
Regar memasuki kelas. Ada beberapa temannya di dalam.
Laki-laki itu duduk di bangku paling sudut dan paling belakang. Dia melempar tasnya dengan malas ke meja.
Beberapa temannya datang menghampiri, "Hari ini kulihat kau datang bersama adik-adik ke sekolah, Bos. Mobil sport abu-abu milikmu kemana?"
"Dipakai papa ke luar kota." Regar menjawab dengan malas.
"Bos, adikmu cantik sekali, kenapa tidak dikenalkan pada kami?" Tanya salah satu dari mereka.
"Jangan mencoba mengganggunya, nanti kepalamu kupajang di dinding rumahku." Nada bicara Regar tampak serius.
Keempat temannya itu terkekeh mendengar ancaman bos mereka.
"Waaahh, bos kita sangat menyayangi adiknya. Baru kali ini kita melihat Bos bersikap manis."
Regar menaikan kedua alisnya sebagai tanggapan.
Seorang siswi cantik memasuki kelas tersebut. Dia menoleh pada Regar yang juga sedang melihat padanya.
Pandangan mereka bertemu. Tersirat sesuatu di balik netra masing-masing.
Gadis itu menyibakkan rambutnya dan tersenyum seksi pada Regar.
Teman-teman Regar yang melihat itu terpesona. Salah satu dari mereka ada yang bersiul menggoda.
"Kenapa gak diterima oleh waktu itu, Bos? Padahal cantik dan seksi." Temannya Regar berbisik.
"Pasti bekas orang," ucap Regar dengan sarkas.
Gadis bernama Bella itu sudah lama menyukai Regar. Dia mengincar Regar sejak masih kelas 10. Namun, Regar terlalu dingin untuk ditaklukkan.
Bukan sekali atau dua kali mendengar kabar tentang kelakuan laki-laki itu. Bagi Bella, itu seperti tantangan tersendiri untuk mendapatkan Regar.
Entah berapa kali gadis itu menyatakan perasaannya pada Regar. Dan tak terhitung pula Regar menolaknya.
Hari senin ini, dia mengenakan seragam yang ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Roknya juga 20cm di atas lutut.
Kenapa tidak pakai rok saja sekalian?
Bella duduk di bangku sudut belakang yang berjauhan dengan Regar. Dia mengambil cermin berukuran kecil dan mematut wajahnya.
Setelah itu, dia bangkit menghampiri bangku Regar. Pandangan teman-teman Regar terhadap tubuhnya seperti menahan dahaga.
Bella menyadari itu, dan mengabaikannya.
"Minggir kalian," ucap Bella pada teman-temannya Regar.
Dengan terpaksa, mereka berlalu.
Bella duduk di meja Regar dan meletakkan salah satu kakinya di kursi tempat Regar duduk.
Tidak peduli meskipun Regar bisa melihat celana dalam miliknya.
Di posisi yang berani seperti itu, Regar mendongkak menatap wajah Bella yang tersenyum cantik.
Polesan make-up di wajahnya membuat kesan kalau gadis itu model sekaligus idola di sekolah. Idola guru BK juga.
Dia sering dipanggil ke ruang BK karena pakaiannya yang terlalu menantang ditambah lagi dengan make-up yang terlalu mencolok untuk ukuran anak SMA.
"Sudah putus dari Jessica?" Pertanyaan itu yang dilontarkan Bella.
"Memangnya kenapa?" Tanya Regar.
Bella mendekatkan wajahnya kedua matanya yang berwarna hijau itu menatap manik abu-abu gelap milik Regar.
Dia berkata, "Hobimu itu bertanya, 'memangnya kenapa?', ya? Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."
Regar menaikkan sebelah alisnya, membuat aura ketampanan pria itu keluar, "Kenapa bertanya hal yang sudah kau ketahui?"
Bella menatap bibir Regar ketika berbicara, "Apa Jessica sudah tidak perawan lagi, sehingga kau meninggalkannya?"
Pertanyaan sarkas Bella membuat Regar mengangguk dan menjawab dengan sarkas pula, "Iya."
Bella menarik bibirnya, "Tidak perawan karenamu, atau karena laki-laki lain?"
"Tidak perlu membahasnya," kata Regar cepat.
"Kalau begitu, kau harus menerimaku menjadi pacar barumu," ucap Bella.
