkan aku, Raihan. 😢
Kenapa minta maaf? 😁
Aku mengerti... 😉😉
Baiklah, jika kamu tidak boleh keluar bersamaku, bagaimana kalau kita VC saja? 😃😃
Shica tersenyum senang. Dia menggeleng pelan, "Apa aku mulai menyukainya, ya?"
Aku harus mandi dulu, tunggu sebentar saja, ya. 😊
Kenapa harus mandi dulu? Kau tetap cantik dan wangi, meskipun tidak mandi. 🤔🤔
Shica tertawa, "Bicara apa dia?"
Tunggu sebentar saja.
Shica pun meletakkan ponselnya dan berlalu ke kamar mandi.
Sementara itu,
Regar sedang berbicara dengan Ferdad dan Rendi.
"Mereka tampaknya dekat, laki-laki itu menatap adiknya Bos dengan tatapan yang... Bos pasti mengerti," ucap Ferdad.
Regar dan Rama saling pandang.
"Tapi, kami dan teman-teman lainnya kesulitan mencari informasi tentang dia. Sepertinya dia bukan lagi anggota geng seperti dulu," ujar Rendi.
"Lalu apa tujuannya mendekati Shica? Bukankah seharusnya dia kelas 11 sepertiku di SMA Parameswara?" Tanya Rama pada Regar.
"Apa 'gadis' itu begitu berharga sampai-sampai Raihan harus mengulang dari kelas 10 untuk membalas kita melalui Shica?" Tanya Regar.
"Jika dia bisa masuk dengan mudah ke SMA Hardiswara, itu artinya dia punya orang dalam di SMA Hardiswara. Kenapa tidak bertanya pada kak Givar?" Tanya Rama.
Melihat kedua kakak beradik itu saling tanya, Ferdad dan Rendi hanya memperhatikan mereka.
"Baiklah, ayo kita ke base camp," kata Regar sambil menyambar kunci mobil di meja.
Rama mengeratkan jaketnya.
Shica menuruni tangga dan melihat kedua kakaknya yang bersiap-siap akan pergi bersama kedua teman mereka.
"Hai, Shica," sapa Ferdad dan Rendi berbarengan. Shica hanya mengangguk menjawab sapaan mereka.
"Kalian mau kemana?" Tanya Shica.
"Keluar sebentar." Rama yang menjawab. Mereka berlalu keluar.
Shica melihat dua bodyguard membua garasi. Mobil dan motor milik kakaknya ada di dalam dengan keadaan digembok rantai.
Ternyata Rama dan Regar membawa kunci cadangan. Kedua laki-laki itu menyuruh para bodyguard untuk membuka rantainya.
Jadi, entah itu bodyguard lama atau bodyguard baru, mereka tetap tunduk pada Regar dan Rama. Percuma Ridan mempekerjakan bodyguard baru.
Mereka sama saja.
"Aku merindukanmu, Sayang... mari kita berlayar," ucap Rama pada motor sport hitam kebanggaannya.
Regar memasuki mobil sport abu-abu yang belakangan ini ditinggalkannya di garasi atas perintah sang ayah. Mobil tersebut jadi sedikit berdebu.
"Shica, jangan kemana-mana, para bodyguard mengawasimu," kata Regar sambil memasuki mobilnya.
Rama melajukan motornya terlebih dahulu disusul mobil Regar kemudian mobil Ferdad dan mobil Rendi.
Shica mendengus kesal lalu memasuki kamarnya lagi. Dia mengecek ponselnya dan mendapatkan notifikasi dari Meishy.
Shicaaaaa! 😃
Aku senang sekali! 😆
Aku juara 1 olimpiade fisika! 😃
Rangga juga juara 1 putra! 😍😍
Ini berkat do'a kaliaaaan. 😘🤗
Terima kasiiiihhh!!! 😘😘🤗🤗
Shica terkekeh.
Berkat ponselmu, aku bisa menghubungimu setiap hari, terima kasih. Benda ini sangat bermanfaat, aku akan menggunakannya dengan baik. 😉😉
Shica menghela napas panjang.
