La Hora

La Hora
LH - 12 - Possessive Brothers



 


 


 


 


-◈◈◈-


 


 


ツ Mereka sering membuatmu kesal dengan omelannya, itu karena mereka mencintaimu, saudaranya.


 


 


-◈◈◈-


 


 


Rangga memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena bagian depan rumah Raihan terlalu kecil untuk menampung mobilnya.


 


 


Rangga mengetuk pintu rumah tersebut.


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


Sekali lagi, Rangga mengetuknya, "Permisi?"


 


 


Pintu dibuka. Mereka bertiga melihat gadis kecil yang membukakan pintu, itu Lala.


 


 


Shica tersenyum sambil sedikit membungkuk, "Hai, Lala. Kak Shica sama teman-teman Kakak mau menemui kak Raihan."


 


 


Lala menarik tangan Shica agar masuk. Keakraban mereka membuat Meishy dan Rangga saling pandang.


 


 


"Apa Shica pernah kemari sebelumnya?" Tanya Rangga. Meishy mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


 


 


Mereka berdua menyusul Shica.


 


 


Di kamar, Riska sedang berbicara dengan Raihan yang terbaring lemah di atas ranjang.


 


 


Raihan menoleh ke arah pintu ketika melihat kepala Lala dan kepala Shica muncul di balik pintu.


 


 


Raihan terkekeh pelan melihat itu, "Masuklah."


 


 


Riska menoleh ke pintu. Dia segera berdiri dan menepuk kursi yang baru saja didudukinya. Dia menyuruh Shica duduk di sana.


 


 


"Nona Shica, silakan duduk."


 


 


Sikap Riska terlalu berlebihan menurut Shica. Dia mengangguk santun pada Riska. Wanita itu melakukan hal yang sama.


 


 


Shica duduk di kursi tersebut.


 


 


Rangga dan Meishy mengetuk pintu. Raihan menoleh lagi ke pintu.


 


 


"Kalian juga datang? Masuklah."


 


 


Riska memanggil Lala, "Lala, ayo main bersama Ibu."


 


 


Gadis kecil itu mengangguk semangat, "Kakak-kakak baik, Lala mau main dulu, yaaa."


 


 


Shica tersenyum melihat tingkah imut dari anak kecil itu.


 


 


Rangga duduk di tepi ranjang Raihan, sementara Meishy duduk di anak sofa dekat Shica.


 


 


Shica bersuara, "Maafkan aku... aku baru datang hari ini untuk menjengukmu."


 


 


"Tidak apa-apa, aku senang kamu di sini," kata Raihan.


 


 


"Ehm." Rangga dan Meishy berdehem bersamaan.


 


 


Raihan tertawa kecil, "Senang juga melihat kalian."


 


 


"Kenapa kamu bisa kecelakaan? Kenapa juga tidak ke rumah sakit?" Tanya Shica.


 


 


Raihan terdiam. Seolah ada sesuatu yang menahannya untuk tidak bicara.


 


 


"Apa lukamu tidak parah, ya?" Tanya Rangga. Raihan menggeleng, "Hanya terjatuh."


 


 


"Mana yang sakit?" Tanya Shica.


 


 


"Hanya lutut dan sikut saja," jawab Raihan berbohong.


 


 


"Kalau kamu sakit, besok tidak perlu ke sekolah," kata Shica. Meishy mengangguk, "Tidak ada kegiatan pembelajaran besok. Semua orang sibuk dengan pertandingan persahabatan. Hari ini juga."


 


 


"Tapi, besok ada pertandingan basket. tim basket kelas 10 membutuhkan kapten." Rangga menyela.


 


 


"Memangnya kamu tidak melihat keadaan Raihan? Kamu juga bisa jadi kapten, kan?" Tanya Shica yang menatap kesal pada Rangga.


 


 


Raihan bisa melihat ekspresi cemas di wajah Shica untuknya. Dia tersenyum.