"Kenapa aku harus menerimamu? Apa keuntungannya untukku?" Tanya Regar.
"Aku akan melakukan apa pun yang kau mau, selain itu aku masih perawan."
Terdengar seperti penawaran yang tersirat.
"Kau han...." Regar tersumpal mulutnya ketika Bella mengecup bibirnya. Mereka saling menatap ketika bibir keduanya menempel seperti itu.
Bella melepaskan ciumannya lalu mengelap bibir Regar yang sedikit basah, "Tidak baik laki-laki tampan sepertimu banyak bicara."
Berakhirnya kalimat itu, Bella berlalu keluar.
Pandangan beberapa murid di kelas itu tertuju pada Regar. Sebenarnya bukan sekali atau dua kali mereka melihat Regar berciuman di depan umum.
Teman-teman Regar bersorak senang. Mereka menggoda bos besar.
"Wah, Bos... kalau sudah bosan, berikan kami giliran."
Regar memutar bola matanya.
Sementara itu, Rama sedang berada di UKS. Dia memeriksa siswi yang pingsan ketika upacara berlangsung.
"Sudah sarapan?" Tanya Rama.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sembari menatap Rama yang sibuk melarutkan gula merah ke dalam air hangat di dalam gelas.
"Jangan dibiasakan," kata Rama.
"Emm... i-iya, Kak."
Rama memberikan gelas itu padanya. Dengan kedua pipi yang memerah, gadis itu meminumnya.
"Sekarang sudah merasa baikan?" Tanya Rama.
"Emm... i-iya."
"Nanti guru piket akan segera datang. Aku harus kembali ke kelas, ada ulangan Kimia hari ini." Setelah berkata demikian, Rama berlalu.
Namun, gadis itu menggenggam tangannya. Rama berhenti dan kembali menoleh padanya.
Mendapatkan tatapan dari Rama, gadis itu menunduk.
"Kakak mau jadi pacarku?"
Pertanyaan polos dari adik kelasnya itu mebuat Rama terkejut. Siswi baru di sekolah itu menyatakan perasaannya dengan tulus.
"Kamu mencintai orang yang salah. Ada banyak laki-laki yang baik di luar sana." Rama melepaskan tangan gadis itu dengan lembut kemudian berlalu.
Gadis itu tampak sedih, kenapa kamu malah mengungkapkan perasaan kamu? Kamu tidak malu, Floryn!
Ternyata gadis itu bernama Floryn. Dia merutuki kebodohannya sendiri.
Jam istirahat telah tiba, Rama keluar dari dalam kelas dan melangkah di sepanjang koridor.
Ada banyak siswi yang menyapanya. Dia membalas dengan senyuman kecil.
Laki-laki itu merogoh saku celananya untuk mengambil benda persegi miliknya.
Ketika mengecek ponselnya, tidak ada notifikasi apa pun.
"Shica lupa menghubungiku, ya? Memangnya dia tahu letak kantin di mana?" Rama mempercepat langkahnya menuju kelas sepuluh IPA.
Tidak ada Shica di kelasnya. Rama memutuskan untuk menghubungi adiknya.
"Kenapa, Kak?" Terdengar suara Shica dari seberang sana.
"Kamu di mana? Kakak sedang di depan kelas. Kenapa belum keluar?" Tanya Rama sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling.
"Ah? Tapi, aku sudah di kantin, Kak."
Rama terkejut. Bagaimana bisa Shica semudah itu menemukan kantin? Ketika pertama masuk SMA Hardiswara, Rama perlu bantuan Regar untuk mengantarnya selama beberapa minggu.
"Wah, kamu sudah tahu arah ke kantin, ya?" Tanya Rama sambil melangkahkan kakinya menuju kantin.
"Tidak, aku bersama temanku."
Rama terkejut dan mempercepat langkahnya, "Teman? Siapa? Jangan sembarangan memilih teman, Ca."
"Emm, iya."
"Laki-laki, perempuan?" Rama kembali bertanya karena merasa khawatir.
"Perempuan."
Rama bisa menghela napas lega mendengar jawaban adiknya. Dia tiba di kantin dan melihat Shica duduk berhadapan dengan seorang gadis yang tampaknya seumuran.
"Ya sudah, Kakak akan ke sana," bohong Rama sambil mengakhiri panggilannya. Padahal dia sudah sampai di kantin.