Jangan mengucapkan terima kasih terus, nanti aku jadi canggung padamu. 😅😅
Ah, iyaaa... maafkan aku.
Shica terkekeh.
Setelah lama berbicara dengan Meishy di balon percakapan, Shica mendapatkan notifikasi dari Raihan yang ingin melakukan panggilan video.
Shica tampak berpikir, namun kemudian dia memilih mengangkat panggilan tersebut.
Di layar laptop, Shica melihat Raihan yang berada di kamarnya. Rambutnya tampak basah, sepertinya laki-laki itu selesai mandi.
Dia tampak seksi.
"Hai, Shicaaa? Apa aku mengganggumu?" Tanya Raihan sambil membenarkan posisi ponselnya.
Shica tersenyum kemudian menggeleng cepat, "Aku tidak sedang melakukan apa-apa, jadi santai saja."
Raihan tampak tersenyum, "Sendirian? Mana kakak-kakakmu?"
"Mereka pergi keluar." Shica membenarkan rambutnya.
Raihan terkekeh melihat Shica yang tidak bisa berhenti fokus dengan wajahnya sendiri.
"Rambut kamu tidak bersalah, kamu sudah terlihat cantik."
Shica jadi malu sendiri dengan tingkah konyolnya, "Maaf... ini pertama kalinya aku video call dengan laki-laki, aku jadi gugup."
Raihan tertawa, "Kamu jujur sekali, yaaa?"
Shica tersenyum, "Memangnya kamu mau aku berbohong?"
"Tidak, aku memang menyukai gadis yang polos sepertimu," jawab Raihan sambil tersenyum penuh makna.
Hening.
Raihan menunggu Shica mengatakan sesuatu, namun Shica juga bingung, dia tidak tahu harus bicara apa.
Yang ada Shica sangat gugup saat ini.
"Kamu belum pernah pacaran?" Tanya Raihan yang mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.
Shica menggeleng, "Pergaulanku dibatasi, aku dilarang berhubungan dengan orang asing."
Raihan bisa melihat ekspresi sedih yang terpancar di wajah Shica.
"Apa termasuk berhubungan denganku juga?" Tanya Raihan.
Shica mengangguk pelan.
"Jadi... tidak boleh berhubungan dengan orang asing, ya?" Raihan tampak berpikir, "Kalau begitu, aku harus mengakrabkan diri dengan keluargamu agar aku tidak dianggap orang asing... nanti mereka pasti akan mengizinkanku dekat denganmu, benarkan?"
Kedua mata Shica membulat, "Ke-kenapa harus begitu? Mereka tidak akan mengerti."
"Lalu bagaimana caraku agar bisa dekat denganmu?"
Shica membatin, memangnya dia serius sekali?
"Aku menyukaimu Shica."
Bukan hanya sekali Shica mendengar kalimat itu dari Raihan, namun setiap mendengarnya, jantung Shica selalu berdebar dan dia merasa sangat bahagia.
Karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Kamu pernah menyukai seseorang sebelumnya?" Shica mengalihkan pembicaraan.
Raihan tampak berpikir, "Iya."
Entah kenapa, dada Shica terasa sesak mendengarnya.
Apa dia cemburu?
"Gadis itu pasti sangat cantik," kata Shica sambil tersenyum sendu.
"Iya, tapi dia tidak mencintaiku."
Shica mengernyit, "Kenapa? Bukankah kamu tampan?"
Raihan tertawa, "Aku tidak tahu kenapa tertawa, tapi aku senang sekali ketika mendengarmu menyebutku tampan."
Shica terkekeh, karena kamu memang tampan, Raihan.
"Mungkin dia menyukai laki-laki yang lebih tampan dariku." Raihan memasang ekspresi berpikir.
Shica merenung, "Dia pasti menyesal karena tidak mencintai laki-laki sebaik dirimu."
Sejenak Raihan terdiam. Tatapannya berubah sesaat
Namun, tidak berlangsung lama. Dia tertawa.
"Aku tidak sebaik itu, Shica."
"Aku yakin, kamu orang baik. Tebakanku jarang meleset," kata Shica.