 


 


"Aku bukan kapten basket," gerutu Rangga.


 


 


"Aku pasti sekolah, besok aku akan baik-baik saja," sanggah Raihan.


 


 


"Kamu yakin?" Tanya Shica.


 


 


Raihan menganggukkan kepalanya, "Aku tidak mungkin membiarkan timku maju sendirian. Tim dari SMA Parameswara pasti akan merendahkan SMA kita, kalau kapten tidak turun tangan."


 


 


"Kalau begitu, cepatlah sembuh," ucap Shica.


 


 


Raihan tersenyum sambil mengangguk.


 


 


-


 


 


Regar melemparkan tasnya ke sofa. Lalu dia duduk di sebelah tasnya. Rama hanya menghela napas berat melihat ekspresi kemarahan kakaknya.


 


 


"Aku sudah memberitahu Shica untuk datang ke lapangan, dia tidak datang dan malah pergi ke rumah Raihan, apa aku harus diam saja?!" Regar menggerutu kesal.


 


 


"Ya... dia menjenguk Raihan tidak sendirian 'kan? Ada gadis berkacamata dan laki-laki pemain basket itu," ucap Rama.


 


 


Regar mendelik Rama, "Ini hari ulang tahunku, kau juga melupakannya."


 


 


Rama terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tapi, aku sudah memberikan hadiah padamu, kan?"


 


 


Regar memutar bola matanya, "Sana jemput Shica."


 


 


"Ke rumah Raihan?" Tanya Rama.


 


 


"Emmm... hubungi dulu Shica, katakan kau akan menjemput." Regar merebakan tubuhnya di sofa dengan tas sebagai bantalan.


 


 


Rama mengangguk kemudian berlalu keluar sambil memainkan kunci motor di tangannya. Ketika dia sampai di pintu, laki-laki itu berpapasan dengan Bella.


 


 


"Kau membuatku terkejut," ucap Rama setelah menggerutu sambil menepuk pelan dadanya.


 


 


Bella tersenyum menggoda, "Regar ada di dalam?"


 


 


Rama mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya, namun Bella menghalangi pria itu membuat dadanya bersentuhan dengan dada Rama.


 


 


Ada apa dengan gadis ini?! Rama merutuki dirinya sendiri.


 


 


Bella membelai wajah Rama dengan lembut, "Kau tampan sekali, juga lembut."


 


 


"Minggir." Rama berlalu menaiki motor sport hitam miliknya.


 


 


Bella cemberut kemudian melenggang masuk ke dalam. Dia melihat Regar yang terlentang di sofa dengan pandangan tertuju ke langit-langit ruangan.


 


 


Tanpa pikir panjang, Bella duduk di salah satu paha Regar. Laki-laki itu sedikit terkejut dan mendongkak menatap kekasihnya.


 


 


"Apa yang kau lakukan?" Regar bertanya dengan setengah menggerutu.


 


 


Bella mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan pada bibir Regar. Laki-laki itu menahan tengkuk Bella dan meneruskan ciuman itu.


 


 


Tangan Bella merambat ke sabuk Regar, namun laki-laki itu menahan tangan Bella dan menghentikan ciumannya.


 


 


"Aku cape." Regar membenarkan sabuknya. Bella cemberut. Dia berkata dengan ketus, "Kenapa lemah sekali?"


 


 


Namun, Regar tidak menghiraukannya. Bella menepuk dada Regar.


 


 


"Kalau kamu lelah, aku yang akan bekerja," ujar Bella sambil mendekatkan wajahnya ke leher Regar dan memberikan kecupan di sana.


 


 


Regar mengusap rambut Bella. Sementara gadis itu membuka seluruh kancing seragam Regar tanpa menghentikan ciumannya yang semakin turun ke dada laki-laki itu. Tangannya mengusap kotak-kotak di perut Regar.