Melihat keakraban Shica dengan murid itu, Rama merasa sedikit senang. Akhirnya Shica memiliki teman juga, ya... meskipun Rama harus menyelidikinya terlebih dahulu. Dia tidak ingin ada mata-mata dari geng musuh yang sengaja memanfaatkan Shica.
Bel pulang berbunyi, Rama dan Shica pulang berdua. Regar memberikan pesan pada Rama, kalau dia akan pulang terlambat.
Di perjalanan pulang, Rama dan Shica duduk bersebelahan di kursi belakang.
Ketika keheninga sedikit mengganggu, Rama memilih mengeluarkan suaranya terlebih dahulu, "Kamu sudah punya teman, ya?"
Shica yang sedang melamun menoleh pada kakaknya kemudian mengangguk.
"Siapa namanya?"
"Meishy Addilara," jawab Shica.
"Jangan terlalu dekat dengannya. Dia hanya gadis biasa yang mampu bersekolah dengan beasiswa."
Ucapan Rama membuat Shica sedikit kesal. Gadis itu menyahut, "Itu tandanya dia murid yang cerdas. Jarang ada sekolah swasta yang sehebat SMA Hardiswara mengeluarkan beasiswa."
"Pokoknya jangan terlalu dekat dengannya. Bisa saja dia memanfaatkan kamu, karena kamu anak orang kaya," sanggah Rama.
"Aku tidak bilang kalau aku anak dari keluarga Mahali," ucap Shica.
"Kenapa? Kalau kamu ingin mendapatkan posisi bagus di kelas, kamu harus bangga memakai nama itu," kata Rama.
"Sama saja, waktu SMP aku dijauhi karena aku anak dari tuan Mahali yang galak." Shica menopang dagunya karena kesal.
Rama hanya menggeleng pelan. Percuma mendebat adiknya yang keras kepala.
"Kakak tidak memata-matai Meishy, kan?" Tanya Shica sambil menatap Rama dengan ekspresi curiga.
"Aku harus memastikan keamananmu," kata Rama.
"Kakak, itu tidak sopan." Shica menggerutu sebal.
Rama melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tidak mau merespon dan memilih memusatkan perhatiannya ke jalanan yang dilewati.
Sementara itu, Regar sedang bersama Bella. Keduanya berada dalam mobil Bella. Regar yang menyetir.
"Aku mau ke tempat yang menyenangkan," kata Bella sambil melelapkan kepalanya di bahu Regar.
Sesaat Regar menoleh, kemudian kembali fokus menyetir.
"Aku tidak mau pergi ke mana pun. Aku belum bisa memastikan, apa kau jujur atau berbohong."
Bella mendongkak menatap rahang kokoh milik Regar, "Aku akan membuktikannya. Kita ke tempat makan dulu, aku lapar."
Akhirnya Regar menurut.
Di cafe, Bella memesan makanan. Ketika pelayan datang memberikan buku menu, Bella bertanya pada Regar.
"Regar Sayang, mau pesan apa?"
Regar menoleh, "Apa saja."
Bella tersenyum.
Setelah makan di cafe, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Regar.
Jam menunjukkan pukul 10.35 malam. Jalanan di kota Jakarta cukup lenggang di jam tersebut.
Bella memeluk perut kekar Regar, "Kenapa kau begitu tampan? Aku sulit mengalihkan perhatian darimu."
Regar sedikit membuang muka, "Sebentar saja, aku sedang menyetir. Kau tidak mau kita kecelakaan, kan?"
Bella tertawa cantik, "Memangnya pembalap sepertimu bisa kecelakaan hanya karena berciuman di dalam mobil?"
Regar mendengus dingin, dia tahu banyak tentangku.
"Jangan malu-malu, biasanya juga kau tidak punya malu, kan?" Bella menepuk pangkal paha Regar membuat laki-laki itu meringis pelan.
"Kasihan sekali... sakit, ya?" Bella mengusap bagian yang baru saja ditepuknya membuat Regar sedikit gelisah.
"Jangan ditahan," ucap Bella sambil menurunkan resleting celana Regar.
"Jangan gila, aku tidak fokus menyetir." Regar menaikkan kembali resleting celananya.
Bella cemberut.