Raihan tersenyum.
-
Di sirkuit motor,
Regar memperhatikan adiknya sedang melajukan motornya dengan kecepatan kilat. Rama memimpin dan memenangkan balapan.
Dia mendapatkan uangnya, sebanyak satu koper.
"Adikmu memang hebat," kata pria bermata sipit disamping Regar, dia adalah Dion, temannya Regar.
Dion memiliki posisi yang sama seperti Givar di geng.
"Yeah, dia petir bagi geng kita." Regar mengedikkan kepalanya ke kiri.
Beberapa gadis cantik menghampiri Rama ketika motornya terhenti. Mereka bergelayut manja pada laki-laki itu.
Mobil sport merah itu terhenti di dekat Rama. Rama menoleh pada orang itu.
Ketika laki-laki itu membuka helm, ternyata dia Givar.
"Wah, petir memenangkan balapan, seperti biasa," puji Givar sambil melihat pada gadis-gadis cantik di dekat Rama.
Rama hanya tersenyum mendengarnya.
"Hei, Regar." Givar melemparkan kunci motornya pada Regar. Pria Mahali itu segera menangkapnya.
"Motor ini untukmu, sebagai hadiah karena kau besok ulang tahun."
Regar tersenyum, "Memangnya kau tidak membutuhkannya?"
Givar tertawa, "Mobilmu gembok lagi, agar ayahmu tidak marah ketika pulang dari luar kota."
"Hadiah untukku mana, Kak Givar? Aku yang memenangkan balapan, kenapa jadi kak Regar yang mendapatkan motor bagus itu?" Gerutu Rama.
"Bukankah kau sudah mendapatkan koper itu sebagai hadiah? Apa yang bisa kuberikan padamu, motormu juga masih sangat bagus," jawab Givar.
Dion tersenyum, "Mau hadiahnya? Mereka cukup baik untuk dijadikan hadiah." Pandangan Dion tertuju pada gadis-gadis yang menempel pada Rama.
Rama tersenyum mesum.
"Biarkan petir kita bermain dengan mereka. Aku akan bicara dengan Regar dan Dion di base camp," kata Givar.
Di base camp,
Regar menyandarkan punggungnya ke sofa, "Ada seseorang yang ingin mencelakai adikku, sialnya adikku menyukainya."
Dion menoleh pada Regar, "Geng musuh? Pantas saja, adikmu 'kan cantik."
Givar meneguk sampanye dari gelasnya lalu dia serius mendengarkan.
"Bisa dibilang begitu, tapi ada yang bilang, dia sudah tidak menjadi anggota geng lagi. Teman-temanku dan para bodyguard cukup kesulitan mencari informasi tentang orang ini," jawab Regar yang tampak serius.
Regar menoleh pada Givar, "Dia juga bersekolah di SMA Hardiswara. Yang tidak aku mengerti, dia itu seharusnya kelas 11 seperti Rama, tapi SMA Hardiswara memasukkannya menjadi murid kelas 10 dan satu kelas dengan Shica."
Givar tampak serius mendengarkan, "Kenapa bisa begitu? Apa mungkin ada staf yang menjadi koneksinya?"
Regar mengedikkan bahu.
"Siapa nama orangnya? Nanti kuurus," tanya Givar.
"Raihan Alfarizi."
Dion dan Givar saling pandang.
"Raihan Alfarizi itu siswa SMA Parameswara dia adalah murid kelas 11-IPS-C." Dion mengucapkannya seperti sedang membaca naskah.
"Kau mengenalnya?" Tanya Givar pada Dion.
Dion tampak berpikir. Dia menoleh pada Regar, sementara Givar melirik Regar dan Dion bergantian.
"Itu kesalahan Regar di masa lalu. Aku rasa, kau harus segera memisahkan Shica dari orang yang bernama Raihan itu, sebelum dia melakukan hal yang sama pada adikmu."
Givar menatap Regar dengan serius, "Apa yang akan kau lakukan, Regar?"
"Aku akan menghabisinya."
-◈◈◈-
14 April 2016
Ucu Irna Marhamah