 


 


Regar menarik dasi Bella membuat gadis itu semakin dekat padanya, dadanya bersetuhan dengan perut Regar.


 


 


Ditariknya wajah Bella agar mendekat. Regar melumat bibir gadis itu. Bella tersenyum disela ciuman mereka, dia berhasil membuat Regar menerima permainannya.


 


 


Mereka tidak menyadari keberadaan Shica di ambang pintu dengan tatapan melongo. Rama yang memainkan kunci motornya memasuki rumah dan bingung melihat adiknya yang berdiri terpaku. Dia menoleh ke sofa dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


 


 


Diposisi seperti itu, Regar baru menyadari kehadiran kedua adiknya. Dia mendorong dada Bella.


 


 


Rama menutupi kedua mata Shica, padahal itu tidak ada artinya. Shica sudah selesai melihatnya.


 


 


"Kak Regar, jangan memberikan tontonan seperti itu pada Shica! Apalagi secara langsung begini!" Gerutu Rama menirukan gaya bicara Regar.


 


 


Tidak ada respon dari Regar.


 


 


"Bella, pulanglah," kata Regar.


 


 


Kedua mata Bella membulat, "Apa kau bilang?"


 


 


"Nanti aku akan datang ke rumahmu." Regar membenarkan bajunya untuk menutupi dada dan perutnya, tanpa mengancingkannya.


 


 


Shica melirik pada Rama yang juga menoleh ke arahnya.


 


 


Bella berlalu dengan ekspresi kesal sambil menubruk Rama dan Shica.


 


 


Regar menaiki tangga menuju ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rama dan Shica.


 


 


Rama mengusap punggung adiknya, "Bicara padanya."


 


 


Shica menghela napas berat. Rama menyentuh pelipis Shica yang berkeringat, "Kenapa kau berkeringat?"


 


 


Shica segera menggelengkan kepalanya dengan kedua pipi memerah.


 


 


"Apa karena melihat adegan kak Regar dan Bella barusan?" Tanya Rama.


 


 


 


 


Rama menepuk dahi adiknya pelan, "Dasar gadis mesum."


 


 


"Kenapa juga kak Regar tidak punya malu? Melakukannya di sofa." Shica tidak mau disalahkan.


 


 


"Waktu di kamar pun, kamu mengintip 'kan?" Gerutu Rama Shica terkekeh.


 


 


"Sana, temui kak Regar."


 


 


Shica mengangguk kemudian menyusul Regar. Ketika sampai di pintu kamar kakaknya, Shica mengetuk-ngetuk dengan pelan.


 


 


"Jangan masuk." Jawaban Regar membuat Shica sedih.


 


 


"Kak Regar... jangan marah, aku akan menjelaskannya." Shica menyadarkan tubuhnya ke pintu  tanpa berhenti mengetuk.


 


 


"Pergi sana."


 


 


"Kak Regaaaar." Shica menggelinjang kesal.


 


 


"Jangan merengek."


 


 


"Kakak." Shica mengeluarkan suara seolah dia akan menangis.


 


 


"Jangan merayuku."


 


 


"Kakak tidak sayang lagi padaku? Kakak hanya menyayangi kak Rama? Atau hanya menyayangi kak Bella?"


 


 


"Aku tidak menyayangi kalian semua."


 


 


Shica mendengus kesal, "Ya sudah, kalau begitu, aku bunuh diri saja."


 


 


Padahal Shica malas bergerak, dia masih bersandar pada pintu kamar kakaknya.


 


 


Tiba-tiba pintu dibuka dari dalam, alhasil Shica jatuh tersungkur ke lantai. Dia meringis sambil mengumpat pelan.


 


 


Regar menahan tawa melihat itu.


 


 


Shica memegangi sikutnya. Regar yang masih menahan tawa, membantu adiknya berdiri.


 


 


"Kakak benar-benar tidak menyayangiku? Kakak jahat sekali mentertawakanku!" Shica menggerutu.