"Melihatmu seperti itu, kau tidak terlihat seperti seorang gadis. Kau pernah melakukannya dengan laki-laki lain, kan?" Ucap Regar diakhiri dengan pertanyaan.
Bella membulatkan matanya, "Kau tidak percaya padaku? Makanya buktikan sekarang!"
"Nanti saja di rumah!" Gerutu Regar.
Sesampainya di rumah, Regar dan Bella keluar dari dalam mobil.
Melihat kemewahan kediaman Mahali, Bella begitu terpukau. Apalagi ketika di dalam rumah, Bella tidak hentinya berdecak kagum.
Kedua orang itu menaiki tangga menuju kamar Regar.
Pandangan Regar tertuju ke pintu kamar Shica yang tertutup rapat, semoga Shica sudah tertidur.
Ketika memasuki kamar Regar, Bella menghirup aroma maskulin di kamar tersebut.
Regar melepaskan dasi dan melemparkannya dengan asal ke tempat tidur. Dia akan memasuki kamar mandi, tapi Bella memeluknya dari belakang.
"Aku harus mandi, gerah." Regar melepaskan tangan Bella darinya.
Namun, Bella malah mengeratkan pelukannya, "Tidak perlu mandi, tetap saja akan gerah, bukan?"
Regar berbalik dan saat itu juga, dia melahap bibir Bella. Mereka bertukar saliva dan saling memberikan sentuhan.
Bella mendorong dada Regar ke tempat tidur. Dia menindih laki-laki itu dan terus-menerus menciumi wajahnya. Regar bergerak menyentuh bagian sensitif dari tubuh Bella.
Pergulatan itu terjadi beberapa waktu.
Sampai Regar menyatukan tubuh mereka. Bella menjerit cukup keras dan menitikkan air matanya.
Regar bergerak dengan penuh kelembutan.
"Regaarrrhhh," desah Bella sambil memeluk erat tengkuk laki-laki itu.
Semakin lama, permainan Regar semakin kasar, namun Bella masih menikmatinya.
Sampai beberapa kali mendapatkan puncak masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
Regar menghempaskan tubuhnya ke samping Bella dengan napas terengah-engah.
Bella memeluk Regar.
"Aku sudah membuktikannya, kan? Kau harus menjadi pacarku, Regar."
"Okay."
Mendengar suara dari luar kamar, Regar sedikit mendongkak. Dia mengambil boxer hitamnya. Dan berlalu ke pintu.
Bella menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
Ditariknya handle pintu, Regar terkejut melihat keberadaan Shica yang duduk bersimpuh di lantai dengan wajah pucat.
Ya ampun! Apa yang dilakuka Shica di depan kamarku? Apa mungkin dia mendengar suaraku dan Bella?
Atau... dia melihat adegan kami?
Laki-laki itu berjongkok dan meraih adiknya, namun gadis itu beringsut menjauh.
"Shi-Shica, kamu sedang apa di sini?" Tanya Regar lembut.
Bella memperhatikan kedua kakak beradik itu dari dalam kamar.
Shica tidak berani menatap wajah kakaknya, "Ta-tadi aku mendengar... aku... mendengar suara Kak Regar dan... aku melihat..."
Regar merengkuh tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku... aku tidak sopan," kata Shica.
"Tidak, aku minta maaf padamu, Shica."
Shica pasti syok pertama kali melihatnya. Kenapa juga aku lupa mengunci pintu? Bagaimana jika Shica melapor pada papa?
"Shica tidak takut pada Kakak, kan?" Bisik Regar.
Tidak ada jawaban dari adiknya yang paling kecil itu. Regar melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Shica.
Gadis itu tetap tidak berani menatap wajah kakaknya.
"Rastarani Sayang." Regar memanggil nama depan adiknya.
Shica memberanikan diri menatap kedua manik abu-abu gelap milik Regar. Kedua mata coklat terang milik Shica bergetar ketika pandangan mereka bertemu.
"Shica takut pada Kak Regar?" Tanya Regar dengan ekspresi sedih.
Shica menggeleng.
Regar tersenyum dan kembali memeluk adiknya itu, "Shica menyayangi kak Regar, kan?"
Shica yang meletakkan dagunya di bahu Regar mengangguk pelan.
"Shica tidak akan mengatakan ini pada papa, kan?"
9 April 2016
Ucu Irna Marhamah