 


 


Regar terkekeh, "Mood-ku membaik melihat komedi barusan."


 


 


Shica memegangi sikutnya, untung kau kakakku!


 


 


Regar meraih tangan Shica dan mengusap sikut yang malang itu, "Masih sakit."


 


 


Shica menarik kembali tangannya, "Tidak apa-apa, kok."


 


 


Regar menyimpan kedua tangannya di pinggang menunggu Shica mengatakan sesuatu. Namun, pandangan gadis itu tertuju pada perut Regar yang terekspos begitu saja.


 


 


Melihat arah pandang adiknya, Regar segera mengancingkan bajunya. Shica mendongkak menatap Regar.


 


 


"Kenapa ditutup?" Tanya Shica dengan polosnya.


 


 


Regar terbelalak mendengar pertanyaan nakal tersebut. Dia menepuk dahi adiknya.


 


 


"Anak kecil tidak boleh melihatnya!" Gerutu Regar.


 


 


Shica tersenyum dengan kedua pipinya yang sudah memerah seperti tomat.


 


 


Shica kembali bertanya, "Kenapa aku tidak disuruh masuk?"


 


 


Regar pun melangkah masuk. Shica tersenyum sambil mengikutinya.


 


 


"Kenapa tidak datang ke lapangan voli? Aku sudah memberitahumu, kan?" Regar duduk di tepi ranjang. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua sikut bertumpu pada kedua pahanya.


 


 


Shica tidak tahu harus mulai dari mana. Dia hanya berdiri gugup.


 


 


"Kamu lebih milih pergi ke rumah Raihan daripada ke lapangan untuk melihatku bertanding?" Tanya Regar lagi.


 


 


"Itu karena dia kecelakaan, Kak. Aku ke rumahnya tidak sendirian, kok. Meishy dan Rangga juga ada." Shica membela diri.


 


 


"Jauhi juga dua orang itu, mereka bukan pengaruh yang baik untukmu," kata Regar.


 


 


Lalu... teman-temanmu itu pengaruh baik untukmu?! Teriak Shica dalam hati.


 


 


"Hanya terjatuh motor saja sampai sakit dan tidak sekolah," gumam Regar pelan. Namun, Shica masih bisa mendengarnya.


 


 


"Kakak tahu dari mana Raihan jatuh dari motor? Aku hanya bilang, dia kecelakaan." Shica bertanya dengan nada curiga.


 


 


Regar terdiam sejenak, namun dia kembali bersuara, "Kakak tahu dari teman-teman Kakak yang disuruh mengawasi kamu."


 


 


"Seperti waktu itu? Kak Rendi dan kak Ferdad?" Tanya Shica setengah menggerutu.


 


 


Regar tidak menjawab. Dia masih kesal pada adiknya.


 


 


"Maaf." Shica duduk di lantai sambil memegang lutut kakaknya. Regar merasa sikap Shica berlebihan.


 


 


"Tidak perlu seperti itu," kata Regar sambil memegang lengan Shica.


 


 


"Aku tidak mau berdiri sebelum Kakak memaafkanku," keluh Shica.


 


 


"Aku tidak marah padamu, aku hanya kecewa," ketus Regar.


 


 


Shica cemberut.


 


 


"Kakak itu bukan orang yang pelupa, tapi aku bingung... kenapa Kakak sering lupa untuk minum? Kakak sering merasa lelah setelah olahraga, kalau kak Rama menyuruh Kakak minum, Kakak bilang malas. Aku punya hadiah istimewa untuk Kakak."


 


 


Shica mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah botol minum yang lucu berwarna merah muda. Ada gambar tupai yang lucu di botol tersebut.


 


 


"Sekarang jangan lupa minum, yaaa." Shica memeluk perut kakaknya.


 


 


Regar tertawa, "Warna pilihanmu memang bagus, Shica."


 


 


Shica tertawa, "Kakak tidak boleh malu menggunakannya, meskipun teman-teman Kakak meledek nantinya. Bilang saja itu dariku, kalau masih meledek, laporkan padaku orangnya."


 


 


Regar mengernyit, "Kalau sudah kulaporkan orangnya padamu, memangnya kau akan melakukan apa pada orang itu? Mencekiknya? Memukulnya? Atau menghajarnya?"


 


 


"Emm... ya... tidak aku apa-apakan... aku hanya ingin tahu saja, siapa yang berani mengganggu kakakku ini," jawab Shica dengan polosnya.


 


 


Regar tertawa, "Diantara semua hadiahmu, ini adalah yang paling berkesan."


 


 


Shica tertawa.


 


 


"Kamu tidak mau menciumku lagi?" Tanya Regar.


 


 


Shica tampak berpikir, "Ada bekas Bella di sana... menjijikan."


 


 


Melihat Shica yang bergidik geli, Regar tertawa.


 


 


Rama yang sedari tadi berdiri di ambang pintu hanya tersenyum melihat Regar yang sudah tidak marah lagi pada adiknya. Dia berlalu membiarkan keduanya sama-sama menghabiskan waktu.


 


 


"Kak Rama."


 


 


Mendengar suara Shica yang memanggilnya, Rama berbalik. Shica tersenyum dan memeluknya.


 


 


"Terima kasih, Kak."


 


 


Rama tertawa sambil membalas pelukan adiknya, "Kenapa berterima kasih? Aku tidak melakukan apa-apa."


 


 


"Aku sayang kak Rama," ucap Shica. Rama mengusap-usap punggung adiknya, "Iya, Kak Rama juga menyayangi Shica."


 


 


Hening.


 


 


"Kakak tidak bisa romantis seperti kak Regar," kata Rama sambil tertawa.


 


 


"Kalian sama saja. Sama-sama menyebalkan," gerutu Shica sambil melepaskan pelukannya dan cemberut.


 


 


Rama mencubit kedua pipi Shica, "Menyebalkan seperti apa, hah?"


 


 


"Tidak romantis, tidak lucu, tidak bisa bercanda, muka datar, tidak pernah mau mengalah padaku," gerutu Shica sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


 


 


"Itu bukan gaya Mahali," ucap Rama sambil menyibakkan rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya yang lentik.


 


 


"Kenapa, ya... banyak perempuan yang menyukai kalian? Padahal kalian tidak bisa romantis dan tidak menyenangkan," ledek Shica.


 


 


Rama menangkup wajah Shica, "Coba lihat wajah kakakmu ini, tampan 'kan? Ini alasannya."


 


 


Shica menatap wajah Rama, "Iya, sih."


 


 


Regar keluar dari kamarnya dan melihat kedua adiknya. Dia berkacak pinggang.


 


 


"Ooohhh... jadi begini kalian di belakangku? Beraninya kalian berselingkuh!" Gerutu Regar.


 


 


Shica dan Rama menoleh pada kakak tertua mereka. Lalu keduanya tertawa melihat ekspresi marah yang dibuat-buat oleh Regar.


 


 


Laki-laki itu menghampiri kedua adiknya dan merangkul mereka. Memberikan pelukan kasar. Membuat Rama dan Shica menjerit sambil tertawa.


 


 


"Adik-adik menyebalkan kalian ini! Aku tidak bisa marah terlalu lama pada kalian berdua!" Gerutu Regar.


 


 


"Karena kami terlalu manis dan lucu, kan?" Tanya Rama sambil berusaha melepaskan diri dari Regar.


 


 


"Bukan, karena kalian bodoh dan gila!" Sahut Regar.


 


 


Shica memukul bahu Regar, "Aku tidak bodoh dan tidak gila, tahu!"


 


 


-◈◈◈-


 


 


16 April 2016


Ucu Irna Marhamah